Lima Tingkah Pengguna Jalan Yang Memicu Kemacetan di Kota Makassar

Posted: December 25, 2015 in Kelas Menulis Kepo
Tags: , ,

Taksi, becak dan Pete-pete adalah tiga jenis kendaraan yang hanya Tuhan yang tahu apa maunya”  ~Kak Na’

Makassar merupakan kota yang paling maju di belahan Timur Indonesia. Tak heran mengapa saat ini kemacetan pun bukan lagi menjadi hal yang asing di ruas-ruas jalan kota Anging Mamiri ini. Hampir di semua belahan kota Makassar telah terdapat titik kemacetan dan kepadatan kendaraan yang tidak dapat dihindari.

Selain volume kendaraan yang sudah agak tidak sebanding dengan lebar ruas jalan, tingkah laku para pengguna jalan pun menjadi salah satu faktor utama penyebab kemacetan di Kota Daeng. Berikut ini lima tingkah para pengendara yang kerap menimbulkan masalah di jalanan kota Makassar:

1. Membelokkan Kendaraan Sembarangan

Pernah suatu ketika, saya melintasi jalan protokol dan di depan saya ada seorang pengendara wanita. Ketika akan melewati sebuah perempatan, wanita di depan saya berbelok secara tiba-tiba. Tanpa memberi tanda ataupun menyalakan lampu wesernya, saya nyaris menabrak bagian belakang motornya. Untung saja tangan saya masih cekatan menarik tuas rem cakram depan saya. Jika tidak, maka saya tak tahu apakah saya atau wanita itu yang akan celaka.

Pengalaman yang saya alami mungkin pernah dialami oleh hampir semua pengendara di kota ini. Tentu saja, bukan hanya pengendara motor saja yang berlaku demikian, pengemudi kendaraan lainpun, seperti truk, mobil, becak, ataupun bentor sering melakukan atraksi berbahaya seperti itu. Bahkan tak jarang mereka dengan sadar mengubah arah pergerakan kendaraannya tanpa memperhatikan kendaraan lain yang ada disekitarnya.

Pete-pete atau angkot merupakan mode transportasi yang paling sering melakukan aksi mengubah arah secara tiba-tiba. Bahkan weser mereka akan tiba-tiba menyala hanya sesaat sebelum berhenti. Yang paling parah jika mereka tiba-tiba berhenti tanpa sinyal atau pertanda apapun. Jadilah pengendara di belakangnya akan panik dan tak jarang menabrak bemper belakang pete-pete tersebut. Kalau sudah terjadi kecelakaan seperti itu, maka tunggulah beberapa detik saja, kendaraan akan mengular, melambat dan akhirnya muncullah kemacetan.

Kendaraan yang berbelok sembarangan hampir dapat ditemui di semua persimpangan jalan di Makassar, baik di jalur protokol, ataupun jalan-jalan arteri yang selalu padat kendaraan. Jadi pastikanlah anda memberikan tanda ataupun menyalakan weser jauh sebelum anda berbelok, karena dengan begitu anda akan membantu pengendara lain untuk lebih awas dan waspada dengan pergerakan anda.

2. Melanggar Lampu Lalu Lintas

Lampu lalu Lintas sesungguhnya berfungsi untuk mengatur kelancaran arus lalu lintas. Dengan menaati aturan lampu lalu lintas tersebut, maka kemacetan dan kepadatan kendaraan akan mudah untuk dihindari. Sebaliknya, jika aturan di titik-titik lampu lalu lintas ini tidak dijalankan, maka antrian panjang kendaraan akan semakin menjadi-jadi.

Di beberapa titik lampu lintas di Kota Makassar, pelanggaran yang paling sering terlihat adalah posisi kendaraan yang berada di depan lampu lalu lintas itu sendiri. Dengan posisi seperti itu, pengendara tidak akan melihat dengan jelas warna lampu yang sedang menyala. Sehingga tak jarang mereka akan melaju pada waktu yang belum dibolehkan.

Selain tidak ada kejelasan dari garis perhentian, keinginan untuk melintas lebih cepat, membuat para pengendara merangsek maju melewati batas. Bahkan tak jarang pengendara motor akan memaksa untuk maju hingga ke barisan terdepan dan menghalangi kendaraan lain yang akan berbelok ke arah kiri lampu lalu lintas. Ujung-ujungnya, kepadatan kendaraan makin parah di setiap lampu merah.

Selain itu, tipikal sifat tidaksabaran yang dimiliki masyarakat memperparah kemacetan di tiap lampu lalu lintas. Ketika lampu hijau sudah menyala, maka berbondong-bondong kendaraan akan dipacu dengan sekuat tenaga. Saat lampu kuning sudah menyala, kebanyakan kendaraan juga masih memaksa untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan masih ada yang menyosor dengan begitu cepatnya saat lampu telah berganti warna merah. Karena lampu telah berwarna merah, otomatis dari arah lain lampu telah berganti hijau, sehingga kendaraan dari arah lain akan bertemu dengan sisa kendaraan yang tadinya menerobos. Tak pelak perlambatan pun terjadi, kendaraan seakan merayap, dan akhirnya akan memicu kemacetan yang tak dapat dihindarkan.

Saat kemacetan seperti ini terjadi, maka atraksi suara klakson akan mulai ditampilkan. Entah apa yang dipikirkan oleh pengendara kebanyakan di kota Daeng ini, saat kemacetan semakin parah, kendaraan hanya bergerak lamban, mereka malah membunyikan klakson dengan suara keras dan berulang-ulang. Bukan hanya satu atau dua orang, namun mungkin hampir semua pengendara melakukan hal tersebut. Apakah mereka mengira dengan membunyikan klakson keras-keras kemacetan akan terurai? Tentu saja jawabnya tidak, bahkan akan memperparah.

Saat bunyi klakson bersaut-sautan bak sedang memaksa orang bergerak, adrenalin pengendara yang mendengarnya akan meningkat. Hal tersebut akan memicu rasa waspada dan ketidaksabaran untuk segera menjauh dari keriuhan tersebut. Orang-orang akan mencoba mempercepat kendaraan meski sudah nyata macetnya di depan mata, hingga tanpa sadar mereka akan membunyikan klakson juga.

Titik-titik terjadinya pelanggaran ini dapat terlihat jelas di persimpangan ruas Jl. A.P. Pettarani, baik di persimpangan Jl. Hertasning, maupun di persimpangan Jl. Boulevard.

3. Melawan Arus Lalu Lintas

Jika suatu saat anda melintas di jalur yang sedang mengalami macet parah, padahal jalur dari sebelah anda sedang lowong dan lancar-lancar saja, apa yang akan anda lakukan? Sebagian besar orang di kota Makassar akan memilih untuk mengambil jalur yang lowong. Biar berbahaya asal cepat, mungkin itulah peribahasa yang dijunjung oleh para pengendara anti mainstream tersebut.

Meski sebagian besar aksi lawan arus hanya dilakukan oleh pengendara roda dua, namun dampak aksi nekat tersebut tetap dapat memicu terjadinya kepadatan kendaraan. Alasannya adalah setiap kendaraan yang melawan arus, pasti akan memperlambat kendaraan yang berada di arus yang semestinya. Jika perlambatan ini terjadi di daerah rawan macet maka dengan cepat akan terjadi kepadatan yang akhirnya berujung pada kemacetan.

Titik-titik dimana kendaraan biasanya melakukan aksi lawan arus merupakan daerah lintasan yang arah semestinya memutar lebih jauh lagi. Dengan melawan arus, jarak tempuh dari kendaraan akan semakin singkat dan tidak membutuhkan waktu yang lama lagi tuk mencapai tujuan. Meskipun demikian, terkadang lawan arus akan berbuah petaka bagi mereka yang kurang hati-hati. Tak jarang mereka yang melawan arus melaju dengan kecepatan tinggi, seakan tak sadar sedang berada di jalur yang salah. Walhasil, pengendara lain mungkin saja akan kaget dengan kendaraan yang tiba-tiba muncul dari arah yang tak diduga tersebut. Untung baik jika kendaraan ini tidak sedang dalam kecepatan tinggi, sehingga masih mampu mengontrol kecepatannya. Coba bayangkan jika kedua kendaraan sedang melaju dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba bertemu, kira-kira masihkah pengendara tersebut terhindar dari kecelakaan?

Di Makassar, titik sering terjadinya aksi lawan arus cukup banyak, seperti di depan kampus UMI, sebelum lampu lalu lintas di Jl. Urip Sumiharjo di Tello dan ruas Jl.Abd.Dg.Sirua. Jadi berhati-hatilah selalu dengan kendaraan yang melawan arus tersebut. Tetap waspada dan melajulah dengan kecepatan yang dapat dikontrol.

4. Parkir Sembarangan

Salah satu masalah yang di hadapi ketika melintasi jalan-jalan kota besar adalah penyempitan ruas jalan karena adanya kendaraan yang parkir sembarangan di bahu jalan. Mencari tempat parkir di ruas jalan protokol memang semakin sulit. Selain bahu jalan yang semakin diperkecil dengan proyek pelebaran ruas jalan utama, ada beberapa toko ataupun rumah makan yang tidak menyediakan area parkiran yang memadai. Padahal tempat tersebut menjadi primadona yang kerap ramai dikunjungi oleh pelanggan setianya.

Bahkan ada suatu titik di ujung sebuah jalan utama di kota ini, yang selalu ramai dikunjungi namun tidak menyediakan tempat parkir satupun. Mana mungkin ada tempat parkir yang tersedia, jika pemiliki stand kuliner tersebut hanya memanfaatkan ruas trotoar dan bahu jalan. Sehingga mau tidak mau, pengunjung akan memarkir kendaraan di bahu jalan. Pemandangan parkir sembarangan di bahu jalan ini dapat terlihat jelas di sepanjang ruas Jl. A.P. Pettarani dan juga beberapa titik di sekitar Mall Panakukkang Makassar.

5. Melintas di Trotoar

Saat kepadatan kendaraan mulai terjadi, maka segala cara akan dilakukan pengendara untuk melaju dengan cepat. Susul menyusul tidak lagi memperhatikan aturan. Bahkan terkadang jalur trotoar pun di jadikan jalur untuk mendahului.

Bukan hanya pengendara motor yang menyalip dengan melintasi jalur pejalan kaki tersebut, pete-pete dan kendaraan besar lainnya juga sering kali mengambil ruas jalan kecil tersebut. Sebenarnya tak ada yang salah dengan mendahului kendaraan yang lain, namun jika pengendara lain menyalip dari sisi samping jalan atau memakai trotoar, maka akan ada saat dimana kendaraan yang menyalip tersebut akan masuk kembali ke jalur utama. Saat masuk ke arah jalur utama itulah maka kemacetan akan terjadi. Kendaraan akan memaksa untuk tetap melaju meski ada kendaraan dari arah sampingnya. Jika tak ada yang mau mengalah, kendaraan akan terjepit dan tak lagi bisa bergerak.

Selain menyebabkan kemacetan, melintasi trotoar akan menyebabkan masalah baru bagi pejalan kaki. Selain hak mereka yang diambil oleh pengendara motor ataupun mobil, bahaya kecelakaan atau tabrakan akan semakin besar kemungkinan terjadinya. Dan jika melintasi jalur trotoar semakin hari semakin menjadi-jadi, maka suatu saat tak ada lagi pejalan kaki yang akan berjalan di sisi-sisi jalan.

Penggunaan trotoar sebagai jalur melintas untuk mendahului ini dapat dijumpai di beberapa titik di sepanjang Jl. Perintis Kemerdekaan dan Jl. A.P. Pettarani. Jika anda sering berjalan kaki di ruas jalan tersebut, maka berhati-hatilah selalu.

Itulah lima tingkah laku pengendara di kota Makassar yang kerap kali memicu terjadinya kepadatan dan kemacetan. Jadi bila suatu saat menemukan kemacetan di kota Makassar, cobalah untuk bersikap tenang dan jangan mau ikut melanggar, apalagi memicu pengendara lain untuk melanggar. Salah sedikit justru bisa mengakibatkan kecelakaan fatal. Biarlah lambat asal dapat tiba di rumah dengan selamat! Toh, tak ada untungnya kan melanggar aturan lalu lintas?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s