Sekeping Mozaik Kehidupan

Posted: September 10, 2014 in Curcol, daily life, Rasa
Tags: , ,

Rindu pada ketikan kata-kata ini menjadikan diriku sedikit menghasut jemari tuk kembali bermain dengan tuts keyboard laptop ini. Sudah seperti dahulu dalam ruang tanpa kepastian dan kesibukan dengan kesendirian, tak ada yang berarti dan mendesak tuk diselesaikan hari ini, maka sejenak bersama lembaran kisah yang terekam dulu mencoba tuk menjadikannya fragment kisah dalam tulisan ini. Terima kasih untuk mereka yang menginspirasi, tiga kisah dalam mozaik kehidupan, selamat membaca:

Fragment 1

#Kamu dan Buku Research

Sudah begitu lama berpisah dengan kenangan lama itu, bahkan terkadang aku lupa dengan raut wajah yang dulu menghias senyum di hari-hariku. Namun, waktu jua yang pertemukan kita, dalam ke-sengaja-an akan hubungan yang kita adakan. Aku bersama kamu dan kita pada kisah dulu terasa indah tuk dikenang. Masa-masa organisasiku yang menghamba pada demokrasi dan optimisme kemahasiswaan membawa pada pertemuan denganmu kala itu. Di bawah terik mentari dan koar-koar orasi di tepi jalan itu, aku dan kamu mengawali alur yang lalu menjadikan kita bersama dalam roda waktu 2 tahun itu. Taka da ruang yang sepi kala itu, bersama dengan rindu dan temu beserta harap akan bersama hingga kelak waktu menjawab pada akhir yang lain. Yah, akhir yang lain yang menjadikan kita beda dalam ruang ini, hingga raga tak bersama dan rasa yang dimatikan oleh waktu yang memisah. Meski ku tahu, kau memberi kesempatan tuk menghalalkanmu disisiku, namun sang waktu belum memberi rejeki yang mencukupkan niatku bersamamu selamanya. Kita berpisah dan takkan bersama lagi hingga mungkin waktupun takkan menjawabnya. Kau yang kini bersama dengan jodoh pilihan orang tua, mungkin tak menyesali akan hubungan darah yang masih sebegitu dekatnya dulu, meski kini kau dapati buah hatimu harus pergi dengan penyakit Talasemia, yang konon akibat perkawinan sedarah itu. Ah, mungkin aku terlalu jauh mengurusi hidupmu lagi, namun aku tak bisa pungkiri, rasa sesal akan bahagia kita yang tertunda masih ada. Andai mataku mampu meneteskan air mata, aku takkan bersikap tegar lagi dalam hidupku. Hidupku masih berproses dalam ruang keilmuan ini, pada masa berjuang yang sempat kita lalui dulu, dan kini seakan terulang pada fragment kisah kita, pada buku-buku yang sempat kau berikan, dan pada buku research yang kau janjikan padaku. Janji yang kau mudahkan dalam status PNSmu yang menjanjikan kesempatan itu. Makasih tuk itu dan makasih pada waktu itu. Waktu membawa kita pada pertemuan ini, pada segenap memori dulu yang kini kembali ku kunjungi dalam ruang museum ingatanku.

Meski kini tak ada ruang bagiku dalam ingatmu kelak, dan akupun takkan berniat tuk mengisi ruang itu lagi, namun aku percaya sang waktu maha bijak menjawab semua kebersamaan kita, kini, dan nanti.

 

#Fragment 2

Be Outstanding

Menetes dia datang, berganti dengan satu atau bahkan dua dan tiga ataupun lebih, para pencari gelar yang berkelahi dengan waktu, menghantam sedikit waktuku bahkan waktu kita. Aku bukan mencoba ingkar akan tanggung jawab namun aku ingin semua ada pada porsinya. Aku kini harus membagi ruang itu pada dua periode hari yang memungkinkan mereka menemuiku tuk menyelesaikan masalah dan konsultasi. Selebihnya, aku bisa berkarya lagi, bisa menghidupi geliat peneliti yang menghantarkan bukan hanya ilmu dan rupiah, namun kepuasan diri dalam menunjukkan expertise yang aku banggakan. Aku tak pernah merasa malu akan apa yang saya katakan, setidaknya saya berbicara pengalaman saya pada ruang-ruang kuliah itu hanya tuk membakar semangat yang kadang redup dan bahkan tak  bersinar lagi. Saya bukan orang yang pintar, namun saya berani tuk mencoba strategi hidup yang diajarkan oleh kehidupan itu sendiri. Saya ingin katakan bahwa dalam hidup ini semua orang sama, bahkan otak saya dan otak andapun sama, namun saya tak yakin apakah kita bisa menghasilkan sejumlah rupiah yang sama dalam waktu yang sama? Berapa yang anda bisa hasilkan dalam 2 jam? Bukan 100ribu, bukan 500ribu, bukan pula 1.000.000, yang saya mungkin dapatkan dalam waktu yang sama itu bisa lebih dari 100jt. Bukan hal yang mudah untuk dibayangkan, namun semua itu bukan hal yg mustahil. Kehidupan ini adalah pilihan dan kita bebas untuk memilih apa yang kita inginkan, namun ingatlah, setiap pilihan ada cost-nya masing-masing. Saya ingin tegaskan lagi, apa yang bisa menjadi pilihan kita, apappun itu, kerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Mulailah dari yang kecil-kecil, tapi kerjakanlah secara professional. Jangan jadikan diri sebagai pengikut saja atau bahkan sebagai penikmat yang merendahkan hasil karya, mungkin anda berkata “kalau seperti ini sih, saya juga bisa”. Yah, mungkin anda bisa, namun hanya pada tataran teori saja, semua butuh bukti, butuh pengaplikasiaan dalam dunia nyata. Dan dalam pembuktian itu, akan anda dapati pengorbanan yang nyata. Dan selalulah tanamkan bahwa anda perlu berada di atas rata-rata, di atas standard yang ada, yang tentunya waktu itu akan pergi bersamanya dan itulah pengorbanan yang anda harus bayarkan pada kesuksesan. Jadilah outstanding person, berada di atas rata-rata hingga anda bisa mendapatkan rupiah 30x lipat dari sejuta, dan cobalah sekali-kali menginjakkan kaki diluar sana, agar kalian bisa “merindukan” cuaca kota makassar ini, dan selebihnya anda akan mendapatkan wawasan yang membuka cakrawala pengalaman hidup nantinya. Be OUTSTANDING Person.

 

Fragment 3

#Menjadi Bijak

Saya tak marah pada kalian, pada aturan yang kalian langgar ini, dulunya pun saya melanggarnya. Saya hadirpun tuk memastikan saya tak ingkar dari tanggung jawab moral yang ada pada kelas ini. Meski terkadang teman sejawat saya pun kerap ingkar dengan kehadiran, namun saya lebih memilih tuk memastikan tempat di ruang ini bersama kalian. Saya terkadang heran dengan mereka yang justru menyalahi tugas dengan keterbatasan fasilitas, bahkan saya juga heran dengan dia yang justru mengerjakan tugas yang bukan bagiannya. Jika anda seorang pemimpin janganlah mengurusi orang-orang yang hanya sekedar mencari ruang kosong, itu bukan tugas pemimpin. Setidaknya anda perlu penghargaan agar kelak orang bisa menghargai anda. Saya sendiri lebih senang mengurus semuanya sendiri, jika tak ada ruang di kelas ini, saya akan usahakan ruang lain, sendiri. Toh, sayapun akan memaksa orang lain meninggalkan ruang yang menjadi hak saya, karena saya tahu arti sebuah tanggungjawab itu. Jika masalah tanggung jawab moral, mungkin saya tak bisa lepas dari perasaan ikut andil dalam semua aspek yang berhubungan dengan saya, bahkan saya berani katakan, “Membuat mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah itu, dosanya sangat besar”. Saya percaya dibalik ketidak lulusan mahasiswa saya, ada andil dan sumbangsih saya di dalamnya, saya merasa gagal dari sekian persen perhitungan pencapaian saya. Lepas dari itu semua, saya merasa penilaian saya perlu lebih mendalam lagi, tidak seperti kebanyakan pendidik yang terkadang memberikan label “bodoh, tolol ataupun yang lainnya” pada anak didik mereka, saya telah tanamkan dalam hati saya, bahwa saya datang ke ruangan ini dengan niat untuk membantu mereka, memberikan mereka kesempatan untuk berkembang, bukan memberikan label kepada mereka. Perkembangan apapun itu perlu untuk kita hargai, sekecil apapun ini. Tak ada manusia yang sama, kita berbeda. Mungkin anda bisa mengerti dalam sekali membaca, sedang yang lain perlu 10 kali mengulang teks yang sama untuk dapat mengerti. Namun yang penting adalah seberapa mengertikah anda terhadap apa yang anda baca, jadi silahkan duduk bersama dan diskusikan apa yang telah kalian baca. Dan penghargaan atas pencapaian dari perkembangan itu perlu yang namanya appresiasi, jangan sekali-kali mengecilkan ataupun meremehkan seseorang dengan men-judge benar ataupun salah. Karena mungkin suatu saat nanti mereka akan berkembang lebih baik dari kita, sehingga kita akan jauh tertinggal dari mereka. Ruang kelas hanya dimensi terkecil dari kehidupan kita, di luar sana akan lebih banyak hal yang tak bisa kontrol hingga kita harus selalu menghargai dan menghormati orang lain. Dan itupun yang membuat saya bangga…jika kelak kalian yang mendengar saya diruang ini akan berkembang lebih baik dari saya. Mungkin saya akan tersenyum bahagia saat membaca pesan ataupun kabar kalian yang telah menjadi dosen pada perguruan tinggi di manapun itu, namun saya akan lebih bahagia jika kalian mampu menjadi bijak seperti apa yang saya pahami.

Advertisements
Comments
  1. […] Sekeping Mozaik Kehidupan […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s