Seruput Kopi di Pagi-Pagi

Posted: March 4, 2015 in daily life, Rasa
Tags: , ,

Secangkir kopi instan berperisa mocha tersaji di atas meja tua. Sepiring kudapan tradisional menemani rasa yang terasa menggoda ini. Pagi yang selalu ramai di kantin kolong kampus merah ini. Terlihat dua mahasiswa duduk tepat di depanku. Mereka bersama tapi tak saling sapa. Yang tua sesekali menyeruput kopi hitam pekat yang mulai kehilangan asapnya. Yang gadispun sibuk mengunyah remah remah gorengan yang begitu dinikmatinya. Mereka semeja dan mereka terdiam saja. Di sebelah dudukan saya ada seorang mahasiswa lagi. Ia terlihat serius membolak balik halaman buku kecil berbahasa Indonesia yang tak jelas terlihat apa isi buku itu. Sekali dua kali ia menghembuskan asap putih dari sela-sela bibirnya. Matanya yang agak merah tetap menatap lembaran kekuningan yang seakan memberinya candu tuk terus membacanya. Ia mungkin seorang mahasiswa akhir, dari jurusan budaya ataukah sastra.
Bajunya tak begitu rapi, ia lusuh namun wajahnya tampak begitu keras. Di sampingnya tergeletak tas kecil rajutan suku besar di sulawesi, tertulis kete’ kesu-Toraja. Mungkin tak ada buku yang muat dalam tas itu, namun cukup baginya tuk menyimpan barang-barang yang penting baginya.
Merekalah teman saya menikmati pagi di kolong ini. Tak ada kata hanya raga yang berada disini. Kami tak saling sapa, mungkin tak perlu, toh kita takkan saling bertemu. Hanya pagi ini bertemu mereka, pelanggan pagi yang mungkin tak memiliki waktu tuk menikmati sarapan pagi di rumah. Terlebih dari itu, tempat ini terkadang menjadi ruang kerja para pengamat sosial. Mengamati gejala dan kejadian sehari-hari para pencari ilmu di pagi hari. Terkadang ada yang aneh, terkadang hanya biasa saja. Meski tempat ini kecil, namun setidaknya ada hampir 20-an orang yang menggantungkan hidupnya disini. Semua menawarkan kebutuhan primer para mahasiswa. Mereka menjajakan sebagian besar jualan mereka dalam petak petak kecil yang tingginya tak lebih dari 3.5 meter. Kebanyakan mereka menjual makanan dan minuman. Sisanya menawarkan peralatan tulis, jasa fotocopy dan layanan print dan pengetikan. Jika hari mulai meninggi, apatalagi memasuki waktu ishoma, ruang-ruang ini akan penuh sesak. Sesak dengan beberapa ambisi pribadi-pribadi yang berbeda. Saling berebut tempat dan keinginan untuk cepat mengisi perut. Saling menunggu teman hingga tempat duduk penuh hanya untuk makan bersama. Mengantri di depan mesin fotocopy untuk segera menyalin tugas dari dosen. Ataukah berlomba dengan mahasiswa lain menggunakan komputer untuk mencetak lembaran tugas-tugas yang akan dikumpul siang itu. Semua bergerak dengan tujuan masing-masing. Ada yang terburu-buru,  ada yang acuh, ada yang begitu peduli akan arti kebersamaan. Bahkan tak jarang mereka memilih tuk tidak berada di sini jika tak ada tempat tuk mereka bersama.
Semua itu akan selalu terjadi, terulang berhari-hari. Bahkan menikmati setiap kegiatan itu akan terasa sangat  membosankan. Namun jika pagi ini di awali dengan seruput kopi, mungkin rasanya akan sedikit manis. Melihat dari kacamata pengamat sosial, melihat wajah-wajah yang begitu ceria. Penuh semangat menempah diri, menambah ilmu dan mempersiapkan diri tuk menjadi manusia sejati. Jika semua berawal dari pagi, dan secangkir kopi yang menemani. Rasanya pasti akan sedikit manis.

#Kolong, 09:27

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s