Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Hilangnya Chelsi

Posted: January 3, 2018 in Uncategorized

Kepergian adalah sesuatu yang pasti. Apakah kita ditinggalkan atau pun meninggalkan.

Hidup ini baik-baik saja, selalu itu yang diharapkan. Saya pun demikian. Ketika meminta dalam doa, setidaknya berikan saya kemudahan dalam menghabiskan waktu setiap hari tanpa ada masalah yang saya pikirkan dalam tidur.

Dulu pernah sekali Emak bilang, hidup tanpa masalah tidak asyik soalnya hidup akan mulus-mulus saja. Saya pun berpikir demikian. Di rantauan jauh dari pulau Sumatera, telpon yang sering berdering selalu mengingatkan untuk tetap menghadapi masalah apapun itu. Kalau ia sulit, masalah itu mungkin hanya membutuhkan sedikit perhatian lebih. Mungkin ia sejenis makhluk yang kurang perhatian. Mirip dengan saya kayaknya ini. Tapi setelah dihadapi akan terlihat bahwa ia lebih mudah. Kalau test IELTS itu diperhatikan, dipersiapkan dan dipelajari terus menerus saja, tanpa pernah dihadapi, yakinlah kita tidak akan tahu bahwa sebenarnya ia tak seseram yang kita pikirkan. Ada sih yang mendapatinya lebih seram dari yang dia bayangkan. Tapi intinya, hadapi saja dulu, nanti akan ditunjukkan kemana arahnya. (more…)

Advertisements

Pengalaman Pertama di Rantau

Posted: September 7, 2017 in Uncategorized

The Last Paradise in The World (Surga Terakhir di Dunia) menjadi semboyan provinsi yang terletak di bagian selatan Indonesia ini. Apakah memang di sini ada surga? Mungkin nanti akan terjawab seiring waktu berjalan, begitulah selalu katanya, waktu akan menjawab semua, bahkan untuk sesuatu yang tidak sempat untuk kita tanyakan.

Jalan Menuju Jalan

Setelah kurang lebih satu jam mengudara, sekitar pukul 08.30 waktu setempat, pesawat berhasil parkir manis di sisi selatan bandara. Kami berdiri, turun sendiri dan berlari menuju menuju bus shuttle yang telah mengantri. Berdiri bergelantungan menatap bapak-bapak dan ibu yang tak satupun berkata-kata. Kami segera menuju tempat pengambilan barang bagasi, berharap-harap cemas dengan keadaan si Ransel yang tadi sempat di PHP, sudah berharap masuk kabin tapi nyatanya masuk di bagasi.  Beberapa menit menunggu akhirnya tas saya pun terlihat, tak ada yang perlu dikhawatirkan, semua lengkap dan tak lecet sedikitpun. Si tas kayaknya berhasil survive.

Sesuai rencana dan strategi perjalanan dadakan yang sempat tersusun di RS kemarin, kami akan menggunakan moda transportasi motor dari Bandara menuju tempat pelatihan Kak Angga, menyusuri jalan Bypass tembus ke Tol Laut, berkendara di atas laut si ransel akan duduk manis di depan saya, kak angga memangku kopernya dibelakang, angin membawa kenangan masa lalu mengusap-ngusap manja mukanya kak Angga, lalu kami menyusur jalan raya, masuk gang-gang mencari indekos. Kami mencoba menghubungi penyedia jasa sewa (selanjutnya kami sebut Abang Motor) yang sempat kami telepon dua hari lalu, namun belum juga diangkat. Sambil menunggu kami menikmati roti dan teh kotak yang sempat kami bawa dari Makassar, sembari menikmati pemandangan depan mata.  

(more…)

Merantau

Posted: September 6, 2017 in Uncategorized
Tags:

Subuh ini setelah shalat berjamaah dengan kak Angga, kami menembus sunyinya jalan kota Makassar menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Saya duduk depan tapi bukan di belakang kemudi. Tepat di kursi belakang saya, ada kak angga, istrinya di samping kanannya tepat di belakang supir dan anaknya duduk di antara mereka yang tetap sibuk berceloteh.  Si supir yang seumuran saya masih terlihat kantuk, air bekas cuci mukanya pun masih segar terlihat bergelayut di ujung rambut tepi wajahnya. Dengan leluasa ia mencari saluran radio di tape mobilnya. A way back into love pun mengiringi kepergian di subuh yang beku, bersusulan lagu lawas lainnya yang jadi pilihan di Radio Delta FM.  

Di perjalanan kami memastikan tiket yang sudah dipesan. Dan ternyata tiket elektronik kak angga tidak dapat diakses di aplikasi whatsapp nya. Tiketnya dikirim dari kakaknya beberapa hari lalu. Handphone yang sudah teresetpun jd penyebabnya. Sempat ingin mencari file screenshotnya, tapi untungnya kakak iparnya sigap mengangkat telepon dan mengkonfirmasi akan mengirimkan ulang tiketnya. Jadi akhirnya masalahpun beres. 

Dalam sisa perjalanan hanya banyak diam beku tanpa suara, sesekali sang istri bertanya hal-hal remeh temeh untuk mencairkan suasana. Saya..menyanyikan lagunya kerispatih hingga tetangga mobilpun jadi terenyuh mendengarnya..haha, itu hanya khayalan saya. Nyatanya saya hanya diam agar bisa tetap menjala solidaritas. 

30 Menit lamanya membela ruas poros utama akhirnya sampai juga. Mobil menepi di sisi jalur keberangkatan, sigap kami menurunkan barang dan berjalan mengular di pemeriksaan masuk. Check in pun demikian dengan antrian panjangnya, kamipun menunggu cukup lama sekitar 20 menitan. Saat check in tas ransel saya terindikasi kelebihan muatan alias overload, akhirnya ia harus masuk bagasi. Mudah mudahan tas yang sudah usur itu bisa bertahan dengan perlakuan pegawai bagasi, soalnya dari video yang pernah saya lihat perlakuan mereka memang kasar. Kasian si ranselLaptop dan berkas saya pindahkan ke totebag yang sudah saya siapkan.  Setelah kak Anggapun selesai check in, kami kembali keluar untuk pamit dengan istri dan anak kak Angga. Suasana perpisahan yang kental trrlihat dari peluk sayang dan cium mereka. Baik-baik yah, katanya. Bayangkan saja bagaimana percakapannya yah. 

Kami pun menuju Gate 4, dan tepat pukul 06.15 kami sudah masuk pesawat.  10 menit kemudian peawatpun take off. Selamat tinggal sementara Makassar.  Kami merantau dulu sejenak.

Sepotong Cinta dari Lae-Lae

Posted: March 5, 2016 in Uncategorized

Eh, sampai miki? Cepatnya dih. Belum pi ki sempat upload foto di facebook sampe mi orang! gerutu salah seorang penumpang kapal peyebrangan pulau Lae-Lae. “Memang dek, kalau tidak kencang ji ombak biasa 5-10 menit ji. Tapi kalau lagi jelek cuaca paling lama 15 menit” sang juru kemudi kapal menimpali dengan cepat. Suasana pulau yang berada sangat dekat dengan kota Makassar ini mulai terlihat jelas saat kapal mulai menepi ke bibir pantai. Deburan ombak menerpa jejeran perahu yang terparkir di sepanjang tepian pantai. Sebuah gerbang melengkung menyambut kami tepat di tepi dermaga, menyampaikan ucapan selamat datang di pulau Lae-Lae, salah satu pulau yang memiliki suasana sunset terindah dan akan selalu dirindukan.

20160220_083025

Suasana Dermaga Pulau Lae-Lae

(more…)

Sudut Kisah di Kota Daeng

Posted: January 28, 2016 in Uncategorized

Hidup di kota besar tak selamanya menawarkan kebahagiaan dan kesenangan. Seperti roda-roda yang terus berputar, kehidupan terkadang akan berada pada level terendah dalam perjalanan hidup. Namun selama usaha tetap ada, maka hidup akan tetap bertahan hingga mentari terbenam di ufuk barat.

DSC_0024_1

Beranjak di pagi hari dengan sejuta harap akan usaha yang berbuah hasil yang memuaskan. Tak peduli dengan penat dan tak peduli dengan hiruk pikuk kota yang semakin hari tak bersahabat. Jarak terbentang pun mungkin tak terasa lagi. Yang terpenting adalah waktu yang harus dimaksimalkan untuk mencari nafkah (more…)

Shusi adalah makanan khas Jepang yang harganya terbilang sangat mahal. Kalau mau menikmatinya kita harus mengunjungi restoran, memakai pakaian yang rapi dan bersikap santun nan berkelas saat menyantapnya. Orang Indonesia kebanyakan akan merasa aneh dengan shusi, karena daging yang digunakan adalah daging mentah dan tidak dimasak. Selain itu, Kebanyakan shusi juga menggunakan bahan beralkohol seperti campuran minuman sake yang tentu saja tidak halal. Lantas? Apakah semua shusi memang seperti itu?

Hari ini urusan kantor telah selesai. Sebelum pulang ke rumah, kami berencana untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Karena malam ini juga hujan kembali turun, kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah Yatai (Bahasa Jepang, yang artinya angkringan/gerobak) Shusi Bizkid yang terletak di Jl. AP Pettarani yang tidak jauh dari tempat kerja kami. Untuk menemukan Shubiz (singkatan untuk Shusi Bizkid) tidaklah sulit, dari arah Gowa menuju fly over Urip Sumoharjo, tepat setelah melewati POM bensin Rappocini kita akan mudah melihat papan petunjuk di sisi kiri jalan. Di situ terpampang jelas nama Shusi Bizkid beserta dua kedai minuman lainnya. (more…)

Ruang di panggung itu terlihat begitu gelap, tak ada cahaya gemerlap seperti konser musik kekinian. Sorot lampu yang tidak begitu terang menampakkan sosok muda dengan wajah tegas dan tirus di sudut kanan panggung. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan passappu di atas kepalanya. Tangan kirinya bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti ritme ucapannya. Dengan begitu piawai, tangan kirinya menggesek-gesekkan dawai kesok-kesok yang terdengar mendayu-dayu dalam heningnya malam. Ucapannya begitu merdu dengan permainan intonasi dan tekanan nada yang begitu harmonis.

Kata-kata dalam bahasa Makassar yang terdengar bak sebuah cerita terus mengalir mengisi ruang dengar penonton. Sesekali nada suaranya meninggi, lalu berubah lirih di tiap-tiap baris ucapannya. Meski saya hanya paham sedikit tentang bahasa Makassar, namun malam itu saya begitu menikmati alunan nada kesok-kesok yang sangat unik dan sarat budaya nilai kearifan lokal tersebut.

Penampilan pa’sinrilik muda di panggung pentas komunitas malam itu, memberikan tontonan budaya asli Makassar, yaitu Sinrilik. Tontonan yang sudah sangat jarang ditampilkan dalam keseharian masyarakat. Bahkan saat ini kesenian dan budaya tutur sinrilik sudah terancam punah karena regenerasi yang tidak berjalan dengan baik.

***

Sinrilik sendiri merupakan salah satu karya sastra lisan yang dimiliki oleh masyarakat Makassar. Dalam situs resmi Kementerian Kebudayaan Indonesia, sinrilik dijelaskan sebagai warisan budaya tutur dalam masyarakat Makassar yang biasa ditampilkan sebagai media hiburan dan pelajaran nilai-nilai budaya. Meskipun kini pementasan sinrilik selalu menggunakan musik penggiring dari kesok-kesok, ternyata sinrilik juga dapat dipentaskan hanya dengan suara pa’sinrilik saja. Pa’sinrilik sendiri adalah orang yang mementaskan atau menyanyikan bait-bait dari naskah sinrilik tersebut.

Sinrilik

Alat Musik Kesok-Kesok

Mengutip informasi dari tulisan Sinrilik Karya Sastra Unik Dari Kota Daeng Makassar, sinrilik yang dilagukan dengan alat musik kesok-kesok yang berbentuk rebab dinamakan Sinrilik Kesok-Kesok, yaitu sinrilik yang berisi kisah perjuangan dan kepahlawanan seorang tokoh. Sedangkan yang hanya dilagukan tanpa ada iringan musik dikenal dengan sebutan Sinrilik Bosi Timurung yang berisi tentang banyak hal, seperti pujian untuk kekasih hati, rasa iba dengan musibah yang ada, ataupun kesedihan orang yang ditinggalkan keluarganya. Sehingga secara tidak langsung pertunjukkan sinrilik mengajarkan banyak hal kepada para pendengarnya. Itulah mengapa dahulu, sinrilik mendapat tempat di hati masyarakat Makassar.

Seiring dengan perkembangan zaman, media hiburan tradisional, seperti sinrilik, secara cepat tergantikan dengan pementasan musik yang lebih menarik dengan nada-nada yang lebih dinamis. Tak heran mengapa saat ini penikmat ataupun pa’sinrilik itu sendiri semakin sedikit dan bahkan bisa dihitung jari jumlah mereka saat ini. Pun ketika saya bertanya kepada seorang teman saya, Nur Rahmat Hidayat, seorang pegiat literasi kota Makassar. Secara pribadi, ia begitu menyayangkan minimnya minat yang dimiliki masyarakat terhadap keberlangsungan warisan budaya tersebut.

“Saya rasa kebudayaan sinrilik ini perlu untuk kita pertahankan, yah kalau perlu kita galakkan kembali pementasan sinrilik. Mungkin masyarakat perlu tahu lebih dalam tentang budaya lisan asli Makassar ini”, katanya sembari menikmati segelas sarabba telur yang sedari tadi menemani perbincangan kami. Yayat, begitu saya akrab menyapanya, seakan mulai serius dengan gagasannya mengenalkan kembali kebudayaan asli Makassar tersebut, bahkan malam itu ia berencana menuliskan sebuah buku tentang pansirilik yang memang masih sangat jarang.

“Kalau tidak salah, sekarang baru ada dua buku yang saya baca yang menulis tentang sinrilik itu, satu yang berupa kumpulan naskah sinrilik dan satunya lagi memuat sinrilik sebagai salah satu bagian dari penjelasan kebudayaan Makassar” jelasnya dengan penuh semangat. Matanya yang terlihat membulat seakan menyakinkan dirinya bahwa rencananya akan sangat berarti bagi keberlangsungan budaya sinrilik di masa depan.

Mungkin apa yang dikatakan Yayat merupakan bentuk apresiasi sastra yang paling tepat untuk memberikan informasi tentang kebudayaan lisan sinrilik. Tapi untuk mempertahankan keberlangsungan pertunjukkan sinrilik, saya rasa perlu usaha yang lebih dari sekedar tulisan. Regenerasi pa’sinrilik dan juga tersedianya ruang pertunjukkan yang memadai menjadi kunci utama untuk terus menjaga keberadaan sinrilik di tengah-tengah gempuran budaya asing saat ini. Namun, apakah regenerasi dan ruang pertunjukkan sinrilik masih dapat kita peroleh di saat sekarang ini?

***

Arif Rahman Dg. Rate, lelaki asli Kajang yang telah berumur seperempat abad, merupakan satu di antara tiga orang yang masih tetap setia menjaga kelestarian budaya sinrilik. Di tengah kesibukannya sebagai pengajar bahasa, ia masih gencar membawa kesok-kesoknya dari panggung ke panggung. Ia pun kini aktif mengampanyekan sebuah gerakan literasi berbasis sinrilik yang ia yakini sebagai bentuk pertahanan eksistensi budaya sinrilik.

arif-rahman-sinrilik

Arif Rahman Dg. Rate

Keseriusan Arif terlihat jelas dari betapa semangatnya ia menjawab pertanyaan yang saya ajukan ketika menggali informasi tentang sinrilik. Ia menceritakan bagaimana ia mulai berkenalan dengan sinrilik pada tahun 2009 silam. Kala itu ia masih di tahun pertama sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris. Melalui artikel-artikel yang ia baca, akhirnya ia memutuskan untuk merambah dunia sinrilik secara serius di akhir 2010. Dan di awal 2011 ia telah betul-betul terjun dalam pertunjukkan sinrilik dengan tampil di panggung-panggung pementasan berskala kecil untuk pemula.

Ia pun menuturkan bagaimana keseriusan ia belajar dari seniman sinrilik di Gowa yaitu bapak Syarifuddin Dg. Tutu. Pun begitu itu menimbah ilmu tentang teknik bermain musik kesok-kesok dari bapak Haeruddin yang merupakan pengrajin kesok-kesok yang sudah terkenal di tanah Gowa.

Ketika ditanya mengapa orang-orang sudah tidak terpikat dengan pertunjukkan sinrilik, ia menjawabnya dengan begitu lugas dan jelas.

Sinrilik itu menggunakan tipikal musik yang monoton. Sejenis musik yang digunakan untuk mengiringi orang bertutur atau berdongeng. Olehnya itu, eksplorasi nadanya cuma sampai lima not saja, itupun pola bermainnya sangat monoton” Jelasnya sambil memperagakan bagaimana gerakan tangannya seakan mengganti nada-nada kesok-kesoknya.

Sinrilik itu dimainkan dengan bertutur, dengan menggunakan bahasa Makassar, passinrilik menceritakan kisah-kisah sejarah yang butuh pemahaman yang lebih saksama. Hal tersebut yang buat orang-orang malas mendengarkannya lagi. Padahal sinrilik itu bercerita tentang lokalitas dan kearifan masa lalu yang mengandung banyak nilai-nilai positif. Selain itu saat mendengarkan sinrilik, ada nuansa yang membawa kita ke alam meditasi. Istilah para seniman, sinrilik itu musik jiwa” sembari mengibas-ngibaskan tangannya mengusir nyamuk, ia menjelaskan lebih jauh lagi betapa ia menikmati sinrilik dan musik kesok-kesoknya.

Malam itu kami berbincang cukup lama. Selain membahas masalah eksistensi sinrilik yang mulai mengkhawatirkan, ia menjelaskan bagaimana semestinya sinrilik itu harus bertransformasi agak tidak kehilangan pendengarnya. Ia menyakinkan saya bahwasanya sinrilik itu sangat fleksibel, ia dapat digunakan sebagai media tuturan untuk mendiskusikan banyak hal, seperti politik, budaya dan juga masalah sosial. Bahkan dengan transformasi seni sinrilik yang ia lakukan, kini sinrilik dapat masuk dalam diskusi-diskusi kontemporer dan sosial masyarakat. “Dengan menggabungkan narasi masa lalu dan kehidupan sekarang, pembahasan dengan media sinrilik menjadi semakin menarik” tandasnya.

“Kalau ia dibawakan secara tradisional dengan standarnya itu, maka ia akan kehilangan audiensnya. Sinrilik bisa saja disampaikan dalam bahasa Inggris, Indonesia bahkan bahasa daerah lainnya. Jadi targetnya selain menghibur, orang juga paham apa yang kita sampaikan dan sekaligus secara persuasif mengingatkan kita kepada budaya lokal”

Meskipun ada beberapa tanggapan sinis yang memang secara keras mengkritik apa yang dilakukannya, karena secara gamblang apa yang dilakukan oleh Arif terlihat seperti perubahan bentuk asli sinrilik. Namun ia menimpali bahwa akan menjadi masalah, jika tetap bertahan dengan pola yang terkesan kolot tersebut. Pada akhirnya budaya sinrilik pun akan hilang dengan sendirinya. Strategi bertahan yang ia tawarkan telah terbukti membawa sinrilik mampu masuk di beberapa kesempatan, seperti mimbar kuliah, ruang seminar, ruang kajian, bahkan ruang-ruang yang sifatnya protokoler. Hadirnya budaya tutur sinrilik di ruang-ruang tersebut membawa warna tersendiri yang diharapkan akan mempertahankan kesenian sinrilik dari kepunahan.

Pada pembukaan konferensi internasional yang diadakan oleh Pusat Bahasa Universitas Negeri Makassar di awal Desember tahun lalu, Arif tampil menjadi pembawa acara dalam perhelatan ilmiah dua tahunan tersebut. Dengan iringan suara kesok-kesoknya yang mendayu-dayu, ia memberikan pengantar dalam tiga bahasa sekaligus, Inggris, Indonesia dan Makassar. Kepiawaiannya dalam mengolah kata dan irama menarik perhatian mereka yang ada di ruang teater gedung phinisi UNM saat itu. Bahkan ketika candaan dan humor disampaikan dalam bahasa Makassar, hampir seluruh penonton tertawa terbahak-bahak, meski saya yakin banyak di antara mereka yang tidak paham dengan bahasa tersebut.

“Kami sendiri melihat media sinrilik sebagai cara menarik untuk menyampaikan pesan kebudayaan serta tujuan konferensi secara santai” jelas Ibu Masnijuri, ketua International Conference on Language Education (ICOLE 2015). Ia juga mengatakan bahwa budaya sinrilik ini menjadi salah satu asset yang harus dilestarikan. Sehingga ia perlu diberikan ruang sebagai apresiasi dan langkah nyata pelestariannya.

Dia akhir wawancara saya, Arif secara jelas mencoba menyadarkan kita bahwa yang namanya budaya itu tidak statis, namun sifatnya dinamis. Sehingga untuk mengatasi masalah kepunahan budaya, hanya soal bagaimana ia berkomunikasi dengan zaman tempat ia berada.

Berubah untuk dapat bertahan hidup merupakan jawaban yang masuk akal untuk tetap eksis. Namun,dengan melihat realitas dari minimnya panggung-panggung bagi para pa’sinrilik untuk tetap tampil, akankah budaya sinrilik tetap eksis? atau malah hanya mampu bertahan beberapa tahun lagi?

Ada Apa di Tengah Hutan Batu?

Posted: December 19, 2015 in Uncategorized

Apa sih daerah wisata terindah di Sulawesi Selatan? Apakah Toraja yang menawan dengan budayanya? Pantai Bira yang eksotis dengan pasir putihnya? Puncak Gunung Bawakaraeng dengan keindahan puncak berawannya? Ataukah Kampung Berua di Kawasan Wisata Rammang-Rammang yang mempesona dengan Hutan Batunya?

Sejak dulu, ketika ditanya tentang destinasi wisata terbaik di Sulawesi Selatan, saya langsung menyebut Toraja. Entah sejak kapan Toraja menjadi magnet wisatawan dari penjuru dunia, namun yang pasti pesona destinasi wisata ini lebih terkenal dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan itu sendiri. Terletak di wilayah pegunungan yang menampilkan keindahan alam pedesaan berbalut kentalnya budaya masyarakat Toraja menjadikannya pilihan utama para turis-turis baik asing maupun lokal. Dimanjakan dengan tradisi adat dan suasana alam pedesaan menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin sejenak melupakan hiruk pikuk perkotaan. (more…)

Sebuah Pengharapan Senja

Posted: November 17, 2015 in Uncategorized

image

Adalah sebuah nikmat yang terindah, bersama dengan mentari yang mulai terbenam, menjemput malam pengganti siang. Di sini waktu terasa aneh, terkadang bergerak meninggalkan ruang begitu cepatnya, namun terkadang jua bermanja-manja begitu lama. Hingga bosan dan lelah terjadi pada saat bersamaan di kantor ini.
Bersama berlalunya waktu, semua perlakuan mulai disamakan. Menerima pada diam dan bertempat sepi, menjadikannya perlahan pergi dan hilang.
Menuju akhir pada hilangnya kebodohan akan ilmu baru yang mula disampaikan. Semangat mengejar cita dan pengharapan hingga kelak bisa berdiri jua di luar sana. Di negeri yang dingin dan panasnya terlalu bagi kita, namun senangnya adalah impian semua.
Semoga dilekaskan dan diberikan kesempatan dalam sehat-sehat dan bahagiaku.

image

image

Dunia menjemput pagi dengan hangat rupa mentari. Kemerahan bak emas berkilat-kilat dari titik jauh mata memandang. Kembali pada ingatan akan sikap bersama pada diri-diri yang terpisah jauh disana. Setengah masa dalam hari ini berlayar bersama jiwa-jiwa peduli, jiwa muda berbalut emosi positif berharap bermanfaat meski tak seperti penentu kebijakan di pusat-pusat kota. Terombang ambing di lautan berpusing kepala namun tetap bersedia, hingga kepala berhenti menengadah dalam lelap menunduk dan terlelap sudah. Tak terasa menit berganti hingga ke tigapuluhnya, dermaga menyambut riak air berarus bersama deburan yang mengiring perahu tak berlayar. Menginjak kaki dan memberi jejak pada hari yang meninggi di pulau Badi’, bersiap sudah dan tetap bersama semangat berbagi. (more…)