Takkan Terganti Selamanya (eps.1)

Posted: January 28, 2014 in cerpen
Tags: ,

Hari ini merupakan perjalanan panjang bagiku, bukan dalam kontek konotasi namun lebih kepada denotasi nyata akan perjalanan panjang yang saya mulai pukul 04.00 dinihari hingga akhirnya tiba di kantin ini. Sebuah kantin SMA yang baru berumur lebih dari lima tahun ini merupakan istana kecil kami dulunya. Sebuah ruangan berdinding papan bersebelahan  tembok langsung dengan ruang kelas ini telah menjadi bagian sejarah kehidupan kami. Tapi hari ini aku kembali untuk menyempatkan diri sejenak beristirahat dari aktivitas kuliah yang berkepanjangan. Libur akhir semester tahun ini cukup panjang namun aku baru sempat kembali ke kampung di minggu terakhir liburan ini.

Setelah berkendari hampir sembilan jam, sang kuda besi berwarna biru akhirnya merapat tepat di depan kantin di sudut tenggara SMA ini. Aku membuka helm dan melihat ke dalam kantin, sekilas terlihat wajah ibunda yang hari ini terlihat sedikit lesu. Ketika melepas helm dari kepalaku, barulah beliau sadar dan agak terkejut kalau yang datang adalah anak keduanya dari enam orang anak yang telah ia lahirkan, Ia terheran-heran juga akan hadirnya anak yang selalu manja padanya. Yah, memang sangat jarang saya dan saudaraku yang lain berkendara dengan motor tuk jarak yang jauh tersebut bahkan terkadang kami dipaksa untuk menggunakan mobil sewa saja dengan alasan keamanan dan kenyamanan kami. Memang  tak ada yang selalu terpikir oleh kedua orang tua kami selain rasa aman yang harus diberikan kepada kami semua. Namun hari ini aku memutuskan tuk datang dengan menggunakan moda transportasi roda dua ini agar nantinya aku berkesempatan untuk mengunjungi teman lamaku yang tinggal di seberang kecamatan yang terpisahkan oleh sebuah kota administrative yang telah lama dimekarkan. Dengan membawa tas ransel hitam yang sering saya gunakan tuk menenteng buku ke kampus, saya membawa beberapa lembar pakaian dan oleh-oleh, namun taka da yang sepesial dari oleh-oleh ini, hanya beberapa bungkus keripik pedas yang dulu sering dipesan oleh ibu saya, oh iya saya lebih senang memanggil ibu saya dengan kata mama’. Yah mama’ dengan huruf a terakhir yang agak ditekan. Panggilan itulah yang terkadang membuatku rindu, rindu akan semua kehangatan kasihnya. Tapi biarlah saya menulis ibu dalam tulisan ini, yah ibu saya suka keripik pedas yang agak sederhana ini. Hanya itu ole-ole yang saya bawa kali ini, tak ada yang lain karena kendaraan saya yang tak memungkinkan.

Setelah duduk dalam kantin beberapa saat, ibu saya memperhatikan keadaan saya. Perhatiannya tertuju kepada benjolan besar yang terletak di bagian bawah dagu dan leher saya. Benjolan ini merupakan tumor yang berasal dari pembengkakan kelenjar. Sebenarnya saya sudah disarankan oleh dokter untuk melakukan operasi bedah pengangkatan tumor ini, namun taka da yang menyetujui hal itu. Orang tua saya, terutama ayah saya bersikeras untuk menghindari yang namanya operasi dengan berbagai alasannya. Selain ketakutan akan bahaya saat pelaksanaan operasi, dampak dari operasi itu juga yang menjadi bahan pertimbangan, apatalagi telah banyak orang yang mengatakan bahwa operasi yang dilakukan pada daerah tersebut bisa membuat orang kehilangan suara atau tidak dapat berbicara. Dampak yang sangat berbahaya bukan. Hal inilah yang tiba-tiba membuat ibu saya gundah, ia bercerita dan bertanya pada beberapa orang guru yang datang ke kantin untuk makan siang. Telah banyak yang disarankan air rebusan benalu dan juga obat alternative dari orang-orang pintar.

Siang itu, kantin terlihat sepi, hanya sedikit yang berbelanja. Saya menuju ke meja persediaan makanan yang akan dijual, Nampak persediaan masih sangat banyak, banyak makanan yang tak laku hari ini. Banyak yang tersisa hari ini, bahkan sangat sedikit yang terjual. Hal ini merupakan suatu kesedihan tersendiri untuk ibu saya dan saya dapat merasakannya juga. Sudah sering rasa sedih atas jualan yang tak laku membuat wajahnya murung bahkan penuh air kekecewaan. Bayangkan saja, jika harapan itu terlalu sederhana, namun kesederhanaan harapan itu sirna dengan seketika. Bagaimana tidak, dengan hasil jualan itulah kami disekolahkan. Memang ayah adalah seorang guru namun kami yang berjumlah enam orang, yang semuanya bersekolah bahkan kami berempat telah kuliah di Kota yang jauh dari kampung, maka gaji dari seorang guru takkan cukup untuk membiayai semua kebutuhan kami. Tak disangsikan lagi, dari hasil jualan itulah kami disekolahkan, dari hasil jualan itulah kami bisa merasakan pendidikan yang kami inginkan. Dan ketika hasil jualan sangat sedikit bahkan tidak kembali modal, maka kesedihan yang ada, yang muncul dipikiran beliau tak lain adalah kami, sekolah kami dan biaya hidup kami. Dan hari ini aku melihat lagi kesedihan itu. Aku dapat melihat jelas di matanya, namun ia tak menunjukkannya lagi, ia justru penuh prihatin akan keadaanku dengan semangat yang tersisa ia akan membawa berobat sore ini, yah sore ini bukan besok atau lusa. Dia tak lagi memikirkan dirinya yang telah kelelahan seharian penuh bekerja. Ia yang bangun jam 4 dinihari untuk mempersiapkan segalanya, ia yang bekerja sampai larut malam dan ia yang mengurus kantin tersebut sendirian tak sedikitpun merasa lelah, taka da rasa capek, meski hela napasnya terdengar semakin berat dan terkadang rasa sakit yang ia keluhkan, namun tuk anaknya semua itu ia buang jauh-jauh.

Setelah membereskan kantin, kami menuju rumah, ia berganti pakaian dan setelah shalat kami berangkat. Dengan dua buah motor yang kami bawa, saya beriringan dengan beliau. Saya lebih senang berada di belakangnya memperhatikan sosok yang senantiasa menjadi penyelamat dalam kehidupan kami. Kami sengaja membawa dua motor, karena kami akan menuju tempat berobat yang asing bagi kami, jadi kami berencana membawa orang yang mengenal lokasi tersebut sebagai penunjuk jalan nantinya. Orang tersebut tak lain adalah sepupu ibu saya, ia juga mempunyai benjolan pada lehernya yang dikenal dengan nama gondok, dan dialah yang memberikan informasi agar kami berobat ke tempat tersebut. Sebelum ke rumah tante saya tersebut, kami berbelok kearah rumah nenek untuk menyuruh om saya memanjatkan benalu yang terdapat pada pohon kayu di depan rumah. Begitu kami datang Om ku telah berada di depan rumah, ia mengatakan bahwa pohon itu cukup besar dan banyak semutnya jadi susah untuk dipanjat, namun karena yang meminta ada ibuku, kakak tertua dari om-ku tentu saja taka da alasan untuk tidak. Ibu adalah orang yang paling di hormati dalam keluarganya, jika ada masalah maka ia sering menjadi penentu berbagai kebijakan yang diambil, dirinya juga yang selalu menjadi tempat mengaduh, bahkan mengeluh di keluarga besarnya, bahkan berbagai masalah yang muncul terkadang diselesaikan dengan bantuan ibuku. Disaat orang lain menyerah, disaat yang lain mundur, maka ia selalu hadir memberikan titik cerah, terkadang ia harus merasakan sakit karena daya tahan tubuhnya yang terganggu saat ia mengurus masalah keluarganya. Itulah dia, sosok yang tak kenal lelah membantu keluarganya. Setelah kami mendapatkan benalu itu kami melanjutkan perjalanan kami, ia yang terlihat gempal dan bongsor tak pernah lelah dalam sikapnya, terkadang fisiknya telah lelah namun hatinya tak pernah berhenti bersoar tuk terus bekerja. Setelah 20 menit berkendara, akhirnya kami tiba dirumah tante itu, namun kami tak bisa mengajaknya pergi. Ia hanya menunjukkan jalan yang harus kami tempuh untuk menemui orang pintar tersebut. Ibuku tak pernah bisa memaksa, ia hanya bisa memahami, walaupun ia telah merencanakan untuk membawanya sebagai penunjuk jalan, namun ia tak menunjukkan wajah kecewanya sedikitpun. Andai akan seperti ini, aku lebih senang menggunakan satu motor saja, agar ia tak usah mengendarai sendiri motor tersebut. Kami melaju ke tempat yang dituju. Jauh dan sangat jauh tempat itu. Dari aspal beton, aspal curah, aspal yang pecah-pecah, aspal yang penuh lubang hingga akhirnya jalan berbatu dan berkerikil tajam dan berkelok kelok. Setelah beberapa kali kami bertanya dan mencocokkan petunjuk yang ada kami akhirnya tiba di rumah orang pintar tersebut.

Rumah batu berdinding tegel berwarna biru terlihat mencolok dari kejauhan. Kami memasuki pekarangannya, dan mendapat seorang nenek yang tua rentah dan agaknya susah melihat, ibuku bertanya padanya dan ia menjawab dengan menggurutu dan lalu menyuruh kami terus masuk saja ke rumah tersebut. Kami tepat berada di depan pintu, ibuku memberi salam, namun tak ada yang menjawabnya. Kami melihat ada yang duduk di kursi tepat disebelah pintu yang begitu dekat dengan kami, kami memutuskan masuk setelah ia juga menjawab salam tersebut, ia tak memakai baju, tubuh rentah dan mata yang tak lagi bisa melihat dengan jelas itu hanya terduduk. Ibuku terduduk tepat didepannya, saat seorang wanita dewasa memastikan pada kami bahwa ialah orang yang kami cari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s