Archive for the ‘Cerpen’ Category

“Iye bapak, tunggu dulu di kelas ka ini sekarang, diusirka nanti kalau jawab telpon!” Jawab si Mamat dengan nada pelan sambil berbisik. Wajah bapaknya dengan kumis tebal terpampang jelas di layar hapenya. “Ini tantemu mau bicara nak” jawabnya singkat diikuti pergantian wajah yang tampil di layar “Ididih, putihmu nak sekarang!” sang tante langsung memuji wajah Mamat yang sudah terlihat agak putih. Tak mau mengecewakan keluarga yang jauh di Pulau Sulawesi sana, Mamat akhirnya tetap menjawab telepon hingga selesai dengan mendekatkan hape ke arah wajahnya, mungkin hanya hidung si Mamat yang terlihat jelas di layar hape sang bapak.

Mamat kini melanjutkan kuliah di salah satu Universitas terbaik di Australia, ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah dan sudah memulai kuliahnya sejak bulan Februari kemarin. Hidup sebagai anak rantau yang kini berada di negara lain, membuat Mamat semakin sering dihubungi oleh sang Ayah, bahkan hampir-hampir intensitas telepon si bapak tersayang mengalahkan seringnya waktu nelpon sang pacar yang ada di Aceh sana. Memang bukan lagi kebiasaan baru sang bapak untuk rajin menanyakan keadaan Mamat, dulu sejak kuliah S1 di salah satu kampus negeri di Makassar, ia telah intens dihubungi untuk memastikan keadaan Mamat baik-baik saja. (more…)

Advertisements

Cerita Sumur Tua Buccello

Posted: July 30, 2018 in Cerpen, KKN

“Di sini nak, banyak orang pake ini tempat sebagai tempat mandi dan ambil air saat musim kemarau. Tidak pernah kering airnya” begitu kata ibu posko kami saat kami baru tiba di sumur berbentuk persegi dengan air yang terus mengalir keluar dari dasar sumur yang lebih mirip kolam kecil.

(more…)

Patung Kangguru di salah satu taman di pusat kota Perth.

“Iya, memang Kangguru itu hewan nasional di Australia, tapi kami juga makan kangguru, dan saya waktu kecil pernah punya kangguru sebagai hewan peliharaan di rumah” cerita seorang guru yang pernah mengantar saya ke sekolah. Mungkin kita yang ada di Indonesia tahunya kangguru itu hewan asli Australia yang tentunya mendapat perlakuan spesial, tapi ternyata kangguru itu sama sekali tidak spesial di sini.

Sebelum saya lanjut cerita, saya mau berbagi pengetahuan dulu bagi mereka yang belum tahu, nama Kangguru jika dilihat dalam kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata ia bukan penulisan yang benar, menurt KBBI yang benar itu Kanguru, berikut kutipan yang saya peroleh dari KBBI versi online: (more…)

Wah, rasanya baru kemarin tiba di Ausi, tau-tau sudah satu semester terlewati. Sudah setengah jalan menuju akhir program asisten bahasa yang saya ikuti. Dan hari ini saya akan berbagi cerita tentang bagaimana keseharian saya selama menjadi Language Assistent atau LA kurang lebih 5 bulan terakhir. Saya bekerja sebagai asisten guru Bahasa Indonesia di dua sekolah setingkat SD dan satu sekolah setingkat SMP. Jadi sebenarnya tugas saya tidak terlalu sulit, yah namanya juga asisten, tapi karena berada di lingkungan yang sangat berbeda, proses menyesuaikan diri, baik itu budaya dan kebiasaan di Ausi membuat pekerjaan saya terasa sedikit menantang.

Saya biasanya bangun sebelum pukul 6 pagi, mungkin saat jam telah menunjukkan angka 5. Setelah melaksanakan kewajiban sebagai muslim, saya harus buru-buru ke dapur. Karena di sekolah kebanyakan staf dan guru membawa makanan sendiri, jadilah pagi hari saya terisi dengan kerusuhan mempersiapkan bekal makanan tuk dibawa ke sekolah. Yah, meski sudah sering masak-masak sendiri, tepatnya ‘bereksperimen‘ dengan bahan makanan yang tersedia di dapur, saya pun masih sering kebingungan mempersiapkan menu apa yang tepat untuk dua kali makan di sekolah nantinya.

Di semua sekolah yang saya tempati, ada dua waktu istirahat, walau waktunya tidak persis sama, semuanya berdurasi 30 menit lamanya. Sebagai contoh di Waggrakine PS, istirahat yang pertama atau disebut juga reses time. sekitar pukul 10.55 hingga pukul 11.25 sedangkan yang kedua atau lunch time, tepat dimulai 1.30 sampai pukul 2 siang. Sedangkan di Wandina PS, istirahat kedua berakhir 1.35 siang, 25 menit lebih cepat.

(more…)

Terlalu naive rasanya membahas berbagai hal tentang sebuah kota tanpa membahas moda transportasinya. Sebagai pengguna moda transportasi massal di kota besar salah satu negara maju di dunia ini, saya merasakan banyak sekali perbedaan, yang tentunya tidak ada, bahkan jarang ditemukan di negara asal saya, Indonesia tercinta.

Disclaimer: Tulisan ini dituliskan dengan gaya tulisan yang sedikit berbeda, kata-kata yang disusun sedikit ‘anu’.

Selama bermukim dan beraktivitas sementara di Western Australia, entah itu di kota Geraldton ataupun di kota Perth dan sekitarnya, saya banyak melakukan perjalanan dengan kendaraan umum yang tersedia, seperti bus atau kereta, dan seingat saya hanya sekali saya menggunakan taksi, itupun karena diajak oleh guru mentor saya, pun begitu dengan moda transportasi online Uber, baru sekali dan itupun ikut dengan teman yang pesan.

Selama perjalanan bersama mereka, sang roda-roda yang berputar itu, ada banyak perbedaan yang saya rasakan, dan mungkin juga mereka rasakan, tapi biarlah rasa ini terpendam dalam dada. Untuk mengobati rasa penasaran, saya akan berbagai tentang keadaan perjalanan menggunakan kendaraan umum di sini (Perth dan Geraldton) dan yang membedakannya dari kampung halaman.

Yang pertama adalah masalah waktu. Sejak teknologi telah bersahabat sangat baik dengan urusan-urusan publik, negara-negara maju semakin memanjakan penduduknya, tak terkecuali di Australia. Hampir semua jadwal perjalanan kereta dan bus sudah terintegrasi dengan baik dengan aplikasi peta di telepon pintar yang dimiliki hampir semua orang. Sebutkan saja alamatnya, maka sang om Google Maps akan dengan lincahnya memberikan rute terbaik. Untuk perjalanan dengan menggunakan moda angkutan umum, biasanya telah muncul jenis kendaraan yang tersedia, pilihan jadwal keberangkatan yang ditawarkan dan perkiraan waktu tempuh hingga sampai di tujuan. Kurang apa lagi si Om Gugel ini, sudah lengkap sekali tawaran yang diberikan, bahkan ia bisa disuruh-suruh juga, misalnya mengingatkan kita kapan harus berangkat, kapan bersiap untuk turun atau berhenti dimana, tapi sayang dia belum bisa menjawab pertanyaan “kapan nikah?”

Halte bus di WA

Dan silahkan percaya apa yang disampaikan oleh si Om Gugel Peta tersebut, karena yang diberikan adalah pilihan terbaik. Pernah sekali saya berjalan ke taman King’s Park, saya meminta tolong ke si Om untuk ditunjukkan jalan menuju spot pemandangan terdekat, dan beliau senang hati memberikannya, sayangnya saya tidak terlalu percaya, karena rute yang diberikan di peta terlihat sangat jauh untuk ditempuh, harus berputar dulu ke bundaran baru kembali ke tujuan. Karena agak lelah saat itu, saya memutuskan membuat rute sendiri, Dari peta yang ada di hape, saya menyusuri lahan yang terlihat kosong, terus berjalan sesuai arah di peta, dan akhirnya saya sadar, area tersebut tak bisa dilalui, pagar besi tak berduri dengan tanda larang, pohon yang tumbuh dengan semak yang tak bisa ditembus. dan akhirnya saya memutuskan tuk kembali ke jalan yang lurus, kembali ke tempat awal dan mulai perjalanan sesuai saran om Gugel yang selalu memberi dengan tulus.

Selain itu, ada pula si tante kartu pintar a.k.a smartrider, jadi smartrider ini merupakan alat pembayaran yang bisa digunakan di semua jaringan transportasi di wilayah Australia Barat. Jika tak memiliki kartu ini, kita tetap saja bisa menggunakan cash atau uang tunai untuk membeli tiket, tapi harga tiketnya akan lebih mahal dan lebih ribet tentunya.

Kartunya dapat dibeli seharga $10 dan setelah diisi dengan saldo semau kita, maka sudah bisa langsung digunakan. Bagusnya, setiap pembayaran dengan kartu akan dikenakan diskon 10%, lumayan kan. Untuk menikmati fitur lebih canggih lagi, sebaiknya dan seharusnya buatlah akun untuk mengelola kartu tersebut. Karena di akun bisa dilakukan pengaturan seperti pengisian otomatis saldo yang dapat meningkatkan diskon hingga 20%. Itu untuk penumpang umum, sedangkan untuk mahasiswa/pelajar dan lansia, mendapatkan potongan yang lebih banyak lagi, lebih murah lagi jadinya dan tentunya lebih nyaman, tinggal tempel saja di alat pemindai, kita bisa langsung naik dan duduk manis di atas bus atau kereta, bisa juga sambil senyum manis, siapa tahu ketemu jodoh, ya kan? Ingatlah, jodoh tak pernah kenal tempat, waktu dan suasana.

Berdasarkan pengalaman saya, sebelum bepergian, saya akan selalu mengecek terlebih dahulu peta, kemanapun itu, apalagi jika tempatnya baru. Setelah ada gambaran tentang dimana arah yang dituju, bagaimana dan apa yang ‘dinaiki’, saya lalu memutuskan untuk keluar dan memulai perjalanan. Dan untuk menghidari agar tidak terlihat kebingungan, apalagi seperti orang yang lagi kasmaran sama handphone, yaitu melihat handphone setiap saat karena takut posisi atau waktu yang salah, perhatikan saja jenis kendaraan yang digunakan, apakah bus atau kereta, terus perhatikan jam berapa dan dimana harus menunggu, lalu cek lagi peta pastikan bahwa anda tahu jalan menuju ke tempat menunggu bus atau kereta tersebut.

Jika naik bus, silahkan berdiri di tempat keberangkatan bus, baik berupa halte ataupun papan penanda halte, lalu lambaikan tangan. Ingat, lambaikan tangan ke bus nya, jangan ke cewek cantik yang lewat atau pesawat yang tiba-tiba melintas. Saya pernah dua kali tidak mendapatkan bus meskipun telah berada di halte, karena tidak melambaikan tangan. Yang pertama terjadi karena saya sibuk cerita dengan cowok berewok bernama Anwar Fadila, salah satu LA juga, jadi sudah di halte kita masih harus menunggu beberapa menit, saking bosannya kita bahas hal tidak penting, tapi semangat ceritanya, busnya tiba-tiba ada dihadapan kita dan tidak berhenti, lewat saja. Dan kita hanya bisa merelakan dia pergi🙄.

Yang kedua, saya juga sudah di halte, saya membaca tulisan jadwal kedatangan bus, tertulis di situ bus yang saya harus gunakan terjadwal 5.32, lantas saya melihat jam tangan digital saya, masih 5:31:55, dan begitu saya menurunkan tangan saya, sebuah bus melintas di samping saya. Saya yang memang posisinya lagi membelakangi arah datangnya si bus, akhirnya hanya bisa pasrah, meski sempat melambaikan tangan, tapi semua sudah terlambat, tak ada gunanya lagi. Jadilah saya berjalan selama 30 menit lamanya ke stasiun kereta.

Jika berjalan normal, setelah bus tiba, tunggu hingga pintu terbuka, jangan naik dulu kalau masih tertutup, tidak usah teriak untuk dibukakan, karena pasti akan terbuka otomatis. Setelah naik, silahkan beli karcis di Pak Supir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya, eh,,malah nyanyi, kalau tidak nyanyi mungkin kita tidak seumuran. Jika punya kartu pintar atau smartrider langsung tempel saja di mesin pemindai yang dipasang di tiang tepat di dekat pintu masuk. Setelah itu silahkan duduk, jangan lupa memberi salam basa basi pada si Supir, siapa tahu dia adalah jodoh yang baru sempat anda temukan. Sebagai catatan, yang kerja sebagai supir bus di Australia bukan hanya laki-laki, tapi juga kaum perempuan, bahkan kemarin saya bertemu dengan salah satu ibu supir yang cantik dan masih muda. Jadi jangan lupa berdoa, siapa tahu sudah saatnya jodoh bertemu.

Sebelum turun pastikan sudah mengecek kembali peta, pastikan bahwa anda berada di tempat yang tepat untuk turun ke bumi, eh salah, untuk turun dari bus. Silahkan pencet bel yang tersedia hampir di semua daerah yang terjangkau, usahakan pencet belnya dengan hati-hati, jangan sampai ada tangan orang lain yang juga menuju ke bel yang sama, apalagi setelah itu disusul dengan tatap-menatap yang bertabur bunga-bunga, jangan sampai yah, bahaya.

Setelah bus berhenti, barulah beranjak dari tempat duduk, dan berjalanlah menuju ke pintu keluar, biasanya akan dibukakan pintu keluar terdekat, dan jangan lupa tempelkan kartu pintar ke mesin pemindai agar biaya perjalanan bisa dipotong dari saldo, jika tidak ditempelkan, maka akan dikenakan biaya maksimal dari total perjalanan yang mungkin terjadi. So, jangan sampai lupa yah.

Stasiun Warwick, pintu masuk dan mesin penjualan tiket

Saat menggunakan bus dan kereta, maka saat turun nanti akan langsung ke stasiun, jadi langsung tersambung perjalanannya. Jika hanya menggunakan kereta, maka harus datang ke stasiun dulu, prosesnya akan sama, kita menggunakan kartu pintar atau membeli karcis. Di stasiun akan ada mesin untuk membeli tiket kereta dan juga isi ulang saldo kartu kita. Setelah menempelkan kartu maka jalan masuk akan terbuka. Silahkan menuju ke flatform tempat kereta akan diberangkatkan, perhatikan baik-baik kereta apa yang digunakan, dan di flatform berapa, karena salah tempat menunggu akan fatal, keretanya tidak akan muncul. Tapi tenang saja, hanya ada 2 stasiun yang memiliki banyak flatform di Perth, sisanya hanya ada dua, dari atau menuju Perth, jadi tidak mungkin salah naik kereta.

Suasana mencekam dalam kereta

Saat sedang menunggu usahakan jangan berhenti di tempat terlarang, biasanya di area setelah tangga dan di dekat rel kereta, ada cat warna kuning yang jadi penanda batas tersebut biasanya. Jika menggunakan eskalator atau tangga jalan, berdirilah disamping kiri jika ingin berhenti atau tidak bergerak, jangan di sisi kanan, karena sisi kanan akan digunakan orang-orang yang berjalan buru-buru. Saat kereta datang, berdirilah dekat pintu masuk, jangan di depan pintu menghalangi jalan keluar. Jadi biarkan dulu orang-orang keluar semua, baru kita masuk. Silahkan duduk atau berdiri di tempat yang disediakan.

Hal yang paling berbeda dari suasana di angkutan umum di Indonesia dan di sini adalah interaksi penumpangnya. Akan sangat kurang yang namanya interaksi sosial di kereta, pun juga di bus. Orang-orang akan saling menghormati privasi masing-masing, berusaha tidak menganggu yang lain. Ada yang mendengarkan musik dengan headset terpasang di telinga, membaca buku baik berupa novel atau sekedar ebook ringan di handphone mereka. Dan bahkan saya jarang melihat orang lain yang tidak saling kenal saling menyapa, tidak ada proses perkenalan basa basi tanyakan asal dari mana, tidak ada cerita merunut nama-nama kakek dan nenek buyut dan tak ada tawa-tawa renyah dari kebahagian saat tersadar bahwa ternyata mereka yang baru bertemu di bus atau kereta tersebut adalah saudara jauh sepupu beberapa kali, semua itu tak saya lihat di sini.

Suara yang terdengar di kereta akan berupa pengumuman saja, nama stasiun berikutnya dan peringatan bersiap-siap untuk turun. Jadi jika ingin menggunakan headset jangan lupa untuk tetap memperhatikan tulisan merah berjalan di tengah kereta yang akan menampilkan nama stasiun di perhentian berikutnya. Saat akan turun, berdirilah langsung dekat pintu keluar, jangan sampai kereta langsung tancap gas, dan kita baru berjalan cantik ke pintu. Untuk membuka pintu, pencet tombol buka di samping pintu, karena banyaknya pintu kereta, saat singgah hanya pintu yang dipencet sajayang terbuka, pastikan untuk tidak melamun saat berada di posisi ini, atau akan berlanjut lagi perjalanan ke stasiun selanjutnya.

Saat turun pastikan menggunakan cara yang sama, naik tangga jalan berdiri di posisi yang tepat dan jangan lupa kartunya digunakan di mesin pemindai.

Dari pengalaman singkat ini, saya bisa merasakan betapa peningkatan fasilitas dan pelayanan dari sistem transportasi massal bisa memberikan kenyamanan sehingga orang-orang bisa menikmati waktu mereka di perjalanan dan merasa tetap aman saat bepergian. Semoga bermanfaat.

Stand tempat penanda bus di stasiun

Sebagai ibu kota, Perth memiliki fasilitas yang sangat lengkap, bahkan di kota ini terdapat dua perpustakaan umum yang hanya berjarak sekira tak lebih dari 5 KM saja. Saat libur sekolah musim dingin, saya menyempatkan mengunjungi kedua perpustakaan terbesar di Australia Barat tersebut. Adalah Western Australia State Library atau Perpustakaan Propinsi Australia Barat (jika kita menyamakan tingkatan wilayah di Indonesia) dan Perth City Library atau Perpustakaan Kota Perth. Jadi secara ringkas, ada perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah propinsi dan pemerintah kota/kabupaten.

IMG_9880

Perpustakaan Wilayah/Propinsi Australia Barat

Yang pertama saya kunjungi adalah Perpustakaan Wilayah yang bagi saya merupakan perpustakaan terbesar yang pernah saya kunjungi selama ini. Lokasi yang berada sangat dekat dengan stasiun kereta membuat saya hanya membutuhkan waktu singkat untuk menemukan lokasi keberadaannya, di Kawasan Kebudayaan atau dikenal juga sebagai Cultural Centre Site, yang merupakan kawasan khusus untuk pengembangan kebudayaan, makanya di daerah ini terdapat sekaligus tiga museum yang sama-sama menjadi pusat pelestarian dan pengkajian seni tradisional dan modern yang ada di kota Perth.

 

 

IMG_3820

Tampak belakang gedung perpustakaan wilayah, sangat besar.

 

Dari depan sudah terlihat jelas betapa megah bangunan perpustakaan ini. Begitu melintasi pintu kaca besar, meja resepsionis telah siap menyambut kita,  pun begitu dengan beberapa petugas keamanan akan sigap membantu mereka yang kebingungan  atau ada hal yang mungkin akan ditanyakan. Meja resepsionisnya berbentuk lingkaran dengan kaca bening pembatas yang mengharuskan kita berdiri untuk berbicara dengan para petugasnya. Ada empat orang dalam lingkaran besar tersebut, terlihat jelas beberapa tulisan pembagian tugas mereka di kaca depan, seperti bagian informasi dan peminjaman buku.

Belum sempat menuju ke meja resepsionis, perhatian saya tiba-tiba tertuju dengan penanda sebuah pameran gratis yang berada tepat beberapa langkah dari pintu masuk, saya pun memutuskan berbelok ke arah yang ditunjukkan. Ternyata ada pameran peninggalan bersejarah dari koleksi museum yang ditempatkan di sini, mungkin karena museum lagi dalam masa renovasi jadi koleksinya dipamerkan saja disini. Tak begitu lama menikmati benda-benda yang dipamerkan, saya memilih keluar dan kembali berniat menuju ke meja resepsionis. Sebenarnya saya hanya ingin bertanya tempat khusus untuk mengakses komputer, tapi begitu mendekati meja resepsionis, papan petunjuk yang berukuran besar dan berwarna mencolok langsung menjawab pertanyaan saya, langkahpun terhenti dan saya berbelok arah. Saya bergegas melangkah meninggalkan area pintu masuk tersebut menuju ruang yang terlihat mirip area working zone.

IMG_1760

Working Area, tempat mengetik, menulis, mengerjakan tugas dan akses komputer.

Ruangan yang begitu luas di mulai dipadati orang-orang yang sibuk bermain komputer dan laptop. Untuk menuju ruangan besar raksasa tersebut, saya harus melewati sebuah ruang kaca kecil di sisi kiri yang menjual berbagai souvenir dan kenang-kenangan hasil kerjama sama dari pihak museum dan perpustakaan wilayah sedang di sisi kanan, ada penampakan lift yang tembus pandang bergerak menaikkan orang-orang ke lantai atas, nampaknya lift itu mengisyaratkan bahwa jalan menuju ruang baca ada di sisi seberang saya. Saya tak menghiraukannya dulu, bergegas mencari tempat yang pas untuk segera duduk.

 

Ruangan ini berisi beberapa perangkat komputer yang dapat diakses secara gratis, ada komputer yang dilengkapi kursi bagi mereka yang akan berlama-lama menggunakan komputer, namun juga ada beberapa perangkat komputer yang tidak dilengkapi kursi, namun mejanya diangkat lebih tinggi, jadi untuk mengaksesnya orang-orang harus berdiri, nampaknya ini diperuntukkan untuk mereka yang buru-buru atau hanya perlu menggunakan komputer untuk waktu singkat saja. Untuk menggunakan komputer yang ada kita harus memiliki kartu akses dari perpustakaan, biasanya akan diminta kartu identitas dan kemudian akan diberikan kartu perpustakaan, dan semua gratis. Saya yang hanya berkunjung dan iseng-iseng ingin mencoba layanan komputer pun dapat dengan mudah mendapatkan kartu akses tersebut.

Untuk setiap kali penggunaan komputer, dibatasi paling lama 20 menit saja untuk komputer yang berdiri (saya hanya sempat mencoba yang model berdiri ini), untuk masuk cukup mengetikkan nomor kartu akses dan kita sudah bisa berselancar dengan kecepatan internet yang lumayan kencang. Sayapun sempat mencoba mencetak satu lembar dokumen dan semua terlihat muda dan jelas dengan petunjuk yang tersedia di layar, jadi hanya perlu mengikuti instruksi saja. Sebenarnya sama dengan menggunakan komputer sendiri untuk mencetak dokumen, bedanya hasil cetakan kita tidak akan langsung keluar dari mesin cetak, jika belum di bayar lebih dahulu. Cara bayarnya dengan menggunakan uang virtual yang ada dalam kartu akses kita, jika belum ada isinya, maka harus diisi lebih dahulu di mesin pengisi saldo kartu akses, setelah terisi, kartu tersebut kita bawa ke mesin cetak/fotocopy lantas kita tinggal letakkan kartu kita, maka otomatis terdeteksi dokumen yang akan kita cetak, pastikan dokumen yang akan dicetak sudah benar, dan proses cetak akan segera dimulai setelah saldo kita dipotong secara otomatis. Untuk biaya cetak atau fotocopy dikenakan biaya mulai dari 20 sen hingga dua dollar perlembar tergantung ukuran dan hasil cetak warna atau hitam putih saja.

Untuk layanan wifi gratis yang disediakan, nampaknya masih mengecewakan untuk standar kecepatan dan daya muat halaman webnya. Setelah terhubung dengan jaringan wifi gratisnya, saya mencoba untuk melakukan browsing dan membuka beberapa laman, dan rupanya memang tidak sekencang jaringan wifi gratis di Perpustakaan Geraldton yang pernah saya ceritakan. Membuka halaman web saja setengah mati, apalagi untuk membuka video di saluran Youtube tentunya. Sayapun urung menjelajah dunia maya, dan memantapkan diri menjelajah dunia nyata saja dengan berkeliling perpustakaan.

Di ruangan besar ini ada berbagai jenis meja yang sangat nyaman untuk tempat mengetik ataupun mengerjakan tugas. Kebanyakan orang yang berlama-lama dengan komputer atau laptop mereka mengerjakan sesuatu terkait dengan tulis menulis dan membaca tentunya, seperti tugas kuliah dan bahkan di depan saya duduk tadi, ada seorang guru yang sedang memeriksa tugas kimia mahasiswanya.

Selain meja-meja khusus untuk mengetik dan menulis, ada juga beberapa sofa aneka bentuk yang sangat menarik dilengkapi dengan banyak colokan sehingga pengunjung dapat bersantai dengan nyaman sambil mengisi ulang baterai gawai yang lagi kosong atau hampir habis. Di ujung ruangan, terlihat di atas terdapat ruangan para staff perpustakaan yang ditandai dengan akses khusus di tangga naik yang hanya diperuntukkan untuk karyawan perpustakaan. Di bawahnya ada mesin cetak dan foto kopi, alat pemotong kertas dan mesin pengisi saldo kartu akses tadi. Semua terlihat dimanfaatkan dengan baik, hampir setiap saat terlihat orang silih berganti menggunakan fasilitas tersebut.

Di sudut-sudut ruangan lain di lantai dasar ini ada banyak ruangan kecil yang berfungsi berbeda-beda, ada yang menjadi sudut hiburan dan edukasi koleksi museum yang sedang dipamerkan kala itu, ada ruang belajar dan pertemuan grup-grup kecil di sampingnya berjejeran. Sedang di bagian tengah dari lantai satu adalah bagian penghubung berupa anak tangga yang berbentuk spiral melingkar ke atas dan dua buah elevator kapasitas besar di belakangnya. Selurus dari pintu masuk adalah pintu keluar ke jalan Francis, dimana sebenarnya Perpustakaan ini berada. Jika berjalan dari pintu masuk menuju pintu belakang tersebut, maka kita akan melintasi kafe disebelah kanan, dan setelah itu ada ruangan teather dan galery belakangnya, dimana toilet dan kamar kecilnya di sisi lain berhadapan dengan pintu masuk teater, hanya beberapa meter dari pintu keluar.

TempImage

Suasana Perpustakaan tampak dari lantai 1

 

Di lantai dua sampai lantai tiga semua adalah tempat koleksi buku berbagai jenis, tapi ada satu lantai yang diberi kode di tombol lift lantai M berisi koleksi buku dan alat permainan dan peraga untuk anak-anak, dari jauh sudah terlihat warna warni mencolok dan sangat menarik tentunya untuk anak-anak. Saya pun tak sempat masuk ke area tersebut, maklum umur saya sudah tidak tergolong ke dalam kategori tersebut.

Di lantai 1 terlihat lebih ramai dibanding lantai 3, dan hal tersebut mungkin dikarenakan pemandangan yang lebih indah dari lantai 1 ini. Dari sudut yang sejajar dengan pintu masuk di bawah, akan terlihat jelas pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang dengan Museum Kota Perth dan Museum Seni Modern berada tepat di hadapan, belum lagi beberapa penampilan yang sering diadakan di panggung terbuka di depan perpustakaan yang dapat terpantau jelas dari balik kaca bening di lantai satu ini. Pemandangan tersebut tidak dapat dinikmati di lantai 3 karena terhalang oleh bagian balkon gedung.

Koleksi buku di sini nampaknya sangat lengkap dan banyak, bahkan setiap lantai memiliki masing-masing genre khusus. Belum lagi dengan tersebarnya meja-meja dan colokan yang hampir ada di setiap sudut, menjadikan tempat ini sempurna untuk menghabiskan waktu bagi mereka yang ingin berkontemplasi penuh ketenangan, karena tak ada keributan yang bisa membuyarkan konsentrasi dan imajinasi yang mungkin muncul.

IMG_8622

Tampak Depan Perpustakaan Kota Perth

 

Selain perpustakaan wilayah, saya pun tak lupa mengunjungi perpustakaan kota Perth yang terletak di kawasan bersejarah, Historical Site, di Hay Street, sangat mudah menemukan tempat dengan aplikasi smartphone atau bertanya pada orang-orang yang sudah lama tinggal di Perth. Jika dibandingkan dengan perpustakaan wilayah, perpustakaan kota ini lebih modern dari segi desain dan tata letaknya. Berbentuk tabung menjulang tinggi, perpustakaan ini di tata sederhana namun sangat nyaman. Di lantai dasar ressepsionis dan petugas keamanan siap sedia di hadapan pintu masuk, sedang di sisi kanan setelah melewati pintu masuk ada kafe kecil yang menawarkan kenikmatan kopi atau minuman lainnya yang bisa menambah semangat jika terlalu lelah dengan bacaan atau tulisan yang sedang dikerjakan.

Tepat di belakang meja resepsionis ada beberapa meja komputer untuk mereka yang ingin terburu-buru atau menggunakan akses internet singkat, mungkin cara penggunaan komputer di perpustakaan kota sama saja dengan perpustakaan wilayah yaitu dengan mendapatkan kartu akses terlebih dahulu lalu masuk ke laman yang tersedia, sayangnya saya tidak sempat mencoba saat berkunjung ke tempat ini.

Di bagian belakang diujung lain lingkaran lantai dasar, di sebelah kanan tepat di belakang kafe ada akses tangga yang melingkar terus ke atas bak spiral, sedangkan di sebelah kiri dari tangga itu ada dua buah lift yang siap membawa pengunjung menjelajah hingga ke lantai lima perpustakaan. Di depan lift sudah tersedia papan petunjuk koleksi yang terdapat di setiap lantai, saya pun menuju ke lantai dua langsung dan mendapati bahwa di ruangan ini ada koleksi tentang sejarah, dan hanya ada meja baca dengan kondisi sangat tenang. Saya pun melihat ke bagian bawah dari sela-sela pembatas yang melingkar ditengah menyisahkan ruang kosong hingga terlihat lantai satu dengan meja dan sofa beserta orang-orang yang bermain laptop di bawah. Sayapun memilih untuk turun dan menyusuri tangga yang terletak di sisi lain dari lift yang tadi saya gunakan.

 

IMG_9897

Tampak dari Lantai 2 Suasana Perpustakaan di Kota Perth

 

Di lantai satu ini kita bisa melihat langi-langit puncak dari gedung perpustakaan. Jadi pada lantai dua hingga empat terdapat rongga di tengah-tengah, sehinga jika kita berada di lantai satu maka dapat dengan jelas melihat orang-orang yang membaca di lantai atas jika mereka duduk di sisi dalam dekat lingkaran pembatas. Terdapat lukisan di langit-langit putih yang terlihat sangat fenomenal dari sisi saya duduk sambil memainkan laptop. Saya duduk di bagian luar dari meja yang disusun melingkari di tengah-tengah gedung, meja-meja ini menyediakan masing-masing colokan dan lampu baca untuk setiap kursi yang ada. Sedangkan pada bagian dalam lingkaran terdapat sofa beserta meja kecil untuk mereka yang mau membaca dan bersantai saja di ruangan ini. Sebenarnya di setiap lantai ada area khusus berupa sofa untuk membaca buku ataukah surat kabar yang disediakan. Sayangnya pada perpustakaan ini tidak terdapat pemandangan langsung ke arah luar perpustakaan seperti yang ditawarkan pada perpustakaan wilayah. Padahal dengan lokasi yang cukup strategis, berada di antara bangunan bersejarah di sisi kanan dan belakangnya, pemandangan yang diberikan tentunya akan lebih memanjakan mata dibanding perpustakaan wilayah.

Itulah gambaran singkat tentang keadaan perpustakaan terbesar yang sempat saya kunjungi saat berada di Perth, jika ada kesempatan silahkan datang dan rasakan sendiri keindahan dan ketenangan yang ditawarkan oleh dua tempat tersebut.

JPEG image-A26AC4C31196-1Seorang bocah laki-laki berambut pirang berlari kecil berkejaran dengan seorang anak perempuan di sela-sela lemari buku yang berjejer tak jauh di depan tempat saya duduk. Seorang ibu dan anak yang umurnya lebih muda dari bocah yang berlari tadi, duduk berdampingan sambil memegang buku yang mereka baca bersama, sesekali sang ibu membenarkan pengucapan kata yang dilafalkan sang anak secara perlahan-lahan.

Beberapa orang sibuk bermain dengan laptop mereka masing-masing di deretan meja tepat di belakang saya, satu dua kali terlihat salah satunya menjawab telepon, sedang yang lain memainkan jemari mereka di tuts keyboard laptop mereka. Di sisi kanan saya dan sepanjang ruangan pegawai hingga meja resepsionis perpustakaan ini, orang-orang bergantian menggunakan komputer perpustakaan yang dibatasi hanya 30 menit saja perorang. Di depan meja resepsionis, terlihat kesibukan petugas yang sedang melayani mereka yang akan menjadi anggota perpustakaan atau sekedar bertanya tentang layanan perpustakaan. Di depan meja tersebut berjejer beberapa meja lagi yang sangat favorit, mungkin lokasi yang sangat dekat dengan pintu masuk dan akses colokan yang diberikan, menjadikannya tempat sempurna bagi mereka yang tidak ingin berlama-lama di perpustakaan ini ataupun kebetulan hanya ingin mencharge gadget yang lagi kekurangan daya.  (more…)

Hari Lebaran terasa begitu singkat di negara yang mayoritas non Muslim ini. Ketika selesai melaksanakan shalat Ied berjamaah, lalu salam-salaman dan lantas kembali ke rumah masing-masing, maka kebanyakan akan melakukan aktivitas seperti biasa. Jika kebetulan lagi bersama keluarga Indonesia yang telah menetap lama di sini, maka undangan mampir dan menikmati masakan Indonesia khas hari lebaran akan kita dapatkan, seperti opor ayam, rendang, sop daging dan lontong.

Namun tak semua orang menikmati hal yang sama. Walau beberapa orang akan mengambil cuti di hari ini tapi tak jarang pula mereka tetap masuk kerja, seperti yang saya lakukan. Selain tak banyak yang bisa dilakukan di rumah, kegiatan NAIDOC, penghormatan terhadap budaya asli Aborigin yang cuma sekali setahun dan bertepatan hari ini dirayakan di sekolah, membuat rencana ke sekolah jadi pilihan terbaik untuk saya di hari lebaran.

Beberapa hari setelah lebaran akan ada undangan makan dari orang-orang Indonesia ataupun sesama muslim. Bahkan pengurus mesjid pun akan merayakan halal bi halal yang tentunya akan ramai dengan makanan beberapa minggu setelah hari lebaran. Ada yang unik dari kebiasaan yang terjadi saat ada undangan makan dari siapapun, biasanya orang-orang yang datang akan membawa sesuatu untuk dinikmati bersama. Namanya bring and share, berbagi makanan yang dibawa. Jika berkesempatan hadir maka kita akan menikmati suguhan makanan yang beraneka ragam, khususnya dari daerah berbeda-beda di Indonesia. Saat menghadiri salah satu undangan kemarin, ada hidangan makanan yang disediakan oleh tuan rumah, ada yang membawa empek-empek palembang, kue donat, keripik melinjo dan masih banyak lagi jenisnya, saya pun membawa sesuatu dan syukurlah makanan yang saya bawa habis dimakan, artinya cukup disukai juga walau hanya makanan sederhana. Sebenarnya disini intinya hanya berbagi, tak ada yang akan mengatakan makanannya tidak enak atau tidak lezat, malah mereka akan mengapresiasi dengan banyak pujian.

Orang-orang non muslim pun merayakan kebahagian lebaran dengan memberikan ucapan selamat, bahkan memberikan bingkisan makanan sebagai rasa ikut senang karena berakhirnya bulan puasa. Kalau sesama orang Indonesia memberikan kue berupa keripik bawang dan kacang telur, seperti yang saya dapatkan dari orang Batak yang telah menetap disini, maka orang Ausi akan memberikan sesuatu yang menurut mereka dapat saya nikmati, kemarin saya mendapat kue cokelat dan permen mint yang manis. Belum lagi mereka yang dari Indo tapi tidak merayakan lebaran, maka traktiran coklat panas atau es kopi akan mereka tawarkan, dengan semua itu rasanya mulai betah berada di sini.

Meski lebaran tak semeriah di kampung, dan moment berkumpul bersama keluarga dan sahabat tidak ada, namun suasana berlebaran di luar sini pun terasa menyenangkan dengan keramahan dan rasa berbagi dari mereka yang merayakan, baik sesama pemeluk agama Islam, maupun mereka yang non-muslim.

Di saat merantau, belajarlah melepaskan kenyamanan dan berusaha ikhlas menerima perubahan, agar kita tahu arti rumah yang sesungguhnya.

DCIM102MEDIAPukul 09:00 pagi, Ibu Pam menjemput saya dari asrama, setelah menumpang tidur selama dua malam saja, saya diantar ke stasiun East Perth untuk kemudian bertolak ke lokasi penempatan saya selama program ini. Saya melihat dari jendela beberapa gedung tinggi menjulang di sisi jalan yang kami lalui, saking tingginya, beberapa bahkan tak dapat saya lihat puncaknya dari dalam mobil sedan hitam yang melaju lancar di pagi yang hangat ini.

img_20180217_083948_hhtPerjalanan saya menuju Geraldton, kota pelabuhan di pesisir Mid West, menggunakan bus besar yang di sini di sebut ‘coach’. Tiket sekali jalan AU$ 68 atau setara 680 ribu rupiah dan di tiketnya tertera durasi perjalanan yang akan memakan waktu enam jam. Meski sudah sering melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan bus, tapi kali ini pengalaman dan suasananya benar-benar berbeda. Bus dan semua kendaraan di sini menggunakan sabuk pengaman kepada semua penumpang. Jadi bisa dibayangkan, selama enam jam dengan ikatan sabuk pengaman di badan mungkin akan terasa kurang nyaman, tapi bagi saya justru lebih aman dan tidak terlalu terasa lelah. Di dalam bus terdapat fasilitas kamar kecil, colokan USB dua buah untuk mengisi baterai handphone atai gadget yang lowbet, juga disediakan hiburan video/film terbaru atau berbagai jenis musik yang dapat dinikmati dengan mencolokkan headseat yang dibagikan gratis.

Tak ada pemandangan sawah atau perkebunan yang begitu hijau sepanjang perjalanan, hanya semak dan perkebunan yang tak begitu sejuk di mata, membuat saya menghabiskan waktu beristirahat dan baru terbangun saat bus berhenti di sebuah pom bensin beristirahat dan membiarkan para penumpang menikmati makan siang yang dapat di beli di toko yang ada di area pom bensin. Saya sendiri menikmati roti gulung isi daging dan minum dingin yang tadi sudah dibelikan ibu Pam sebelum bus berangkat.

Saya tiba lebih awal dari waktu yang dijadwalkan, dan untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Ibu Katie dan Ibu Tiana yang selama persiapan keberangkatan kami hanya berinteraksi melalui aplikasi facebook. Ibu tiana memberikan saya nasi rendang lengkap dengan kerupuk udang, katanya biar saya tak usah repot menyiapkan makan malam tuk hari ini. Setelah bersalaman dan pamit, saya diantar oleh ibu Katie menuju tempat tinggal saya yang berada dekat dari salah satu sekolah tempat saya mengajar nantinya. Dalam perjalanan, kami singgah di supermarket untuk membeli kebutuhan harian yang saya perlukan, tak banyak yang dapat saya beli, hanya susu, telur, roti, mentega, keju dan buah apel. Hanya itu yang dapat terpikirkan kala itu, terlebih lagi saya harus meminjam uang ibu Katie untuk membayarnya karena kantong tempat saya biasa menyimpang uang berada entah di bagian mana dari tas atau koper yang sudah sulit dijangkau.

img_20180217_152107

Saya tiba di rumah Pak Mark yang telah menunggu kedatangan kami menjelang pukul empat sore. Hanya ada Pak Mark di rumah, sedang istrinya Ibu Toni berada di Perth. Setelah ibu Katie beranjak pergi, Pak Mark mengajak saya masuk ke kamar dan menjelaskan beberapa bagian rumah dan fasilitasnya. Saya membayar sewa $150 perminggu untuk sebuah kamar dengan kamar mandi dan toilet, akses internet dan kulkas tersendiri. Fasilitas yang sangat lengkap menurut saya, belum lagi akses terhadap mesin cuci, pengering, microwave dan peralatan dapur yang dapat saya gunakan untuk masak-memasak. Rumah yang nyaman dan termasuk baru dengan kolam renang di halaman belakang rumah, meski kecil tapi cukup untuk meredam teriknya matahari saat musim panas, katanya menjelaskan.

Ada beberapa hal yang menarik dari kota Geraldton ini, meski terlihat kecil dan sepi, tapi tak ada beda dengan keadaan masyarakat yang ada di kota besar. Meski tak ada gedung tinggi menjulang seperti di Perth, tapi fasilitas publik, semua tersedia. Hanya saja, pada akhirnya saya menemukan kekurangan dari sisi akses angkutan umum bus yang terbatas, karena memang penduduk yang tidak terlalu padat dan lebih banyak yang memiliki kendaraan pribadi dari pada pengguna angkutan umum di sini. Saking terasa kecilnya, penduduk kota Geraldton dapat saling mengenal dengan baik, sangat mudah bertemu dengan orang-orang yang anda kenal di pusat perbelanjaan. Tak heran, banyak orang yang menjadikan Geraldton sebagai rumah mereka, mudah-mudahan ia juga menawarkan keramahan yang sama terhadap saya. Selamat datang di Geraldton, Ismail, katanya berbisik dari balik jendela yang berhembus bersama hangat angin musim panas.

img_20180315_182829

Bersambung …

(Mantan) Ruang

Posted: February 21, 2014 in Cerpen, Kuliah
Tags: , , , , ,

Jumatan telah selesai, kami meluncur dengan kecepatan biasa-biasa saja, melontarkan deru polusi mesin matic dan honda supra yang sedari tadi menemani. Kami bertiga, ada A, I, dan U..(kurang E dan O). Kami bertiga tadinya berbanyak-banyak ria, namun tuntutan profesi, kami berpisah meniti karir di dunia berbeda (dunia lain juga). Kami tadinya dihampiri kegalauan dengan tingkat bervariasi, mulai tinggi, sedang, dan rendah. Si A mungkin rendah, atau juga sedang, aku masih sedang pun tak tinggi, Namun si U, ternyata galaunya tertinggi. Muasalnya tak lain adalah penutup kepala kulit membalut plastik elegan dengan kaca yang sisi kerenitasnya tak lagi diragukan, telah dipinjam orang lain tanpa sepengetahuan kami. Sang peminjam yang tak segan-segan mencongkel dan memindahkannya ke tempat yang tak kami ketahui lagi, tanpa kabar, nampaknya ia tak bermaksud mengembalikannya lagi.

Diluar kegalauan itu, si U tetap bersyukur pada_Nya, toh hanya bagian kecila tersebut yang diambil, gimana kalau yang diambil bagian besarnya? Hm, selalu ada jalan tuk mengajari kita bersyukur. Setidaknya pengalaman kali ini menampar-nampar kami untuk melihat dari segala sisi. Tadinya kami melihat dari sisi efisiensi waktu, ternyata kami teledor dalam hal keamanannya. (more…)