Surat Cinta untuk Ibu

Posted: December 6, 2015 in Kelas Menulis Kepo, Rasa
Tags: , ,

Teruntuk Ibu,

Sudah lama aku tak berkabar padamu. Dalam rindu yang mulai menusuk tajam hingga melukai hati ini, aku mulai tertatih merangkai kata ini untukmu. Menyampaikan padamu betapa waktu yang tak kuhabiskan bersamamu adalah duka yang harus aku telan bersama malam yang kulalui sendiri dalam tiap tidurku. Aku merindu dekap pelukmu dari dingin yang merangkul tubuh ini, seperti rindu wejangan tak berpamrih yang kau berikan di semua tingkah dan gerakku.

Aku selalu teringat akan wajah teduh bermata penuh yang menemani kala sakitku. Semua rapalan doa-doa yang kau panjatkan demi kesembuhan, seakan menjadi musik-musik penenang jiwa yang masih tak pandai membahagiakan dirimu. Kala malam semakin larut, ingatku padamu seakan semakin membuncah dan penuh hingga tak jarang bermuara pada tangis merindu.

Teruntuk ibu,

Aku rindu pelukmu, dekapmu dan setiap belaimu dulu. Begitu pula semua nyanyian-nyanyian malam yang mengantarku pada lelapnya tidur di malam-malamku. Mengajarkan aku untuk tak lagi bersedih atas semua masalah, meyakinkan aku untuk tetap berjalan meski aku takut terjatuh. Hingga akhirnya aku mampu berlari sendiri, mengejar mimpi yang kau titipkan padaku. Mimpi menjadi jiwa yang berbaik-baik pada semua. Dan kau tak pernah berharap apapun dariku, selain sehat dan bahagia yang selalu kau panjatkan dalam doa-doamu.

Ibu, aku tahu rindumu mungkin lebih besar dari rinduku, aku tahu betapa ingin dirimu memanjakanku seperti dulu. Aku anak nakalmu yang selalu kembali kepadamu saat tangisku mengalir di kedua pipiku. Aku yang takkan mengaduh jika bukan kepadamu. Menceritakan semua gelisahku, sedihku dan juga ego yang terlalu pahit tuk aku nikmati sendiri. Aku yang selalu merengek mainan baru yang terkadang tak sanggup kau berikan padaku, lantas aku yang merajuk dalam diam tanpa kata. Aku yang berlagak sok hebat tuk hidup sendiri, aku yang merasa tegar tuk tidak meminta lagi padamu, aku yang kini berjuang dalam rantau, dan aku yang masih menangis kala suaramu terdengar parau dari balik telepon itu. Aku masih anak kecilmu yang hilang arah tuk kembali, meski aku belum pula beranjak pergi.

Teruntuk ibu,

Hidup anakmu ini tak begitu mapan, bekerja dalam berhari-haripun tak mampu memberikan bahagia yang lebih padaku. Aku tak pernah sedih dan gundah bekerja hingga petang berlarut-larut, namun aku takut bahagia tak mampu kuberi padamu tepat pada masa dan waktu. Aku takut usia berlalu terlalu cepat padamu, meninggalkan aku yang tertatih menyusun keping-keping suksesku yang belum tampak apa-apa. Aku takut kehilanganmu terlalu cepat, bahkan waktupun tak mampu berjanji akan membawaku padamu kala mimpi-mimpiku terwujud.

Ibu, maukah kau berjanji untuk menungguku kembali? Menantiku mengukir senyum di wajahmu, menantiku mengirimkan bahagia yang aku simpan dalam pundi-pundi rinduku, dan berjanjilah kepadaku, kau akan menua bersamaku. Agar aku bisa berbakti padamu, memberikan seluruhku tuk semua yang takkan mampu aku kembalikan. Tuk semua rasa khawatir yang tak jarang bermuara pada tangismu, tuk semua peluh dan luka yang kau redam tuk sekedar mengukir senyum di wajahku, bahkan teruntuk semua tawa dan suka yang kurenggut dari hari-harimu.

Ibu, maukah kau berjanji untuk menungguku kembali? Memberikanku kesempatan menjadi anak baik bagimu. Menjagamu dalam sakitmu, menghiburmu dalam sedihmu, menemani dalam sepimu, dan hingga kelak aku membawamu dalam istirahat terakhirmu.

Teruntuk ibu,

Anakmu ini bermohon maaf. Pada setiap rasa sedih yang kuhadirkan di wajahmu pun gelisah yang kau rasa atas diriku yang tak selalu berkabar padamu. Dalam malam dan siang yang berganti, sungguh aku merindu dalam tegarku, berharap engkau berada disisiku lagi, mendengarkan ceritaku yang kadang menangis dalam hiruk pikuk keramaian kota rantau. Anakmu bermohon maaf, jika tak mampu membahagiakanmu sampai detik masa ini. Hanya sebuah pengharapan tuk ada disisimu yang mampu kurapalkan dalam bait-bait doa di akhir setiap ibadahku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s