Mengapa Bahasa? Sakitkah Engkau?

Posted: February 10, 2014 in Kuliah
Tags: ,

Kemarin dan kemarinnya lagi, saya sempat kuliah,  berhubung saya mengambil Mata Kuliah Sociolinguistic, maka pergulatan bahasa dan komunitas akan jadi pokoknya.

Mata kuliah diajarkan seorang prof. Keren dan memukau bahkan terkadang sadis dalam berkata, namun yang paling mengesankan adalah kopi, Yah secangkir kopi diantarkan oleh staf pegawai saat perkuliahan sedang berlangsung.

Nah, setelah sang maestro pembawa secangkir kopi menyusup dan berliuk-liuk meletakkan kopi di atas meja sang Prof, berkatalah prof:

You save my life, Dg.Nai

Hm, enak yah jadi prof, bisa minum kopi sambil ngajar, keren banget yah. Menurut saya inilah superior dosen yg takkan di dapatkan pada guru/pengajar kebanyakan. Kalo saya nanti menjadi Menteri, peraturan harus ditegakkan, kenyamanan harus nomor 1, hehe, jadi silahkan ngopi.

Kembali pada konteks pengajaran bahasa. Sebenarnya, banyak kontroversi dalam penggunaan atau pun penetapan suatu bahasa sebagai Bahasa Resmi atau Bahasa International

Tertera contoh pada menjadinya Bahasa Inggris sebagai Bahasa Dunia

Nah loh, emang kenapa dengan bahasa Inggris? bukannya memang Bahasa Inggris adalah bahasa dunia, bahasa international.

Sebenarnya toh, pada dahulu kala, hehe, mendongeng ma deh..hm..bahasa Inggris adalah bahasa yang tidak digunakan secara luas skalanya hanya pada taraf intra negara saja dan penggunanya pun hanya kelas rendahan, kelas bawah. Bahkan yang menjadi bahasa antara negara kala itu adalah bahasa Francis. (cie Francis, senyum2q tawwa). Dan bahasa Francis ini digunakan oleh kelas menengah dan kaum elite kalah itu. Namun dalam perkembangannya, bahasa Inggris mampu menarik perhatian dunia, selain melalui negara jajahannya, Inggris menduniakan bahasanya melalui pengaruh peradaban Ilmu pengetahuan dan Teknologi Industri yang dimilikinya, jadi negara yang mau mempelajari dan mengembangkan pengetahuan tentang hal tersebut harus menguasai bahasa Inggris, berkembanglah bahasa Inggris. Apatah lagi, America sebagai pengguna bahasa Inggris muncul sebagai raksasa dunia dan tak terbendunglah penguasaan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Dunia.

Itulah mengapa, orang-orang Francis banyak yang enggan mempelajari bahasa Inggris, karena menurut mereka bahasanya lebih baik dan elit dari bahasa tersebut.

Lain halnya di Indonesia, yang merupakan negara dengan penduduk yang menyebar dari ujung Sabang sampai Merauke ini, ternyata eh ternyata, juga menuai permasalahan yang sama. Dan saya juga baru sadar, ternyata selama ini ada kemarahan dari orang-orang yang mempunyai jumlah penutur terbanyak di Indonesia dalam hal bahasa daerah, yaitu Jawa. Orang-orang Jawa marah, karena bahasa Indonesia, bahasa resmi Indonesia berasal muasal dari Bahasa Melayu yang notabene hanya dituturkan oleh sebagian suku di Semenanjung Sumatera. Iya juga sich, kenapa bahasa Nasional ini berasal dari sana? Tau kenapa? Tanya ma, saya juga tidak tau.hehe.

Namun bagi saya, bahasa Melayu itu sangat indah, permainan katanya sangat memikat, maknanya dalam dan mendayu-dayu, mengalirkan sejuta rasa dalam untaian-untaian kalimatnya. Nggak percaya? nonton aja filmnya “Tenggelamnya Kapal Van Der Wick”, walau si Zainuddin cukup lebay dalam berakting, namun kata-katanya mampu menyampaikan makna yang terdalam.cie.cie

Hm..back to the Sociolinguistic, ternyata penguasaan bahasa seseorang itu dapat diukur loh, apakah seseorang itu telah benar-benar ahli dalam penggunaan bahasa. Menurut prof, ada 4 ciri yang ilmiah dan satu ciri yang kurang ilmiah.hehe

  1. Tidak melakukan code switching saat berbicara
  2. Bisa marah dalam bahasa tersebut
  3. Bisa bercanda dalam bahasa tersebut
  4. Bisa merayu dalam bahasa tersebut

Dan yang ke 5, adalah ketika anda bisa mengigau dalam bahasa tersebut.

Sebenarnya masih banyak yang diberikan prof hari itu, tapi saya malas menuliskannya, katanya sih tak ada makan siang yang gratis.

Tapi karena sekarang saat sarapan, maka saya akan menceritakan sedikit tentang anak S2 yang harus disampaikannya. Menurut beliau.ehm.ehm

Dalam ekspektasi yang meninggikan ke ilmuan setingkat S2 maka tak ada alasan bagi mahasiswanya untuk tidak membaca dan membaca

Equip yourself with many theories

Tak ada sebab musabab darinya selain mengingatkan daripada tugas akhir mahasiswa S2

Ketika telah berpalang pada proposal penelitian, penelitian dan menghasilkan output

Maka tegasnya beliau mengatakan “Thesis outputnya berkontribusi pada theoritical benefit”

Namun ketika berbenturan pada theoritical benefits, theories need to be mastered.

Seperti contoh beliau berikat pada perkembangan teori pengajaran Cooperative Learning

Berakar pada Vygotsky yang mengedepankan Theory “Zone of Proximal Development”

Yang sedikit banyak termodifikasikan pada “Zona Nyaman” milik orang2 ekonomi

Teori yang mengejakan bagaimana kemudian perkembangan pengetahuan/kesuksesan seseorang itu didikotomikan dalam dua bilik real/actual dan bilik potential.

Ketika kita selalu bergelut dalam bilik real, sebenarnya bilik potentialpun menanti untuk dijamah

Dalam kepentingan sukses dan menjadi orang berpengetahuan tinggi,bilik potential inilah jawabnya

Ketika kita telah nyaman dalam nilai 100, tak mau lagi bergelut untuk maju

Maka itulah nilai real kita, dalam nyatanya kita berpuas-puas pada ke-actual-an diri kita

Toh, ketika mau menggeliat sedikit saja, menyebrangkan diri kita pada zona potential

Jangankan, 125 nilai 500pun dapat kita peroleh. Namun, bukan mustahil hal ini mudah

Untuk kesuksesan ini, untuk menuju potential zone ini, ada banyak faktor yang berkontribusi

Salah satunya yang terpenting adalah Environment

Jika anda mau lihat pengetahuan seseorang…

Lihatlah dengan siapa dia berteman

Apa bahan bacaannya

Pada siapa dia berguru/belajar

Selain theory Vygotsky tersebut, Piaget juga menambahkan pengetahuannya

Learners bukan seperti tangki kosong yang passive yang apa saja diisi oleh gurunya, namun siswa itu harus aktif

Jika dirunut pada semuanya maka kita akan sampai pada pengaruh Constructivism, bahwa pengetahuan seseorang itu berasal dari pengalamannya.

Dan dari keduanyalah dileburkan teori dan dihasilkan sebuah metode pengajaran tersebut, Cooperative Language Learning.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s