Budaya Berbahasa Tutur

Posted: March 21, 2014 in experience, lecture
Tags: ,

Ada satu waktu dalam pembelajaran dulu dosen saya berkata ” kita Orang Indonesia punya budaya yang sangat besar malunya”. Dan kalimat tersebut disampaikannya kala membahas tentang persepsi Orang-orang terhadap para sarjana bahasa Inggris. Yah, kebanyakan orang-orang menilai keahlian bahasa Inggris seseorang dari kemampuannya dalam bertutur bahasa Inggris, padahal dalam bahasa Inggris ada banyak aspek selain kemampuan berbicara yang menjadi tolak ukur kemampuan berbahasa Inggris seseorang. Bahkan ada standard test tersendiri yang bisa digunakan sebagai tolak ukur tersebut seperti IELTS ataupun TOEFL.
Namun nyatanya, orang-orang lebih melihat kemampuan berbicara sebagai tolak ukur tersebut.
Sebenarnya tak ada yang salah dari pola pikir tersebut, karena memang bahasa itu harus dituturkan ‘Language must be spoken’. Dan pemikiran itulah yang harusnya disadari oleh para lulusan universitas yang mengambil jurusan bahasa Inggris karena orang menilai kemampuan berbicara sebagai suatu keharusan untuk dimiliki. Namun jika kita melihat realita dari para lulusan maka akan banyak fakta yang menunjukkan bahwa kemampuan berbicara adalah hal yang  sulit untuk dicapai apatah lagi jika harus menyamai tuturan asli bahasa Inggris.
Namun tak ada yang tidak mungkin jika memang ada usaha yang dilakukan. Terlebih lagi, speaking skill tersebut adalah kemampuan yang sebenarnya paling mudah untuk dilatih karena modalnya sangat sederhana yaitu hanya memanfaatkan alat tutur kita, yaitu Lidah. Yah, hanya dengan melatih lidah kita untuk terbiasa dengan tuturan bahasa Inggris tersebut. Seperti halnya kita belajar mengendarai sepeda, hal terpenting adalah banyaknya berlatih. Kita tidak akan pernah bisa mengendarai sepeda jika hanya mempelajari teori-teori bersepeda yang baik dan benar. Begitupun dengan keterampilan berbicara bahasa Inggris, tidak hanya cukup dengan mempelajari teori -teorinya saja namun melatih alat tutur agar lebih terbiasa.
Dengan sering berlatih maka otot-otot pada alat tutur kita akan lebih lentur dan tidak kaku lagi dalam menuturkan kata-kata bahasa Inggris tersebut. Namun, kembali lagi dengan kalimat yang disampaikan dosen saya pada awal tulisan ini, dimana orang Indonesia punya budaya yang besar malunya. Hal itulah yang menghambat proses melatih kemampuan berbicara seseorang. Rasa malu untuk melakukan kesalahan yang telah mendominasi pola pikir sehingga tidak kunjung melatih kemampuan berbicara. Bahkan saking tingginya rasa malu untuk melakukan kesalahan, terkadang seorang mahasiswa yang akan menyapa dosennya yang sedang menuju ke arahnya, akan berusaha untuk menyusun kalimat yang menurutnya paling benar, bahkan terkadang dosennya sudah lewat tapi si Mahasiswa belum selesai menentukan tuturan apa yang akan ia gunakan. Hal tersebut adalah contoh yang menunjukkan kurangnya latihan atau pembiasaan sehingga terjadi kekakuan pada otot-otot alat tutur, sehingga walaupun sudah tahu yang akan dikatakan namun tidak terbiasa maka akan butuh waktu yang lebih lama untuk menuturkannya.
Akhirnya, apa yang dapat kita simpulkan dari tulisan ini tak lain adalah kemauan untuk terus melatih dan membiasakan diri bertutur dalam bahasa Inggris. Selain itu perlu Juga untuk membuang jauh-jauh rasa malu untuk berbuat salah. Kesalahan bukanlah sebuah dosa, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan jika melakukan kesalahan. Keep in Mind that “Practice makes Perfect” so terus berlatih dan jangan takut salah.

# lnspired by Prof Hakim’s Class

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s