Deal or No Deal

Posted: December 17, 2015 in Kelas Menulis Kepo
Tags: ,

Sudah hampir sejam berlalu, Roni masih berdiri kaku di tepi kaca jendela di ruang belajar sore itu. Merahnya langit di tepi barat mengantarkan ingatannya pada pesan singkat yang ia terima pagi tadi. Seorang sahabat karibnya saat menempuh studi S1 dahulu, tiba-tiba muncul dan mengajaknya untuk menjadi joki pada Test of English as Foreign Language (TOEFL) di sebuah lembaga kursus ternama. Joki adalah istilah untuk orang yang mengerjakan ujian untuk orang lain dengan menyamar sebagai peserta ujian yang sebenarnya.

Lama tak berjumpa, namun tiba-tiba muncul dengan sebuah ide gila membuat Roni tak percaya dengan pesan tersebut. Saking tak percaya dengan apa yang ia lihat, Roni harus membaca pesan itu secara berulang-ulang untuk menyakinkan dirinya. “Dua jam saja dalam ruangan dan kita akan dibayar hampir sejuta” begitu kalimat penutup dari pesan yang dibacanya.

Sejenak pikiran Roni melayang jauh, ia tiba-tiba teringat penghasilannya yang sangat jauh dari kata cukup. Ia teringat dengan kiriman uang saku yang kini tak lagi ia dapatkan semenjak wisuda bulan lalu. Terlebih biaya hidup sebagai pegawai baru ternyata tak sedikit. Belum lagi sebuah rencana tuk menikah tahun depan yang ia terlanjur janjikan pada pacarnya. Sebuah rencana besar namun tabungan untuk mewujudkan rencana itu belum ada sepeserpun. “Ah, mungkin sudah saatnya mencari cara baru untuk menghasilkan uang dengan cara cepat” pikirannya mencoba berdamai dengan pertentangan batinnya.

***

Roni tersenyum sumringah. Ia seakan tak percaya jika kini ia sudah genap sebulan bekerja. Setelah sempat merasa tak bisa bertahan lama dengan pekerjaan kantoran, akhirnya ia menikmati juga waktu yang ia habiskan selama ini di kantor. Ia duduk sejenak sembari menyeruput kopi hitam yang masih hangat terasa di kedua tangannya. Sambil bersandar, ia menatap jauh indahnya gedung-gedung tinggi dari jendela kaca tepat di depan meja kerjanya.

Tiba-tiba ia tersenyum kembali, kali ini ia teringat kejadian pagi tadi di ruang kelas. Sebuah kisah lucu yang kerap ia temui ketika mengajarkan TOEFL pada mereka yang tidak memiliki dasar berbahasa Inggris yang mumpuni. Saat dimana ia kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama, bagaimana cara menjawab soal tanpa mengetahui arti soalnya?

Sesekali seruput kopi berusaha mengembalikan lamunannya, membuatnya mencoba menikmati kembali birunya laut dan cerahnya langit yang menjadi pemandangan begitu indah siang itu. Setela h puas dengan segelas kopi hitam pekatnya, Ia bergegas beranjak ke ruang belajar yang tak jauh dari ruang guru tersebut. Sambil menenteng buku TOEFL yang tebalnya kurang lebih 500 halaman, ia memasuki ruang belajar dan menemui dua orang kliennya siang itu. Klien rutin Roni kali ini adalah mahasiswa ilmu pertanian yang jauh lebih tua darinya. Meskipun berumur lebih tua, kemampuan bahasa Inggrisnya di bawah rata-rata, bahkan tergolong menyedihkan untuk level mahasiswa pascasarjana.

Siang itu Roni membahas hasil simulasi tes TOEFL yang dikerjakan oleh kedua kliennya minggu lalu. Dari hasil tes tersebut ternyata tak ada peningkatan yang berarti pada nilai keduanya. Klien itupun mulai menggerutu, bahkan tak jarang mengeluh sembari sedikit menyinggung. “Bagaimana mi pale ini bos, sudah miki bayar mahal-mahal tapi tidak ada ji perkembangan ini saya rasa, masa mengulangki lagi, masa menungguki lagi bulan depan? Edede, habis mi uang dipake bayar terus uang kuliah ini e” pak Kahar mulai mengeluh. Pria paruh baya tersebut terpaksa harus tersendat dalam proses administrasi ujian karena belum melulusi persyaratan TOEFL. Ia membutuhkan skor minimal 450 untuk dapat mengikuti seminar akhir di kampusnya.

Pak Kahar yang berlatar belakang ilmu pertanian merasa teraniaya atas persyaratan melulusi TOEFL tersebut. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan, jangankan menelaah kata yang salah dalam struktur baku bahasa Inggris, mengartikan kata dasar saja akan sangat susah baginya. Apatah lagi harus menjawab pertanyaan dengan informasi yang hanya didengarkan saja. Hal itu merupakan sebuah kemustahilan baginya. Ia nampaknya hanya bisa melihat-lihat soal tanpa mengerti dengan baik apa isi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Itulah mengapa saat mengerjakan latihan soal-soal di kelas, kerap kali pak Kahar berguman seakan bicara pada dirinya sendiri. Ia merasa bahwa ada ketimpangan yang terjadi dalam penggunaan tes TOEFL sebagai persyaratan administrasi ujian akhir. Bagi dirinya yang sama sekali tidak bergelut dengan penggunaan bahasa Inggris secara langsung di tempat kerja, tes TOEFL sangatlah tidak pas untuk dijadikan persyaratan.

Dalam pikirnya, Pak Kahar beranggapan bahwa jika memang tes TOEFL ini menjadi sebuah indikator kemampuan berbahasa Inggris seseorang, lantas bagi mereka yang tidak menggunakan bahasa Inggris di dunia kerja mereka, apa guna dan manfaatnya mempelajari semua itu. “Jangan-jangan ini hanya sebatas prasyarat yang justru digunakan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang kami miliki” pak Kahar tiba-tiba berbicara dengan suara lirih .

Seketika Roni tersentak mendengar pernyataan singkat pak Kahar tersebut. Ia teringat dengan diskusinya kemarin bersama rekan kerjanya, Aldo. Ternyata Aldo juga merasa heran dengan posisi TOEFL dalam berbagai prasyarat administrasi perkantoran. Apalagi jika nantinya di lingkungan kantor tersebut justru sama sekali tidak menggunakan Bahasa Inggris. Sebuah hal yang mubazir menghabiskan uang ratusan ribu tuk hal yang tidak begitu signifikan terhadap pekerjaan. Ataukah memang ada kerjasama terselubung yang mendasari semua itu? Ia mencoba bayangkan betapa banyak uang yang dikumpulkan dari tes TOEFL tersebut? Aldo pun mulai berspekulasi.

Belum lagi dengan praktik kotor yang kerap muncul dari tes TOEFL tersebut. Aldo menjelaskan bagaimana mudahnya teman-temannya mendapatkan skor TOEFL bersertifikat tanpa harus belajar keras. Bagaimana orang-orang berduit dengan gampangnya mendiktekan skor tinggi walau mereka tidak hadir saat tes. Praktik uang yang sudah menjadi rahasia umum ini, seakan menutup kesempatan bagi mereka yang mau belajar TOEFL. Menutup kesempatan hadirnya kejujuran yang mulai terkikis oleh pola hidup hedonisme masyarakat kekinian. Begitulah Aldo seakan berceramah kepada Roni.

“Ah, bagaimana kalau kita’ mi saja yang gantikan ka saat tes nanti? Tenang miki saja, nanti saya bayarki” pak Kahar mulai menggoda Roni dengan gaya serius. “Memang saya bisa menggantikan bapak saat tes nanti?” Roni menjawab dengan ketusnya. “Ah dek Roni masa tidak tahu, dimanapun, kalau ada uang pasti mi lancar urusan” jawab pak Kahar dengan penuh sombongnya. Roni terdiam saja di kursinya, seakan gamang dan tak tahu bagaimana harus menyikapi tawaran pak Kahar.

Siang itu kelas berakhir dengan cepat. Roni hanya memberi isyarat tuk memikirkan lagi tawaran pak Kahar. Ia mulai merasa kesempatan bermain api dengan pengetahuaan yang dimilikinya cukup menjanjikan. Ia membayangkan rupiah yang akan ia dapatkan, begitupun dengan mimpi-mimpinya yang akan segera terwujud jika ia bisa dengan cepat mendapatkan uang dengan jumlah yang banyak. Semua masalah itu seakan mengajaknya tuk berkata iya pada tawaran yang hadir.

Tapi bagaimana dengan Aldo? bagaimana dengan karirnya sebagai seorang pengajar TOEFL? Ataukah bagaimana seandainya kelak ia harus berhubungan dengan masalah hukum? Ah, nampaknya pilihannya semakin sulit. Ia bersandar tak berdaya pada kursinya. Seakan menyerah dengan ujian yang kali ini menggodanya.

***

Tiba-tiba handphone Roni kembali berdering. Sebuah pesan baru muncul di layar depan handphonenya tersebut. Ternyata pesan yang sama dan dari pengirim yang sama, sahabat lamanya. Dengan penuh pertimbangan, Roni akhirnya membalas pesan dari sahabatnya tersebut. Sederet kalimat akhirnya ia berikan untuk menjawab tawaran temannya tersebut.

Jika rupiah telah menjadi tujuan akhirmu, saya yakin tak ada bahagia yang kau dapatkan. Teruslah berjuang tuk berlaku jujur kawan, semua rejekimu telah diaturkan, dan yakinlah tak ada rejeki yang tertukar” pesan yang dikirimkan Roni kepada temannya seakan menjadi jawab terhadap pilihannya.

Tanpa berharap balasan lagi, Roni melemparkan jauh pikirnya pada setengah bulatan mentari yang telah ditelan laut di kejauhan sana. Bukan lagi indahnya sunset yang menjadi obat penenang harinya, namun gelapnya malam yang ia harapkan segera menemaninya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s