Ketika Siri’ Hanya Sekadar ‘’Malu”

Posted: December 12, 2015 in daily life, sosial
Tags: ,

Dini hari pada Minggu kedua bulan Desember ini, Supratman tiba-tiba menghadang Nizar tepat di MAN 2 Model Makassar, tanpa kata ia memukul dan menendang Nizar hingga terjatuh dari motor yang dikendarainya. Sesaat kemudian lelaki jangkun ini menghunus badik yang telah ia persiapkan di balik celananya. Ia menikam Nizar secara membabi buta lalu bergegas meninggalkan Nizar yang mulai bersimbah darah.

Dua belas luka tikaman tak serta merta membuat Nizar menyerah, dengan segenap dayanya bangkit berusaha tuk meneruskan perjalanannya mencari pertolongan. Namun sayang Tuhan berkehendak lain, mahasiswa STIEM Bongaya ini tak mampu berjalan jauh lagi, ia tumbang tepat di depan Masjid H.M Asyiek. Ia terjatuh dan mengerang kesakitan, berusaha teriak meminta tolong, tapi tak ada gunanya, tak ada yang mendengarkannya kala itu. Akhirnya dia terbaring telungkup menghadap bumi, serasa menyerahkan diri, tertidur dan tak bangkit lagi.

Beberapa hari setelah kejadian itu, pembunuhan kembali terjadi di kabupaten Takalar. Seorang pegawai Indomaret meregang nyawa di tangan anak buahnya sendiri. Saat ia masih sibuk menata barang-barang, pelaku tiba-tiba muncul dengan parang yang telah siap ia tebaskan. Nyawapun kembali melayang, pelaku berlari pergi dan menghilang.

***

Dua kasus pembunuhan yang baru-baru ini terjadi di wilayah Makassar dan Takalar merupakan fenomena sosial yang patut mendapat perhatian serius. Pasalnya kedua kasus tersebut ditengarai oleh persoalan yang terkesan sepele namun berdampak sangat mengerikan dengan hilangnya nyawa seseorang.

Konon pembunuh Andi Nizar gelap mata karena malu dipergoki mengisap lem oleh korban. Aduan korban membuatnya mendapat hukuman dari organisasi kampusnya. Di sisi lain, hilangnya nyawa Salahuddin, pegawai Indomaret Takalar, karena pelaku tersinggung ditegur secara kasar saat bermain game Clash of Clans.

Kedua kejadian tersebut adalah aksi pembunuhan yang sadis dan tak berperikemanusiaan. Apa lagi faktor pendorong kedua pelaku melakukan tindakan pembunuhan tak lain adalah masalah perasaan, ketersinggungan dan juga rasa malu. Dalam masyarakat Bugis-Makassar masalah perasaan yang menyangkut kehormatan diri itu sering identikkan dengan istilah siri’ atau harga diri.

Namun apakah nilai siri’ hanya mengakibatkan pertumpahan darah saja? Atau justru menjadi cara untuk melegalkan aksi pembunuhan? Ataukah malah siri’ mereka jadikan harga mati untuk mengakhiri perjalanan hidup seseorang. Mungkin sudah saatnya kita kembali menyadari bahwa jaman telah benar-benar berubah, tak dapat dipungkiri pengikisan nilai telah betul-betul mengubah tatanan masyarakat. Konsep siri’ seutuhnya juga telah berhasil dipelintirkan tuk kepentingan tertentu saja. Padahal nilai siri’ adalah warisan yang tak berbatas pada kebencian dan rasa sakit hati semata. Nilai siri’ bagi masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya sangat dalam dan penuh makna, bahan ketika tidak ada siri’ dalam diri seseorang, maka ia tak layak disebut manusia.

Ada berbagai macam pengertian dan pemahaman siri’ yang telah banyak dikaji oleh ahli, dalam laman Melayuonline.com setidaknya ada 3 batasan pengertian siri’, (1) Siri’ sebagai malu, (2) Siri’ sebagai pendorong untuk melakukan hal-hal negatif (membunuh, melenyapkan, mengusir) apa dan siapa saja yang menyinggung perasaan atau harga diri seseorang, dan (3) Siri’ sebagai pendorong untuk melakukan hal-hal positif (membanting tulang, mati-matian) dalam dunia usaha/pekerjaan.

Konsep siri’ sebagai rasa malu, lebih kepada harga diri untuk tidak berbuat yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Konsep inilah sesungguhnya yang menentukan perangai dan perilaku seseorang. Malu ketika melakukan kesalahan, malu ketika berbuat tidak jujur ataupun malu dengan tindakan yang tidak benar adalah wujud nyata dari nilai siri’ yang dipegang teguh oleh seseorang. Pergeseran nilai siri’ ini telah sangat terasa ketika orang-orang mulai acuh tak acuh dengan moral mereka, seakan tak ada lagi malu yang mereka miliki. Mengambil hak yang bukan miliknya, melanggar aturan yang mereka paham betul bahwa itu salah atau bahkan menyombongkan kesalahan yang dibuat tanpa rasa malu sedikitpun adalah contohnya pergeseran ini.

Ishak Ngeljaratan (Budayawan Sulsel) secara jelas mengemukakan bahwa seorang yang masih memiliki budaya siri’ akan merasa malu jika ia berbuat kejahatan dan tentunya akan merasakan rasa malu yang sama jika tidak mampu berbauat baik kepada sesama dan alam lingkungannya. Menurutnya, budaya siri’ itu merupakan rasa malu yang ditopang oleh lempu (kejujuran) dan pacce/pesse (belas kasihan) untuk berempati kepada sesama manusia. Olehnya itu, tak sewajarnya penganut budaya siri’ ini menjadi orang-orang yang merusak dan menghancurkan hidup orang lain.

Kedua kasus pembunuhan tadi seakan menunjukkan betapa budaya siri’ atau malu yang sedari dulu diagung-agungkan masyarakat Bugis Makassar telah mengerucut pada konsep mempertahankan ego atau harga diri. Sehingga pemahaman siri’ yang dipertontonkan dalam kasus pembunuhan tersebut bukanlah hal yang patut dicontoh, walau memang tak dapat dipungkiri bahwa ketika seseorang merasa malu atau tersinggung maka ia akan melakukan pembelaan sebagai bentuk siri’ yang ia miliki.

Sedangkan konsep siri’ sebagai pendorong dan pemberi semangat untuk bekerja dengan sepenuh hati dan secara mati-matian berjuang dalam usaha atau suatu pekerjaan merupakan dari kesuksesan para saudagar Bugis Makassar di perantauan. Hidup jauh dari tanah kelahiran akan memberikan tantangan dan persoalan tersendiri untuk meraih sukses, namun dengan tingginya rasa siri’ yang dimiliki, rasa malu untuk pulang tanpa hasil, ataupun keengganan hidup melarat telah membakar semangat untuk bekerja tanpa lelah. Mestinya konsep siri’ inilah yang harus dipegang teguh oleh masyarakat Bugis Makassar, apatah lagi menghadapi persaingan global dalam kancah Masyarakat Ekonomi Asean yang tentunya membutuhkan semangat berjuang yang lebih dari sekadar beradu untung semata.

Konsep siri’ yang ternyata sangat luas dan memberikan dampak yang sangat berarti di setiap sendi kehidupan seyogianya tetap dipertahankan. Terlepas dari sikap masyarakat kekinian yang tak lagi berlandaskan pada nilai siri’, kekuatan dari orang-orang yang masih peduli untuk tetap menjaga konsep siri’ dengan benar akan menjamin tersampaikannya nilai ini kepada generasi-generasi selanjutnya.

Jangan sampai sikap keras, pendendam dan mudah marah yang malah menjadikan orang Bugis Makassar terkenal, bukannya nilai siri’ yang dianutnya. Nah, apakah kita masih akan membiarkan siri‘ berhenti sekadar sebagai rasa malu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s