Kata “Cie” Yang Memisahkan Kita

Posted: November 21, 2015 in Rasa
Tags: , , ,

Beberapa hari terakhir ini, aku merasakan ada banyak hal yang berbeda dari apa yang biasa kita jalani. Kita yang dulu melakukan hal bersama, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, latihan menyelesaikan soal TOEFL bersama, bahkan terkadang makan pun kita tak berpisah, yah walau terkadang memang kita tetap bersama teman-teman yang lain juga saat makan. Tapi, aku mulai sadar bahwa apa yang kita lakukan dari dulu itu merupakan hal yang tidak wajar bagi hubungan yang sebatas teman. Aku bukan merasa aneh dengan mereka yang bersahabat dekat dan menganggap semua sebatas keakraban sebagai sahabat semata. Namun aku melihat itu sebagai hal yang tak wajar dilakukan oleh orang yang tidak berpacaran. Kata mereka sih kita ngedate, padahal kan  apa yang kita lakukan tak lebih dari hal-hal positif sebagai teman yang saling membantu satu sama lain.

Tapi semua itu terlihat berbeda bagi teman-teman kelas kita, mereka lebih menganggap apa yang kita lakukan sebagai bentuk pedekate yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang mulai mencinta. Aku dan kamu terlihat sebagai pasangan yang punya hubungan khusus, sehingga tak jarang mereka memanggil kita dengan sebutan pasangan baru. Tak jarang bahkan mereka mencoba menggoda kita, saat aku tak ada mereka akan menanyakan kabarku padamu, atau saat kau tak ada, mereka akan menanyakan kabarmu kepadaku. Saat aku bertanya balik, kenapa aku yang harus mereka tanya tentang kabarmu, mereka pun tersenyum sembari menimpali bahwa aku kan kekasihmu, jadi wajar dong aku tahu semua tentangmu.

Terlebih lagi saat kita bersama di kelas, saat semua berada di kelas, dan tanpa sadar kita berbincang berdua entah tentang sesuatu yang penting untuk dibicarakan, maka mereka akan dengan serentak menyoraki kita, dan kata cie itupun bersahut-sahutan dalam ruang kelas. Awalnya mungkin tak berarti apa-apa bagi kita, namun ternyata semua itu adalah awal dari perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Aku mulai risih dengan kata-kata cie itu, aku merasa tak seharusnya kata-kata itu ditujukan kepada aku dan kamu. Toh, kita bukan siapa-siapa yang patut mereka ejek ataupun sekedar candaan buat mereka seru-seruan semata. Dan pada akhirnya rasa risih itu berubah menjadi sedikit benci dengan keadaan kita. Sebisa mungkin aku berusaha menghindari kamu, sedapat mungkin aku mulai menjauh dari kamu. Bukannya aku membencimu, bukannya aku tak suka bersamamu, hanya saja aku tak pernah mau semua yang mereka ejekkan padaku menjadi nyata. Kau tahu kan betapa kita telah akrab sebagai sahabat. Ku ingin itu tetap seperti dulu, sehingga aku dan kamu tetap kita yang dulu, bukan terpengaruh dengan mereka. Namun, ternyata tanpa sadar, aku yang mengubah semua itu, aku yang tanpa sadar terpengaruh dengan kata-kata cie yang semakin tidak mengenakkan dalam pikiran dan perasaanku.

Dan saat waktu telah berlalu begitu lamanya, aku berharap kita akan melupakan kata cie itu dan begitu pula mereka, aku berharap tak ada lagi kata cie yang menjadikan mereka penyorak-penyorak genit yang memekakkan perasaanku. Mungkin hanya sebuah kata bagimu, namun itu adalah sebuah rasa yang takkan bisa saya jelaskan, mengapa harus berubah karenanya. Dalam diam mungkin aku akan tersadar oleh waktu kelak, namun saat ini biarlah kita berpisah dengan jalan masing-masing. Kita tetap sahabat dan kita akan berpetualang lagi kelak di saat waktu memilih untuk mengembalikan kita ke ruang yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s