#Catatan Kepo: Belajar dari Kesalahan

Posted: December 9, 2015 in Kelas Menulis Kepo
Tags: , ,

“Jangan Takut Tekan Enter dan Jangan Lupa EYD

@kelas_kepo

Pertemuan kedua kelas menulis Kepo hari ini (09/12/2015) diawali dengan review dua tulisan peserta dari angkatan kedua. Setelah mengundi secara online melalui alamat web random.org, tulisan dari kak Suci dan kak Nia terpilih untuk diperiksa dan diberikan komentar oleh semua peserta kelas. Semua masukan dan saran yang dikemukakan berfokus pada kesalahan mendasar dalam penulisan, utamanya penggunaan tata bahasa yang baku.

Secara garis besar, ada tiga bagian pokok yang perlu diperhatikan secara saksama sebelum sebuah tulisan tersebut diposting ke halaman web ataupun blog. Penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), penggunaan kalimat yang bersifat terlalu subjektif, dan pemberian kalimat penjelas yang memadai merupakan unsur-unsur dasar yang menjadi tolak ukur tulisan yang dianggap berterima dalam dunia kepenulisan. Kesalahan-kesalahan inilah yang banyak ditemukan pada dua tulisan yang dibahas hari ini.

Yang pertama adalah penggunaan kata-kata yang sesuai dengan EYD. Seorang penulis harus selalu memperhatikan penggunaan kata yang tepat dan sesuai dengan EYD pada setiap tulisannya. Kesalahan yang sering kali dilakukan oleh penulis pemula adalah penggunaan kata depan di- dan ke-. Kedua kata ini sering kali membingungkan bahkan tak jarang menjadi kesalahan yang paling sering ditemukan di banyak tulisan, baik di blog pribadi ataupun di laman resmi lainnya. Kesalahan yang dimaksudkan adalah penggunaan spasi yang tidak tepat setelah kedua kata depan ini. Kata yang seharusnya tidak diberikan jarak antara awalan dan kata yang mengikutinya ditulis dengan spasi, sedangkan untuk kata yang membutuhkan spasi justru ditulis berdempetan.

Untuk kaidah penulisan yang benar, kedua kata depan di dan ke harus menggunakan spasi jika menunjuk pada keterangan tempat atau lokasi, seperti di pasar, di kelas, ke kantor dan ke rumah. Jika bukan merujuk pada penunjuk tempat ataupun lokasi maka penulisanya harus digabung dengan kata yang mengikutinya, seperti dimakan, dimarahi, kelaparan dan kesiapan. Jika masih juga merasa susah untuk membedakannya, ada tips yang diberikan oleh kak Na’, dan saya rasa tips ini sangat membantu dalam menulis kedua awalan tersebut secara tepat. Jika awalan ke atau di bisa digantikan dengan awalan me– dan kata yang terbentuk memiliki makna, maka kata tersebut tidak dipisah. Seperti contoh dimakan bisa menjadi memakan, kata dimarahi bisa menjadi memarahi, jadi kedua kata tersebut tidak boleh dipisah.

Selain penggunaan kata depan tersebut, penggunaan huruf kapital juga menjadi masalah yang banyak muncul dari kedua tulisan yang dibahas, seperti penggunaan huruf kapital pada nama hari, nama tempat ataupun nama orang. Untuk pembahasan lebih rinci tentang penggunaan huruf kapital ini dapat dilihat di postingan tips menulis di alamat website kelaskepo.org. Penggunaan EYD lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan huruf miring dalam tulisan.

Jika kata yang digunakan merupakan kata asing atau kata yang tidak mempunyai padanan dalam bahasa Indonesia, maka kata tersebut harus ditulis secara miring. Untuk mengetahui apakah suatu kata telah memiliki padanan ataupun telah menjadi kata serapan dalam Bahasa Indonesia, silakan kunjungi situs kbbi.co.id agar lebih yakin dalam menggunakan sebuah kata. Selain kata serapan, penggunaan ekspresi tidak baku seperti kata pigi, hehe, atapun cuss juga perlu dituliskan secara miring. Pun begitu halnya dengan kata-kata yang berfungsi khusus dalam sebuah tulisan.

Hal kedua yang menjadi kesalahan dalam tulisan yang tadi dibahas adalah penggunaan kalimat subjektif yang tidak tepat. Kalimat yang dimaksud di sini adalah kalimat yang memberikan kesan menggurui ataupun menghakimi dengan memberikan kesimpulan tanpa memberikan kesan subjektif di dalamnya. Seperti kalimat yang menyampaikan bahwa semua orang membenci ular, tentu saja merupakan contoh kalimat subjektif yang tidak tepat. Selain penarikan kesimpulan yang terlalu menghakimi tanpa didukung oleh fakta, kalimat tersebut juga tidak akan berterima jika dibaca oleh para pecinta reptil yang notabene sangat dekat dengan hewan bersisik tersebut. Sebenarnya tak ada yang salah dengan sifat subjektif dari para penulis blog, bahkan daeng Ipul sendiri mengatakan bahwa suatu kemewahan tersendiri jika seorang penulis dapat menuliskan kata saya/aku dalam tulisannya. Subjektif inilah yang membedakan antara penulis blog dengan penulis jurnalistik dan reportase lainnya.

Kesalahan terakhir yang sebenarnya juga terkait dengan sikap subjektif seorang penulis adalah penggunaan kata tertentu tanpa adanya kalimat penjelas yang mengikutinya. Kalimat ini biasanya muncul karena penulis merasa sangat dekat dengan hal yang dituliskan sehingga ia beranggapan bahwa semua orang tahu dan paham apa yang ia tuliskan. Seperti contoh penggunaan singkatan tanpa ada keterangan ataupun kepanjangan dari singkatan tersebut. Om Lebug dengan tegas mengingatkan kepada setiap peserta untuk menghindari anggapan bahwa semua orang tahu apa yang kita tulis dan juga jangan menanggap bahwa semua orang tidak tahu dengan materi yang coba kita sajikan. Dengan memperhatikan hal tersebut, maka apa yang kita tuliskan akan lebih menarik dan tidak terkesan menggurui atau sok tahu namun lebih bersifat informatif. Sebagai tambahan untuk lebih informatif, tulisan sebaiknya memberikan informasi yang berasal dari pengalaman pribadi atau kisah nyata sebagai penegasan contoh atau kalimat penjelas yang sudah diberikan.

Secara umum, ketiga masalah penulisan inilah yang menjadi pokok pembahasan dari review dua tulisan peserta kelas menulis Kepo hari ini. Kelas yang berlangsung cukup lama dari pukul 04.30 WITA hingga tepat pukul 09.00 malam sebenarnya tidak hanya membahas tentang kedua tulisan tersebut, namun juga materi tentang bagaimana mendapatkan ide tulisan dan juga mereview satu tulisan dari angkatan pertama kelas menulis Kepo. Namun untuk pembahasan lebih rinci tentang bagaimana menemukan ide, silakan berkunjung ke halaman web kelaskepo.org pada kategori Catatan dan Tips. Di bagian tersebut ada tulisan yang berjudul “Bagaimana Mencari Ide Tulisan?” atau “10 Ide Mencari Ide” yang memberikan gambaran bagaimana menemukan ide dengan cara-cara yang mudah dan praktis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s