Archive for the ‘Cerpen’ Category

Hari Lebaran terasa begitu singkat di negara yang mayoritas non Muslim ini. Ketika selesai melaksanakan shalat Ied berjamaah, lalu salam-salaman dan lantas kembali ke rumah masing-masing, maka kebanyakan akan melakukan aktivitas seperti biasa. Jika kebetulan lagi bersama keluarga Indonesia yang telah menetap lama di sini, maka undangan mampir dan menikmati masakan Indonesia khas hari lebaran akan kita dapatkan, seperti opor ayam, rendang, sop daging dan lontong.

Namun tak semua orang menikmati hal yang sama. Walau beberapa orang akan mengambil cuti di hari ini tapi tak jarang pula mereka tetap masuk kerja, seperti yang saya lakukan. Selain tak banyak yang bisa dilakukan di rumah, kegiatan NAIDOC, penghormatan terhadap budaya asli Aborigin yang cuma sekali setahun dan bertepatan hari ini dirayakan di sekolah, membuat rencana ke sekolah jadi pilihan terbaik untuk saya di hari lebaran.

Beberapa hari setelah lebaran akan ada undangan makan dari orang-orang Indonesia ataupun sesama muslim. Bahkan pengurus mesjid pun akan merayakan halal bi halal yang tentunya akan ramai dengan makanan beberapa minggu setelah hari lebaran. Ada yang unik dari kebiasaan yang terjadi saat ada undangan makan dari siapapun, biasanya orang-orang yang datang akan membawa sesuatu untuk dinikmati bersama. Namanya bring and share, berbagi makanan yang dibawa. Jika berkesempatan hadir maka kita akan menikmati suguhan makanan yang beraneka ragam, khususnya dari daerah berbeda-beda di Indonesia. Saat menghadiri salah satu undangan kemarin, ada hidangan makanan yang disediakan oleh tuan rumah, ada yang membawa empek-empek palembang, kue donat, keripik melinjo dan masih banyak lagi jenisnya, saya pun membawa sesuatu dan syukurlah makanan yang saya bawa habis dimakan, artinya cukup disukai juga walau hanya makanan sederhana. Sebenarnya disini intinya hanya berbagi, tak ada yang akan mengatakan makanannya tidak enak atau tidak lezat, malah mereka akan mengapresiasi dengan banyak pujian.

Orang-orang non muslim pun merayakan kebahagian lebaran dengan memberikan ucapan selamat, bahkan memberikan bingkisan makanan sebagai rasa ikut senang karena berakhirnya bulan puasa. Kalau sesama orang Indonesia memberikan kue berupa keripik bawang dan kacang telur, seperti yang saya dapatkan dari orang Batak yang telah menetap disini, maka orang Ausi akan memberikan sesuatu yang menurut mereka dapat saya nikmati, kemarin saya mendapat kue cokelat dan permen mint yang manis. Belum lagi mereka yang dari Indo tapi tidak merayakan lebaran, maka traktiran coklat panas atau es kopi akan mereka tawarkan, dengan semua itu rasanya mulai betah berada di sini.

Meski lebaran tak semeriah di kampung, dan moment berkumpul bersama keluarga dan sahabat tidak ada, namun suasana berlebaran di luar sini pun terasa menyenangkan dengan keramahan dan rasa berbagi dari mereka yang merayakan, baik sesama pemeluk agama Islam, maupun mereka yang non-muslim.

Advertisements

(Mantan) Ruang

Posted: February 21, 2014 in Cerpen, Kuliah
Tags: , , , , ,

Jumatan telah selesai, kami meluncur dengan kecepatan biasa-biasa saja, melontarkan deru polusi mesin matic dan honda supra yang sedari tadi menemani. Kami bertiga, ada A, I, dan U..(kurang E dan O). Kami bertiga tadinya berbanyak-banyak ria, namun tuntutan profesi, kami berpisah meniti karir di dunia berbeda (dunia lain juga). Kami tadinya dihampiri kegalauan dengan tingkat bervariasi, mulai tinggi, sedang, dan rendah. Si A mungkin rendah, atau juga sedang, aku masih sedang pun tak tinggi, Namun si U, ternyata galaunya tertinggi. Muasalnya tak lain adalah penutup kepala kulit membalut plastik elegan dengan kaca yang sisi kerenitasnya tak lagi diragukan, telah dipinjam orang lain tanpa sepengetahuan kami. Sang peminjam yang tak segan-segan mencongkel dan memindahkannya ke tempat yang tak kami ketahui lagi, tanpa kabar, nampaknya ia tak bermaksud mengembalikannya lagi.

Diluar kegalauan itu, si U tetap bersyukur pada_Nya, toh hanya bagian kecila tersebut yang diambil, gimana kalau yang diambil bagian besarnya? Hm, selalu ada jalan tuk mengajari kita bersyukur. Setidaknya pengalaman kali ini menampar-nampar kami untuk melihat dari segala sisi. Tadinya kami melihat dari sisi efisiensi waktu, ternyata kami teledor dalam hal keamanannya. (more…)

Iskandar Yang Malang (Eps.1)

Posted: February 9, 2014 in Cerpen
Tags: , ,

Hari ini adalah hari pertama ospek jurusan, tau lah apa yang akan terjadi pada mahasiswa pada hari pertama ini, tapi sayangnya saya harus mulai dari hari sebelum hari ospek itu…kira-kira 3 hari, eh salah maksudku 3 minggu atau 3 bulan,,entahlah yang jelas aku bukan lah panitia ospek saat itu.

Kisah ini tentang iskandar…

Iskandar adalah seorang mahasiswa baru, berasal dari keluarga baik-baik, baik ibu maupun bapak sama-sama baik. Ia tinggal di sebuah kampung yang jauh dari keramaian kota, untuk sampai ke kampungnya, kita harus naik pesawat dulu, setelah itu naik bus selama 3 jam, lalu naik pete-pete dengan ongkos yang berubah-ubah tergantung musim, biasanya sih 3000 rupiah, lalu kita harus naik ojek lagi sejauh 14 kilo, setelah itu kita berjalan kaki mendaki bukit yang tinggi sejauh 9 km, dan merayap melalui lubang kecil, tapi bisa juga berjalan tergantung selera masing-masing. Nah itulah tadi perjalanan singkat si Iskandar, oh iya kita sekarang telah berada di desa iskandar, sebuah desa kumuh, liatkan betapa kumuhnya (emangnya kalian bisa liat???). Iskandar tinggal di sebuah rumah sederhana, bentuknya unik, warnanya putih, ada kubah diatasnya, mirip masjid gitu, jangan-jangan ini masjid yah, tapi ternyata bukan pemirsa. (more…)