Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Berusahalah, Selalu!

Posted: July 20, 2018 in Uncategorized

“Hidup tiada mungkin, tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan, mulia adanya”

Kalimat tersebut adalah lirik lagu yang dulu selalu terngiang saat pentas seni kegiatan perkemahan diadakan. Hampir-hampir semua kegiatan yang berupa paduan suara akan menempatkan lagu ini sebagai lagu wajib, yang mau tak mau mengharuskan peserta menguasai dengan baik setiap nada-nada dan iramanya, bahkan beberapa menambahkan variasi nada khusus yang menjadikannya terdengar lebih indah lagi. Saya bukan salah satu dari kelompok paduan suara yang siap selalu bernyanyi, tapi keterlibatan saya sebagai anggota regu Organisasi Kepramukaan di sekolah tentu membuat saya hafal dengan baik lagu tersebut.

Saya sangat antusias dengan kegiatan Pramuka bahkan sejak saya SD. Menjadi kegiatan yang sarat kegiatan fisik dan menguji daya tahan tubuh menjadikan Pramuka sebuah pilihan terbaik bagi mereka yang ingin aktif dalam hal positif. Bukan hanya baris berbaris, menyusur sungai dan mendaki gunung hampir kami lakukan setiap bulan, belum lagi kegiatan perkemahan sabtu-minggu dan perkemahan akbar yang digelar sekali setahun, semua kalau memungkinkan pasti akan diikuti. Saat itu satu-satunya kendala yang selalu menghambat adalah permohonan izin dari pihak sekolah. Yah, terkadang jadwal kegiatan yang bertepatan dengan hari sekolah mengharuskan kami berusaha mati-matian meyakinkan pihak sekolah agar tetap memberikan izin mengikuti kegiatan. Jika tak kunjung mendapatkan persetujuan, tak jarang teman-teman sepakat ‘bolos’ bersama hanya untuk bisa ikut dalam sebuah kegiatan.

Terlihat sedikit nakal juga waktu itu, namun jika melihat kembali apa yang kini bisa dikenang dari kegiatan pramuka, tak ada sedikitpun sesal yang muncul. Bagaimana tidak, dengan tempaan rasa disiplin, kemandirian, kesetiakawanan, kecintaan terhadap alam dan lingkungan menjadikan mereka yang pernah menjadi anak pramuka merasa manfaat yang berarti dalam hidup mereka. Saya tak berbicara dengan asumsi semata, tapi begitulah adanya, setidaknya jika orang-orang yang pernah mengenyam asam garam berkegiatan di alam bebas dan berorganisasi di kepramukaan, tak akan mudah bagi mereka menyerah dengan keadaan.

Saya sendiri merasakan hal tersebut, menjadi terbiasa dengan hidup mandiri karena sering ikut perkemahan, terbiasa hidup sederhana karena sering tidur beralaskan tikar di tenda, bahkan terbiasa makan seadanya karena sering makan telur dan indomie rasa ‘hambar‘ di setiap perkemahan. Sungguh setelah kesusahan akan ada kemudahan. Selain terbiasa dengan itu, saya juga jadi sering bereksperimen dengan berbagai hal, mencoba mengeksplorasi tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi, atau berani melakukan apa yang belum pernah atau belum sempat saya lakukan.

Selama berada di Ausi pun saya sangat sering mencoba-coba sesuatu. Terkadang membeli makanan atau produk baru yang ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah, tidak habis dikonsumsi karena rasanya yang aneh atau tidak cocok dengan selera saya yang suka rasa asin dan pedas. Belum lagi dengan aneka masakan hasil kreasi saya dari melihat resep-resep yang berseliweran di sosial media, atau resep dari orang tua di kampung, yang berakhir dengan bentuk menyeramkan atau rasa yang diluar perkiraan. Semua itu seakan menjadi pengalaman yang tentunya takkan bisa saya dapatkan jika tidak berani untuk mengambil risiko, tak berani untuk mencoba. Setidaknya dengan begitu rasa penasaran saya dapat terjawab dan saya tak harus ragu lagi mengakui bahwa saya bisa atau tidak bisa memasak makanan tersebut.

Jika saya hitung-hitung lumayan banyak resep masakan yang telah berhasil saya coba di negeri Kangguru ini. Bakwan adalah produk pertama saya. Setelah berhasil menemukan adanya sayur kol, sayapun membuatnya dengan campuran terigu tanpa ada takaran, hasilnya pun tak mengecewakan. Juga saya berhasil membuat perkedel jagung beberapa bulan lalu, meski rasanya belum terlalu pas, namun kata guru yang mencoba, perkedel tersebut rasanya sangat enak. Pun begitu dengan sambal tomat tumis yang menjadi pilihan percobaan saya setelah mendapati banyak tomat dan lombok yang diberikan seorang teman guru di sekolah, rasanya tak kalah enak buatan mereka yang di kampung nan jauh sana. Saya bahkan sempat berhasil membuat bakso dari campuran daging giling dan tepung tapioka, meski bentuk dan rasanya lebih mirip siomay, namun setidaknya bisa mengobati rasa rindu akan makanan berkuah tersebut.

Terkadang pula hasil dari masak-memasak saya tidak sesuai hasil jika bahan-bahan yang dibutuhkan tak begitu lengkap saya dapatkan. Sebutlah proses membuat pisang goreng Peppe‘ yang merupakan penganan atau olahan pisang muda goreng yang gurih dan renyah karena digeprek dan digoreng lagi. Meski telah berhasil mendapatkan pisang berwarna hijau yang menandakan pisang yang masih muda, namun ternyata jenis pisang yang berbeda dan kesegaran pisang yang mengecewakan karena ternyata sudah lama dipetik, membuat rasa dan tekstur gorengan tersebut tak begitu memuaskan, alih-alih mendapatkan rasa gurih dan renyah, malah manis dan empuk yang didapatkan. Tak berbeda jauh dari percobaan saya membuat Sarabba, minuman jahe tradisional, yang rasanya justru terasa aneh dengan pedas yang sepat dan pahit. Saya tak tahu pasti apakah gula merah yang bentuknya memang aneh, ataukah takaran kurang tepat dari jahe super mahal (jahe benar-benar mahal disini, bisa mencapai 400 ribu rupiah satu kilo) yang saya gunakan.

Juga begitu saat saya mencoba membuat kue donut dengan resep dari hasil berguru pada ibu tersayang. Dengan merasa bahwa bahan berupa terigu yang telah tercampur pengembang akan menghasilkan adonan yang sama dengan terigu yang diberi ragi pengembang, saya membuat donat dalam jumlah yang tak sedikit. Bukan sengaja membuat dalam porsi besar, namun karena campuran adonan yang begitu lembek, mengharuskan saya menambah tepung lagi dan lagi hingga akhirnya hampir satu bungkus terigu berat satu kilogram habis tercampur. Tak tanggung-tanggung ada 20 lebih biji donat yang saya hasilkan. Setelah matang dan diberi pelengkap meses coklat memang kue donat saya masih lumayan enak tuk dinikmati, tapi jika dibandingkan dengan donat yang sering dibuat ibu di kantin, maka akan sangat-sangat jauh berbeda kelembutan dan tekstur rotinya.

Tapi dari pengalaman itu semua, saya bisa belajar banyak hal, salah satunya dengan tidak asal-asalan dalam takaran bahan yang digunakan dan selalu menggunakan bahan dan petunjuk yang disebutkan di resep yang ikuti, jika tidak maka jangan harap hasilnya pun akan sama. Mungkin sama halnya dengan hidup ini, terkadang kita mengeluh dengan hidup yang kita jalani, bahkan terkadang berharap bisa sukses seperti orang-orang yang sedang berlimpah rejeki, padahal memiliki daya juang seperti orang sukses atau mengerjakan apa yang orang-orang tersebut kerjakan kita masuk tidak mau. Jika berharap tumbuh padi, maka tanamlah padi. Semoga bermanfaat.

Advertisements

Wah, rasanya baru kemarin tiba di Ausi, tau-tau sudah satu semester terlewati. Sudah setengah jalan menuju akhir program asisten bahasa yang saya ikuti. Dan hari ini saya akan berbagi cerita tentang bagaimana keseharian saya selama menjadi Language Assistent atau LA kurang lebih 5 bulan terakhir. Saya bekerja sebagai asisten guru Bahasa Indonesia di dua sekolah setingkat SD dan satu sekolah setingkat SMP. Jadi sebenarnya tugas saya tidak terlalu sulit, yah namanya juga asisten, tapi karena berada di lingkungan yang sangat berbeda, proses menyesuaikan diri, baik itu budaya dan kebiasaan di Ausi membuat pekerjaan saya terasa sedikit menantang.

Saya biasanya bangun sebelum pukul 6 pagi, mungkin saat jam telah menunjukkan angka 5. Setelah melaksanakan kewajiban sebagai muslim, saya harus buru-buru ke dapur. Karena di sekolah kebanyakan staf dan guru membawa makanan sendiri, jadilah pagi hari saya terisi dengan kerusuhan mempersiapkan bekal makanan tuk dibawa ke sekolah. Yah, meski sudah sering masak-masak sendiri, tepatnya ‘bereksperimen‘ dengan bahan makanan yang tersedia di dapur, saya pun masih sering kebingungan mempersiapkan menu apa yang tepat untuk dua kali makan di sekolah nantinya.

Di semua sekolah yang saya tempati, ada dua waktu istirahat, walau waktunya tidak persis sama, semuanya berdurasi 30 menit lamanya. Sebagai contoh di Waggrakine PS, istirahat yang pertama atau disebut juga reses time. sekitar pukul 10.55 hingga pukul 11.25 sedangkan yang kedua atau lunch time, tepat dimulai 1.30 sampai pukul 2 siang. Sedangkan di Wandina PS, istirahat kedua berakhir 1.35 siang, 25 menit lebih cepat.

(more…)

Term adalah salah satu istilah yang digunakan di Australia Barat untuk menandakan durasi waktu. Sistem pendidikan di sini membagi waktu sekolah ke dalam empat term selama setahun. Tiap term memiliki 9 sampai 10 minggu aktif untuk proses akademik dan non-akademik. Setiap selesai satu term, akan ada libur sekolah selama dua minggu.

Setiap sekolah mendapatkan 4 hari untuk melakukan pelatihan yang disebut juga Professional Development (PD) sepanjang tahun, biasanya di awal term, pada hari pertama. Jadi setiap term akan ada satu hari untuk PD yang dihadiri hampir semua guru. Setiap PD akan memberikan materi yang terkait proses pengajaran secara general tuk semua bidang ilmu, misalnya strategi menghadapi siswa yang berkebutuhan khusus atau latihan pengolahan data hasil belajar.

Karena semua guru yang ada di sekolah akan mengikuti PD yang biasanya berlangsung sepanjang hari hingga pukul tiga, murid-murid akan diliburkan pada hari tersebut. Meski begitu, terkadang ada sekolah yang tidak melakukan PD pada hari pertama, tapi di hari terakhir sekolah, jadinya ada beberapa sekolah yang tetap memiliki murid-murid di kelas pada hari pertama sekolah.

Saya sendiri belum pernah sama sekali mengikuti PD awal term di sekolah tempat tugas saya, karena jadwal saya yang tidak berada di sekolah tersebut saat PD dilaksanakan, tapi untungnya pada Term ketiga ini, hari pertama saya diikutkan Professional Development ditingkat propinsi khusus untuk guru-guru pengajar Bahasa se Western Australia. Tentunya sebuah kesempatan yang bisa menambah pengalaman berharga sebagai calon pengajar bahasa professional, sekaligus menjawab rada penasaran tentang PD tersebut.

Beberapa bulan sebelumnya saya telah mendaftarkan diri secara online melalui portal dinas pendidikan Australia, dan syukurnya masih ada tempat kosong yang tersedia. Jadilah saya berangkat Perth dengan biaya tiket bus PP dibayarkan oleh pihak sekolah. Sebenarnya ada banyak Professional Development yang ditawarkan di portal, dan sebagai pegawai pemerintah, maka saya juga berhak mengikuti yang sesuai dengan bidang saya dan benar-benar dibutuhkan. Tapi semua harus diusulkan terlebih dulu ke pihak sekolah, jika kepala sekolah mengizinkan maka tak ada masalah.

Gerbang masuk Tempat PD, Wiletton SHS

Saya menghadiri PD di Willetton Senior High School di Canning, sebuah sekolah yang sering menjadi tuan rumah untuk PD yang terkait bahasa. Sekolah ini memiliki satu department khusus Bahasa di Sekolah yang mengajarkan hampir semua bahasa asing yang dimandatkan di kurikulum pendidikan di Western Australia, seperti Bahasa Mandarin, Italia juga Prancis.

 

Kegiatan yang dihadiri hampir 200 peserta dari beberapa wilayah di WA tersebut di bagi kedalam dua kegiatan utama, konferensi atau presentasi umum dari pihak kantor multikultural studi dan pihak Pengembang Kurikulum Pendidikan terkait Bahasa, dan juga Diskusi Grup dimana semua peserta akan dibagi ke dalam kelompok berdasar level sekolah dan bahasa yang diajarkan.

Seperti lazimnya sebuah pelatihan, akan ada registrasi sebelum acara dimulai. Tanda tangan daftar nama di atas meja yang disediakan, lalu panitia akan memberikan sertifikat kegiatan yang namanya belum dituliskan, beberapa bundel kertas terkait kegiatan dan materi.

Begitu masuk ruangan, peserta ditawari untuk menikmati segelas kopi atau coklat hangat sambil menunggu kegiatan dimulai, dan tepat pukul 9 pagi acarapun dimulai. Acara pertama adalah sambutan, dengan cara khusus tuan rumah memberikan hadiah kepada peserta yang berasal dari daerah paling jauh, setelah itu ada beberapa undian hadiah lagi bagi mereka yang hadir pada pertama kali kegiatan ini dilaksanakan yakni pada delapan tahun lalu.

Acara utamapun dimulai dengan presentasi tentang angka-angka yang berasal dari hasil survei tentang kondisi demografi khususnya bahasa yang digunakan di Australia Barat dan perbandingannya dengan wilayah sekolah sebagai contoh konkrit. Banyak informasi penting dan krusial yang dipaparkan tentang perubahan jumlah penduduk dan semakin bervariasinya budaya dan bahasa yang ada.

Materi presentasi yang memaparkan data hasil survey.

Setelah istirahat dan menikmati aneka kue dan minuman hangat buatan siswa Willetton SHS, presentasi keduapun dimulai. Pemateri merupakan orang-orang yang bertanggung jawab dengan system penilaian berdasarkan standar kurikulum di Australia Barat. Pemaparan di sesi tersebut terlihat sangat praktikal dan terkait erat dengan proses belajar mengajar. Dan yang mengesankan adalah fakta-fakta terkait implementasi kurikulum. Banyak pertanyaan dan diskusi yang terjadi di akhir presentasi, bahkan beberapa penanya tidak sempat terakomodir.

 

Setelah satu jam berlalu, makan siangpun telah siap menanti. Ada dua jenis makanan tersaji dalam kotak plastik siap makan. Saya memilih nasi kuning yang begitu menggoda dengan kari ayam dan telur rebus sebagai pelengkapnya. Para peserta terlihat berkeliaran mencari tempat duduk di berbagai sudut yang memungkin tuk duduk dan menikmati makan siang.

Makan siang yang sangat nikmat terasa.

Pada pukul 1.30 siang kegiatan terakhirpun dimulai. Saya masuk di kelas Bahasa Indonesia, dan menemukan diri saya saja yang seorang asisten, yang lain adalah guru-guru yang telah mengajar bahasa Indonesia dengan pengalaman yang beragam. Setelah duduk berkelompok, saya hanya berusaha berkontribusi semaksimal mungkin atas tugas kelompok yang diberikan, pak Alan yang telah 18 tahun mengajar bahasa Indonesia terlihat sangat antusias membahas tugas yang diberikan, juga begitu dengan Ibu Maria Mulyana yang tak kalah seniornya. Mereka pun menawarkan berbagai strategi menarik pada tugas akhir yang mengharuskan setiap kelompok memberikan solusi pengajaran untuk kelas yang memiliki dua tingkatan di dalamnya, seperti kelas yang siswanya terdiri dari kelas 4&5, tentu saja dari pengalaman bertahun-tahun, mereka lebih matang menyampaikan saran kegiatan yang pas. Apalah diri ini yang hanya bocah kemarin sore.

 

Acarapun ditutup dengan bersama-sama melihat dan mendengar solusi strategi yang ditawarkan dari berbagai kelompok. Dan saya merasa ini adalah sebuah kegiatan yang sangat positif terlebih lagi, semua yang hadir menempatkan diri sebagai orang yang ingin belajar lagi dan lagi, saya bahkan beberapa kali memberikan masukan ide dan saran dalam tugas dan terlihat jelas mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan mendiskusikan pendapat yang sama. Betul-betul saya merasakan penghargaan di tempat ini, tak ada perbedaan yang ditonjolkan.

Itulah pengalaman pertama mengikuti Language Big Day Out, acara tahunan sebagai salah satu Professional Development yang bisa diikuti di awal term. Mudahan-mudahan ada manfaat untuk pembaca.

Pertama kali saya ke lokasi penempatan di Kota Geraldton mengharuskan saya berkendara selama kurang lebih enam jam lamanya dengan menggunakan bus ukuran besar berkapasitas 60 penumpang. Selama perjalanan, terlihat jelas jalan yang lancar dan agak sepi dengan kendaraan yang hanya sekali-kali berpapasan dengan bus yang saya gunakan, namun kendaraan yang melintas tersebut rata-rata berkecepatan tinggi, terdengar dari bunyi gesekan udara saat saling berpapasan.

Di sepanjang rute bus hanya pemandangan semak raksasa dan beberapa pohon dengan warna kecoklatan dan nampak kering yang bisa dinikmati. Tak sehijau di Indonesia, begitulah yang terlintas di pikiran saya kala itu, maka hampir sepanjang perjalanan saya menghabiskan waktu terlelap tidur. Mungkin perjalanan terlihat membosankan saat itu, tapi seiring semakin seringnya saya bepergian dengan naik bus, saya sadar bahwa negara ini kadang memiliki wajah yang berbeda.

(more…)

Pengalaman Mendaftar LAP

Posted: July 5, 2018 in Uncategorized

Saat masih mengajar di sebuah lembaga kursus, saya sering merasa kagum dengan mereka yang kuliah di luar negeri, apalagi jika mereka juga bekerja di negeri asing tersebut. Adalah Kak Andi Syurganda, seorang senior di Kampus Ungu dulu, berhasil mencuri perhatian saya dari postingan tulisan beliau di blog pribadinya. Tulisan pengalamannya mengajar di sekolah Australia Barat menjadi sebuah mimpi yang tentu saja tidak mudah untuk diwujudkan, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk menjadi nyata.

Dan begitu pengumuman pendaftaran itu dibuka, saya pun segera membuka alamat website yang disebutkan, menjelajah tiap kalimat di panduan pendaftaran yang diberikan, memahami setiap persyaratan yang tertulis dalam bahasa Inggris tentunya, dan akhirnya, saya memutuskan untuk mundur, tidak berniat lagi mendaftar. Yah, saya memutuskan untuk tidak mendaftarkan diri pada saat pertama kali membaca pengumuman program ini. Persyaratannya terlampau berat.

(more…)

“It smells good Pak Ismail”, “It is better than my mom’s cook” “It’s like we are in Indonesia” juga “Can I have more kuning rice Pak Ismail?” adalah respon dari anak-anak setingkat SD kelas 3 yang hari ini mencoba nasi kuning di kelas bahasa Indonesia.

Entah mengapa tiba-tiba saja sang guru mentor saya memberijan instruksi untuk memasak nasi putih dan nasi kuning di kelas Bahasa Indonesia berikutnya. Dengan bahan sisa dari memasak nasi tahun sebelumnya, saya mengiyakan saja rencana tersebut. Esok harinya, saya memasak dua rice cooker kecil nasi untuk tiga kelas berbeda, dan masing-masing kelas mendapatkan nasi yang baru dimasak, bukan nasi dari kelas sebelumnya. Karena sudah berpengalaman menjadi anak kost yang harus memasak sendiri saat kuliah dulu, masak nasi pun hal yang mudah tuk saya lakukan. Sebenarnya kami menyediakan dua jenis nasi, nasi putih dan nasi kuning. Dan kedua jenis nasi tersebut dimakan tanpa ada tambahan apapun, hanya nasi saja.

(more…)

Tentang Keterlambatan

Posted: June 12, 2018 in Uncategorized
DCIM102MEDIA

Kamar rasa kapal pecah kala itu

Saya hanya mau berbaring sejenak, merasakan kelelahan dari perjalanan dan drama keterlambatan sehari sebelumnya

Saya diantar ke kamar D7 di lantai dasar, gedung B yang berada di ujung lorong, setelah menjelaskan beberapa tempat penting di area asrama dan juga jadwal makan di kantin, petugas bergegas kembali ke meja kerjanya. Saya segera membuka koper yang sudah terabaikan sejak kemarin, walau sadar ia memang terasa basah sejak di Bali. Saya mengangin-anginkan pakaian yang terasa lembab dan basah hampir di semua sudut kamar. Tak lupa saya mengganti celana dengan sarung, merasakan kebebasan bergerak dalam tradisi yang sangat-sangat sederhana.

Sore hari saya beranjak dari kamar, kebiasaan menjelajah membuat saya penasaran menyusuri keadaan sekitar asrama St. Thomas Moore. Tepat di depan asrama, di seberang jalan, ada salah satu univeristas terbesar di sini, Western Australia University, meski tak sempat berjalan masuk sore ini, tapi esok hari saya memuaskan diri menjelajah keindahan kampus yang cukup tua tersebut. Saya berbelok ke kiri jalan, menuju hamparan air nan luas mirip sebuah danau. Setelah berada di sisi danau, yang sebenarnya adalah sebuah sungai, Swan River, saya menyaksikan keindahan kota Perth dari kejauhan. Di sisi jauh terlihat jelas gedung-gedung tinggi menjulang sementara sisi lain berbagai jenis perahu bersandar dalam barisan yang rapi di dermaga kayu modern yang terlihat sangat indah bak sebuah lukisan. (more…)

Saya membuka mata berharap semua hanya mimpi, tapi nyata semua masih sama, masih di sini, Bandara International Ngurah Rai Bali. Saya berjalan lunglai menemui bagian customer service, penuh harap akan benarnya kabar bahwa saya hanya perlu membayar denda keterlambatan untuk mendapatkan kursi di penerbangan berikutnya, tanpa perlu menjual diri untuk mendapatkan tiga kali lipat harga tiket sebelumnya. Dan syukurlah ternyata memang hanya mendapatkan denda, kurang beberapa ratus ribu jadi sejuta untuk keterlambatan yang cukup bodoh ini, tapi waktu terkatung di Bali hingga besok hari jadi nyata di sini. Ada pilihan nginap di kursi bandara sambil pura-pura duduk saja, atau keluar menyewa kamar tuk numpang semalam saja. Untungnya saya teringat akan Kak Angga, si mata sipit asal Wajo yang masih persiapan keberangkatan beasiswa AAS di ibu kota Bali ini. Jadilah saya menginap semalam di tempat beliau yang jadinya senyum-senyum sendiri dan sesekali tertawa cengengesan mengetahui cerita saya.

Esok harinya saya sudah sangat waspada, selesai shalat subuh, saat hari masih gelap, bahkan ayam belum berkokok, saya dan kak Angga menyusuri sepinya jalanan kota Denpasar menuju bandara. Kami tiba sangat awal, bahkan sebelum berangkat saya juga masih sempat putar-putar bandara mencari halte perhentian Bus Sarbagita, yang ternyata tidak jauh dari tempat masuk yang tadi kami lewati. Sudah putar jauh-jauh, sok pintar menebak kalau bakal berada di ujung utara, ternyata di ujung selatan, itupun setelah kita bertanya pada bapak-bapak yang sedari tadi kami acuhkan keberadaannya. Sebenarnya bukan tak mau bertanya, tapi kami masih merasa mampu menemukan sendiri, dan ujung-ujungnya juga minta bantuan, begitulah manusia. Peace!

Saya melewati pemeriksaan bandara dengan cukup was-was, bukan karena saya membawa senjata tajam, atau membawa kue sagu yang mirip-mirip sabu-sabu, tapi karena ini adalah pengalaman pertama. Pemeriksaannya beberapa lapis dengan antrian panjang tapi yang saya sayangkan adalah minuman mizone saya ditahan dipemeriksaan pertama saat semua yang melekat di pakaian harus dilepaskan. Bagaimana tidak merasa rugi, saat menunggu pesawat berangkat saya terpaksa membeli minuman sejenis itu dengan harga yang enam kali lipat di salah satu kiosk di selasar gerbang keberangkatan, shock pertama akan harga tinggi terjadi di sini. Dan entah mengapa setiap tetesan minuman ini terasa nikmat, ah mungkin karena harganya yang berubah atau saya yang kehausan karena tadi pihak imigrasi sempat menahan passport saya, karena surat kontrak saya tidak saya lampirkan, walau akhirnya bisa digantikan oleh salinan bentuk pdf di handphone saya, terima kasih Xiomi Note 4.Hehehe. (more…)

14 Februari adalah hari kasih sayang sedunia, katanya, dimana banyak orang di belahan dunia lain merayakan dengan bunga dan coklat yang  diberikan kepada orang terkasih. Namun, bukan hal tersebut yang spesial bagi saya hari ini. Hari ini perjalanan pertama kali melintasi batas negara Indonesia, semua mimpi yang tercipta ratusan hari yang lalu, akan terwujud. Ku tatap nomor tiket pesawat Sriwijaya Air yang akan mengantarkan menuju pintu keluar Indonesia, Bali International Airport, saat masih menunggu di bandara Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.

Tiba di sini agak telat karena hujan yang membasahi jalanan, om mobil gocar, saya lebih senang menyebutnya seperti itu, membawa saya tiba sekitar sejam lebih awal. Ada om Lias, adik Ibu yang bekerja di Makassar, dua adik saya yang kebetulan ada di Makassar, dan juga si Rahmat, teman kerja di Pare yang ikut semangat mengantar hari ini, meski nyatanya ia datang untuk mengambil barang titipan yang tertinggal di Pare minggu lalu. Rahmat ini adalah mahasiswa penerima beasiswa LPDP, yang seminggu lagi akan berangkat ke Australia, yang akan menjadikan dirinya satu di antara sekian banyak mahasiswa international dari Indonesia di Melbourne University.

Di dalam pesawat mulai ramai dengan penumpang yang berjalan menuju kursinya, saya mendapat tempat duduk di dekat lorong, jadinya hanya bisa melihat dari jauh jendela pesawat yang masih cerah meski hujan cukup deras di luar sana. Ah, terbayang sudah perjalanan yang akan teringat selamanya ini, mendarat dan merasakan sensasi di luar negeri, walau sudah jelas bagaimana keadaan di daerah barat Australia yang tidak semewah di daerah selatan dan ibukotanya. Lebih mirip gurun katanya namun tetap saja bagian dari Australia, salah satu negara maju di dunia.

(more…)

Hilangnya Chelsi

Posted: January 3, 2018 in Uncategorized

Kepergian adalah sesuatu yang pasti. Apakah kita ditinggalkan atau pun meninggalkan.

Hidup ini baik-baik saja, selalu itu yang diharapkan. Saya pun demikian. Ketika meminta dalam doa, setidaknya berikan saya kemudahan dalam menghabiskan waktu setiap hari tanpa ada masalah yang saya pikirkan dalam tidur.

Dulu pernah sekali Emak bilang, hidup tanpa masalah tidak asyik soalnya hidup akan mulus-mulus saja. Saya pun berpikir demikian. Di rantauan jauh dari pulau Sumatera, telpon yang sering berdering selalu mengingatkan untuk tetap menghadapi masalah apapun itu. Kalau ia sulit, masalah itu mungkin hanya membutuhkan sedikit perhatian lebih. Mungkin ia sejenis makhluk yang kurang perhatian. Mirip dengan saya kayaknya ini. Tapi setelah dihadapi akan terlihat bahwa ia lebih mudah. Kalau test IELTS itu diperhatikan, dipersiapkan dan dipelajari terus menerus saja, tanpa pernah dihadapi, yakinlah kita tidak akan tahu bahwa sebenarnya ia tak seseram yang kita pikirkan. Ada sih yang mendapatinya lebih seram dari yang dia bayangkan. Tapi intinya, hadapi saja dulu, nanti akan ditunjukkan kemana arahnya. (more…)