Kembali teruntuk hujan

Posted: March 17, 2015 in Curcol, Kuliah
Tags:

Dan tetiba pagi basah dan tergenang dengan rintik yang menyatuh sudah. Sedalam jauh mereka menjadi gelaran pijak kotor dan debu kala kering. Semalam sudah mengikis ruang pembalasan,  atas gelap yang mengantar tidur berpacu menggelar mimpi di ruang imaji.
Semakin jam berdetak membelah tepian sudut angka. Menunjukkan waktu saat kita beranjak pergi. Menyingsingkan asa sejenak melaju ke depan. Mengejar tapi tak tentu arah. Melihat tujuan meski arah belum tercerahkan.
Sesampai di sini bersama diri sendiri. Menanti tetapi berhenti henti. Sesekali berbalik dan tak ingin kembali. Menjadi seorang diri hanya dari sebilah hati. Teguh dan bertahan pada apa yang diyakini. Menjadikan sendiri berpeluh-peluh hingga tak ada yang peduli.
Begitu lah diri terkadang menjadi. Kala mimpi tak berjuang hanya menanti. Berpikir terus menerus tanpa eksekusi. Tak lebih dari diri yang tak berganti-ganti.

#Kolong, 10:50

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s