Cinta Tali Pusar

Posted: February 24, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

image

Selamat datang pembaca yang tak setia, kali aku tak bermaksud cerita,  hanya sedikit mengumpulkan kenangan atas masa lalu yang mungkin terkesan bejat. Antara X dan Y biarlah seperti itu. X dan Y itu rumit. Mereka adalah hitungan matematis yang tak terduga, tergantung kalian merubahnya dengan variabel apa dan mengapa. Terserah. Begitupun kisah ini..semua terserah pada saya. Ini objektivitas yang subjektif. Saya melihat dua mata yang saling bertautan. Antara X dan Y. Mari kita menemukan jawaban dari rumusan sederhana ini.
Analisis awal X:
Yah, ini tentang cinta, namun jika itu adalah pertemuan yang tdk disengaja, maka akan aku tuliskan pada catatanku, lalu ku tempelkan tepat di layar depan Tab yang mungil ini.tepat di depannya..”tak satupun yang kebetulan,semua ada dalam skenario dan semua itu harus dijalani”…begitu mungkin tepatnya tertulis sudah dicatatan itu.

Aku berangkat pada rasa suka, menjadi lebih dari suka hingga saya dan kamu menjadi musuh dalam ruang yang sama. Kita tak saling bicara. Aku tak tau mengapa. Apakah ada salah dengan rasaku ini. Dulu sempat ku utarakan padamu, dengan pembelaan waktu yang belum tepat, kita tak satu dalam kata. Kau menolak dengan waktu yang kau persoalkan.
Kita berpendirian masing-masing, pada masa sepersekian tahun, ia mengepul, menguap dan sirna sudah. Aku membenci tuk melupakan, namun tak ingin aku mengingat pada kita yang tak mesti bermusuhan.

Analisis awal Y:
Hei, apa aku ini tak berperasaan, aku hanya butuh waktu, dan hanya kesabaranmu kala itu yang ku tunggu. Kita tak mungkin memaksakan rasa suka apatah lagi lebih dari itu. Aku membencimu bukan karena kau salah, namun aku takut kita adalah permulaan yang salah. Trauma aku bukanlah dia, tapi aku melihat kita itu tak seperti yang kau impikan. Setidaknya tuk saat ini aku hanya bisa berkata tidak. Bernafaslah dulu. Baru aku akan menelaah lagi semua rasa itu. Akankah ku temukan kamu pada rinduku. Atau harus ke kejamkan sikap tuk menghilangkan kamu dan rasamu.

Variable X:
Yah..waktu berlalu. Mungkin saatnya tuk berlalu, seperti itu yang semestinya terjadi dahulu. Kau kembali hadir pada waktu itu. Pada genapnya semester tahun itu, kau beranjak dari ruang sepimu, menyapaku, membawakan hadiah bertuliskan rindu, seakan rasami itu telah dijawab sang waktu. Kau mencoba dan mencoba, namun aku tak dapat kembali lagi. Pada sakit dalam hati, tuk waktu yang mungkin kian perih. Hingga kini aku memilih tuk menjawab pada hal yang sama. Seperti dulu kau padaku. Kinipun aku memberikan tidak pada jawabku. Kita tak semestinya bersama. Kau tak mengerti tentang jawabku, begitupun aku yang tak bisa tolerir pada waktu yang mengubur rasa yang kau coba tuk matikan dulu. Maafkan aku yang kini,  aku yang bukan dulu lagi.

Variabel Y:
Mungkin sang waktu itu menjadi gila, terlalu bejatkah ia mengirimku padamu setelah tahu kau tak seperti dulu. Jangan tanya mengapa aku begini, aku hanya jujur pada apa yang waktu titipkan untukmu dihatiku. Kita bersama adalah harapan waktu kala itu. Kala kita tak bisa memikirkan ego masing-masing. Menjadi riang pada wajah yang bermusuhan. Aku memohon pada jumlah tak sekali, namun sama hasil yang kau beri. Selamat malam kau, yang menutup hatiku pada ruang yang semestinya kamu dan aku tempati.

Pola interaksi X dan Y:
Mungkin malam ini tak begitu indah. Menempatkan kita sekali lagi. Pada ruang memori yang terbuka lebar. Tanpa tertutup pintu lagi, kisah memori itu bak debu terhembus angin. Hilang menguap dan melekat diingat mereka yang menemani. Ketika sekali lagi kita kembali mengunjungi museum kisah kita. Dari sekian ruang memori itu, mungkin kita bisa mengulang satu saja. Mungkin kau dan aku atau kita tepatnya bisa menjadi satu dalam kata itu. Bukan hanya sekali, namun duapuluh kalipun mungkin bisa. Aku tak takut pada masa lalu. Karna aku bukan X dan Y lagi. Aku adalah kita, tentang rasa yang menurut X adalah bejat namun bagi Y itu adalah khilaf. Entah kita tak mendapatkan diri kita sebagai jodoh pada takdir masing-masing. Namun saya percaya kau melihat bulan pada malam dan aku menatap mentari pada siang. Kita tak harus merasakan yang sama saat kita masih memijak bumi yang sama. Saat rasamu pada sang malam itu makin hitam, seakan kau telah perpikat oleh pekatnya, malah disini aku terluka akan panasnya mentari, akan paparan sinarnya yang terik. Mungkin nanti sekali dua kalipun kita bisa. Bersama melihat mentari bersandingkan rembulan. Yah. Itulah jawabnya. Interaksi X dan Y..kini menghasilkan nilai yang absurd, kemustahilan atas rasa yang tak tau terpendam disisi mana, dari hatiku dan hatimu.
#Y&F_story

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s