Takkan Terganti Selamanya (eps.2)

Posted: January 31, 2014 in cerpen, Rasa
Tags: , ,

Ibu duduk beralaskan lantai, dengan penuh iba aku tak sanggup melihat keadaan itu. Ia terduduk di depan orang tua itu, lalu ku tempatkan diriku duduk tepat di sampingnya. Ibu yang tadi begitu tegar melalui jalan yang berbatu, jalan yang asing dan jauh dari keramaian hanya untuk menemui orang pintar tersebut. Kini kami tepat di depan orang tua tersebut, ia sudah udzur, matanya tak lagi mampu melihat dengan jelas, Nampak jelas ia hanya mengenali orang-orang disekitarnya dari suaranya. Ibu mulai memohon dengan bahasa daerah yang kental dikarenakan orang tua itu hanya dapat mengerti bahasa daerah tersebut. Bukan permohonan biasa yang ibuku lakukan kali ini, aku melihatnya bermohon dengan penuh iba dan mengharap belas kasih, ia bahkan mencucurkan air matanya berharap sang orang pintar mau mengobati sakit yang ku derita. Hatiku penuh sesak dengan perasaan haru dan pilu, aku membuat ibuku menangis di depan orang tua yang terkenal pandai mengobati penyakit tumor ini.

Mungkin tak terbayang lagi bagaimana kebaikan ibu yang besar, mungkin tak ada yang menyangsikan lagi akan hal tersebut, namun aku takkan bisa menganggap ini sebagai hal yang biasa. Kebaikannya takkan pernah sirna terganti dengan apapun. Rasa sayalahng itu tersembul dan nyata dalam tangisnya. Saat kami hanya bisa berharap dan berdoa, ia mampu melesatkan mimpi dan pengharapan yang lebih tinggi. Ia tak ingin sedikitpun membuat kami merasa sendiri, dia akan selalu ada dan akan melakukan apapun untuk kami.

Sepulang berobat, kami menuju ke pasar tradisional untuk melakukan rutinitas belanja harian untuk keperluan jualan di kantin sekolah. Aku masih ingat beberapa decade yang lalu, saat aku masih berada di bangku sekolah dasar. Aku masih ingat rutinitas itu, melakukan belanja keperluan jualan. Dengan daftar belanjaan yang  telah dituliskan oleh ibu, saya hanya membawa semua barang yang ada di daftar tersebut. Ah, saya masih ingat semua penjual yang sering bertransaksi dengan saya, karena terkadang mereka menyukai saya, si anak kecil yang sudah pandai belanja keperluan sehari-hari, dari Pak Mus yang berada di kios pasar, Mamanya Sinta, Mamanya Okta sampai kepada Toko Pak Brian yang merupakan toko kelontong terbesar di kampung kami saat itu. Nostalgia itu, tak lagi menjadi rutinitasku saat ini, lama sudah aku berada di Kota Makassar, tak dapat lagi diriku membantu ibu dalam hal ini. Huah, akankah lelah membuat ibu semakin lemah, akan esok ia masih mampu seperti ini? Aku bertanya bukan berharap pesimis aku hanya tak tahu sampai kapan ia akan bekerja keras untuk kami.

Aku tersadar dari lamunan itu, sesaat ketika ibu memanggil namaku yang sedari tadi menunggunya di atas motor tepat di depan took kelontong besar ini. Yah, dia memanggilku sambil mengangkat sebotol minuman sprite, pikirnya aku pasti haus telah berjalan jauh menyusuri jalan bersamanya, ibu memikirkan semua itu, disaat aku sendiri tak lagi memikirkan itu. Aku tak merasa haus sedikitpun, aku hanya merasa sedih, aku bahkan tak mampu berkata-kata. Aku ingat dahulu, saat krisis melanda, mungkin taka da yang lebih menderita selain ibu. Aku masih ingat semuanya, dia hanya makan sisa makan kami, bahkan ia rela tidak makan untuk kami. Saat pilu itu bukanlah hal yang patut dikenang, namun hal itu lebih dari sebuah kisah klasik akan kedigdayaan ibu, kebesaran hatinya yang tak terkira. Hari ini aku mengakui akan cinta itu, ia tak pernah memandang kami sebelah mata, baginya kamilah permatanya, kamilah hartanya, dan kamilah hidupnya. Kabar kami adalah motivasi besar untuknya dalam bekerja, ketika kami tak mampu membanggakannya, ia tetap percaya pada kami, ia percaya kami akan menjadi cahaya penerang kehidupan keluarga. Teringat jelas pesan ibu saat dulu kami beranjak ke kota, “Belajarlah yang tinggi, lihatlah bagaimana susahnya om, tante dan keluargamu yang tak berpendidikan, hidup dalam serba kekurangan”. Itulah visi yang luar biasa, janganlah terlalu jauh menghayalkan tuk keliling dunia, menaklukkan berbagai gunung tinggi ataukah menjadi orang terkenal, cukuplah berpendidikan yang tinggi, agar kelak kita bisa lebih baik dari mereka yang kurang beruntung. Dalam kasih yang tulus, ada cinta yang dalam dari ibu yang takkan pernah terganti selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s