Mencuri Ide dari “Lelaki Bugis”

Posted: December 5, 2015 in Kelas Menulis Kepo, Rasa
Tags:

Rasanya baru beberapa bulan saya meninggalkan rutinitas sebagai seorang mahasiswa. Rutinitas mengerjakan tumpukan tugas dan diskusi kelas telah berganti dengan kesibukan-kesibukan kantor yang sangat jauh berbeda dengan proses perkuliahan. Tak ada kelas dan tak ada tugas yang wajib dikumpulkan setiap minggunya menjadi kesenangan tersendiri bagi saya. Sayangnya, kesenangan tersebut nampaknya sedikit terusik dengan tugas baru yang diberikan di Kelas Menulis Kepo. Membuat tulisan dengan tema bebas menjadi tugas mingguan perdana yang harus diselesaikan tepat sebelum pertemuan kedua dimulai.

Tugas pertama yang diberikan ini ternyata menjadi beban tersendiri bagi saya. Beberapa kali saya terbangun dan terjaga memikirkan materi tulisan yang belum juga muncul di kepala. Tuntutan dan keharusan menyelesaikan tugas tepat waktu seakan berputar-putar bak burung kecil beterbangan di atas kepala saya. Bahkan burung-burung tersebut sudah mulai beterbangan sejak pertemuan pertama berakhir. Tanpa lelah mereka mengingatkan saya untuk terus mencari ide tulisan dari berbagai hal di sekeliling saya.

Dalam perjalanan pulang dari kelas malam itu, mata saya tak henti berpindah dari setiap objek yang saya lalui, mencoba mencari fenomena menarik dari keramaian jalan yang cukup padat merayap di ruas-ruas jalan Kota Makassar. Saya berharap inspirasi akan hadir dari objek-objek yang terekam di ingatan saya. Seperti kebanyakan tulisan yang pernah saya baca, menjadikan objek sehari-hari yang terlihat biasa saja menjadi objek yang indah dan begitu menarik untuk disampaikan kepada orang lain merupakan jenis tulisan yang asyik untuk dinikmati. Orang-orang tanpa sadar akan terhipnotis oleh cerita-cerita sederhana namun memberikan kesan akrab dan bersahabat. Sehingga sepanjang apapun tulisan tersebut, orang-orang takkan berhenti sebelum tuntas membacanya.

Petualangan di ruas-ruas jalan malam itu ternyata tak berbuah ide satu pun. Bahkan ketika motor yang saya kendarai pun terhenti di tujuannya, saya tak jua menemukan tanda-tanda munculnya ide yang bisa menjadi bahan tulisan saya. Begitupun halnya pada hari selanjutnya, saya kembali teringat dengan tugas menulis tersebut saat kesibukkan kantor mulai menurun. Sembari sesekali memainkan smartphone yang menjadi sumber informasi saya selama ini, saya mencoba mencari-cari lagi ide dari media komunikasi ini, berharap ada kisah ataupun materi yang bisa mengantarkan saya pada awal menulis cerita yang ditugaskan.

Saat mengecek kiriman teman-teman di forum diskusi Line, saya menemukan sebuah tulisan yang menarik tentang sebuah surat cinta. Surat cinta yang kesannya terlambat untuk dituliskan tersebut memberikan sebuah percikkan ide di kepala saya. Tulisan tersebut adalah postingan blog dari salah seorang penulis yang baru saja saya kenal dalam pertemuan pertama kelas menulis Kepo beberapa hari yang lalu.

***

Kelas menulis Kepo yang dimulai tepat pukul 19.15 pada Jumat di awal Desember merupakan pertama kalinya saya bertemu secara langsung dengan sosok yang selama ini hanya saya kenal melalui akun “Lelaki Bugis”. Namanya Om Chua atau yang lebih akrab disapa Om Lebug. Dengan wajah yang tegas dan sorot mata yang tajam, ia mengingatkan saya pada penyanyi reggae legendaris yang posternya kerap tertempel di  dinding kamar para penggemar motor Vespa. Terlebih lagi dengan rambut keriting yang khas menjadikannya terlihat garang namun menawan, ia terlihat sungguh berbeda dari orang kebanyakan. Kata eksentrik mungkin lebih tepat menggambarkan penampilan dari Om Lebug, berbeda dari yang lain layaknya penulis ataupun penikmat sastra kekinian.

Beliau memulai kelas menulis dengan mengajak kami saling berkenalan satu sama lain. Dengan konsep sederhana kami mulai mengenal semua peserta kelas menulis yang hadir malam itu. Melalui secarik kertas, kami menuliskan postingan blog yang menurut kami paling berkesan beserta alasan yang membuat kami terkesan dengan postingan blog tersebut. Begitu sesi perkenalan selesai, dilanjutkan penjelasan singkat tentang kelas menulis dan akhirnya ditutup dengan berbagai penjelasan tentang kurikulum dan kontrak belajar.

Adanya kurikulum dan kontrak belajar menunjukkan keseriusan dan kejelasan tujuan yang akan dicapai. Bagi saya hal tersebut memang seharusnya ada untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Sesekali saran dan tanggapan hadir dalam sesi diskusi malam itu dan tak jarang pula Om Lebug memberikan masukkan atas permasalahan yang ada. Dari ide-ide yang dilontarkan terlihat jelas pengalaman dan pahaman dunia kepenulisan yang ia miliki. Maka tak heran lagi jika tulisan yang selama ini dihasilkan pun begitu terarah dan mudah untuk dipahami.

Masih teringat beberapa hari yang lalu, ia tiba-tiba bertanya dalam forum diskusi online yang dibuat untuk kelas menulis ini. Ia bertanya apakah ada yang mau membaca postingan blognya, jika ia menulis tentang cara membuat judul yang menarik. Tentu saja respon positif diberikan oleh teman-teman yang lain. Tak terhitung jam, tulisan itupun akhirnya hadir di blog lelaki bugis tempat ia berbagi tulisan-tulisannya selama ini. Tulisan tersebut sangat sederhana namun begitu berbobot, dari tulisan tersebutlah saya belajar tentang pentingnya memberikan apa yang pembaca inginkan. Ia memberikan apa yang dijanjikan dengan cara yang sangat mudah dipahami apalagi dengan contoh-contoh yang begitu jelas.

Ia sempat berkelakar di kelas malam itu, “Ayo bersama-sama mencuri, mengambil ilmu yang tidak kita miliki dari mereka yang ada di kelas menulis ini”. Menurutnya, kita semua mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain, sehingga kelebihan itulah yang bisa dicuri dan menjadi ilmu yang bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan menulis kita masing-masing. 

Apa yang ia katakan malam itu seakan menginspirasi dan memercik pikiran nakal saya. Jika mencuri saja dapat mengembangkan kemampuan, mengapa tidak sekalian merampok saja. Jika di akhir kelas nanti saya sulit mencuri ilmu-ilmu mereka mungkin terpaksa saya harus merampok mereka satu persatu.

***

Tugas pertama yang mengharuskan menulis lebih dari 500 kata semoga takkan terlalu sulit lagi untuk saya selesaikan. Dengan ide dari tulisan Om Lebug tentang Surat Cinta mungkin akan menarik untuk diterjemahkan ke dimensi yang lain. Memang membahas cinta tidak akan pernah ada habisnya. Terlebih lagi cinta yang benar-benar aneh untuk dijelaskan bahkan oleh rincian ribuan kata sekalipun. Meskipun mungkin tak semenarik tulisan yang dibuat teman-teman lainnya, toh mencoba menuliskannya akan lebih baik dari hanya memikirkanya. Setidaknya kelak tulisan tersebut bisa menjadi bahan belajar untuk lebih bersemangat lagi memperbaiki kekurangan yang ada.

Advertisements
Comments
  1. ardianadw says:

    Cieee mencuri cieee

    Like

  2. daengrusle says:

    mantap om Anchu memang. ispiratif

    Like

  3. lelakibugis says:

    tunggu pembalasanku, kisanak!
    suatu saat saya yang akan mencuri isi kepalamu..

    hahaha..

    Like

  4. Qiah says:

    Selamat atas tulisannya ya Ismail..
    Keep writing
    Keep blogging
    Pilihan tepat untuk berada di kelas kepo!
    Semangat. Dan salam kenal

    Like

  5. […] Yang lebih menarik lagi, Oppa Lebug menunjukkan bahwa bahkan ketiadan ide bisa menjadi sebuah ide itu sendiri. Sangat menarik melihat bagaimana Ismail yang kesulitan memikirkan ide, pada akhirnya memanfaatkan ketiadaan idenya itu sebagai sebuah ide tulisan. (https://ismailsmiler.wordpress.com/2015/12/05/mencuri-ide-dari-lelaki-bugis/) […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s