Archive for February, 2014

JANGAN rencanakan Kegagalanmu

Posted: February 27, 2014 in Asal, motivasi
Tags: , , ,

Apakah ada di antara kita yang pernah berpikir untuk merencanakan yang namanya kegagalan? Atau ada di antara kita yang dengan sengaja berusaha untuk gagal? Saya rasa jawabannya tidak ada. Bahkan dalam film atau serial tv pun kegagalan bukanlah menjadi sebuah tujuan. Dan begitupun di dunia nyata kita.
Namun banyak yang tidak menyadari, ternyata selama ini kita terkadang merencanakan untuk gagal. Atau dengan sengaja menjemput kegagalan tersebut. Kegagalan ini sering dihubungkan dengan rencana yang kita susun. Orang bijak berkata “barang siapa yang gagal berencana maka ia juga telah berencana untuk gagal“. (more…)

Lama Sudah Kita Berkawan

Posted: February 25, 2014 in Curcol
Tags:

Telah lama sudah kita bersama, hari kita tak lagi terhitung dalam puluhan, namun telah ratusan jumlahnya. Aku dan kau sudah bersama selama waktu tak terhitung itu menjalani hari melintasi berbagai situasi.

Aku tak ingat jelas waktu dulu pertama kita bertemu, namun aku tau, aku bukan yang pertama hadir bersamamu. Aku bukan pula yang menemani hari-hari mudamu itu, aku hadir di waktu kau telah lama merasakan jalanan hidup ini. Aku dan kamu dipertemukan dalam jalan menuju akhir studiku, aku dan kamupun kini telah menjadi kita.

(more…)

Bukan Aku Marah

Posted: February 24, 2014 in Curcol
Tags: , ,

Nak, hari Ini aku semangat sekali.  Pagi-pagi, aku berjalan dari rumah dinas tuaku. Tak ada sedikitpun lelah dalam rute panjangku pagi ini. Aku tiba lebih awal, meski seharusnya kalian yang harus menungguku di dalam ruang kelas ini.
Aku duduk di bangku seok tua tak berwarna lagi. Ia mulai lapuk termakan usia. Sesekali kulirik jauh dua tiga pipit coklat bermain di dahan padi yang mulai menguning. Di sela lubang Jendela kelas inilah oase kesejukan pagi selalu memberiku semangat menghadapi penantian ini. (more…)

Teruntuk Kita

Posted: February 23, 2014 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Teruntuk kita
Teruntuk dirimu
Teruntuk rasamu
Teruntuk kita
Dan semua waktu yang terlepas dari genggaman

Teruntuk kita
Jalan itu telah kita lalui
Berdua tak sendiri
Kala diam dalam luka
Kita tetap berjalan bersama (more…)

Dalam keseharian kita sebagai mahasiswa tingkat S2, tentu saja tuntutan menulis dan menuangkan ide itu bukan hal yang baru dan tentu saja perlu perhatian khusus. Jenis tulisan inipun lebih dikenal dengan Tulisan Akademik. Kami sendiri merasa menulis akademik terkesan menantang dan penuh dengan kegalauan. Terkadang memulai tulisan itu memakan waktu 2 hari, menyempurnakan isinya baru pada H-2, bahkan ada yang katanya (ini hanya katanya) tulisannya bisa selasai pad malam hari sebelum hari deadlinenya. Hm, apa sebenarnya yang menjadi kendalanya yah? Menurut hemat penulis sendiri ada banyak hal, namun kali ini kita akan coba mengintip apa dibalik semua itu.

Sebenarnya menulis akademik itu mudah. Dalam tulisan akademik, kita dituntut untuk mengemukakan pendapat kita dan tetap mengantispasi kontra argumen yang mungkin muncul. Kita harus mampu untuk mengatur ide yang kita punya dalam barisan kata yang panjang ataupun singkat. Jalan ceritanya tidak akan sepenting kejelasan dari tata letak yang logis tentang ide-ide tersebut. Terkadang kita juga harus menguasai kosakata teknikal dan juga penggunaan yang tepat terhadap kata-kata tersebut dalam bidang ilmu kita.

(more…)

(Mantan) Ruang

Posted: February 21, 2014 in Cerpen, Kuliah
Tags: , , , , ,

Jumatan telah selesai, kami meluncur dengan kecepatan biasa-biasa saja, melontarkan deru polusi mesin matic dan honda supra yang sedari tadi menemani. Kami bertiga, ada A, I, dan U..(kurang E dan O). Kami bertiga tadinya berbanyak-banyak ria, namun tuntutan profesi, kami berpisah meniti karir di dunia berbeda (dunia lain juga). Kami tadinya dihampiri kegalauan dengan tingkat bervariasi, mulai tinggi, sedang, dan rendah. Si A mungkin rendah, atau juga sedang, aku masih sedang pun tak tinggi, Namun si U, ternyata galaunya tertinggi. Muasalnya tak lain adalah penutup kepala kulit membalut plastik elegan dengan kaca yang sisi kerenitasnya tak lagi diragukan, telah dipinjam orang lain tanpa sepengetahuan kami. Sang peminjam yang tak segan-segan mencongkel dan memindahkannya ke tempat yang tak kami ketahui lagi, tanpa kabar, nampaknya ia tak bermaksud mengembalikannya lagi.

Diluar kegalauan itu, si U tetap bersyukur pada_Nya, toh hanya bagian kecila tersebut yang diambil, gimana kalau yang diambil bagian besarnya? Hm, selalu ada jalan tuk mengajari kita bersyukur. Setidaknya pengalaman kali ini menampar-nampar kami untuk melihat dari segala sisi. Tadinya kami melihat dari sisi efisiensi waktu, ternyata kami teledor dalam hal keamanannya. (more…)

Menunggu Doa

Posted: February 20, 2014 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Tak ada keseharian terbaik umat manusia selain menunggu dalam waktunya tuk kembali berdoa. Kalau saja kita diciptakan dalam dunia bukan tuk berdoa, kita mesti sudah jauh arah tak kembali dalam hakikat kita nantinya. Mungkin kebanyakan diri kita telah lupa akan kodrat dalam kesibukan dunia yang menuntut kehadiran diri kita yang terlalu cinta padanya.
Saat ini dunia menjual manisnya dengan nilai yang sangat rendah, membuat mata kita terpejam nikmat merasakan indahnya. Hingga kumandang panggilan yang terdengar jelas menjadi samar dan ajakan yang pasti hilang dalam kebohongan kita. Waktu menipu kita dalam diamnya. Ia menawarkan saat tuk menunda, padahal ia tahu menunda telah berarti tidak tuk selamanya.
Saya bukan merenggut waktu tuk memberikan ruangku berdoa, namun saya percaya dalam keangkuhan waktu duniaku, ada hak yang telah kurebut. Kewajiban itu merupakan bentuk hakikih keakuan diri untuk tetap konsisten berdoa. Hak dan kewajibanku tercampur baur tak menjelaskan apa dan mengapa. Aku malah mencoba tuk mencampurkan saya dalam aku saat membahas diri ini.
Saya kembali dalam pikirku, jika memang kita dikodratkan berdoa, maka tak ada pilihan lain selain kita terus berusaha dalam menepatinya. Berjanji pada diri sendiri bukan memudahkan tuk mengingkari, namun menjelaskan keikhlasan untuknya.
Dalam doa hari hariku, aku dan semua dalam diriku, mencoba kembali pada fitrahku.

#catatan menunggu doa

Lelah Kataku

Posted: February 19, 2014 in Rasa
Tags: , ,

Tersudut yang tersambut pagi
Kala lelah pena tuk merangkai kata
Tak lagi menantang ide imaji
Dalam sulit mencoba berkata

Titik jenuh mengepul ibarat mendung
Awan gelap tak menggerakkan pikir
Kala semua menghujani, dalam bosan tuk berkata
Aku menikmati hujan bosan itu

Aku mungkin basah kali ini
Aku mencoba menikmatinya
Meski jauh di dasar hati ini
Aku ingin mentari kataku lagi

Lelah bukan pilihan tuk berkata
Namun dalam kata ada lelahku
Moga semangat tak termatikan lagi
Hingga ia meredup dan perlahan berkobar lagi

#fightforwriting

Tujuh Lapis Waktu Menunggu

Posted: February 16, 2014 in daily life, experience
Tags: , ,

Hari ini, tepatnya siang ini, saya menghadiri acara konser dan launching mini album perdana dari grup vokal “Aligo”. Hm, mungkin banyak yang belum tau atau belum kenal..kalo begitu kita kenalan dulu deh dengan kelompok vokal yang satu ini. (anggap aja dah jabat tangan yah.hehe). Meski baru kenal tapi jangan salah, kelompok vokal yang mengusung tema musik positif ini telah ada sejak tujuh tahun lalu loh, tepatnya mereka berulang tahun pada tanggal 13 Februari yang lalu, beda sehari saja yah dengan hari Valentine.

Tempat konsernya itu di Kampung Popsa, saat saya datang masih sepi, sempat kecewa juga sich karena acara molor saudara-saudara. Yah, saya heran, kenapa budaya jam karet yang ada disetiap acara itu sangat lazim di Indonesia, berbagai alasan mungkin menjadi penyebabnya, namun tak ada yang bisa saya lakukan selain menunggu saja. Dan waktu menunggu itu terbalas jua akhirnya

(more…)

Kau bukan Valentine

Posted: February 15, 2014 in Curcol, Uncategorized
Tags: , ,

Saint Valentine merupakan seorang pendeta pelayan umat di Italia, yang kemudian di hukum dalam penjara atas perintah dari Raja yang berkuasa pada saat itu. Dalam penjara inilah ia menuliskan surat kepada kekasih pujaannya. Karena romantisnya kisah cinta mereka, banyak yang mengabadikannya menjadi momen valentine. Seperti mencontoh kata-kata penutup surat yang selalu dituliskan Saint Valentine, Your Valentine, banyak yang kemudian menyatakan cintanya dengan menjadi valentine bagi kekasih hatinya.

Dalam pandangan agama saya, larangan perayaan valentine itu dikarenakan dalil dari kitab suci yang menjadi pedoman hidup umatnya. Namun terlepas dari itu semua, ada esensi nyata yang coba disampaikan oleh keyakinan ini dalam hal menentang dan menolak perayaan seperti itu.

(more…)