Archive for September, 2017

Pengalaman Pertama di Rantau

Posted: September 7, 2017 in Uncategorized

The Last Paradise in The World (Surga Terakhir di Dunia) menjadi semboyan provinsi yang terletak di bagian selatan Indonesia ini. Apakah memang di sini ada surga? Mungkin nanti akan terjawab seiring waktu berjalan, begitulah selalu katanya, waktu akan menjawab semua, bahkan untuk sesuatu yang tidak sempat untuk kita tanyakan.

Jalan Menuju Jalan

Setelah kurang lebih satu jam mengudara, sekitar pukul 08.30 waktu setempat, pesawat berhasil parkir manis di sisi selatan bandara. Kami berdiri, turun sendiri dan berlari menuju menuju bus shuttle yang telah mengantri. Berdiri bergelantungan menatap bapak-bapak dan ibu yang tak satupun berkata-kata. Kami segera menuju tempat pengambilan barang bagasi, berharap-harap cemas dengan keadaan si Ransel yang tadi sempat di PHP, sudah berharap masuk kabin tapi nyatanya masuk di bagasi.  Beberapa menit menunggu akhirnya tas saya pun terlihat, tak ada yang perlu dikhawatirkan, semua lengkap dan tak lecet sedikitpun. Si tas kayaknya berhasil survive.

Sesuai rencana dan strategi perjalanan dadakan yang sempat tersusun di RS kemarin, kami akan menggunakan moda transportasi motor dari Bandara menuju tempat pelatihan Kak Angga, menyusuri jalan Bypass tembus ke Tol Laut, berkendara di atas laut si ransel akan duduk manis di depan saya, kak angga memangku kopernya dibelakang, angin membawa kenangan masa lalu mengusap-ngusap manja mukanya kak Angga, lalu kami menyusur jalan raya, masuk gang-gang mencari indekos. Kami mencoba menghubungi penyedia jasa sewa (selanjutnya kami sebut Abang Motor) yang sempat kami telepon dua hari lalu, namun belum juga diangkat. Sambil menunggu kami menikmati roti dan teh kotak yang sempat kami bawa dari Makassar, sembari menikmati pemandangan depan mata.  

(more…)

Advertisements

Merantau

Posted: September 6, 2017 in Uncategorized
Tags:

Subuh ini setelah shalat berjamaah dengan kak Angga, kami menembus sunyinya jalan kota Makassar menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Saya duduk depan tapi bukan di belakang kemudi. Tepat di kursi belakang saya, ada kak angga, istrinya di samping kanannya tepat di belakang supir dan anaknya duduk di antara mereka yang tetap sibuk berceloteh.  Si supir yang seumuran saya masih terlihat kantuk, air bekas cuci mukanya pun masih segar terlihat bergelayut di ujung rambut tepi wajahnya. Dengan leluasa ia mencari saluran radio di tape mobilnya. A way back into love pun mengiringi kepergian di subuh yang beku, bersusulan lagu lawas lainnya yang jadi pilihan di Radio Delta FM.  

Di perjalanan kami memastikan tiket yang sudah dipesan. Dan ternyata tiket elektronik kak angga tidak dapat diakses di aplikasi whatsapp nya. Tiketnya dikirim dari kakaknya beberapa hari lalu. Handphone yang sudah teresetpun jd penyebabnya. Sempat ingin mencari file screenshotnya, tapi untungnya kakak iparnya sigap mengangkat telepon dan mengkonfirmasi akan mengirimkan ulang tiketnya. Jadi akhirnya masalahpun beres. 

Dalam sisa perjalanan hanya banyak diam beku tanpa suara, sesekali sang istri bertanya hal-hal remeh temeh untuk mencairkan suasana. Saya..menyanyikan lagunya kerispatih hingga tetangga mobilpun jadi terenyuh mendengarnya..haha, itu hanya khayalan saya. Nyatanya saya hanya diam agar bisa tetap menjala solidaritas. 

30 Menit lamanya membela ruas poros utama akhirnya sampai juga. Mobil menepi di sisi jalur keberangkatan, sigap kami menurunkan barang dan berjalan mengular di pemeriksaan masuk. Check in pun demikian dengan antrian panjangnya, kamipun menunggu cukup lama sekitar 20 menitan. Saat check in tas ransel saya terindikasi kelebihan muatan alias overload, akhirnya ia harus masuk bagasi. Mudah mudahan tas yang sudah usur itu bisa bertahan dengan perlakuan pegawai bagasi, soalnya dari video yang pernah saya lihat perlakuan mereka memang kasar. Kasian si ranselLaptop dan berkas saya pindahkan ke totebag yang sudah saya siapkan.  Setelah kak Anggapun selesai check in, kami kembali keluar untuk pamit dengan istri dan anak kak Angga. Suasana perpisahan yang kental trrlihat dari peluk sayang dan cium mereka. Baik-baik yah, katanya. Bayangkan saja bagaimana percakapannya yah. 

Kami pun menuju Gate 4, dan tepat pukul 06.15 kami sudah masuk pesawat.  10 menit kemudian peawatpun take off. Selamat tinggal sementara Makassar.  Kami merantau dulu sejenak.