Archive for the ‘Cerpen’ Category

(Mantan) Ruang

Posted: February 21, 2014 in Cerpen, Kuliah
Tags: , , , , ,

Jumatan telah selesai, kami meluncur dengan kecepatan biasa-biasa saja, melontarkan deru polusi mesin matic dan honda supra yang sedari tadi menemani. Kami bertiga, ada A, I, dan U..(kurang E dan O). Kami bertiga tadinya berbanyak-banyak ria, namun tuntutan profesi, kami berpisah meniti karir di dunia berbeda (dunia lain juga). Kami tadinya dihampiri kegalauan dengan tingkat bervariasi, mulai tinggi, sedang, dan rendah. Si A mungkin rendah, atau juga sedang, aku masih sedang pun tak tinggi, Namun si U, ternyata galaunya tertinggi. Muasalnya tak lain adalah penutup kepala kulit membalut plastik elegan dengan kaca yang sisi kerenitasnya tak lagi diragukan, telah dipinjam orang lain tanpa sepengetahuan kami. Sang peminjam yang tak segan-segan mencongkel dan memindahkannya ke tempat yang tak kami ketahui lagi, tanpa kabar, nampaknya ia tak bermaksud mengembalikannya lagi.

Diluar kegalauan itu, si U tetap bersyukur pada_Nya, toh hanya bagian kecila tersebut yang diambil, gimana kalau yang diambil bagian besarnya? Hm, selalu ada jalan tuk mengajari kita bersyukur. Setidaknya pengalaman kali ini menampar-nampar kami untuk melihat dari segala sisi. Tadinya kami melihat dari sisi efisiensi waktu, ternyata kami teledor dalam hal keamanannya. (more…)

Iskandar Yang Malang (Eps.1)

Posted: February 9, 2014 in Cerpen
Tags: , ,

Hari ini adalah hari pertama ospek jurusan, tau lah apa yang akan terjadi pada mahasiswa pada hari pertama ini, tapi sayangnya saya harus mulai dari hari sebelum hari ospek itu…kira-kira 3 hari, eh salah maksudku 3 minggu atau 3 bulan,,entahlah yang jelas aku bukan lah panitia ospek saat itu.

Kisah ini tentang iskandar…

Iskandar adalah seorang mahasiswa baru, berasal dari keluarga baik-baik, baik ibu maupun bapak sama-sama baik. Ia tinggal di sebuah kampung yang jauh dari keramaian kota, untuk sampai ke kampungnya, kita harus naik pesawat dulu, setelah itu naik bus selama 3 jam, lalu naik pete-pete dengan ongkos yang berubah-ubah tergantung musim, biasanya sih 3000 rupiah, lalu kita harus naik ojek lagi sejauh 14 kilo, setelah itu kita berjalan kaki mendaki bukit yang tinggi sejauh 9 km, dan merayap melalui lubang kecil, tapi bisa juga berjalan tergantung selera masing-masing. Nah itulah tadi perjalanan singkat si Iskandar, oh iya kita sekarang telah berada di desa iskandar, sebuah desa kumuh, liatkan betapa kumuhnya (emangnya kalian bisa liat???). Iskandar tinggal di sebuah rumah sederhana, bentuknya unik, warnanya putih, ada kubah diatasnya, mirip masjid gitu, jangan-jangan ini masjid yah, tapi ternyata bukan pemirsa. (more…)