Archive for the ‘cerpen’ Category

Hingga Kau Tak Mampu Lagi Berdiri

Posted: February 28, 2015 in cerpen, daily life, motivasi
Tags: ,

Berjuang seperti yang kau rasakan
Menjadi seperti yang kau inginkan
Menjadi seorang yang kau impikan
Bertekad lebih dari sekedar kerja keras
Menahan luka berdarah-darah
Menembus batas mampu dan kuatmu

Jika kau menginginkannya
Tak lebih dari sekedar lelah
Tak lebih dari tetes keringat
Kau melawan sakit
Kau berkelahi dengan sepi
Dan kau sendiri berharap tuk mencapai mimpi

Dalam usaha Tuhan menjawab
Ketika berada dalam kesempatan
Bersama dirimu membuktikan
Menegaskan luka yang menjadi kenang
Membakar semangat yang lupa padam

Kau berlari, dari langkah yang kecil
Perlahan meninggalkan semua itu
Kala kecewa menghampiri
Pada ego yang tak mengertimu
Pada mereka yang tak tau perjuanganmu

Bukan jalan yang kau tempuh yang kau sesali
Bukan waktu dulu yang kau kenangkan
Namun,,
Luka jua yang akan mengajarimu
Membawamu kembali pada  impian itu

Saatnya tegakkan kepalamu
Tunjukkan siapa dirimu
Sampaikan teriakan keberanianmu
Pada dunia yang menakutimu
Pada kekecewaan yang mencobamu
Dan pada diri lemahmu yang dahulu

Katakan kau bisa lebih dari itu
Seperti semua perjuanganmu dulu
Tetapkan dirimu pada jalur yang tertuju
Dan biarkan dirimu terus melaju
Jangan berhenti
Jangan hiraukan lelahmu
Jangan pedulikan lukamu
Teruskan itu
Hingga kau tak mampu lagi tuk berdiri
Hingga kuasamu tak lagi ada padamu
Hingga Tuhan mu jua yang akan menghentikanmu.
Dan bila kau tiba di masa itu,
Maka…
Cukuplah sampai disitu.

Masih Bersamamu, Dulu dan Kini

Posted: September 27, 2014 in cerpen, Rasa
Tags: , ,

Saya tak pernah menyangka dalam deret waktu yang sangat lama itu saya tak mampu menepis ruang rindu yang tak semestinya hadir dalam hati yang telah tertambat pada ruang kasih yang abadi ini. Aku dan ruang memori kita dulu itu mengajarkanku akan banyak hal. Seperti cinta yang sejatinya tak pernah luntur pada jarak dan masa kala itu
Ah sudahlah, tak ada jua gunanya saat ini, semakin lama semakin sakit mengenang masa lalu itu. Toh saat ini waktu telah mengubur dalam luka itu, sakit yang tak bisa dimengerti oleh hati ini karena semestinya semua tak seharus seperti ini. Mungkin rumit kisah ini tuk dirunut semakin mendalam. Namun aku tahu, bahwa dalam setiap kebersamaan itu, ada rindu yang mengharuskan aku mengunjungi kenangan kita dulu, bahkan saat kita tak bertemu dalam nyata. (more…)

Aku Tidak dalam Pikirmu

Posted: March 10, 2014 in cerpen
Tags: , ,

Tak ada yang pernah tau apa yang terjadi saat kita sedang tertidur, apatah lagi dalam tidur yang begitu pulasnya. Dan hal itulah yang membuatku terheran-heran pagi ini. Di saat kau menyambut ku dalam pagiku aku tak melihat senyum indahmu lagi. kau memang wajahmu yang begitu kusut, tegang dan ketus. Sembari menyiapkan sarapan di heja makan itu, kau berkata begitu lirih seakan menusuk dan menyeretku dalam ruang pesakitan. “hmm. bagus yah..sampai terbawa kedalam mimpi segala, pake sebut -sebut namanya lagi, ani..anii… dua kali lagi. Memangnya saya kurang apalagi mas?” (more…)

Sebuah Kisah

Posted: February 3, 2014 in cerpen
Tags: , , , , ,

Akan kutuliskan sebuah kisah. kisah cinta dan kasih anak manusia. Ini bukanlah kisah cinta biasa. Kisah cinta ini lebih dari indah, lebih kejam dan lebih dramatis dari Kisah-kisah cinta lainnya. Dalam epik roman terpanjang dalam sebuah hikayat cinta sering kita menemukan adanya orang ketiga, menemukan perbedaan rasa akibat waktu yang memisah, atau bahkan kisah klasik perjodohan dari orang- Orang tua dulu. Dimana hak akan mencinta dan dicintai dengan pilihan hati sendiri adalah hal yang muskil. Cinta hanya berbatas pada kasih Orang tua dan kesukaan hati orang tua. Disisi lain cinta terkadang tak mampu terjaga, terbias oleh waktu dan jarak. Ibarat perjuangan dengan motif cinta, selalu saja akhirnya tak bisa ditebak, lebih dramatis, lebih indah atau malah menyediakan.
Kisah cinta ini bukan sebuah karangan namun ia nyata, dan telah mengukir luka dalam sejarah hidup anak manusia. (more…)

Takkan Terganti Selamanya (eps.2)

Posted: January 31, 2014 in cerpen, Rasa
Tags: , ,

Ibu duduk beralaskan lantai, dengan penuh iba aku tak sanggup melihat keadaan itu. Ia terduduk di depan orang tua itu, lalu ku tempatkan diriku duduk tepat di sampingnya. Ibu yang tadi begitu tegar melalui jalan yang berbatu, jalan yang asing dan jauh dari keramaian hanya untuk menemui orang pintar tersebut. Kini kami tepat di depan orang tua tersebut, ia sudah udzur, matanya tak lagi mampu melihat dengan jelas, Nampak jelas ia hanya mengenali orang-orang disekitarnya dari suaranya. Ibu mulai memohon dengan bahasa daerah yang kental dikarenakan orang tua itu hanya dapat mengerti bahasa daerah tersebut. Bukan permohonan biasa yang ibuku lakukan kali ini, aku melihatnya bermohon dengan penuh iba dan mengharap belas kasih, ia bahkan mencucurkan air matanya berharap sang orang pintar mau mengobati sakit yang ku derita. Hatiku penuh sesak dengan perasaan haru dan pilu, aku membuat ibuku menangis di depan orang tua yang terkenal pandai mengobati penyakit tumor ini. (more…)

Takkan Terganti Selamanya (eps.1)

Posted: January 28, 2014 in cerpen
Tags: ,

Hari ini merupakan perjalanan panjang bagiku, bukan dalam kontek konotasi namun lebih kepada denotasi nyata akan perjalanan panjang yang saya mulai pukul 04.00 dinihari hingga akhirnya tiba di kantin ini. Sebuah kantin SMA yang baru berumur lebih dari lima tahun ini merupakan istana kecil kami dulunya. Sebuah ruangan berdinding papan bersebelahan  tembok langsung dengan ruang kelas ini telah menjadi bagian sejarah kehidupan kami. Tapi hari ini aku kembali untuk menyempatkan diri sejenak beristirahat dari aktivitas kuliah yang berkepanjangan. Libur akhir semester tahun ini cukup panjang namun aku baru sempat kembali ke kampung di minggu terakhir liburan ini.

Setelah berkendari hampir sembilan jam, sang kuda besi berwarna biru akhirnya merapat tepat di depan kantin di sudut tenggara SMA ini. Aku membuka helm dan melihat ke dalam kantin, sekilas terlihat wajah ibunda yang hari ini terlihat sedikit lesu. Ketika melepas helm dari kepalaku, barulah beliau sadar dan agak terkejut kalau yang datang adalah anak keduanya dari enam orang anak yang telah ia lahirkan, Ia terheran-heran juga akan hadirnya anak yang selalu manja padanya. Yah, memang sangat jarang saya dan saudaraku yang lain berkendara dengan motor tuk jarak yang jauh tersebut bahkan terkadang kami dipaksa untuk menggunakan mobil sewa saja dengan alasan keamanan dan kenyamanan kami. Memang  tak ada yang selalu terpikir oleh kedua orang tua kami selain rasa aman yang harus diberikan kepada kami semua. Namun hari ini aku memutuskan tuk datang dengan menggunakan moda transportasi roda dua ini agar nantinya aku berkesempatan untuk mengunjungi teman lamaku yang tinggal di seberang kecamatan yang terpisahkan oleh sebuah kota administrative yang telah lama dimekarkan. Dengan membawa tas ransel hitam yang sering saya gunakan tuk menenteng buku ke kampus, saya membawa beberapa lembar pakaian dan oleh-oleh, namun taka da yang sepesial dari oleh-oleh ini, hanya beberapa bungkus keripik pedas yang dulu sering dipesan oleh ibu saya, oh iya saya lebih senang memanggil ibu saya dengan kata mama’. Yah mama’ dengan huruf a terakhir yang agak ditekan. Panggilan itulah yang terkadang membuatku rindu, rindu akan semua kehangatan kasihnya. Tapi biarlah saya menulis ibu dalam tulisan ini, yah ibu saya suka keripik pedas yang agak sederhana ini. Hanya itu ole-ole yang saya bawa kali ini, tak ada yang lain karena kendaraan saya yang tak memungkinkan. (more…)