Memaknai Belajar

Posted: February 14, 2014 in Kuliah
Tags: , ,

Pengajaran itu membutuhkan kreativitas, lebih dari sekedar ingin dan hasrat dari pengajar untuk memenuhi kewajiban beberapa puluh menit di dalam kelas. Dalam kondisi klasik, pengajaran semakin didesain untuk menuntaskan semua materi yang terdapat pada daftar materi dalam silabus. Dampaknya menimbulkan ketimpangan dari proses pengajaran, transfer ilmu yang berjalan satu arah membuat siswa passive dan hanya dapat menangkap materi yang disampaikan dalam jumlah yang sangat sedikit. Banyak yang mengeluh bahkan tak jarang yang meninggalkan kelas karena merasa proses belajar tidak menarik. Siswa merasa tidak diperhatikan lagi.

Parahnya lagi, terkadang pengajar tidak memperdulikan hal tersebut. Toh, menurut mereka, jika semua siswa dituruti kemauannya, maka proses belajar tidak akan berjalan. Dalih yang mengedepankan ketuntasan materi seakan mematikan kreativitas guru dan ketertarikan siswa. Permasalahan inni telah banyak terjadi di Negara kita ini, utamanya yang berada di daerah urban dan daerah yang memiliki guru-guru yang kurang terlatih dan tidak begitu kreative untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk mencapai keberhasilan dalam semua aspek pembelajaran, termasuk tersampaikannya semua materi dan juga siswa mendapatkan pengetahuan yang bermakna.

Beberapa hari yang lalu, seorang pengajar sempat dipertanyakan kemampuannya dalam mengajar berhubung banyaknya keluhan yang datang dari para siswa/mahasiswa menyatakan bahwa tak ada ilmu yang mereka dapat dari pengajar tersebut. Hal tersebut memang benar adanya, sang pengajar, boleh dikata tak menguasai materi yang dibawakan, penguasaan kelas juga tak berjalan dengan baik. Menurut saya, ada strategi yang salah yang diterapkan oleh pengajar dalam posisi tersebut. Mestinya beliau lebih melihat kondisi dan kemampuan yang ia miliki, dan salah cara terbaik untuk mengajar dalm konteks tersebut adalah dengan menerapkan “Contextual Teaching Learning (CTL)”

CTL merupakan pengembangan dari metode pengajaran klasik yang menekankan pada pengajaran secara kontekstual atau berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Hal yang menarik dari metode pengajaran ini adalah pemusatan perhatian pada siswa. Siswa menjadi poros utama proses pembelajaran. Namun sebenarnya, CTL ini lebih dari sekadar pembelajaran yang berbasis pada siswa, ada tujuh prinsip dasar yang mendasari CTL ini:

  1. Konstruktivisme
  2. Inkuiri
  3. Strategi Bertanya
  4. Komunitas Belajar
  5. Pemberian Model
  6. Refleksi
  7. Penilaian Otentik

Konstruktivisme memberikan landasan pada bagaimana siswa membangun sendiri ide atau pengetahuan yang diberikan. Dalam hal ini siswa berinteraksi dengan temannya dalam menemukan kebenaran dari sebuah permasalahan yang ada. Pada proses Inkuiri siswa akan diberikan kesempatan untuk menemukan kebenaran dari sebuah fenomena secara langsung melalui praktik. Selain itu, Strategi Bertanya merupakan bentuk lain penguatan peran serta siswa dalam memberikan respon balik dan menunjukkan sejauh mana pemahaman mereka. Selain menekankan pada kemampuan siswa, dalam CTL dikembangkan proses pembelajaran dalam komunitas atau kelompok sehingga siswa berinteraksi dalam konteks sosial dan keterbukaan terhadap pendapat dan ide dari siswa yang lain. Selain itu dalam konteks fungsi pengajar yang cukup minimal, pengajar diharuskan memberikan model yang lebih kongkret untuk mengembangkan pengetahuan yang telah didapat. Selain melalui proses pembelajaran yang lebih aktif tersebut, siswa dapat melakukan refleksi yang berhubungan dengan perasaan yang siswa peroleh. Dan layaknya pengajaran pada umumnya, maka akan diperoleh dengan langkah akhir dalam bentuk evaluasi. Namun evaluasi yang dilakukan dalam CTL bersifat Penilaian Otentik, yaitu penilaian yang diberikan bukan hanya pada hasil akhir namun terlebih pada semua aspek dalam proses pembelajaran.

Dari penjelasan prinsip tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan yang memberikan titik baru dalam pengajaran. CTL dianggap dapat memberikan pembelajaran yang lebih bermakna, lebih dalam dan dapat diingat dengan mudah oleh siswa. Interaksi antar siswa, praktek langsung, peran guru yang minimal dan proses penilaian yang lebih objektif akan memberikan dampak yang lebih baik bukan hanya pada konten pengajaran namun juga terhadap motivasi dan minat siswa belajar.

Terlepas dari itu semua, masih banyak hal yang perlu dibenahi untuk mensukseskan pembelajaran yang menggunakan CTL utamanya di Indonesia yang sistem pendidikan dasar dan menengahnya masih bermuara pada ujian nasional. Ujian nasional terkesan tidak memberikan penilaian yang objektif pada semua aspek yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran. Olehnya itu, kreativitas guru merupakan sesuatu yang mutlak untuk mewujudkan pengajaran yang bermakna dengan menggunakan CTL

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s