Menunggu Doa

Posted: February 20, 2014 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Tak ada keseharian terbaik umat manusia selain menunggu dalam waktunya tuk kembali berdoa. Kalau saja kita diciptakan dalam dunia bukan tuk berdoa, kita mesti sudah jauh arah tak kembali dalam hakikat kita nantinya. Mungkin kebanyakan diri kita telah lupa akan kodrat dalam kesibukan dunia yang menuntut kehadiran diri kita yang terlalu cinta padanya.
Saat ini dunia menjual manisnya dengan nilai yang sangat rendah, membuat mata kita terpejam nikmat merasakan indahnya. Hingga kumandang panggilan yang terdengar jelas menjadi samar dan ajakan yang pasti hilang dalam kebohongan kita. Waktu menipu kita dalam diamnya. Ia menawarkan saat tuk menunda, padahal ia tahu menunda telah berarti tidak tuk selamanya.
Saya bukan merenggut waktu tuk memberikan ruangku berdoa, namun saya percaya dalam keangkuhan waktu duniaku, ada hak yang telah kurebut. Kewajiban itu merupakan bentuk hakikih keakuan diri untuk tetap konsisten berdoa. Hak dan kewajibanku tercampur baur tak menjelaskan apa dan mengapa. Aku malah mencoba tuk mencampurkan saya dalam aku saat membahas diri ini.
Saya kembali dalam pikirku, jika memang kita dikodratkan berdoa, maka tak ada pilihan lain selain kita terus berusaha dalam menepatinya. Berjanji pada diri sendiri bukan memudahkan tuk mengingkari, namun menjelaskan keikhlasan untuknya.
Dalam doa hari hariku, aku dan semua dalam diriku, mencoba kembali pada fitrahku.

#catatan menunggu doa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s