Sejauh Mana Mampu Bertahan?

Posted: July 22, 2018 in Australia Daily, Curcol

Sebuah tulisan sebagai pengingat diri akan beratnya berusaha untuk tetap konsisten dalam melakukan sesuatu.

Bahkan tulisan inipun tertatih-tatih dalam setiap kata yang akan tertulis. Butuh waktu lama tuk bisa berlanjut ke tahap ini. Saat mulai menulispun sudah memikirkan seberapa panjang tulisan ini, apakah hanya berakhir satu kalimat di atas tadi, atau hanya paragraf ini saja sebagai lanjutannya dan kemudian berakhir lagi di daftar draft tulisan yang ujung-ujungnya tak pernah lagi tersentuh.

Tapi saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkannya, teringat dengan tips ampuh dari salah satu kelas menulis dulu, untuk mendapatkan ide dalam menuliskan sesuatu selalu gunakan metode bertanya, 5W1H, bertanyalah terus dan jawab dalam tulisan. Jadi dalam tulisan ini saya akan langsung menjawab saja pertanyaan yang terlintas dan melihat seberapa jauh saya bisa berjalan dengan pertanyaan itu dalam bentuk rangkaian kata-kata.

Saat ini waktu menunjukkan pukul 10.37, malam ini udara kembali terasa sangat dingin bagi saya yang terbiasa tinggal di daerah tropis berdekatan dengan garis khatulistiwa. Suhu masih wajar menurut orang-orang sini, 17 derajat saja, tapi dinginnya sudah menembus tulang-tulang saya, hingga kadang ke toilet terpaksa ditahan-tahan, demi menghindari dinginnya air. Ditambah lagi diluar sedang hujan disertai angin yang lumayan kencang berhembus, suasananya jadi agak melow. Gara-gara hujan ini pula hari ini rencana ke perpustakaan tadi sore pun terpaksa ditunda, padahal waktu akhir pekan seperti ini adalah waktu terbaik tuk bisa bersantai di perpustakaan yang hanya bisa buka hingga pukul 5.30 sore saat hari kerja.

Saat ini saya menulis menggunakan sebuah laptop yang baru, meski merupakan barang bekas, tampilannya tak kalah dengan barang baru. Mungkin memang rejeki saya dapat barang bagus ini dengan harga yang lumayan murah, meski yah untuk biaya penggunaan seperti pembelian aplikasi lumayan mahal, tidak seperti Windows laptop yang bisa menggunakan program gratis hasil download-an di beberapa situs gratisan. Meski begitu, untuk kenyamanan dalam menulis dan tingkat responsif saat digunakan,  kemampuan laptop ini sangat jauh di atas laptop-laptop yang pernah saya coba. Mulai dari proses booting saat dinyalakan hingga buka tutup aplikasi, semuanya terasa sangat lancar dan tentunya tampilan di laptop ini lebih segar dan ciamik. Terlebih lagi didukung dengan daya tahan baterai yang menurut saya luar biasa meski ukuran laptop yang justru sangat tipis. Jadilah menulis apapun terasa lebih cepat dan nikmat, eh.

Memang akhir-akhir ini saya sering menulis apa saja, terutama pengalaman selama berada di Australia beberapa bulan ini, banyak yang masih ingin saya tuliskan tapi terkadang saya melihat tak ada respon atau bahkan tak ada pembacanya sama sekali. Padahal dalam dunia kepenulisan terkadang feedback dari pembaca adalah energi yang bisa tiba-tiba menyulut semangat tuk menulis dan menulis. Tapi pada akhirnya saya sadar, jika hanya menulis untuk dapat pujian ataupun mendapat banyak viewers, maka saya telah mengkhianati diri saya sendiri. Pasalnya memang dari awal saya ingin menulis untuk menaklukkan ego saya, menaklukkan rasa tidak konsisten dan pastinya untuk mengembangkan kemampuan menulis saya yang masih sangat jauh dari kata baik.

Saya merasa betul tulisan saya masih sangat kurang dalam berbagai hal, makanya selalu tidak percaya diri untuk mengirimkan tulisan saya ke media, belum lagi dengan berbagai keterbatasan waktu untuk membuat tulisan yang berbobot. Meski beberapa minggu lalu sempat dikenalkan dengan alur mengirim essay ke mojok.co oleh teman facebook yang tulisannya telah berhasil diterima disana meski awalnya harus mencoba berkali-kali, tapi setelah melihat tulisan orang-orang di sana, saya malah langsung merasa ciut, mengecil dan tak bernafsu lagi, biarlah kata-kata ini vulgar sedikit. Tapi mudah-mudahan bulan depan sudah mempunyai cukup keberanian untuk itu. Apalagi jika semesta mulai mendukung.

Iya, nampaknya semesta berkonspirasi. Tadi siang, sempat berkomunikasi dengan salah seorang mahasiswa yang kebetulan ingin mendaftar di program yang sama dengan saya, dari penjelasannya, dia kerjanya sebagai freelance di sebuah situs lumayan besar dan bekerja sebagai content-writer. Dari tulisannya yang sempat saya baca, wah ternyata dia adalah salah satu orang yang tulisan-tulisannya sering ke shared di linimasa sosial media saya. Mudah-mudahan hal tersebut adalah tanda sebagai jalan untuk terjun juga nantinya ke dunia freelance content-writer, namanya rejeki tidak bisa ditebak kan.

Memang sudah ada jalan untuk terjun ke dunia tulis menulis konten yang tentunya sedikit banyak bisa mengembangkan bakat plus menerima upah, tapi mungkin butuh waktu lagi, kira-kira kapan yah? Yakin aja segera. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat memotivasi tuk lebih giat dan sering menulis.

Saya berhasil menulis sejauh ini, dengan menjawab tiga pertanyaan saja, kapan, pakai apa, dan kenapa? Ternyata lumayan efektif, dan sekarang waktu menunjukkan pukul 10.59, saatnya beristirahat karena besok pagi adalah hari Senin yang tentunya akan sibuk-sibuk lagi.

Geraldton, 22 Juli 2018.

PS: Tulisan ini selesai dicek dan diedit sedikit agar lebih profesional lagi pada pukul 11.10. Lumayan.

Advertisements
Comments
  1. Yuwyuw says:

    Katanya tak hanya ngajar bahasa bang? Sama promoting indonesian kultur begitu? Nah gimana promotingnya bank?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s