Archive for June, 2018

“It smells good Pak Ismail”, “It is better than my mom’s cook” “It’s like we are in Indonesia” juga “Can I have more kuning rice Pak Ismail?” adalah respon dari anak-anak setingkat SD kelas 3 yang hari ini mencoba nasi kuning di kelas bahasa Indonesia.

Entah mengapa tiba-tiba saja sang guru mentor saya memberijan instruksi untuk memasak nasi putih dan nasi kuning di kelas Bahasa Indonesia berikutnya. Dengan bahan sisa dari memasak nasi tahun sebelumnya, saya mengiyakan saja rencana tersebut. Esok harinya, saya memasak dua rice cooker kecil nasi untuk tiga kelas berbeda, dan masing-masing kelas mendapatkan nasi yang baru dimasak, bukan nasi dari kelas sebelumnya. Karena sudah berpengalaman menjadi anak kost yang harus memasak sendiri saat kuliah dulu, masak nasi pun hal yang mudah tuk saya lakukan. Sebenarnya kami menyediakan dua jenis nasi, nasi putih dan nasi kuning. Dan kedua jenis nasi tersebut dimakan tanpa ada tambahan apapun, hanya nasi saja.

(more…)

Advertisements

Hari Lebaran terasa begitu singkat di negara yang mayoritas non Muslim ini. Ketika selesai melaksanakan shalat Ied berjamaah, lalu salam-salaman dan lantas kembali ke rumah masing-masing, maka kebanyakan akan melakukan aktivitas seperti biasa. Jika kebetulan lagi bersama keluarga Indonesia yang telah menetap lama di sini, maka undangan mampir dan menikmati masakan Indonesia khas hari lebaran akan kita dapatkan, seperti opor ayam, rendang, sop daging dan lontong.

Namun tak semua orang menikmati hal yang sama. Walau beberapa orang akan mengambil cuti di hari ini tapi tak jarang pula mereka tetap masuk kerja, seperti yang saya lakukan. Selain tak banyak yang bisa dilakukan di rumah, kegiatan NAIDOC, penghormatan terhadap budaya asli Aborigin yang cuma sekali setahun dan bertepatan hari ini dirayakan di sekolah, membuat rencana ke sekolah jadi pilihan terbaik untuk saya di hari lebaran.

Beberapa hari setelah lebaran akan ada undangan makan dari orang-orang Indonesia ataupun sesama muslim. Bahkan pengurus mesjid pun akan merayakan halal bi halal yang tentunya akan ramai dengan makanan beberapa minggu setelah hari lebaran. Ada yang unik dari kebiasaan yang terjadi saat ada undangan makan dari siapapun, biasanya orang-orang yang datang akan membawa sesuatu untuk dinikmati bersama. Namanya bring and share, berbagi makanan yang dibawa. Jika berkesempatan hadir maka kita akan menikmati suguhan makanan yang beraneka ragam, khususnya dari daerah berbeda-beda di Indonesia. Saat menghadiri salah satu undangan kemarin, ada hidangan makanan yang disediakan oleh tuan rumah, ada yang membawa empek-empek palembang, kue donat, keripik melinjo dan masih banyak lagi jenisnya, saya pun membawa sesuatu dan syukurlah makanan yang saya bawa habis dimakan, artinya cukup disukai juga walau hanya makanan sederhana. Sebenarnya disini intinya hanya berbagi, tak ada yang akan mengatakan makanannya tidak enak atau tidak lezat, malah mereka akan mengapresiasi dengan banyak pujian.

Orang-orang non muslim pun merayakan kebahagian lebaran dengan memberikan ucapan selamat, bahkan memberikan bingkisan makanan sebagai rasa ikut senang karena berakhirnya bulan puasa. Kalau sesama orang Indonesia memberikan kue berupa keripik bawang dan kacang telur, seperti yang saya dapatkan dari orang Batak yang telah menetap disini, maka orang Ausi akan memberikan sesuatu yang menurut mereka dapat saya nikmati, kemarin saya mendapat kue cokelat dan permen mint yang manis. Belum lagi mereka yang dari Indo tapi tidak merayakan lebaran, maka traktiran coklat panas atau es kopi akan mereka tawarkan, dengan semua itu rasanya mulai betah berada di sini.

Meski lebaran tak semeriah di kampung, dan moment berkumpul bersama keluarga dan sahabat tidak ada, namun suasana berlebaran di luar sini pun terasa menyenangkan dengan keramahan dan rasa berbagi dari mereka yang merayakan, baik sesama pemeluk agama Islam, maupun mereka yang non-muslim.

Pengalaman berharga untuk sebuah toleransi yang sangat tinggi dan rasa persaudaraan dari muslim yang menjadi minoritas di Negeri Kangguru ini. Selamat Hari Raya Idulfitri, semoga kita selalu dalam kesehatan dan keselamatan menjalankan hidup yang lebih bermanfaat.

IMG_0258Puasa pertama tahun ini dimulai hari kamis, 17 Mei 2018, bertepatan dengan segera dimulainya musim dingin di Australia. Meski tinggal di bagian barat Australia dan lumayan dekat dengan Indonesia, bahkan tak ada perbedaan waktu disini dan di tempat asal saya. Tapi, untuk masalah ibadah Ramadan yang berdasarkan kalender hijriah, durasi menjalankan puasa akan berbeda, waktu mulai berpuasa lebih lambat sedangkan waktu berbuka puasa lebih cepat, sekitar 30 menit.

Walau waktu berpuasa yang lebih singkat sedikit, tapi tantangan berpuasa di sini lebih banyak, karena ada banyak perbedaan dari bulan puasa yang selama ini saya rasakan di Indonesia.

Yang pertama adalah suhu udara yang lebih rendah, karena sudah menjelang dan masuk musim dingin saat menjalankan ibadah puasa. Yang paling susah adalah bangun tepat waktu untuk sahur, berhubung pemanas ruangan hanya di kamar, begitu menuju dapur ataupun ke kamar mandi untuk berwudhu, maka serangan udara dingin, lantai yang dingin, piring yang dingin apalagi air yang tentu bisa sedingin es. Dan terkadang yang paling menjengkelkan adalah makanan yang terlalu cepat dingin. Tentu tahulah bagaimana susahnya membangun selera makan saat sahur, apalagi jika makanannya terasa dingin semua, nafsu makan akan berkurang drastis. Namun ternyata suhu yang lebih dingin di sini, justru membuat rasa lapar tidak terlalu sering menghampiri pun begitu dengan rasa haus, Alhamdulillah. (more…)

Di saat merantau, belajarlah melepaskan kenyamanan dan berusaha ikhlas menerima perubahan, agar kita tahu arti rumah yang sesungguhnya.

DCIM102MEDIAPukul 09:00 pagi, Ibu Pam menjemput saya dari asrama, setelah menumpang tidur selama dua malam saja, saya diantar ke stasiun East Perth untuk kemudian bertolak ke lokasi penempatan saya selama program ini. Saya melihat dari jendela beberapa gedung tinggi menjulang di sisi jalan yang kami lalui, saking tingginya, beberapa bahkan tak dapat saya lihat puncaknya dari dalam mobil sedan hitam yang melaju lancar di pagi yang hangat ini.

img_20180217_083948_hhtPerjalanan saya menuju Geraldton, kota pelabuhan di pesisir Mid West, menggunakan bus besar yang di sini di sebut ‘coach’. Tiket sekali jalan AU$ 68 atau setara 680 ribu rupiah dan di tiketnya tertera durasi perjalanan yang akan memakan waktu enam jam. Meski sudah sering melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan bus, tapi kali ini pengalaman dan suasananya benar-benar berbeda. Bus dan semua kendaraan di sini menggunakan sabuk pengaman kepada semua penumpang. Jadi bisa dibayangkan, selama enam jam dengan ikatan sabuk pengaman di badan mungkin akan terasa kurang nyaman, tapi bagi saya justru lebih aman dan tidak terlalu terasa lelah. Di dalam bus terdapat fasilitas kamar kecil, colokan USB dua buah untuk mengisi baterai handphone atai gadget yang lowbet, juga disediakan hiburan video/film terbaru atau berbagai jenis musik yang dapat dinikmati dengan mencolokkan headseat yang dibagikan gratis.

Tak ada pemandangan sawah atau perkebunan yang begitu hijau sepanjang perjalanan, hanya semak dan perkebunan yang tak begitu sejuk di mata, membuat saya menghabiskan waktu beristirahat dan baru terbangun saat bus berhenti di sebuah pom bensin beristirahat dan membiarkan para penumpang menikmati makan siang yang dapat di beli di toko yang ada di area pom bensin. Saya sendiri menikmati roti gulung isi daging dan minum dingin yang tadi sudah dibelikan ibu Pam sebelum bus berangkat.

Saya tiba lebih awal dari waktu yang dijadwalkan, dan untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Ibu Katie dan Ibu Tiana yang selama persiapan keberangkatan kami hanya berinteraksi melalui aplikasi facebook. Ibu tiana memberikan saya nasi rendang lengkap dengan kerupuk udang, katanya biar saya tak usah repot menyiapkan makan malam tuk hari ini. Setelah bersalaman dan pamit, saya diantar oleh ibu Katie menuju tempat tinggal saya yang berada dekat dari salah satu sekolah tempat saya mengajar nantinya. Dalam perjalanan, kami singgah di supermarket untuk membeli kebutuhan harian yang saya perlukan, tak banyak yang dapat saya beli, hanya susu, telur, roti, mentega, keju dan buah apel. Hanya itu yang dapat terpikirkan kala itu, terlebih lagi saya harus meminjam uang ibu Katie untuk membayarnya karena kantong tempat saya biasa menyimpang uang berada entah di bagian mana dari tas atau koper yang sudah sulit dijangkau.

img_20180217_152107

Saya tiba di rumah Pak Mark yang telah menunggu kedatangan kami menjelang pukul empat sore. Hanya ada Pak Mark di rumah, sedang istrinya Ibu Toni berada di Perth. Setelah ibu Katie beranjak pergi, Pak Mark mengajak saya masuk ke kamar dan menjelaskan beberapa bagian rumah dan fasilitasnya. Saya membayar sewa $150 perminggu untuk sebuah kamar dengan kamar mandi dan toilet, akses internet dan kulkas tersendiri. Fasilitas yang sangat lengkap menurut saya, belum lagi akses terhadap mesin cuci, pengering, microwave dan peralatan dapur yang dapat saya gunakan untuk masak-memasak. Rumah yang nyaman dan termasuk baru dengan kolam renang di halaman belakang rumah, meski kecil tapi cukup untuk meredam teriknya matahari saat musim panas, katanya menjelaskan.

Ada beberapa hal yang menarik dari kota Geraldton ini, meski terlihat kecil dan sepi, tapi tak ada beda dengan keadaan masyarakat yang ada di kota besar. Meski tak ada gedung tinggi menjulang seperti di Perth, tapi fasilitas publik, semua tersedia. Hanya saja, pada akhirnya saya menemukan kekurangan dari sisi akses angkutan umum bus yang terbatas, karena memang penduduk yang tidak terlalu padat dan lebih banyak yang memiliki kendaraan pribadi dari pada pengguna angkutan umum di sini. Saking terasa kecilnya, penduduk kota Geraldton dapat saling mengenal dengan baik, sangat mudah bertemu dengan orang-orang yang anda kenal di pusat perbelanjaan. Tak heran, banyak orang yang menjadikan Geraldton sebagai rumah mereka, mudah-mudahan ia juga menawarkan keramahan yang sama terhadap saya. Selamat datang di Geraldton, Ismail, katanya berbisik dari balik jendela yang berhembus bersama hangat angin musim panas.

img_20180315_182829

Bersambung …

Tentang Keterlambatan

Posted: June 12, 2018 in Uncategorized
DCIM102MEDIA

Kamar rasa kapal pecah kala itu

Saya hanya mau berbaring sejenak, merasakan kelelahan dari perjalanan dan drama keterlambatan sehari sebelumnya

Saya diantar ke kamar D7 di lantai dasar, gedung B yang berada di ujung lorong, setelah menjelaskan beberapa tempat penting di area asrama dan juga jadwal makan di kantin, petugas bergegas kembali ke meja kerjanya. Saya segera membuka koper yang sudah terabaikan sejak kemarin, walau sadar ia memang terasa basah sejak di Bali. Saya mengangin-anginkan pakaian yang terasa lembab dan basah hampir di semua sudut kamar. Tak lupa saya mengganti celana dengan sarung, merasakan kebebasan bergerak dalam tradisi yang sangat-sangat sederhana.

Sore hari saya beranjak dari kamar, kebiasaan menjelajah membuat saya penasaran menyusuri keadaan sekitar asrama St. Thomas Moore. Tepat di depan asrama, di seberang jalan, ada salah satu univeristas terbesar di sini, Western Australia University, meski tak sempat berjalan masuk sore ini, tapi esok hari saya memuaskan diri menjelajah keindahan kampus yang cukup tua tersebut. Saya berbelok ke kiri jalan, menuju hamparan air nan luas mirip sebuah danau. Setelah berada di sisi danau, yang sebenarnya adalah sebuah sungai, Swan River, saya menyaksikan keindahan kota Perth dari kejauhan. Di sisi jauh terlihat jelas gedung-gedung tinggi menjulang sementara sisi lain berbagai jenis perahu bersandar dalam barisan yang rapi di dermaga kayu modern yang terlihat sangat indah bak sebuah lukisan. (more…)

Saya membuka mata berharap semua hanya mimpi, tapi nyata semua masih sama, masih di sini, Bandara International Ngurah Rai Bali. Saya berjalan lunglai menemui bagian customer service, penuh harap akan benarnya kabar bahwa saya hanya perlu membayar denda keterlambatan untuk mendapatkan kursi di penerbangan berikutnya, tanpa perlu menjual diri untuk mendapatkan tiga kali lipat harga tiket sebelumnya. Dan syukurlah ternyata memang hanya mendapatkan denda, kurang beberapa ratus ribu jadi sejuta untuk keterlambatan yang cukup bodoh ini, tapi waktu terkatung di Bali hingga besok hari jadi nyata di sini. Ada pilihan nginap di kursi bandara sambil pura-pura duduk saja, atau keluar menyewa kamar tuk numpang semalam saja. Untungnya saya teringat akan Kak Angga, si mata sipit asal Wajo yang masih persiapan keberangkatan beasiswa AAS di ibu kota Bali ini. Jadilah saya menginap semalam di tempat beliau yang jadinya senyum-senyum sendiri dan sesekali tertawa cengengesan mengetahui cerita saya.

Esok harinya saya sudah sangat waspada, selesai shalat subuh, saat hari masih gelap, bahkan ayam belum berkokok, saya dan kak Angga menyusuri sepinya jalanan kota Denpasar menuju bandara. Kami tiba sangat awal, bahkan sebelum berangkat saya juga masih sempat putar-putar bandara mencari halte perhentian Bus Sarbagita, yang ternyata tidak jauh dari tempat masuk yang tadi kami lewati. Sudah putar jauh-jauh, sok pintar menebak kalau bakal berada di ujung utara, ternyata di ujung selatan, itupun setelah kita bertanya pada bapak-bapak yang sedari tadi kami acuhkan keberadaannya. Sebenarnya bukan tak mau bertanya, tapi kami masih merasa mampu menemukan sendiri, dan ujung-ujungnya juga minta bantuan, begitulah manusia. Peace!

Saya melewati pemeriksaan bandara dengan cukup was-was, bukan karena saya membawa senjata tajam, atau membawa kue sagu yang mirip-mirip sabu-sabu, tapi karena ini adalah pengalaman pertama. Pemeriksaannya beberapa lapis dengan antrian panjang tapi yang saya sayangkan adalah minuman mizone saya ditahan dipemeriksaan pertama saat semua yang melekat di pakaian harus dilepaskan. Bagaimana tidak merasa rugi, saat menunggu pesawat berangkat saya terpaksa membeli minuman sejenis itu dengan harga yang enam kali lipat di salah satu kiosk di selasar gerbang keberangkatan, shock pertama akan harga tinggi terjadi di sini. Dan entah mengapa setiap tetesan minuman ini terasa nikmat, ah mungkin karena harganya yang berubah atau saya yang kehausan karena tadi pihak imigrasi sempat menahan passport saya, karena surat kontrak saya tidak saya lampirkan, walau akhirnya bisa digantikan oleh salinan bentuk pdf di handphone saya, terima kasih Xiomi Note 4.Hehehe. (more…)

14 Februari adalah hari kasih sayang sedunia, katanya, dimana banyak orang di belahan dunia lain merayakan dengan bunga dan coklat yang  diberikan kepada orang terkasih. Namun, bukan hal tersebut yang spesial bagi saya hari ini. Hari ini perjalanan pertama kali melintasi batas negara Indonesia, semua mimpi yang tercipta ratusan hari yang lalu, akan terwujud. Ku tatap nomor tiket pesawat Sriwijaya Air yang akan mengantarkan menuju pintu keluar Indonesia, Bali International Airport, saat masih menunggu di bandara Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.

Tiba di sini agak telat karena hujan yang membasahi jalanan, om mobil gocar, saya lebih senang menyebutnya seperti itu, membawa saya tiba sekitar sejam lebih awal. Ada om Lias, adik Ibu yang bekerja di Makassar, dua adik saya yang kebetulan ada di Makassar, dan juga si Rahmat, teman kerja di Pare yang ikut semangat mengantar hari ini, meski nyatanya ia datang untuk mengambil barang titipan yang tertinggal di Pare minggu lalu. Rahmat ini adalah mahasiswa penerima beasiswa LPDP, yang seminggu lagi akan berangkat ke Australia, yang akan menjadikan dirinya satu di antara sekian banyak mahasiswa international dari Indonesia di Melbourne University.

Di dalam pesawat mulai ramai dengan penumpang yang berjalan menuju kursinya, saya mendapat tempat duduk di dekat lorong, jadinya hanya bisa melihat dari jauh jendela pesawat yang masih cerah meski hujan cukup deras di luar sana. Ah, terbayang sudah perjalanan yang akan teringat selamanya ini, mendarat dan merasakan sensasi di luar negeri, walau sudah jelas bagaimana keadaan di daerah barat Australia yang tidak semewah di daerah selatan dan ibukotanya. Lebih mirip gurun katanya namun tetap saja bagian dari Australia, salah satu negara maju di dunia.

(more…)