Menunggu Tanpa Kepastian

Posted: March 2, 2015 in Curcol, experience
Tags: , ,

Sudah sejam duduk di ruangan ini, tak terasa kursi inipun mulai terasa hangat.
Entah semangat saya yang tadi berapi-api telah berpindah kepadanya, atau ia yang telah bosan menemaniku sedari tadi.
Selasar inipun mulai ramai, beberapa mahasiswa yang kebanyakan berhijab ini saling berebut kursi sembari mulai berkutat dengan laptop masing-masing. Samar-samar juga terdengar bisikan cerita tentang aktivitas perkuliahan mereka hari ini, serasa mereka lebih sibuk berbagi kisah ketimbang diskusi tentang tugas kuliah mereka.

Tepat di depan meja tempat saya duduk ini, duduk seorang ibu tua penjaga ruang baca ini. Sesekali ia menjawab pertanyaan mahasiswa yang butuh informasi tentang orang-orang yang juga berkantor di ruangan ini. Sama seperti saya, mahasiswa yang bertanya itu ternyata juga mencari sosok yang sama denganku.
“Mencari prof.juga?” Kataku singkat padanya.
“Iya. Ada berkas permohonan kegiatan yang akan kami ajukan” jawabnya sembari memperlihatkan tumpukan kertas bersampul biru tua.
Saya sempat mengaduh padanya karena prof tersebut tidak membalas surat pun juga telepon yang tidak diangkat. Namun katanya itu sudah biasa, mungkin ia sedang sibuk. Nampaknya mahasiswa ini sudah tahu betul seperti apa sifat beliau itu. Dan ia pun berlalu menuju pintu keluar ruangan ini.

Jam pun berganti begitu cepat, sudah hampir setengah hari menunggu tanpa kepastian. Mencoba berjalan dari ruangan satu ke ruangan yang lain mungkin bukan solusi tepat tuk mencari beliau, apatahlagi ruang kelas yang begitu banyak, tanpa ada kepastian jadwal beliau. Pagi tadi sempat bertemu dengan pengawai di fakultas, katanya prof belum mengajar term pertama ini, nanti beliau disesi kedua jelasnya.
Kayaknya, saya harus menggelandangkan diri tuk waktu yang tak pasti lagi. Yah, lagi lagi terabaikan seperti ini. Walau beliau telah memberikan nomor handphone namun tak juga ada gunanya jika tak ada respond yang diberikan. Pertemuan terakhir dengannya pun terjadi hal yang hampir sama, saat beliau berkata temui aku di ruangan A hari kamis, ternyata beliau tak berada di ruangan tersebut kala itu. Menunggu kepastian dari balasan sms ataupun jawaban telepone pun tak ada yang berhasil. Untungnya insting saya bekerja baik kala itu, dan saya berhasil menemukannya di ruang ujian seorang senior di ruang F.
Waktu berharga itupun tak saya sia-siakan, saya berharap bisa menerima petunjuk atas apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Begitu beliau keluar ruangan tuk shalat, saya mengikuti beliau. Begitu selesai, saya menghampiri beliau, bertanya apakah ada waktu untuk saya membahas perihal proposal penelitian yang belum jelas ini. Beliau dengan mimik agak jengkel, ntah saya yang membuatnya jengkel ataukah beliau lagi tidak mood dengan keadaan saat itu. Saya sadar saat itu waktu sudah sore, dan rasa lelah pasti akan dirasakan siapa saja yang beraktivitas sejak pagi.
“Berikan saja saya proposal yang sudah kau tulis itu, ntar saya baca dulu. Nanti hari senin kamu baru datang lagi” Begitu katanya. Ia lalu bergegas menuju ruangan F kembali, melanjutkan tugasnya sebagai panitia ujian proposal saat itu.

Hari ini sudah hari senin, seperti janji beliau itu,  saya bisa datang hari ini. Dan saya sudah datang di kampus ini sedari pagi. Pesan singkat saya menanyakan kapan dan dimana saya bertemu dengan beliau hari inipun lagi-lagi tak berbalas. Padahal pesan itu saya kirim sejak pagi tadi sebelum berangkat ke kampus. Sayapun merasa enggan menelepon beliau, teringat dulu saya menelepon beliau tapi hasilnya sama. Tak ada jawaban, hanya diangkat dan didiamkan. Mungkin beliau terlalu sibuk, mungkin beliau sedang mengajar, atau mungkin beliau sedang ada rapat yang tak bisa diganggu.
Semua kemungkinan yang ada seakan mulai mengusik kesabaran, bahkan hingga saat ini panas pun berpindah-pindah dari setiap benda di sekelilingku. Bukan hanya kursi ini, laptop yang sedari saya diamkan saja mulai kepanasan, smartphone yang satu ini pun mulai menularkan panasnya ke jari-jariku, seakan memberi isyarat padaku. Ia seakan ingin berkata “Woe, masih mau menunggu disini? Sudah tak punya usaha lainkah dirimu?” Begitulah ia mungkin berkata dengan suara yang serak serta nyaris berteriak tepat ke wajahku.
Yah, hari ini belum berakhir, namun setengahnya telah berlalu. Meski tak bisa memberi hasil. Setidaknya saya berusaha lebih dari kemarin. Ingatkan aku pada hari ini, bahwa menunggu adalah keadaan yang tak mengenakkan, terlebih tanpa kepastian.

#Unhas, 11:05. 2 Maret 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s