Lima Catatan Dari Pertemuan Ketiga Kelas Menulis

Posted: December 22, 2015 in Kelas Menulis Kepo
Tags: , ,

“Membacalah, lalu tuliskan agar kau tak hanya diam di satu titik”  #Inspirasipul

Musim penghujan tak menjadi penghalang terlaksananya pertemuan ketiga kelas Menulis Kepo pada hari Jumat (18/12/2015). Dilaksanakan di tempat yang sama, yaitu Kafe Baca di Jl. Adhyaksa, kelas dimulai dengan pembahasan awal tentang tugas pertemuan sebelumnya dan diakhiri dengan pembahasan materi pokok pertemuan ketiga, yaitu sudut pandang tulisan. Berikut lima catatan penting yang sempat saya ‘tangkap’ selama pertemuan:

1. Sumber Ide

Pada pertemuan minggu kedua, kelas membahas cara untuk menemukan ide dari sebuah tulisan. Pada pertemuan kali ini, semua peserta kelas memaparkan bagaimana ide dari tulisan kedua muncul. Hampir semua peserta kelas menemukan ide yang sangat lekat dengan kesehariannya. Ada yang secara langsung menemukan ide dari kehidupannya, namun ternyata ada juga yang kesusahan memilih ide yang harus dituliskan. Namun, setelah berkonsultasi dengan pendampingnya, akhirnya ide tulisanpun muncul.

Ada ide yang berasal dari pengalaman menjadi MC pada sebuah seminar, pengalaman mendonorkan darah, kesibukan kerja, dinas jaga di Rumah Sakit, kebiasaan make up, dan kegelisahan terhadap hobby fotografi. Dari semua contoh sumber ide tersebut, dapat dengan jelas terlihat bahwa ide yang menarik itu sebaiknya bersumber dari hal-hal yang sangat dekat penulis. Om Lebug juga memberikan saran untuk menuliskan sesuatu yang sudah dialami, agar lebih mudah dalam mengembangkan tulisannya.

2. Kiat Memulai Tulisan

Memulai tulisan dapat menjadi masalah bagi penulis, namun ada beberapa tips yang dibagikan pada pertemuan ketiga kelas menulis kali ini. Ada beberapa cara yang dapat menjadi pilihan untuk memulai sebuah tulisan. Diantaranya adalah :

  • Memulai dengan sebuah kutipan/lirik lagu
  • Memulai dengan sebuah percakapan
  • Memulai dengan konflik utama, layaknya intro sebuah film
  • Memulai dengan alasan mengapa menulis tulisan tersebut

Dari keempat cara di atas, seorang penulis dapat menghasilkan awal tulisan yang lebih bervariatif. Olehnya itu, sangat disarankan untuk mencoba semua jenis pembuka tulisan awal tersebut, sehingga nantinya dapat ditemukan satu gaya atau cara yang pas dan enak untuk menjadi pembuka sebuah tulisan.

3. Kiat Mengakhiri Tulisan

Selain memberikan solusi pada masalah memulai tulisan, kelas juga memberikan beberapa tips untuk mengakhiri sebuah tulisan secara menarik. Namun, secara garis besar ada dua cara yang menarik untuk mengakhiri sebuah tulisan. Yang pertama adalah dengan memberikan kalimat dalam bentuk pertanyaan. Kalimat bentuk bertanyaan akan memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menyimpulkan sendiri tulisan yang ia baca. Bahkan menurut Daeng Ipul, dengan kalimat berupa pertanyaan tersebut, seseorang akan berpikir tentang apa yang baru saja ia baca, dan tak jarang pembaca akan tergoda untuk melihat kembali tulisan dengan lebih teliti. Sehingga pembaca bisa saja membaca ulang tulisan tersebut.

Cara lainnya adalah dengan memberikan akhir tulisan yang menggantung. Akhir yang menggantung akan memberikan rasa penasaran dan membuat pembaca menjadi semakin tertarik untuk tetap membaca tulisan yang lain. Atau bahkan pembaca akan memberikan komentar atau tanggapan dari kekecewaan yang mungkin dirasakan. Namun, secara gamblang Kak Na’ memaparkan bahwa untuk pengembangan tulisan perlu dipikirkan secara keseluruhan ide antara judul, bagian awal, isi dan penutup penulisan. Karena sesungguhnya ide itulah yang menjadi roh dari tulisan, jika akan menggantung diakhir, maka perlu dipikirkan untuk memberikan kejelasan pada pendahuluan dan isi dari tulisan.

4. Melihat dari Berbagai Sudut

Sebenarnya, pada pertemuaan ketiga, pembahasan utama kelas menulis adalah tentang sudut pandang. Bagaimana melihat sebuah ide dari sudut yang berbeda. Kak Afaath memberikan penjelasan singkat bagaimana ia menghasilkan tulisan dari perjalanannya ke sebuah pasar tradisional di Makassar. Sebenarnya ide dari kegiatan di pasar sudah sangat umum, namun kak Afaath berhasil memberikan tulisan dari sudut pandang makanan tradisional yang sudah jarang ditemukan. Selanjutnya Kak Na’ memberikan contoh lebih lanjut dari Ayu Utami dalam tulisan Zaman yang menghasilkan enam tokoh dari dirinya sendiri dengan sudut pandang yang berbeda.

Selama mengajarkan materi ini kak Na’ mengajak peserta kelas untuk memandang beberapa objek dari sudut padang mereka sendiri. Dan ternyata semua peserta memang mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda. Ibarat beberapa orang yang diperintahkan untuk melipat-lipat kertas tanpa dijelaskan arah dan bentuk lipatan lalu kemudian merobek sudutnya, maka dapat dipastikan bahwa takkan ada seorangpun yang memberikan model robekan kertas yang sama.

Begitupun ketika semua peserta kelas harus berimajinasi dengan benda yang ada di Kafe Baca hari itu. Dari benda yang dipilih, peserta lalu membuatnya menjadi tulisan pendek. Beberapa ide tulisan pun muncul, dan ada beberapa yang menarik menurut saya, seperti sebuah curhatan tentang teh dari Kak Ifah.

“Teh panas yang beberapa saat lalu saya minum, sudah menjadi dingin, tidak ada lagi hasrat meminumnya, ampas dan dinginnya menjadi alasan. Saya membayangkan betapa tidak beruntungnya menjadi ampas teh, dingin dan diabaikan”

Ide tulisan dari sudut pandang penikmat teh ini memberikan makna tersendiri menurut kak Na’. Dari segelas teh seharga lima ribu, bisa dihasilkan sesuatu yang harganya, lebih dari lima ribu, bahkan proses ‘pengabaian’ itupun memerlukan proses yang indah, jelas Kak Na’.

Beberapa peserta kelas menulis sebenarnya memilih benda yang sama seperti papan tulis dan kopi, tapi dengan sudut pandang yang berbeda, ceritanya pun sangat berbeda. Papan tulis misalnya, oleh Kak Afaath digambarkan sebagai benda hidup yang dapat memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Sedangkan papan tulisan menurut Kak Ian adalah benda mati yang mengingatkannya pada kehidupan masa kecilnya dulu.

Pada sesi latihan kedua, semua peserta memilih satu objek lalu  diwajibkan membuat tulisan dari objek yang sama tersebut. Objek yang dipilih adalah benda yang sangat dekat dengan dunia kepenulisan yaitu buku. Tentu saja, tulisan yang dihasilkan tak ada satupun yang sama. Dari peserta kelas yang berlatar belakang beragam dan pengalaman yang berbeda-beda, tentu akan menghasilkan tulisan yang sangat berbeda.

Nah, dari latihan menuliskan sesuatu dari berbagai sudut pandang tersebut, telah terlihat jelas bahwa ide sebuah cerita akan memiliki alur dan kisah yang berbeda jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Begitupun jika penulis dari sebuah cerita memiliki pengalaman dan latar belakang yang berbeda, hasil cerita atau tulisannya pastilah akan berbeda.

5. Menemukan Sudut Yang Pas

Setelah menemukan cara untuk membuat sebuah tulisan dari berbagai sudut pandang yang berbeda, di akhir sesi kelas, Daeng Ipul memberikan tipsnya dalam menentukan sudut pandang dalam menulis. Beliau yang biasanya menghadiri sebuah kegiatan besar, yang juga dihadiri oleh banyak penulis lainnya, tentu harus memilih sudut pandang yang tepat sehingga tulisan yang dibuat tidak sama dengan tulisan yang lain. Menurutnya, Ia lebih sering mencari sudut pandang yang tidak umum. Alih-alih mendeskripsikan bagaimana jalannya kegiatan tersebut atau bagaimana suasana di kegiatan tersebut, Daeng Ipul lebih senang memilih suatu hal yang paling menonjol dari kegiatan tersebut. Dengan begitu ia dapat menuliskan laporannya dengan berbeda melalui sentuhan personalnya.

Selain itu, Om Lebug juga membagi pengalamannya dalam menemukan sudut pandang tulisannya. Bagaimana ia harus terjun ke beberapa tempat untuk mendapatkan sudut pandang yang belum pernah digunakan seseorang dalam menulis tentang waria. Mulai dari nongkrong di Karebosi, tempat mangkal waria, hingga bergelut dengan berita-berita tentang waria di berbagai surat kabar. Pada akhirnya beliau pun menemukan ide tentang waria, namun dari sudut pandang yang masih jarang dituliskan orang, yaitu sudut pandang bahasa waria.

Nah, seperti inilah kegiatan selama pertemuan ketiga kelas Menulis Kepo. Semoga ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat. Saya rasa tips-tips tersebut di atas memang sangat bermanfaat bukan?

Jika ada yang kurang jelas, mungkin bisa ditanyakan melalui kolom komentar.

Advertisements
Comments
  1. enal says:

    nda adaka saya disebut :”((((

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s