Ada Apa di Tengah Hutan Batu?

Posted: December 19, 2015 in Uncategorized

Apa sih daerah wisata terindah di Sulawesi Selatan? Apakah Toraja yang menawan dengan budayanya? Pantai Bira yang eksotis dengan pasir putihnya? Puncak Gunung Bawakaraeng dengan keindahan puncak berawannya? Ataukah Kampung Berua di Kawasan Wisata Rammang-Rammang yang mempesona dengan Hutan Batunya?

Sejak dulu, ketika ditanya tentang destinasi wisata terbaik di Sulawesi Selatan, saya langsung menyebut Toraja. Entah sejak kapan Toraja menjadi magnet wisatawan dari penjuru dunia, namun yang pasti pesona destinasi wisata ini lebih terkenal dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan itu sendiri. Terletak di wilayah pegunungan yang menampilkan keindahan alam pedesaan berbalut kentalnya budaya masyarakat Toraja menjadikannya pilihan utama para turis-turis baik asing maupun lokal. Dimanjakan dengan tradisi adat dan suasana alam pedesaan menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin sejenak melupakan hiruk pikuk perkotaan.

Namun jika harus membandingkan keindahan alamnya, katanya Toraja akan memiliki saingan baru. Sebuah desa nan indah di tengah gugusan batuan karst yang diklaim salah satu yang terbesar di dunia, katanya, menjadi primadona baru wisatawan. Desa tersebut adalah Kampung Berua di Kawasan Wisata Karst , Rammang-Rammang, Maros.

Ketika sebuah acara gathering komunitas hobby yang telah lama saya ikuti akan diadakan di Kampung Berua, saya langsung antusias menyatakan kesediaan saya untuk ikut serta. Saya ingin membuktikan seperti apa sih primadona baru itu?

Walaupun berjarak sekitar 40 km dari Kota Makassar, daerah wisata ini cukup mudah untuk dikunjungi. Apalagi saat ini destinasi wisata yang katanya menakjubkan tersebut semakin gencar dipromosikan oleh pihak pemerintah. Terakhir sebuah festival budaya, Rammang-Rammang Full Moon Festival, digelar di Kampung Berua untuk memperkenalkan keindahan alam dan pesona batuan karst yang mengelilingi kampung tersebut.

Dengan mengendarai sepeda motor, saya beserta rombongan komunitas hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk mencapai dermaga penyeberangan menuju kampung Berua. Lokasi dermaga yang terletak 500 meter dari jalan poros Makassar-Maros tepat berada di sisi kiri jembatan. Di dermaga telah siap beberapa perahu traditional yang biasa disebut jolloro. Perahu ini dapat memuat 4-5 orang penumpang dengan harga sewa Rp.150.000 hingga Rp. 200.000 per perahu untuk perjalanan pulang dan pergi.

Dermaga

Dermaga Rammang-Rammang

Kampung Berua sendiri merupakan sebuah desa yang terletak di tengah-tengah tebing-tebing karst yang sangat tinggi. Gugusan pengunungan karst yang mengelilingi desa Berua ini seakan menempatkan desa ini dalam perlindungan alam dari perubahan dunia luar. Akses menuju desa ini pun cukup sulit, dimana kita harus menyusuri sungai yang cukup panjang. Apakah memang desa ini ibarat mutiara alam yang terpendam namun memiliki keindahan yang tak terkira? Saya menjadi semakin penasaran.

Perjalanan menyusuri sungai merupakan awal pembuktian dari kesombongan pesona alam Kampung Berua. Jika selama ini, saya hanya bisa melihat keindahan alam seperti ini di portal berita petualangan seperti National Geography, sekarang semua telah disiarkan secara live di depan mata saya. Sensasinya seperti sedang berada di pedalaman Kalimantan ataupun Myanmar. Bahkan, jika seseorang sering menonton film-film kehidupan liar di Amerika Selatan, maka ia akan merasakan sensasi berada di sungai Amazon. Untungnya di kawasan Rammang-Rammang ini tidak terdapat hewan karnivora seperti ikan piranha ataupun aligator yang tentunya sangat berbahaya.

 

Sungai

Keindahan alam di sepanjang aliran sungai

Di kedua sisi sungai terdapat jejeran tanaman nipah yang seakan tersusun dengan rapi. Dari kejauhan terlihat berbagai keindahan alam khas batu karst yang memang cukup mempesona. Tebing-tebing karst yang tumbuh menjulang bak paku bumi, rumah-rumah penduduk lokal yang sangat unik, hingga rute perjalanan yang berkelok-kelok, seakan tak membiarkan mata saya berkedip. Tak jarang pula perahu kami harus bermanuver bak jet ski melewati celah-celah bebatuan yang sangat sempit.

 

Setelah 20 menit mencoba menarik perhatian saya, Kampung Berua pun akhirnya ada di depan mata. Tepat di depan dermaga tempat perahu bersandar, sebuah kolam ikan dengan rakit terapung di atasnya telah menyambut kami. Suasana tersebut seakan menggoda kami untuk merasakan sensasi menggunakan alat transportasi tradisional itu. Tak pikir panjang, beberapa teman saya pun mengambil batang bambu untuk mulai berakit-rakit ke tengah kolam. Mungkin rakit ini memang sengaja dibuat untuk memanjakan para pengunjung, baik untuk sekadar berpose ataupun menikmati sensasi mengayuh rakit tradisional.

rakit

Seorang pengunjung yang berpose di atas rakit

Setelah puas bermain dengan rakit, kami beristirahat sejenak sambil berteduh dari teriknya panas mentari. Kami menikmati angin sepoi-sepoi di balai-balai bambu berpayungkan pohon kapuk yang begitu menyejukkan.

Sembari beristirahat, saya sempat mewawancarai seorang warga. Katanya di Kampung Berua ini hanya terdapat sekitar 10 rumah saja, dan hampir semua rumah penduduk kampung Berua bermodel panggung khas Bugis Makassar. Sebagian besar penduduknya hidup dari bertani, berkebun, beternak dan juga memelihara ikan. Hampir keseluruhan daerah dataran kampung Berua berupa areal persawahan. Tak heran jika musim panen tiba, tempat ini menjadi sangat cerah dengan warna kuning keemasannya. Namun, bila musim tanam telah usai, hamparan hijaunya persawahan akan memberikan sensasi kesejukan yang tiada duanya. Apatah lagi dengan hamparan kolam empang di sekitarnya.

Alam

Suasana Kampung Berua

Dalam wilayah Rammang-Rammang ini terdapat beberapa objek menarik yang ditawarkan, mulai dari objek Telaga Bidadari dan Gua Telapak Tangan, sebuah goa alam yang cukup indah walau ukurannya tidak terlalu besar, pemandangan Gunung Karst yang menjulang tinggi dengan tebing-tebing yang sangat terjal, hingga batuan-batuan karst raksasa yang tergeletak di areal persawahan. Tentunya semua itu tak lupa kami abadikan dengan kamera yang kami bawa. Melihat sendiri betapa banyak batuan di tempat ini, saya rasa memang tak salah jikalau tempat ini lebih tepat di sebut Hutan Batu.

Di akhir petulangan kami, seorang warga menyarankan untuk naik ke puncak bukit batu yang menjadi tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke Berua. Di puncak bukit karst di sebelah timur kampung Berua ini, terdapat pondok yang cukup besar untuk berteduh dan beristirahat. Kami pun dapat menikmati kopi hangat dan mi instant plus telur rebus dengan harga yang sangat terjangkau disini.

Setelah menginjakkan kaki di kampung Berua, kampung dengan sejuta pesona alam yang tiada duanya ini, akhirnya saya yakin bahwa inilah pesaing dari Tana Toraja. Dan jika kini saya ditanya tentang destinasi wisata terindah di Sul-Sel, maka jawaban saya adalah Desa Berua di Kawasan Karst Maros. Jika tak percaya, silahkan datang dan buktikan sendiri!

Berua

Indahnya pemandangan alam di Kampung Berua

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 5: Jelajah Sulsel“ yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID.

 

Advertisements
Comments
  1. viraindohoy says:

    kayaknya seru ya Rammang Rammang ini..

    Like

  2. arievrahman says:

    Aku dulu udah sampai Rammang Rammang tapi belum sampai kampungnya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s