Archive for the ‘cerpen’ Category

Pada sore yang cerah dan langit bersih tanpa awan, terlihat dari kejauhan hewan-hewan peliharaan di ladang bergerak menuju tempat makan. Waktu memang sudah menjelang malam, waktu dimana mereka akan segera diberi makan, tapi justru saat tersebut adalah saat terbaik melihat kanguru berkeliaran.

“Kamu sudah pernah mengendarai quadbike sebelumnya?” Dan aku hanya bisa menggeleng kepala sambil memastikan ia memberi petunjuk cara menggunakannya. Untungnya kendaraan tersebut sudah otomatis, jadi sisa mengetahui mana rem dan gasnya saja, selebihnya hanya perlu sedikit keberanian.

7529040944_IMG_0987

Saat kami mengendarai baru beberapa meter, sudah ada kanguru yang melompat-lompat di sisi kiri rute yang kami lalui. Terlihat kanguru berukuran cukup besar setinggi hampir satu meter mencoba melompati pagar pembatas ladang. Tak jauh dari situ, sepasang kanguru di sisi kanan kami juga tampak dari kejauhan, kepalanya terlihat terangkat seakan mengamati siapa yang sedang melintas. Tapi begitu melihat si Milly, anjing ladang yang ikut bersama kami, mulai berlari ke arah mereka, seketika mereka melompat-lompat menjauh dari pandangan kami.

Sebelum menjajal tanjakan yang cukup terjal dan menantang, kami kembali bertemu dengan seekor lagi yang berukuran cukup besar dari sebelumnya, ia terlihat kebingungan dan mungkin juga kaget melihat kami bertiga tiba-tiba muncul di dekatnya, ia pun melompat kesana kemari lalu menghilang di semak yang cukup banyak di kaki bukit.

Ladang yang kami lalui terletak sebagian besar di atas bukit, walau rute ke atas bukit lumayan membuat napas ngos-ngosan, pemandangan dari titik tertinggi di atas ladang membuat semua ketegangan tadi terbayarkan. Saat berbelok di ujung pendakian, bulan terlihat menyambut kami, dengan bentuk membulat tanpa awan yang menemani, jejeran beberapa pohon-pohon kecil seakan memberi bingkai hiasan pemandangan ladang yang kami lalui. Langit pun mulai kekuningan, menandakan matahari sebentar lagi akan terbenam.

Kami berhenti di belokan jalur yang menawarkan pemandangan terindah sore itu. Dari tempat kami berdiri terlihat sebuah tebing batu di mana para kanguru bergerombol melompat-lompat menaiki bukit berbatu, setidaknya ada empat ekor yang terlihat jelas. Milly, si anjing yang menemani kami terlihat kelelahan setelah tadi mengejar-ngejar kanguru yang terlihat olehnya.

7529060912_IMG_0986

Dari sini pula, terlihat dari kejauhan kota Geraldton, pelabuhan dan mercusuarnya menjadi penanda yang jelas bagi kami. Saat kami pulang dan langit mulai gelap, cahaya lampu kota menjadikan pemandangan lebih indah dengan kelap-kelipnya.7589961408_IMG_0985

Kami lalu menyusuri sisi terjauh dari ladang, ke bagian seberang dari tempat kami melihat kota Geraldton tadi. Tak ada kanguru yang terlihat di sepanjang rute ini. Setelah masuk waktu shalat, saya diberi waktu untuk menunaikan kewajiban sebelum melanjutkan lagi mencari si kanguru. Dengan rute yang sama, saya berjalan di depan, dan tak berapa jauh dari tempat tadi terlihat di kaki bukit seekor kanguru yang terlihat mengamati pergerakan saya. Ia seakan berdiri memastikan keadaan, lalu melompat lagi menjauh ke dalam semak-semak pohon yang banyak di sekitar kaki bukit

IMG_1631

Sebuah pengalaman sangat menyenangkan hari ini, melihat kanguru di alam bebas dengan menggunakan quadbike mengitari ladang gandum.

Snapseed

Advertisements

Term adalah salah satu istilah yang digunakan di Australia Barat untuk menandakan durasi waktu. Sistem pendidikan di sini membagi waktu sekolah ke dalam empat term selama setahun. Tiap term memiliki 9 sampai 10 minggu aktif untuk proses akademik dan non-akademik. Setiap selesai satu term, akan ada libur sekolah selama dua minggu.

Setiap sekolah mendapatkan 4 hari untuk melakukan pelatihan yang disebut juga Professional Development (PD) sepanjang tahun, biasanya di awal term, pada hari pertama. Jadi setiap term akan ada satu hari untuk PD yang dihadiri hampir semua guru. Setiap PD akan memberikan materi yang terkait proses pengajaran secara general tuk semua bidang ilmu, misalnya strategi menghadapi siswa yang berkebutuhan khusus atau latihan pengolahan data hasil belajar.

Karena semua guru yang ada di sekolah akan mengikuti PD yang biasanya berlangsung sepanjang hari hingga pukul tiga, murid-murid akan diliburkan pada hari tersebut. Meski begitu, terkadang ada sekolah yang tidak melakukan PD pada hari pertama, tapi di hari terakhir sekolah, jadinya ada beberapa sekolah yang tetap memiliki murid-murid di kelas pada hari pertama sekolah.

Saya sendiri belum pernah sama sekali mengikuti PD awal term di sekolah tempat tugas saya, karena jadwal saya yang tidak berada di sekolah tersebut saat PD dilaksanakan, tapi untungnya pada Term ketiga ini, hari pertama saya diikutkan Professional Development ditingkat propinsi khusus untuk guru-guru pengajar Bahasa se Western Australia. Tentunya sebuah kesempatan yang bisa menambah pengalaman berharga sebagai calon pengajar bahasa professional, sekaligus menjawab rada penasaran tentang PD tersebut.

Beberapa bulan sebelumnya saya telah mendaftarkan diri secara online melalui portal dinas pendidikan Australia, dan syukurnya masih ada tempat kosong yang tersedia. Jadilah saya berangkat Perth dengan biaya tiket bus PP dibayarkan oleh pihak sekolah. Sebenarnya ada banyak Professional Development yang ditawarkan di portal, dan sebagai pegawai pemerintah, maka saya juga berhak mengikuti yang sesuai dengan bidang saya dan benar-benar dibutuhkan. Tapi semua harus diusulkan terlebih dulu ke pihak sekolah, jika kepala sekolah mengizinkan maka tak ada masalah.

Gerbang masuk Tempat PD, Wiletton SHS

Saya menghadiri PD di Willetton Senior High School di Canning, sebuah sekolah yang sering menjadi tuan rumah untuk PD yang terkait bahasa. Sekolah ini memiliki satu department khusus Bahasa di Sekolah yang mengajarkan hampir semua bahasa asing yang dimandatkan di kurikulum pendidikan di Western Australia, seperti Bahasa Mandarin, Italia juga Prancis.

 

Kegiatan yang dihadiri hampir 200 peserta dari beberapa wilayah di WA tersebut di bagi kedalam dua kegiatan utama, konferensi atau presentasi umum dari pihak kantor multikultural studi dan pihak Pengembang Kurikulum Pendidikan terkait Bahasa, dan juga Diskusi Grup dimana semua peserta akan dibagi ke dalam kelompok berdasar level sekolah dan bahasa yang diajarkan.

Seperti lazimnya sebuah pelatihan, akan ada registrasi sebelum acara dimulai. Tanda tangan daftar nama di atas meja yang disediakan, lalu panitia akan memberikan sertifikat kegiatan yang namanya belum dituliskan, beberapa bundel kertas terkait kegiatan dan materi.

Begitu masuk ruangan, peserta ditawari untuk menikmati segelas kopi atau coklat hangat sambil menunggu kegiatan dimulai, dan tepat pukul 9 pagi acarapun dimulai. Acara pertama adalah sambutan, dengan cara khusus tuan rumah memberikan hadiah kepada peserta yang berasal dari daerah paling jauh, setelah itu ada beberapa undian hadiah lagi bagi mereka yang hadir pada pertama kali kegiatan ini dilaksanakan yakni pada delapan tahun lalu.

Acara utamapun dimulai dengan presentasi tentang angka-angka yang berasal dari hasil survei tentang kondisi demografi khususnya bahasa yang digunakan di Australia Barat dan perbandingannya dengan wilayah sekolah sebagai contoh konkrit. Banyak informasi penting dan krusial yang dipaparkan tentang perubahan jumlah penduduk dan semakin bervariasinya budaya dan bahasa yang ada.

Materi presentasi yang memaparkan data hasil survey.

Setelah istirahat dan menikmati aneka kue dan minuman hangat buatan siswa Willetton SHS, presentasi keduapun dimulai. Pemateri merupakan orang-orang yang bertanggung jawab dengan system penilaian berdasarkan standar kurikulum di Australia Barat. Pemaparan di sesi tersebut terlihat sangat praktikal dan terkait erat dengan proses belajar mengajar. Dan yang mengesankan adalah fakta-fakta terkait implementasi kurikulum. Banyak pertanyaan dan diskusi yang terjadi di akhir presentasi, bahkan beberapa penanya tidak sempat terakomodir.

 

Setelah satu jam berlalu, makan siangpun telah siap menanti. Ada dua jenis makanan tersaji dalam kotak plastik siap makan. Saya memilih nasi kuning yang begitu menggoda dengan kari ayam dan telur rebus sebagai pelengkapnya. Para peserta terlihat berkeliaran mencari tempat duduk di berbagai sudut yang memungkin tuk duduk dan menikmati makan siang.

Makan siang yang sangat nikmat terasa.

Pada pukul 1.30 siang kegiatan terakhirpun dimulai. Saya masuk di kelas Bahasa Indonesia, dan menemukan diri saya saja yang seorang asisten, yang lain adalah guru-guru yang telah mengajar bahasa Indonesia dengan pengalaman yang beragam. Setelah duduk berkelompok, saya hanya berusaha berkontribusi semaksimal mungkin atas tugas kelompok yang diberikan, pak Alan yang telah 18 tahun mengajar bahasa Indonesia terlihat sangat antusias membahas tugas yang diberikan, juga begitu dengan Ibu Maria Mulyana yang tak kalah seniornya. Mereka pun menawarkan berbagai strategi menarik pada tugas akhir yang mengharuskan setiap kelompok memberikan solusi pengajaran untuk kelas yang memiliki dua tingkatan di dalamnya, seperti kelas yang siswanya terdiri dari kelas 4&5, tentu saja dari pengalaman bertahun-tahun, mereka lebih matang menyampaikan saran kegiatan yang pas. Apalah diri ini yang hanya bocah kemarin sore.

 

Acarapun ditutup dengan bersama-sama melihat dan mendengar solusi strategi yang ditawarkan dari berbagai kelompok. Dan saya merasa ini adalah sebuah kegiatan yang sangat positif terlebih lagi, semua yang hadir menempatkan diri sebagai orang yang ingin belajar lagi dan lagi, saya bahkan beberapa kali memberikan masukan ide dan saran dalam tugas dan terlihat jelas mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan mendiskusikan pendapat yang sama. Betul-betul saya merasakan penghargaan di tempat ini, tak ada perbedaan yang ditonjolkan.

Itulah pengalaman pertama mengikuti Language Big Day Out, acara tahunan sebagai salah satu Professional Development yang bisa diikuti di awal term. Mudahan-mudahan ada manfaat untuk pembaca.

Meski telah lebih dari dua minggu lebaran berlalu, hari ini masyarakat muslim di Geraldton baru merayakan hari kemenangan tersebut. Perayaan yang diumumkan secara langsung di Masjid Geraldton sehari sebelumnya ini terlihat cukup meriah. Selain tenda-tenda yang terpasang dengan hiasan tulisan dan balon warna-warni, wahana bermain untuk berbagai jenjang usia pun disediakan.

Gerbang masuk dihiasi dengan rumbai pita aneka warna, papan kecil bertuliskan kata sambutan dipasang tepat di sisi kiri gerbang. Beberapa meter saja di belakang papan tersebut sebuah arena permainan khusus anak-anak menjulang tinggi menutup separuh bagian depan masjid. Di bagian belakang wahana tersebut terlihat dua tikar terhampar beserta permainan ketangkasan dari kayu, empat anak-anak sudah sedari tadi berusaha membangun puzzle setinggi mungkin, sedang dua gadis berjilbab senada dengan bajunya terlihat sibuk memilih-milih kolom yang tepat untuk memenangkan game tic-tac-toe yang terbuat dari papan dan tali goni. (more…)

IMG_0052

Hari ketiga libur musim dingin membawa saya ke kunjungan setengah hari di Museum yang terdapat di bibir pantai Geraldton, di kawasan Marina tempat bersandarnya kapal-kapal pesiar milik orang-orang kaya di sini. Kegiatan operasional museum dimulai pada pukul 9:00 pagi hingga tepat pukul 3 sore. Saya memilih datang setelah mengisi perut siang ini, biar lebih semangat mengeksplore lebih lama seluruh sisi museum. Teringat dulu sempat mampir melihat-lihat sekilas, namun sayang, saat itu keadaan sangat ramai, jadi lebih memilih untuk datang lagi di lain waktu.

Museum merupakan tempat murah untuk menghabiskan waktu luang, apalagi saat liburan seperti sekarang. Biasanya akan ada kegiatan khusus selama musim liburan yang disediakan oleh pihak museum. Pada liburan kali ini, museum Western Australia di Geraldton ini mengangkat tema “Thuri Munga” yang artinya siang dan malam. Tema tersebut menjadi rujukan bentuk kegiatan yang disediakan untuk diikuti oleh anak-anak atau juga pengunjung lainnya. Saya yang sedang ingin menjelajah seisi museum mencoba salah satu kegiatan tuk anak-anak SD di sini, berburu benda-benda yang ada dalam kertas panduan. Setelah membayar biaya 3 dollar, petugas jaga memberikan selembar kertas menampilkan hewan-hewan dan benda yang harus di temukan dalam museum. Sederhana namun sangat menarik, karena untuk menemukan semua benda itu, mau tidak mau kita harus mengelilingi museum dan memperhatikan semua sudut yang telah diberi tanda matahari (siang) dan bulan (malam).  (more…)

Menakar Rasa Kecewa

Posted: December 31, 2017 in cerpen

Saya mengingat semua yang terjadi pada hari itu, tapi entah mengapa saya lupa untuk mengatakan selamat tinggal.

Orang terdekat sudah saya hubungi, orang tua dan kerabat family pun sudah tahu dengan rencana saya. Setelah hubungan ini terjalin begitu lama, bahkan sejak kami lulus SMA, saya sudah memantapkan hati memilih dia sebagai wanita terakhir yang akan menemani hingga ajal menjemput. Telah saya tetapkan minggu kedua Januari 2015, saya akan melamar dia. Memang bukan waktu yang singkat tuk bisa sampai di posisi ini, dimana saya merasa mapan dan pantas tuk meminang anak gadis orang.

***

Begitu beratnya, kau lepas diriku

Sebut namaku jika kau rindukan aku

Aku akan dataaaang…

Ah, lagu “Mungkinkah” yang begitu popular di era 90an menjadi pengantar sendunya perpisahan kami malam itu. Mungkin Grup Band Stinky dan suara mellow Andrew dapat menyatu dengan suasana hati saya saat itu. Sebuah perpisahan harus terjadi, besok saya bertolak menuju ke Papua, tanah yang asing tak pernah terpikir untuk dijama oleh anak Makassar ini. Keberhasilan sebagai karyawan baru teknisi controller di PT.Freeport, salah satu tambang terbesar di Indonesia saat itu, mengharuskan saya meninggalkan kampung halaman. Jurusan teknik pertambanganlah yang memuluskan jalan saya bisa diterima di tempat ini, meski hanya lulusan universitas swasta, namun koneksi dan pengalaman yang saat praktik lapangan menjadi nilai plus bagi saya. (more…)

Hingga Kau Tak Mampu Lagi Berdiri

Posted: February 28, 2015 in cerpen, daily life, motivasi
Tags: ,

Berjuang seperti yang kau rasakan
Menjadi seperti yang kau inginkan
Menjadi seorang yang kau impikan
Bertekad lebih dari sekedar kerja keras
Menahan luka berdarah-darah
Menembus batas mampu dan kuatmu

Jika kau menginginkannya
Tak lebih dari sekedar lelah
Tak lebih dari tetes keringat
Kau melawan sakit
Kau berkelahi dengan sepi
Dan kau sendiri berharap tuk mencapai mimpi

Dalam usaha Tuhan menjawab
Ketika berada dalam kesempatan
Bersama dirimu membuktikan
Menegaskan luka yang menjadi kenang
Membakar semangat yang lupa padam

Kau berlari, dari langkah yang kecil
Perlahan meninggalkan semua itu
Kala kecewa menghampiri
Pada ego yang tak mengertimu
Pada mereka yang tak tau perjuanganmu

Bukan jalan yang kau tempuh yang kau sesali
Bukan waktu dulu yang kau kenangkan
Namun,,
Luka jua yang akan mengajarimu
Membawamu kembali pada  impian itu

Saatnya tegakkan kepalamu
Tunjukkan siapa dirimu
Sampaikan teriakan keberanianmu
Pada dunia yang menakutimu
Pada kekecewaan yang mencobamu
Dan pada diri lemahmu yang dahulu

Katakan kau bisa lebih dari itu
Seperti semua perjuanganmu dulu
Tetapkan dirimu pada jalur yang tertuju
Dan biarkan dirimu terus melaju
Jangan berhenti
Jangan hiraukan lelahmu
Jangan pedulikan lukamu
Teruskan itu
Hingga kau tak mampu lagi tuk berdiri
Hingga kuasamu tak lagi ada padamu
Hingga Tuhan mu jua yang akan menghentikanmu.
Dan bila kau tiba di masa itu,
Maka…
Cukuplah sampai disitu.

Masih Bersamamu, Dulu dan Kini

Posted: September 27, 2014 in cerpen, Rasa
Tags: , ,

Saya tak pernah menyangka dalam deret waktu yang sangat lama itu saya tak mampu menepis ruang rindu yang tak semestinya hadir dalam hati yang telah tertambat pada ruang kasih yang abadi ini. Aku dan ruang memori kita dulu itu mengajarkanku akan banyak hal. Seperti cinta yang sejatinya tak pernah luntur pada jarak dan masa kala itu
Ah sudahlah, tak ada jua gunanya saat ini, semakin lama semakin sakit mengenang masa lalu itu. Toh saat ini waktu telah mengubur dalam luka itu, sakit yang tak bisa dimengerti oleh hati ini karena semestinya semua tak seharus seperti ini. Mungkin rumit kisah ini tuk dirunut semakin mendalam. Namun aku tahu, bahwa dalam setiap kebersamaan itu, ada rindu yang mengharuskan aku mengunjungi kenangan kita dulu, bahkan saat kita tak bertemu dalam nyata. (more…)

Aku Tidak dalam Pikirmu

Posted: March 10, 2014 in cerpen
Tags: , ,

Tak ada yang pernah tau apa yang terjadi saat kita sedang tertidur, apatah lagi dalam tidur yang begitu pulasnya. Dan hal itulah yang membuatku terheran-heran pagi ini. Di saat kau menyambut ku dalam pagiku aku tak melihat senyum indahmu lagi. kau memang wajahmu yang begitu kusut, tegang dan ketus. Sembari menyiapkan sarapan di heja makan itu, kau berkata begitu lirih seakan menusuk dan menyeretku dalam ruang pesakitan. “hmm. bagus yah..sampai terbawa kedalam mimpi segala, pake sebut -sebut namanya lagi, ani..anii… dua kali lagi. Memangnya saya kurang apalagi mas?” (more…)

Sebuah Kisah

Posted: February 3, 2014 in cerpen
Tags: , , , , ,

Akan kutuliskan sebuah kisah. kisah cinta dan kasih anak manusia. Ini bukanlah kisah cinta biasa. Kisah cinta ini lebih dari indah, lebih kejam dan lebih dramatis dari Kisah-kisah cinta lainnya. Dalam epik roman terpanjang dalam sebuah hikayat cinta sering kita menemukan adanya orang ketiga, menemukan perbedaan rasa akibat waktu yang memisah, atau bahkan kisah klasik perjodohan dari orang- Orang tua dulu. Dimana hak akan mencinta dan dicintai dengan pilihan hati sendiri adalah hal yang muskil. Cinta hanya berbatas pada kasih Orang tua dan kesukaan hati orang tua. Disisi lain cinta terkadang tak mampu terjaga, terbias oleh waktu dan jarak. Ibarat perjuangan dengan motif cinta, selalu saja akhirnya tak bisa ditebak, lebih dramatis, lebih indah atau malah menyediakan.
Kisah cinta ini bukan sebuah karangan namun ia nyata, dan telah mengukir luka dalam sejarah hidup anak manusia. (more…)

Takkan Terganti Selamanya (eps.2)

Posted: January 31, 2014 in cerpen, Rasa
Tags: , ,

Ibu duduk beralaskan lantai, dengan penuh iba aku tak sanggup melihat keadaan itu. Ia terduduk di depan orang tua itu, lalu ku tempatkan diriku duduk tepat di sampingnya. Ibu yang tadi begitu tegar melalui jalan yang berbatu, jalan yang asing dan jauh dari keramaian hanya untuk menemui orang pintar tersebut. Kini kami tepat di depan orang tua tersebut, ia sudah udzur, matanya tak lagi mampu melihat dengan jelas, Nampak jelas ia hanya mengenali orang-orang disekitarnya dari suaranya. Ibu mulai memohon dengan bahasa daerah yang kental dikarenakan orang tua itu hanya dapat mengerti bahasa daerah tersebut. Bukan permohonan biasa yang ibuku lakukan kali ini, aku melihatnya bermohon dengan penuh iba dan mengharap belas kasih, ia bahkan mencucurkan air matanya berharap sang orang pintar mau mengobati sakit yang ku derita. Hatiku penuh sesak dengan perasaan haru dan pilu, aku membuat ibuku menangis di depan orang tua yang terkenal pandai mengobati penyakit tumor ini. (more…)