Archive for the ‘Rasa’ Category

Teruntuk Ibu,

Sudah lama aku tak berkabar padamu. Dalam rindu yang mulai menusuk tajam hingga melukai hati ini, aku mulai tertatih merangkai kata ini untukmu. Menyampaikan padamu betapa waktu yang tak kuhabiskan bersamamu adalah duka yang harus aku telan bersama malam yang kulalui sendiri dalam tiap tidurku. Aku merindu dekap pelukmu dari dingin yang merangkul tubuh ini, seperti rindu wejangan tak berpamrih yang kau berikan di semua tingkah dan gerakku.

Aku selalu teringat akan wajah teduh bermata penuh yang menemani kala sakitku. Semua rapalan doa-doa yang kau panjatkan demi kesembuhan, seakan menjadi musik-musik penenang jiwa yang masih tak pandai membahagiakan dirimu. Kala malam semakin larut, ingatku padamu seakan semakin membuncah dan penuh hingga tak jarang bermuara pada tangis merindu.

(more…)

Advertisements

Rasanya baru beberapa bulan saya meninggalkan rutinitas sebagai seorang mahasiswa. Rutinitas mengerjakan tumpukan tugas dan diskusi kelas telah berganti dengan kesibukan-kesibukan kantor yang sangat jauh berbeda dengan proses perkuliahan. Tak ada kelas dan tak ada tugas yang wajib dikumpulkan setiap minggunya menjadi kesenangan tersendiri bagi saya. Sayangnya, kesenangan tersebut nampaknya sedikit terusik dengan tugas baru yang diberikan di Kelas Menulis Kepo. Membuat tulisan dengan tema bebas menjadi tugas mingguan perdana yang harus diselesaikan tepat sebelum pertemuan kedua dimulai.

Tugas pertama yang diberikan ini ternyata menjadi beban tersendiri bagi saya. Beberapa kali saya terbangun dan terjaga memikirkan materi tulisan yang belum juga muncul di kepala. Tuntutan dan keharusan menyelesaikan tugas tepat waktu seakan berputar-putar bak burung kecil beterbangan di atas kepala saya. Bahkan burung-burung tersebut sudah mulai beterbangan sejak pertemuan pertama berakhir. Tanpa lelah mereka mengingatkan saya untuk terus mencari ide tulisan dari berbagai hal di sekeliling saya.

Dalam perjalanan pulang dari kelas malam itu, mata saya tak henti berpindah dari setiap objek yang saya lalui, mencoba mencari fenomena menarik dari keramaian jalan yang cukup padat merayap di ruas-ruas jalan Kota Makassar. Saya berharap inspirasi akan hadir dari objek-objek yang terekam di ingatan saya. Seperti kebanyakan tulisan yang pernah saya baca, menjadikan objek sehari-hari yang terlihat biasa saja menjadi objek yang indah dan begitu menarik untuk disampaikan kepada orang lain merupakan jenis tulisan yang asyik untuk dinikmati. Orang-orang tanpa sadar akan terhipnotis oleh cerita-cerita sederhana namun memberikan kesan akrab dan bersahabat. Sehingga sepanjang apapun tulisan tersebut, orang-orang takkan berhenti sebelum tuntas membacanya.

(more…)

Kata “Cie” Yang Memisahkan Kita

Posted: November 21, 2015 in Rasa
Tags: , , ,

Beberapa hari terakhir ini, aku merasakan ada banyak hal yang berbeda dari apa yang biasa kita jalani. Kita yang dulu melakukan hal bersama, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, latihan menyelesaikan soal TOEFL bersama, bahkan terkadang makan pun kita tak berpisah, yah walau terkadang memang kita tetap bersama teman-teman yang lain juga saat makan. Tapi, aku mulai sadar bahwa apa yang kita lakukan dari dulu itu merupakan hal yang tidak wajar bagi hubungan yang sebatas teman. Aku bukan merasa aneh dengan mereka yang bersahabat dekat dan menganggap semua sebatas keakraban sebagai sahabat semata. Namun aku melihat itu sebagai hal yang tak wajar dilakukan oleh orang yang tidak berpacaran. Kata mereka sih kita ngedate, padahal kan  apa yang kita lakukan tak lebih dari hal-hal positif sebagai teman yang saling membantu satu sama lain.

(more…)

Pesan dari Sang Hujan

Posted: November 19, 2015 in motivasi, Rasa
Tags: ,

image

Saat hujan kembali turun dengan derasnya, seketika itu ia menjadi menarik tuk dinikmati. Beberapa dari kamipun menyambangi tepian jendela kaca yang menampilkan betapa derasnya hujan menghujam tumpukan debu-debu di permukaan kota Makassar. Sejenak seakan terasa dinginnya suasana di luar sana menyelimuti ruangan tempat kami berkumpul ini. Titik-titik embun bermunculan di sisi luar kaca-kaca jendela. Kabut yang kian menebal seakan membatasi jarak pandangan kami atas pemandangan gedung-gedung tinggi di sekitar menara Bosowa ini. Dari sudut kiri lantai ke delapan Gedung tertinggi di kota daeng inilah, sebuah pemandangan akan hujan menjadi sedikit berbeda. Ruas-ruas jalan yang basah, gedung-gedung yang terlihat lembab, dan awan-awan hitam yang bergelayut memuntahkan beban titik-titik hujan yang sedari tadi tumpah ke bumi.
(more…)

Seruput Kopi di Pagi-Pagi

Posted: March 4, 2015 in daily life, Rasa
Tags: , ,

Secangkir kopi instan berperisa mocha tersaji di atas meja tua. Sepiring kudapan tradisional menemani rasa yang terasa menggoda ini. Pagi yang selalu ramai di kantin kolong kampus merah ini. Terlihat dua mahasiswa duduk tepat di depanku. Mereka bersama tapi tak saling sapa. Yang tua sesekali menyeruput kopi hitam pekat yang mulai kehilangan asapnya. Yang gadispun sibuk mengunyah remah remah gorengan yang begitu dinikmatinya. Mereka semeja dan mereka terdiam saja. Di sebelah dudukan saya ada seorang mahasiswa lagi. Ia terlihat serius membolak balik halaman buku kecil berbahasa Indonesia yang tak jelas terlihat apa isi buku itu. Sekali dua kali ia menghembuskan asap putih dari sela-sela bibirnya. Matanya yang agak merah tetap menatap lembaran kekuningan yang seakan memberinya candu tuk terus membacanya. Ia mungkin seorang mahasiswa akhir, dari jurusan budaya ataukah sastra. (more…)

Kala Waktu Tak Lagi Setia

Posted: March 3, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Sejak dulu selalu dikata bahwa waktulah yang mampu setia. Katanya ia tak pernah ingkar, selalu sama dan tak pernah beda.
Ia mengabadikan setiap detik menjadi menit.
Mengumpulkan menit menjadi jam
Bersama jam itu menuju hari
Berganti dan berputar bak roda

Namun ia tetap setia pada hitungannya
Detik yang selalu menjadi awal menit
Menit yang tetap pada hitungan ke-60nya
Hari yang berputar pada ke-7 jenisnya
Masih seperti itu…
Tak pernah berganti meski mungkin ia merasa lelah

Aku heran padanya
Apakah ia tak merasakan kebosanan?
Berlaku seperti itu trus dan trus
Tak henti meski tak ada yang peduli

Mungkin nanti jika aku menjadi seseorang
Kan ku bebaskan waktu dari penindasan
Seperti dulu senior kami benci akan penindasan
Meski ini mungkin sebuah kegilaan

Waktu yang bebas dan tanpa hitungan
Tanpa paksaan tuk berganti di tiap putaran
Semaunya ia akan menetap dan menunggu
Hingga semua akan tertawa tanpa perlu berhenti

Bayangkan waktu mengikuti maunya
Ia tak lagi menjadi penyebab musibah
Ia takkan membuatmu terlambat lagi
Ia takkan mengurangi kesenanganmu lagi
Ia akan tetap menyimpan ruang bersama keluargamu nanti
Dan waktu pun kan menjadi penyelamat dalam hidupmu nanti

Sampai waktu terbebas nanti
Ku ingin mengenang dulu
Sepenggal bait lagu yang lampau
Hingga ku lupa kapan kan berganti
Waktuku takkan lama lagi
Ia akan bebas dan tak bertepi
Tak lagi ada menit yang dibatasi
Tak lagi ada hari yang tak terganti
Bahkan bulanpun tak lagi selusin
Semua bebas berimaji
Hingga kau merasa nanti
Bahwa saatnya tuk mati
Maka saat itulah waktumu kan terhenti
Dan tak bisa berganti lagi

Waktu yang mati
Tak bisa bebas berkreasi
Ia tahanan kehidupan yang pasti
Ia mengabdi pada kesetiaan yang abadi
Dan itulah waktu..menunggu waktu tuk hidup tak terbatas waktu.

Bersama Hujan

Posted: March 2, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , , ,

Dan hujan menyamarkan semuanya
Deras rintiknya menutupi derunya suara
Mendendangkan alunan kesepian
Mengajak kita tuk sejenak sendiri dan diam
Tak usah kau katakan yang kau rasakan
Teriakan mu juga takkan terdengarkan

Sekali lagi hujan merayumu
Tuk berembuk dulu pada sibukmu
Pada mereka yang menantimu
Pada mereka yang membanggakanmu
Sejenak saja, pikirkan dirimu

Dan bila hujan pun pergi
Ia meninggalkan tetesnya yang membasahi
Bukan tuk mengotori,
Namun tuk membersihkan pikirmu yang tertatih

Bersama hujan, awan dan langit
Diiringi semilir angin nan dingin
Begitulah sepertinya kita
Ada waktu bersama yang dirindukan

#UNM.15:50

Cinta Tali Pusar

Posted: February 24, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

image

Selamat datang pembaca yang tak setia, kali aku tak bermaksud cerita,  hanya sedikit mengumpulkan kenangan atas masa lalu yang mungkin terkesan bejat. Antara X dan Y biarlah seperti itu. X dan Y itu rumit. Mereka adalah hitungan matematis yang tak terduga, tergantung kalian merubahnya dengan variabel apa dan mengapa. Terserah. Begitupun kisah ini..semua terserah pada saya. Ini objektivitas yang subjektif. Saya melihat dua mata yang saling bertautan. Antara X dan Y. Mari kita menemukan jawaban dari rumusan sederhana ini.
Analisis awal X:
Yah, ini tentang cinta, namun jika itu adalah pertemuan yang tdk disengaja, maka akan aku tuliskan pada catatanku, lalu ku tempelkan tepat di layar depan Tab yang mungil ini.tepat di depannya..”tak satupun yang kebetulan,semua ada dalam skenario dan semua itu harus dijalani”…begitu mungkin tepatnya tertulis sudah dicatatan itu.
(more…)

Kertas Putih-Putih

Posted: February 23, 2015 in Curcol, Kuliah, Rasa
Tags: , , ,

Sederhana. Begini. Sudah berapa halaman yang jadi? Masih belum jalan? Sama dong. Saya berpikir sejenak yah.
Mungkin begini. Ada yang memulai dan terstruktur dengan baik. Seperti tiap langkah bahkan coretannya pun telah ditetapkan pada tiap barisnya. Ada yang menyendirikan dirinya dalam ruang pribadinya hingga teks itu terlahir dalam bentuk nyaris sempurna. Itupun sempurna menurut pandangan awam. Saya dan mereka menjadi diam kala perhelatan itu terhenti sejenak. Kita seakan memandang pada waktu yang menertawakan kamu yang dulu penuh keyakinan. Atau bahkan si dia yang dari dulu berkata rombengan, kiasan pinjaman dari seorang itu, sudah matang dengan rencana yang tak tergantikan lagi. Meski teori berkata tidak namun si A mungkin berkata “aku sih..yes”
Terlebih lagi pada mereka yang rela menggelarkan tikar beralaskan pagi, menanti tiap hari mengalahkan penjual jajanan dini hari. Semangat itu tak luntur hingga siangpun menjadi. Katakanlah pada diri mereka itu pejuang sejati yang tak takut pada genk motor itu, bahkan mereka bersahabat pada tukang bentor yang menjadi tempat berteduh mereka hingga terkadang tertidur di atas bentor itu menanti beliau bangun dari tidur bukan mati.
Tapi, bagaimana dengan kita, seperti apa kita kini. Pada headline news berita belum terkabarkan saat ini. Seseorang, dua orang ataupun sejenis perorangan yang tersegerakan. Mendapatkan restu dari pemegang kuasa dalam tenggat waktu yang tak lagi lama.
Kita iyya?
Sudah jauh tidak kita melangkah? Atau kita tak sadar berjalan di tempat? Biarlah kita bergerak walau sedikit. Namun terkadang kecepatan lebih menggiurkan dari sekedar gelaran kenamaan. Berlumut dah sudah kita, seperti yang lain-lain mungkin bisa, sehingga kita hanya butuh formalitas semata hingga gelar itu bersama kita.
Mencoba menjadi idealis terkadang mudah, cukup tidak mainstream. Namun ia yang begitu,  pasti jarang kan mendapatkan hal yang diharap itu.
Bertanyalah saja…
Apa harus menunggu kertas putih ini menjadi hitam dulu sebagai bukti kita juga sedang berusaha? Atau cukup kita berikan ide ini ke tempat yang semestinya?
Sembari menanti, mungkin ada baiknya kita sendiri yang berganti. Rubahlah kita menjadi mereka. Menjadi seperti seharusnya dan seperti itulah mungkin sedari dulu terjadi. Kala kertas-kertas putih itu masih putih, namun kita memilih tuk tetap bermimpi.
Kala waktu itu berganti, namun kita memilih tuk bersantai. Yah, esok masih ada pagi, hari masih jauh tuk meninggalkan rona pada sunset. Kita masih berlari dan belum jauh dari tujuan ataupun titik kita memulai. Kita belum pasti berhenti atau mencapai semua mimpi. Hanya satu yang pasti kita bukan lagi bagian dari masa yang terlampaui. Sudah berlalu pada yang masa yang tak menentu. Tanpa reaksi yang tak termotivasi. Menuntut kalian tuk beraksi dalam ruang imajinasi. Hingga kelak kita melihat toga dalam dimensi yang pasti.

Pra-pradilan Masa Lalu

Posted: February 23, 2015 in Rasa
Tags: , ,

image

Lama waktu berlalu
Dalam detik jua berganti menit
Melintas masa berselang hari
Sudah lama ini ia terhenti
Tersedak sedikit takut memulai
Jika harap tak lagi berada
Asa pun gugur terderai lenyap

Aku berpikir dalam logika
Kala kita menuntut etika
Saat estetika dan retorika
Bersatu menggugat seketika
Aku berjalan dalam diam
Tanpa gerak dalam ruang
Pikir melayang bagai terbang
Jauh disana tak ingin pulang

Sekali lagi aku kembali
Melihat niat tuk sedikit berbakti
Pada mu diri yang tertatih
Yang kini rentah dan tua menanti
Aku pulang dalam kenangan
Bersama luka berbalut pengalaman
Merasakan rindu yang tak lagi senang
Namun hanya indah mengenang (more…)