Kertas Putih-Putih

Posted: February 23, 2015 in Curcol, Kuliah, Rasa
Tags: , , ,

Sederhana. Begini. Sudah berapa halaman yang jadi? Masih belum jalan? Sama dong. Saya berpikir sejenak yah.
Mungkin begini. Ada yang memulai dan terstruktur dengan baik. Seperti tiap langkah bahkan coretannya pun telah ditetapkan pada tiap barisnya. Ada yang menyendirikan dirinya dalam ruang pribadinya hingga teks itu terlahir dalam bentuk nyaris sempurna. Itupun sempurna menurut pandangan awam. Saya dan mereka menjadi diam kala perhelatan itu terhenti sejenak. Kita seakan memandang pada waktu yang menertawakan kamu yang dulu penuh keyakinan. Atau bahkan si dia yang dari dulu berkata rombengan, kiasan pinjaman dari seorang itu, sudah matang dengan rencana yang tak tergantikan lagi. Meski teori berkata tidak namun si A mungkin berkata “aku sih..yes”
Terlebih lagi pada mereka yang rela menggelarkan tikar beralaskan pagi, menanti tiap hari mengalahkan penjual jajanan dini hari. Semangat itu tak luntur hingga siangpun menjadi. Katakanlah pada diri mereka itu pejuang sejati yang tak takut pada genk motor itu, bahkan mereka bersahabat pada tukang bentor yang menjadi tempat berteduh mereka hingga terkadang tertidur di atas bentor itu menanti beliau bangun dari tidur bukan mati.
Tapi, bagaimana dengan kita, seperti apa kita kini. Pada headline news berita belum terkabarkan saat ini. Seseorang, dua orang ataupun sejenis perorangan yang tersegerakan. Mendapatkan restu dari pemegang kuasa dalam tenggat waktu yang tak lagi lama.
Kita iyya?
Sudah jauh tidak kita melangkah? Atau kita tak sadar berjalan di tempat? Biarlah kita bergerak walau sedikit. Namun terkadang kecepatan lebih menggiurkan dari sekedar gelaran kenamaan. Berlumut dah sudah kita, seperti yang lain-lain mungkin bisa, sehingga kita hanya butuh formalitas semata hingga gelar itu bersama kita.
Mencoba menjadi idealis terkadang mudah, cukup tidak mainstream. Namun ia yang begitu,  pasti jarang kan mendapatkan hal yang diharap itu.
Bertanyalah saja…
Apa harus menunggu kertas putih ini menjadi hitam dulu sebagai bukti kita juga sedang berusaha? Atau cukup kita berikan ide ini ke tempat yang semestinya?
Sembari menanti, mungkin ada baiknya kita sendiri yang berganti. Rubahlah kita menjadi mereka. Menjadi seperti seharusnya dan seperti itulah mungkin sedari dulu terjadi. Kala kertas-kertas putih itu masih putih, namun kita memilih tuk tetap bermimpi.
Kala waktu itu berganti, namun kita memilih tuk bersantai. Yah, esok masih ada pagi, hari masih jauh tuk meninggalkan rona pada sunset. Kita masih berlari dan belum jauh dari tujuan ataupun titik kita memulai. Kita belum pasti berhenti atau mencapai semua mimpi. Hanya satu yang pasti kita bukan lagi bagian dari masa yang terlampaui. Sudah berlalu pada yang masa yang tak menentu. Tanpa reaksi yang tak termotivasi. Menuntut kalian tuk beraksi dalam ruang imajinasi. Hingga kelak kita melihat toga dalam dimensi yang pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s