(Mantan) Ruang

Posted: February 21, 2014 in Cerpen, Kuliah
Tags: , , , , ,

Jumatan telah selesai, kami meluncur dengan kecepatan biasa-biasa saja, melontarkan deru polusi mesin matic dan honda supra yang sedari tadi menemani. Kami bertiga, ada A, I, dan U..(kurang E dan O). Kami bertiga tadinya berbanyak-banyak ria, namun tuntutan profesi, kami berpisah meniti karir di dunia berbeda (dunia lain juga). Kami tadinya dihampiri kegalauan dengan tingkat bervariasi, mulai tinggi, sedang, dan rendah. Si A mungkin rendah, atau juga sedang, aku masih sedang pun tak tinggi, Namun si U, ternyata galaunya tertinggi. Muasalnya tak lain adalah penutup kepala kulit membalut plastik elegan dengan kaca yang sisi kerenitasnya tak lagi diragukan, telah dipinjam orang lain tanpa sepengetahuan kami. Sang peminjam yang tak segan-segan mencongkel dan memindahkannya ke tempat yang tak kami ketahui lagi, tanpa kabar, nampaknya ia tak bermaksud mengembalikannya lagi.

Diluar kegalauan itu, si U tetap bersyukur pada_Nya, toh hanya bagian kecila tersebut yang diambil, gimana kalau yang diambil bagian besarnya? Hm, selalu ada jalan tuk mengajari kita bersyukur. Setidaknya pengalaman kali ini menampar-nampar kami untuk melihat dari segala sisi. Tadinya kami melihat dari sisi efisiensi waktu, ternyata kami teledor dalam hal keamanannya.

Berlari dari kegalauan menuju ruang kelas bertingkat-tingkat itu, aku mampirkan diri dalam ruang basah, sejenak menitipkan air buangan yang terkadang menyiksa dan menggerogoti konsentrasi belajar ini. Namun saat keluar dari ruang tersebut, aku tak melihat apa dan siapa, ruang FIB kosong. Si A dan U ternyata juga bermain di ruang basah sejenak, masih mengenang kegalauan, namun akhirnya tersadarkan akan waktu kuliah dan tempat yang tak pasti. Waktu menunjuk pukul 13:02 sudah, kami terlambat tanpa ada kepastian. Semua nomor hape tak ada yang tersambungkan, tak ada juga yang membalas hingga menit-menit berikutnya. Kami berjalan menuju gedung itu, gedung yang menjadi sangkaan tempat kuliah kali ini, dan untunglah semua pasti bahwa itulah tempat kuliah saat nanti. Kami pikir telat menjadi status kami, ternyata belum jua ruang diisikan teman yang lain, bahkan kami menjadi yang pertama memasuki ruang ini.

Ruang di sudut lantai 4 ini, berbentuk labirin, dalam ruang ada ruang, dalam pintu terbuka lagi pintu. Tak ada yang biasa, namun tak ada yang istimewa. Kesederhanaan dalam jejeran kursi bentuk duduk melingkar oval dengan ujung terbuka, kami memasang dudukan pada hadapan pintu. Nampak jelas pintu itu berkata pada pandang ini “Dorong”. Kelucuan melihat wajah orang yang tak jelas samar terbiaskan kaca pintu itu, sedikit tertawa menahan dalam hati. Ruang ini ternyata dulunya adalah ruang si RU, memang cukup mewah dindingnya, memang cukup mewah lantainya dan juga mewah langit-langitnya, dan cukup sudah membuktikan si RU adalah penghuninya dahulu.

Aku tak bermaksud berada-ada atau sedikit mencipta-cipta pada hadirnya sosok lain. Namun benar adanya, selalu ada sang penunggu, tak kasat mata namun terasa hingga merindingkan bulu kuduk. Di sudut belakang dari deretan kursi yang bersamping dengan pintu itu, disudut belakang dekat lorong, sosok itu mulai muncul.

Tak ada menyadari bahkan merasakannya, sedikit gurauan dosen seakan melenyapkan mistisnya. Dari jarak tak seberapa dekat dan jauh itu, ia menampakkan wujudnya. Putih namun tak seputih salju, kabutnya tak segelap mendung. Ia wanita, gadis belia tepatnya, matanya memerah namun bukan darah, lelah sudah lengannya terkulai terjuntai kebawah. Rambut itu hitam tersamar dengan panjangnya yang menyelendang pada bahunya. Ia tak berwajah manis, namun ia penuh kehampaan, pandangan kosong itu mengarah ke depan, yah hanya ke depan, ke deretan kursi yang tepat menghadap dosen itu. Ia menghilang hanya dalam sekejap mata ini berkedip.

Aku memutar mata ini, menstereokannya menjadi radar melacak dimana dia. Mata ini berputar dan berhenti tepat di depan, namun tak ada yang dapat terlihat. Diam dan seakan semua hampa, seketika udara dingin itu hadir, bertiup merindingkan pada ubun-ubun, seakan hadirnya dekat dari sisi. Aku tak berani menoleh, tak bisa kucukupkan tenaga untuk menggerakkan kepala ini lagi, cakupan mataku tak jangkau dalam pandangan, hanya desah nafasnya yang terasa, semakin lama semakin panas merindingkan telinga ibarat dielus-elus dua tangan berbulu halus. Detakan jantung ini tak lagi berirama, ia saling memburu dengan nafas, seakan meyakinkan diri ia benar-benar ada di sisi, semeter saja, mungkin juga sejengkal saja. Tak ada pilihan lain, aku harus memastikannya. Aku mulai menggerakkan kepala ini, namun kekakuannya menjadi-jadi seakan urat leher ini belum dilumuri pelumas, bunyi derak sendi dileher perlahan-lahan menyapu detik waktu yang membawanya kesisi lain, aku memutarnya, ketika rasa takut dikalahkan rasa ingin tahu, aku memutar kepala ini, sedikit saja, dan hanya sedikit, dan memang sedikit itu, memastikan, memang tak ada. Tak ada apa-apa. Semua hilang. Semua lenyap, tak ada lagi rasa-rasa merinding itu, tak ada lagi rasa-takut itu. Aku heran, dan tak ingin lagi aku mencarinya.

Ruang ini mungkin telah memanjakannya sejak lama, ia mungkin muncul hanya untuk memberi peringatan, seakan benar kata orang, ketika kode etik dilanggar maka hukum pidana bisa menggugat anda, berhubung ini dari dunia lain, mungkin kode etik mereka terusik dengan kejahilan bahkan kenarsisan teman-teman lainnya, aku mengaku hal ini bukan kepastian, namun aku tak ingin, tak mau malah, untuk memastikannya pada foto-foto yang terekam di ruang itu. Tak ingin memastikan bahwa tak satupun foto itu yang menampakkan sosoknya, dan juga aku tak ingin memastikan bahwa rekaman suara si R itu menangkap desah nafasnya yang tak berirama namun menakutkan. Biarlah ia memberi peringatan pada kita. Dalam ruang ini, ia menjadi misteri. Mungkin perjumpaan nanti tak seperti ini lagi.

#Mantan Ruang. Pasal pembunuhan memang pernah terjadi, meninggalkan misteri arwah yang tak pernah tenang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s