Sebuah Jawaban Untuk Pertanyaan TOEFL

Posted: January 8, 2016 in Kelas Menulis Kepo
Tags: ,

“Saya tidak akan ikhlas meninggalkan dunia ini, sebelum saya menginjakkan kaki di luar negeri” ~ Mr. Umar

Perkataan sahabat saya tentang keinginannya melanjutkan studi di luar negeri merupakan salah satu dari sekian juta mimpi mahasiswa Indonesia pada era kekinian ini. Akses informasi yang tidak lagi terbatas, ketersediaan beasiswa yang terus meningkat, hingga pengalaman dari mereka yang telah berhasil mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri seakan membuka lebar kran semangat para pemburu beasiswa. Tak heran lagi mengapa  pameran pendidikan luar negeri semakin marak diadakan setiap tahunnya.

Antrian di Salah Satu Pameran Pendidikan Luar Negeri

Antrian di Salah Satu Pameran Pendidikan Luar Negeri

Saya sendiri pun mempunyai mimpi yang sama dengan sahabat saya, menjejakkan kaki di belahan dunia lain sembari menuntut ilmu yang lebih tinggi. Tentunya mimpi ini akan memerlukan waktu yang lama untuk dapat terwujud. Setidaknya saya harus meluangkan waktu yang cukup untuk melakukan persiapan yang memadai. Mengapa harus mengadakan persiapan segala? Ya, karena menurut saya, dengan persiapan yang matang, maka hasilnya pun pasti akan memuaskan.

Mungkin banyak dari para pemburu beasiswa yang akhirnya gagal mendapatkan beasiswa karena persiapan mereka yang kurang. Salah satu yang paling sering menjadi kesalahan fatal dari pemburu beasiswa adalah kemampuan bahasa yang tidak memadai untuk belajar di luar negeri. Apalagi jika mereka ingin belajar di negara yang menerapkan kelas internasional tentunya mereka harus menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar saat proses perkuliahan. Sebagai imbasnya, jauh sebelum calon mahasiswa mendaftarkan diri ke universitas di luar negeri, pihak penyedia beasiswa telah mensyaratkan untuk melampirkan sertifikat kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki.

Di antara beberapa jenis sertifikat kemampuan bahasa Inggris yang ada, Test of English as Foreign Language (TOEFL) telah menjadi pilihan terfavorit para pemburu beasiswa. Terlebih lagi jenis TOEFL yang disyaratkan adalah TOEFL ITP yang memang biaya tesnya paling murah di antara jenis tes yang lain. Saat ini biayanya berkisar antara Rp. 450.000 hingga Rp 500.000, yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan International English Language Testing System (IELTS) yang mencapai kisaran harga Rp 3.000.000.

Meskipun biaya mengikuti TOEFL tergolong murah, namun tidak serta merta menjadikan  para pemburu beasiswa dengan mudahnya mendapatkan nilai tinggi. Bahkan kebanyakan di antara mereka tidak mencapai target nilai yang disyaratkan oleh penyedia beasiswa. Pada akhirnya muncullah praktik-praktik kotor untuk mendapatkan nilai yang diinginkan. Jual beli nilai TOEFL ataupun kasus perjokian untuk mendapatkan nilai TOEFL yang tinggi telah menjadi rahasia umum yang tak dapat lagi dielakkan keberadaannya.

Namun di samping mereka yang gagal, tentu saja ada juga yang berhasil mendapatkan nilai TOEFL yang tinggi. Mengutip informasi dari sebuah portal berita online, tahun lalu jumlah penerima beasiwa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sudah mencapai 4.580 orang. Data tersebut tentu saja memberikan gambaran kasar bahwa ribuan orang telah berhasil lulus dengan skor TOEFL yang tinggi. Lantas mengapa ada lebih banyak orang yang belum mampu lulus dengan skor yang diharapkan?

Sebenarnya jawabannya sangat sederhana, kebanyakan orang yang gagal karena kurangnya persiapan yang matang. Bahkan ada yang langsung mengikuti tes tanpa persiapan sama sekali. Tentu saja hasilnya sudah bisa ditebak seperti apa. Belum lagi mereka yang sudah sangat ingin ke luar negeri, segala cara ingin ditempuh dengan cepat tanpa memikirkan persiapan yang semestinya dilakukan.

Sebenarnya, tak ada cara instant yang dapat ditempuh untuk menaklukkan pertanyaan dalam TOEFL, apalagi bagi mereka yang tidak mempunyai dasar bahasa Inggris yang mumpuni. Saya sebagai pembelajar TOEFL memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menguasai kemampuan bahasa yang diujikan dalam tes tersebut. Setidaknya untuk meningkatkan hasil yang signifikan dalam waktu relatif singkat diperlukan intensitas belajar yang sangat tinggi. Itulah mengapa perkampungan bahasa Inggris di beberapa daerah selalu ramai dikunjungi oleh mereka yang butuh intensitas belajar yang tinggi.

Mengapa harus intensitas yang tinggi yang perlu diberikan kepada mereka yang ingin mendapatkan nilai yang tinggi? Apakah ada jaminan setelah belajar tiga-empat bulan akan serta merta meningkat nilai yang diperoleh saat tes? Tentu jawabnya tidak. Tidak sama sekali. Bukan intensitas belajar yang menjadi kunci dari keberhasilan seseorang menaklukkan TOEFL namun kemampuan bahasalah yang menjadi kuncinya.

Jangan takut untuk mulai melakukan

Jangan takut untuk mulai melakukan

TOEFL merupakan tes yang didesign sedemikian rupa untuk menguji kemampuan bahasa seseorang. Itulah mengapa ada beberapa aspek pertanyaan dari TOEFL yang meski tanpa kita pelajari dapat dijawab dengan benar.Dengan berbekal kebiasaan mendengarkan atau membaca tulisan berbahasa Inggris, kita dapat dengan mudah mengetahui jawaban yang benar ataupun salah dari pilihan yang ada. Memang terdengar aneh, namun ada beberapa bukti yang mendukung pernyataan tersebut.

Dalam seminar internasional tentang kebahasaan yang saya hadiri beberapa bulan lalu, salah seorang keynote speaker kala itu menjelaskan bagaimana keponakannya yang masih duduk di bangku SMA berhasil mendapatkan skor TOEFL 650 tanpa pernah mengikuti kursus TOEFL sekalipun. Ia hanya belajar dari bacaan yang selama ini ia baca seperti novel berbahasa Inggris. Selain itu, sebuah situs pribadi milik Rizky Syaiful menjelaskan bagaimana ia bisa mendapatkan skor TOEFL yang tinggi meski sebelumnya ia mendapat nilai B- dari mata kuliah bahasa Inggris dua tahun sebelumnya. Ia pun tak pernah belajar khusus tentang TOEFL pun mengikuti kursus. Ia hanya mendengarkan lagu grup band kesayangannya, menonton serial drama tanpa menggunakan subtitle bahasa Indonesia dan membaca novel yang menurutnya menarik.

Jadi sebenarnya  ada cara yang lebih mudah dan menyenangkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa kita. Berinteraksi dengan Bahasa Inggris sebanyak dan sesering mungkin dengan tanpa ada paksaan untuk melakukannya. Yah, kelihatannya sangat klasik, namun sebenarnya cara inilah yang dikembangkan hampir di semua lembaga belajar bahasa. Dengan tidak berfokus pada belajar bahasa, seseorang akan lebih mudah menerima input bahasa yang ditemuinya. Secara tidak langsung, alam bawah sadar akan menangkap kata-kata, kalimat bahkan makna yang didapatkan saat berusaha memahami apa yang sedang dihadapi.

Dengan melakukan hal tersebut maka input-input bahasa Inggris akan semakin banyak, dan akhirnya akan memudahkan dalam menjawab soal-soal TOEFL nantinya. Meskipun tak dapat dielakkan bahwa perlu ada bimbingan dalam beberapa aspek untuk hasil yang maksimal, namun selama kita mempunyai kemampuan dasar yang memadai semua itu akan lebih mudah dipelajari. Ibarat sebuah pisau yang telah terasah dengan tajamnya, maka hanya dibutuhkan teknik penggunaan yang tepat saja sehingga ia dapat memotong dengan lebih baik.

Jadi jika kalian juga ingin keluar negeri seperti mimpi saya dan sahabat saya, maka mulailah persiapan dari sekarang. Siapkan bahan bacaan yang banyak dan mulailah mendengar materi-materi berbahasa Inggris. Jika perlu lakukanlah dengan senang hati dan terus menerus. Jangan menunggu untuk diajari lagi, namun segeralah melakukan. Sehingga kelak jika ada yang bertanya bagaimana cara mudah mendapatkan nilai TOEFL yang tinggi, maka jawablah dengan mantap, cukuplah bersantai di bawah pohon yang rindang sambil mendengarkan musik kesayangan dan membaca novel yang anda gemari. Sangat mudah bukan?

Cara yang Mudah dan Menyenangkan

Cara yang Mudah dan Menyenangkan

Advertisements
Comments
  1. asriadi says:

    Langsung tercerahkan, mantap mentong tulisanta. Keren.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s