Archive for March, 2015

Kembali teruntuk hujan

Posted: March 17, 2015 in Curcol, Kuliah
Tags:

Dan tetiba pagi basah dan tergenang dengan rintik yang menyatuh sudah. Sedalam jauh mereka menjadi gelaran pijak kotor dan debu kala kering. Semalam sudah mengikis ruang pembalasan,  atas gelap yang mengantar tidur berpacu menggelar mimpi di ruang imaji.
Semakin jam berdetak membelah tepian sudut angka. Menunjukkan waktu saat kita beranjak pergi. Menyingsingkan asa sejenak melaju ke depan. Mengejar tapi tak tentu arah. Melihat tujuan meski arah belum tercerahkan.
Sesampai di sini bersama diri sendiri. Menanti tetapi berhenti henti. Sesekali berbalik dan tak ingin kembali. Menjadi seorang diri hanya dari sebilah hati. Teguh dan bertahan pada apa yang diyakini. Menjadikan sendiri berpeluh-peluh hingga tak ada yang peduli.
Begitu lah diri terkadang menjadi. Kala mimpi tak berjuang hanya menanti. Berpikir terus menerus tanpa eksekusi. Tak lebih dari diri yang tak berganti-ganti.

#Kolong, 10:50

Seruput Kopi di Pagi-Pagi

Posted: March 4, 2015 in daily life, Rasa
Tags: , ,

Secangkir kopi instan berperisa mocha tersaji di atas meja tua. Sepiring kudapan tradisional menemani rasa yang terasa menggoda ini. Pagi yang selalu ramai di kantin kolong kampus merah ini. Terlihat dua mahasiswa duduk tepat di depanku. Mereka bersama tapi tak saling sapa. Yang tua sesekali menyeruput kopi hitam pekat yang mulai kehilangan asapnya. Yang gadispun sibuk mengunyah remah remah gorengan yang begitu dinikmatinya. Mereka semeja dan mereka terdiam saja. Di sebelah dudukan saya ada seorang mahasiswa lagi. Ia terlihat serius membolak balik halaman buku kecil berbahasa Indonesia yang tak jelas terlihat apa isi buku itu. Sekali dua kali ia menghembuskan asap putih dari sela-sela bibirnya. Matanya yang agak merah tetap menatap lembaran kekuningan yang seakan memberinya candu tuk terus membacanya. Ia mungkin seorang mahasiswa akhir, dari jurusan budaya ataukah sastra. (more…)

Kala Waktu Tak Lagi Setia

Posted: March 3, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Sejak dulu selalu dikata bahwa waktulah yang mampu setia. Katanya ia tak pernah ingkar, selalu sama dan tak pernah beda.
Ia mengabadikan setiap detik menjadi menit.
Mengumpulkan menit menjadi jam
Bersama jam itu menuju hari
Berganti dan berputar bak roda

Namun ia tetap setia pada hitungannya
Detik yang selalu menjadi awal menit
Menit yang tetap pada hitungan ke-60nya
Hari yang berputar pada ke-7 jenisnya
Masih seperti itu…
Tak pernah berganti meski mungkin ia merasa lelah

Aku heran padanya
Apakah ia tak merasakan kebosanan?
Berlaku seperti itu trus dan trus
Tak henti meski tak ada yang peduli

Mungkin nanti jika aku menjadi seseorang
Kan ku bebaskan waktu dari penindasan
Seperti dulu senior kami benci akan penindasan
Meski ini mungkin sebuah kegilaan

Waktu yang bebas dan tanpa hitungan
Tanpa paksaan tuk berganti di tiap putaran
Semaunya ia akan menetap dan menunggu
Hingga semua akan tertawa tanpa perlu berhenti

Bayangkan waktu mengikuti maunya
Ia tak lagi menjadi penyebab musibah
Ia takkan membuatmu terlambat lagi
Ia takkan mengurangi kesenanganmu lagi
Ia akan tetap menyimpan ruang bersama keluargamu nanti
Dan waktu pun kan menjadi penyelamat dalam hidupmu nanti

Sampai waktu terbebas nanti
Ku ingin mengenang dulu
Sepenggal bait lagu yang lampau
Hingga ku lupa kapan kan berganti
Waktuku takkan lama lagi
Ia akan bebas dan tak bertepi
Tak lagi ada menit yang dibatasi
Tak lagi ada hari yang tak terganti
Bahkan bulanpun tak lagi selusin
Semua bebas berimaji
Hingga kau merasa nanti
Bahwa saatnya tuk mati
Maka saat itulah waktumu kan terhenti
Dan tak bisa berganti lagi

Waktu yang mati
Tak bisa bebas berkreasi
Ia tahanan kehidupan yang pasti
Ia mengabdi pada kesetiaan yang abadi
Dan itulah waktu..menunggu waktu tuk hidup tak terbatas waktu.

Bersama Hujan

Posted: March 2, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , , ,

Dan hujan menyamarkan semuanya
Deras rintiknya menutupi derunya suara
Mendendangkan alunan kesepian
Mengajak kita tuk sejenak sendiri dan diam
Tak usah kau katakan yang kau rasakan
Teriakan mu juga takkan terdengarkan

Sekali lagi hujan merayumu
Tuk berembuk dulu pada sibukmu
Pada mereka yang menantimu
Pada mereka yang membanggakanmu
Sejenak saja, pikirkan dirimu

Dan bila hujan pun pergi
Ia meninggalkan tetesnya yang membasahi
Bukan tuk mengotori,
Namun tuk membersihkan pikirmu yang tertatih

Bersama hujan, awan dan langit
Diiringi semilir angin nan dingin
Begitulah sepertinya kita
Ada waktu bersama yang dirindukan

#UNM.15:50

Menunggu Tanpa Kepastian

Posted: March 2, 2015 in Curcol, experience
Tags: , ,

Sudah sejam duduk di ruangan ini, tak terasa kursi inipun mulai terasa hangat.
Entah semangat saya yang tadi berapi-api telah berpindah kepadanya, atau ia yang telah bosan menemaniku sedari tadi.
Selasar inipun mulai ramai, beberapa mahasiswa yang kebanyakan berhijab ini saling berebut kursi sembari mulai berkutat dengan laptop masing-masing. Samar-samar juga terdengar bisikan cerita tentang aktivitas perkuliahan mereka hari ini, serasa mereka lebih sibuk berbagi kisah ketimbang diskusi tentang tugas kuliah mereka.
(more…)