Archive for the ‘Uncategorized’ Category

“It smells good Pak Ismail”, “It is better than my mom’s cook” “It’s like we are in Indonesia” juga “Can I have more kuning rice Pak Ismail?” adalah respon dari anak-anak setingkat SD kelas 3 yang hari ini mencoba nasi kuning di kelas bahasa Indonesia.

Entah mengapa tiba-tiba saja sang guru mentor saya memberijan instruksi untuk memasak nasi putih dan nasi kuning di kelas Bahasa Indonesia berikutnya. Dengan bahan sisa dari memasak nasi tahun sebelumnya, saya mengiyakan saja rencana tersebut. Esok harinya, saya memasak dua rice cooker kecil nasi untuk tiga kelas berbeda, dan masing-masing kelas mendapatkan nasi yang baru dimasak, bukan nasi dari kelas sebelumnya. Karena sudah berpengalaman menjadi anak kost yang harus memasak sendiri saat kuliah dulu, masak nasi pun hal yang mudah tuk saya lakukan. Sebenarnya kami menyediakan dua jenis nasi, nasi putih dan nasi kuning. Dan kedua jenis nasi tersebut dimakan tanpa ada tambahan apapun, hanya nasi saja.

(more…)

Advertisements

Di saat merantau, belajarlah melepaskan kenyamanan dan berusaha ikhlas menerima perubahan, agar kita tahu arti rumah yang sesungguhnya.

DCIM102MEDIAPukul 09:00 pagi, Ibu Pam menjemput saya dari asrama, setelah menumpang tidur selama dua malam saja, saya diantar ke stasiun East Perth untuk kemudian bertolak ke lokasi penempatan saya selama program ini. Saya melihat dari jendela beberapa gedung tinggi menjulang di sisi jalan yang kami lalui, saking tingginya, beberapa bahkan tak dapat saya lihat puncaknya dari dalam mobil sedan hitam yang melaju lancar di pagi yang hangat ini.

img_20180217_083948_hhtPerjalanan saya menuju Geraldton, kota pelabuhan di pesisir Mid West, menggunakan bus besar yang di sini di sebut ‘coach’. Tiket sekali jalan AU$ 68 atau setara 680 ribu rupiah dan di tiketnya tertera durasi perjalanan yang akan memakan waktu enam jam. Meski sudah sering melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan bus, tapi kali ini pengalaman dan suasananya benar-benar berbeda. Bus dan semua kendaraan di sini menggunakan sabuk pengaman kepada semua penumpang. Jadi bisa dibayangkan, selama enam jam dengan ikatan sabuk pengaman di badan mungkin akan terasa kurang nyaman, tapi bagi saya justru lebih aman dan tidak terlalu terasa lelah. Di dalam bus terdapat fasilitas kamar kecil, colokan USB dua buah untuk mengisi baterai handphone atai gadget yang lowbet, juga disediakan hiburan video/film terbaru atau berbagai jenis musik yang dapat dinikmati dengan mencolokkan headseat yang dibagikan gratis.

Tak ada pemandangan sawah atau perkebunan yang begitu hijau sepanjang perjalanan, hanya semak dan perkebunan yang tak begitu sejuk di mata, membuat saya menghabiskan waktu beristirahat dan baru terbangun saat bus berhenti di sebuah pom bensin beristirahat dan membiarkan para penumpang menikmati makan siang yang dapat di beli di toko yang ada di area pom bensin. Saya sendiri menikmati roti gulung isi daging dan minum dingin yang tadi sudah dibelikan ibu Pam sebelum bus berangkat.

Saya tiba lebih awal dari waktu yang dijadwalkan, dan untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Ibu Katie dan Ibu Tiana yang selama persiapan keberangkatan kami hanya berinteraksi melalui aplikasi facebook. Ibu tiana memberikan saya nasi rendang lengkap dengan kerupuk udang, katanya biar saya tak usah repot menyiapkan makan malam tuk hari ini. Setelah bersalaman dan pamit, saya diantar oleh ibu Katie menuju tempat tinggal saya yang berada dekat dari salah satu sekolah tempat saya mengajar nantinya. Dalam perjalanan, kami singgah di supermarket untuk membeli kebutuhan harian yang saya perlukan, tak banyak yang dapat saya beli, hanya susu, telur, roti, mentega, keju dan buah apel. Hanya itu yang dapat terpikirkan kala itu, terlebih lagi saya harus meminjam uang ibu Katie untuk membayarnya karena kantong tempat saya biasa menyimpang uang berada entah di bagian mana dari tas atau koper yang sudah sulit dijangkau.

img_20180217_152107

Saya tiba di rumah Pak Mark yang telah menunggu kedatangan kami menjelang pukul empat sore. Hanya ada Pak Mark di rumah, sedang istrinya Ibu Toni berada di Perth. Setelah ibu Katie beranjak pergi, Pak Mark mengajak saya masuk ke kamar dan menjelaskan beberapa bagian rumah dan fasilitasnya. Saya membayar sewa $150 perminggu untuk sebuah kamar dengan kamar mandi dan toilet, akses internet dan kulkas tersendiri. Fasilitas yang sangat lengkap menurut saya, belum lagi akses terhadap mesin cuci, pengering, microwave dan peralatan dapur yang dapat saya gunakan untuk masak-memasak. Rumah yang nyaman dan termasuk baru dengan kolam renang di halaman belakang rumah, meski kecil tapi cukup untuk meredam teriknya matahari saat musim panas, katanya menjelaskan.

Ada beberapa hal yang menarik dari kota Geraldton ini, meski terlihat kecil dan sepi, tapi tak ada beda dengan keadaan masyarakat yang ada di kota besar. Meski tak ada gedung tinggi menjulang seperti di Perth, tapi fasilitas publik, semua tersedia. Hanya saja, pada akhirnya saya menemukan kekurangan dari sisi akses angkutan umum bus yang terbatas, karena memang penduduk yang tidak terlalu padat dan lebih banyak yang memiliki kendaraan pribadi dari pada pengguna angkutan umum di sini. Saking terasa kecilnya, penduduk kota Geraldton dapat saling mengenal dengan baik, sangat mudah bertemu dengan orang-orang yang anda kenal di pusat perbelanjaan. Tak heran, banyak orang yang menjadikan Geraldton sebagai rumah mereka, mudah-mudahan ia juga menawarkan keramahan yang sama terhadap saya. Selamat datang di Geraldton, Ismail, katanya berbisik dari balik jendela yang berhembus bersama hangat angin musim panas.

img_20180315_182829

Bersambung …

Tentang Keterlambatan

Posted: June 12, 2018 in Uncategorized

DCIM102MEDIA

Kamar rasa kapal pecah kala itu

Saya hanya mau berbaring sejenak, merasakan kelelahan dari perjalanan dan drama keterlambatan sehari sebelumnya

Saya diantar ke kamar D7 di lantai dasar, gedung B yang berada di ujung lorong, setelah menjelaskan beberapa tempat penting di area asrama dan juga jadwal makan di kantin, petugas bergegas kembali ke meja kerjanya. Saya segera membuka koper yang sudah terabaikan sejak kemarin, walau sadar ia memang terasa basah sejak di Bali. Saya mengangin-anginkan pakaian yang terasa lembab dan basah hampir di semua sudut kamar. Tak lupa saya mengganti celana dengan sarung, merasakan kebebasan bergerak dalam tradisi yang sangat-sangat sederhana.

Sore hari saya beranjak dari kamar, kebiasaan menjelajah membuat saya penasaran menyusuri keadaan sekitar asrama St. Thomas Moore. Tepat di depan asrama, di seberang jalan, ada salah satu univeristas terbesar di sini, Western Australia Universities, meski tak sempat berjalan masuk sore ini, tapi esok hari saya memuaskan diri menjelajah keindahan kampus yang cukup tua tersebut. Saya berbelok ke kiri jalan, menuju hamparan air nan luas mirip sebuah danau. Setelah berada di sisi danau, yang sebenarnya adalah sebuah sungai, Swan River, saya menyaksikan keindahan kota Perth dari kejauhan. Di sisi jauh terlihat jelas gedung-gedung tinggi menjulang sementara sisi lain berbagai jenis perahu bersandar dalam barisan yang rapi di dermaga kayu modern yang terlihat sangat indah bak sebuah lukisan. (more…)

Saya membuka mata berharap semua hanya mimpi, tapi nyata semua masih sama, masih di sini, Bandara International Ngurah Rai Bali. Saya berjalan lunglai menemui bagian customer service, penuh harap akan benarnya kabar bahwa saya hanya perlu membayar denda keterlambatan untuk mendapatkan kursi di penerbangan berikutnya, tanpa perlu menjual diri untuk mendapatkan tiga kali lipat harga tiket sebelumnya. Dan syukurlah ternyata memang hanya mendapatkan denda, kurang beberapa ratus ribu jadi sejuta untuk keterlambatan yang cukup bodoh ini, tapi waktu terkatung di Bali hingga besok hari jadi nyata di sini. Ada pilihan nginap di kursi bandara sambil pura-pura duduk saja, atau keluar menyewa kamar tuk numpang semalam saja. Untungnya saya teringat akan Kak Angga, si mata sipit asal Wajo yang masih persiapan keberangkatan beasiswa AAS di ibu kota Bali ini. Jadilah saya menginap semalam di tempat beliau yang jadinya senyum-senyum sendiri dan sesekali tertawa cengengesan mengetahui cerita saya.

Esok harinya saya sudah sangat waspada, selesai shalat subuh, saat hari masih gelap, bahkan ayam belum berkokok, saya dan kak Angga menyusuri sepinya jalanan kota Denpasar menuju bandara. Kami tiba sangat awal, bahkan sebelum berangkat saya juga masih sempat putar-putar bandara mencari halte perhentian Bus Sarbagita, yang ternyata tidak jauh dari tempat masuk yang tadi kami lewati. Sudah putar jauh-jauh, sok pintar menebak kalau bakal berada di ujung utara, ternyata di ujung selatan, itupun setelah kita bertanya pada bapak-bapak yang sedari tadi kami acuhkan keberadaannya. Sebenarnya bukan tak mau bertanya, tapi kami masih merasa mampu menemukan sendiri, dan ujung-ujungnya juga minta bantuan, begitulah manusia. Peace!

Saya melewati pemeriksaan bandara dengan cukup was-was, bukan karena saya membawa senjata tajam, atau membawa kue sagu yang mirip-mirip sabu-sabu, tapi karena ini adalah pengalaman pertama. Pemeriksaannya beberapa lapis dengan antrian panjang tapi yang saya sayangkan adalah minuman mizone saya ditahan dipemeriksaan pertama saat semua yang melekat di pakaian harus dilepaskan. Bagaimana tidak merasa rugi, saat menunggu pesawat berangkat saya terpaksa membeli minuman sejenis itu dengan harga yang enam kali lipat di salah satu kiosk di selasar gerbang keberangkatan, shock pertama akan harga tinggi terjadi di sini. Dan entah mengapa setiap tetesan minuman ini terasa nikmat, ah mungkin karena harganya yang berubah atau saya yang kehausan karena tadi pihak imigrasi sempat menahan passport saya, karena surat kontrak saya tidak saya lampirkan, walau akhirnya bisa digantikan oleh salinan bentuk pdf di handphone saya, terima kasih Xiomi Note 4.Hehehe. (more…)

14 Februari adalah hari kasih sayang sedunia, katanya, dimana banyak orang di belahan dunia lain merayakan dengan bunga dan coklat yang  diberikan kepada orang terkasih. Namun, bukan hal tersebut yang spesial bagi saya hari ini. Hari ini perjalanan pertama kali melintasi batas negara Indonesia, semua mimpi yang tercipta ratusan hari yang lalu, akan terwujud. Ku tatap nomor tiket pesawat Sriwijaya Air yang akan mengantarkan menuju pintu keluar Indonesia, Bali International Airport, saat masih menunggu di bandara Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.

Tiba di sini agak telat karena hujan yang membasahi jalanan, om mobil gocar, saya lebih senang menyebutnya seperti itu, membawa saya tiba sekitar sejam lebih awal. Ada om Lias, adik Ibu yang bekerja di Makassar, dua adik saya yang kebetulan ada di Makassar, dan juga si Rahmat, teman kerja di Pare yang ikut semangat mengantar hari ini, meski nyatanya ia datang untuk mengambil barang titipan yang tertinggal di Pare minggu lalu. Rahmat ini adalah mahasiswa penerima beasiswa LPDP, yang seminggu lagi akan berangkat ke Australia, yang akan menjadikan dirinya satu di antara sekian banyak mahasiswa international dari Indonesia di Melbourne University.

Di dalam pesawat mulai ramai dengan penumpang yang berjalan menuju kursinya, saya mendapat tempat duduk di dekat lorong, jadinya hanya bisa melihat dari jauh jendela pesawat yang masih cerah meski hujan cukup deras di luar sana. Ah, terbayang sudah perjalanan yang akan teringat selamanya ini, mendarat dan merasakan sensasi di luar negeri, walau sudah jelas bagaimana keadaan di daerah barat Australia yang tidak semewah di daerah selatan dan ibukotanya. Lebih mirip gurun katanya namun tetap saja bagian dari Australia, salah satu negara maju di dunia.

(more…)

Hilangnya Chelsi

Posted: January 3, 2018 in Uncategorized

Kepergian adalah sesuatu yang pasti. Apakah kita ditinggalkan atau pun meninggalkan.

Hidup ini baik-baik saja, selalu itu yang diharapkan. Saya pun demikian. Ketika meminta dalam doa, setidaknya berikan saya kemudahan dalam menghabiskan waktu setiap hari tanpa ada masalah yang saya pikirkan dalam tidur.

Dulu pernah sekali Emak bilang, hidup tanpa masalah tidak asyik soalnya hidup akan mulus-mulus saja. Saya pun berpikir demikian. Di rantauan jauh dari pulau Sumatera, telpon yang sering berdering selalu mengingatkan untuk tetap menghadapi masalah apapun itu. Kalau ia sulit, masalah itu mungkin hanya membutuhkan sedikit perhatian lebih. Mungkin ia sejenis makhluk yang kurang perhatian. Mirip dengan saya kayaknya ini. Tapi setelah dihadapi akan terlihat bahwa ia lebih mudah. Kalau test IELTS itu diperhatikan, dipersiapkan dan dipelajari terus menerus saja, tanpa pernah dihadapi, yakinlah kita tidak akan tahu bahwa sebenarnya ia tak seseram yang kita pikirkan. Ada sih yang mendapatinya lebih seram dari yang dia bayangkan. Tapi intinya, hadapi saja dulu, nanti akan ditunjukkan kemana arahnya. (more…)

Pengalaman Pertama di Rantau

Posted: September 7, 2017 in Uncategorized

The Last Paradise in The World (Surga Terakhir di Dunia) menjadi semboyan provinsi yang terletak di bagian selatan Indonesia ini. Apakah memang di sini ada surga? Mungkin nanti akan terjawab seiring waktu berjalan, begitulah selalu katanya, waktu akan menjawab semua, bahkan untuk sesuatu yang tidak sempat untuk kita tanyakan.

Jalan Menuju Jalan

Setelah kurang lebih satu jam mengudara, sekitar pukul 08.30 waktu setempat, pesawat berhasil parkir manis di sisi selatan bandara. Kami berdiri, turun sendiri dan berlari menuju menuju bus shuttle yang telah mengantri. Berdiri bergelantungan menatap bapak-bapak dan ibu yang tak satupun berkata-kata. Kami segera menuju tempat pengambilan barang bagasi, berharap-harap cemas dengan keadaan si Ransel yang tadi sempat di PHP, sudah berharap masuk kabin tapi nyatanya masuk di bagasi.  Beberapa menit menunggu akhirnya tas saya pun terlihat, tak ada yang perlu dikhawatirkan, semua lengkap dan tak lecet sedikitpun. Si tas kayaknya berhasil survive.

Sesuai rencana dan strategi perjalanan dadakan yang sempat tersusun di RS kemarin, kami akan menggunakan moda transportasi motor dari Bandara menuju tempat pelatihan Kak Angga, menyusuri jalan Bypass tembus ke Tol Laut, berkendara di atas laut si ransel akan duduk manis di depan saya, kak angga memangku kopernya dibelakang, angin membawa kenangan masa lalu mengusap-ngusap manja mukanya kak Angga, lalu kami menyusur jalan raya, masuk gang-gang mencari indekos. Kami mencoba menghubungi penyedia jasa sewa (selanjutnya kami sebut Abang Motor) yang sempat kami telepon dua hari lalu, namun belum juga diangkat. Sambil menunggu kami menikmati roti dan teh kotak yang sempat kami bawa dari Makassar, sembari menikmati pemandangan depan mata.  

(more…)

Merantau

Posted: September 6, 2017 in Uncategorized
Tags:

Subuh ini setelah shalat berjamaah dengan kak Angga, kami menembus sunyinya jalan kota Makassar menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Saya duduk depan tapi bukan di belakang kemudi. Tepat di kursi belakang saya, ada kak angga, istrinya di samping kanannya tepat di belakang supir dan anaknya duduk di antara mereka yang tetap sibuk berceloteh.  Si supir yang seumuran saya masih terlihat kantuk, air bekas cuci mukanya pun masih segar terlihat bergelayut di ujung rambut tepi wajahnya. Dengan leluasa ia mencari saluran radio di tape mobilnya. A way back into love pun mengiringi kepergian di subuh yang beku, bersusulan lagu lawas lainnya yang jadi pilihan di Radio Delta FM.  

Di perjalanan kami memastikan tiket yang sudah dipesan. Dan ternyata tiket elektronik kak angga tidak dapat diakses di aplikasi whatsapp nya. Tiketnya dikirim dari kakaknya beberapa hari lalu. Handphone yang sudah teresetpun jd penyebabnya. Sempat ingin mencari file screenshotnya, tapi untungnya kakak iparnya sigap mengangkat telepon dan mengkonfirmasi akan mengirimkan ulang tiketnya. Jadi akhirnya masalahpun beres. 

Dalam sisa perjalanan hanya banyak diam beku tanpa suara, sesekali sang istri bertanya hal-hal remeh temeh untuk mencairkan suasana. Saya..menyanyikan lagunya kerispatih hingga tetangga mobilpun jadi terenyuh mendengarnya..haha, itu hanya khayalan saya. Nyatanya saya hanya diam agar bisa tetap menjala solidaritas. 

30 Menit lamanya membela ruas poros utama akhirnya sampai juga. Mobil menepi di sisi jalur keberangkatan, sigap kami menurunkan barang dan berjalan mengular di pemeriksaan masuk. Check in pun demikian dengan antrian panjangnya, kamipun menunggu cukup lama sekitar 20 menitan. Saat check in tas ransel saya terindikasi kelebihan muatan alias overload, akhirnya ia harus masuk bagasi. Mudah mudahan tas yang sudah usur itu bisa bertahan dengan perlakuan pegawai bagasi, soalnya dari video yang pernah saya lihat perlakuan mereka memang kasar. Kasian si ranselLaptop dan berkas saya pindahkan ke totebag yang sudah saya siapkan.  Setelah kak Anggapun selesai check in, kami kembali keluar untuk pamit dengan istri dan anak kak Angga. Suasana perpisahan yang kental trrlihat dari peluk sayang dan cium mereka. Baik-baik yah, katanya. Bayangkan saja bagaimana percakapannya yah. 

Kami pun menuju Gate 4, dan tepat pukul 06.15 kami sudah masuk pesawat.  10 menit kemudian peawatpun take off. Selamat tinggal sementara Makassar.  Kami merantau dulu sejenak.

Sepotong Cinta dari Lae-Lae

Posted: March 5, 2016 in Uncategorized

Eh, sampai miki? Cepatnya dih. Belum pi ki sempat upload foto di facebook sampe mi orang! gerutu salah seorang penumpang kapal peyebrangan pulau Lae-Lae. “Memang dek, kalau tidak kencang ji ombak biasa 5-10 menit ji. Tapi kalau lagi jelek cuaca paling lama 15 menit” sang juru kemudi kapal menimpali dengan cepat. Suasana pulau yang berada sangat dekat dengan kota Makassar ini mulai terlihat jelas saat kapal mulai menepi ke bibir pantai. Deburan ombak menerpa jejeran perahu yang terparkir di sepanjang tepian pantai. Sebuah gerbang melengkung menyambut kami tepat di tepi dermaga, menyampaikan ucapan selamat datang di pulau Lae-Lae, salah satu pulau yang memiliki suasana sunset terindah dan akan selalu dirindukan.

20160220_083025

Suasana Dermaga Pulau Lae-Lae

(more…)

Sudut Kisah di Kota Daeng

Posted: January 28, 2016 in Uncategorized

Hidup di kota besar tak selamanya menawarkan kebahagiaan dan kesenangan. Seperti roda-roda yang terus berputar, kehidupan terkadang akan berada pada level terendah dalam perjalanan hidup. Namun selama usaha tetap ada, maka hidup akan tetap bertahan hingga mentari terbenam di ufuk barat.

DSC_0024_1

Beranjak di pagi hari dengan sejuta harap akan usaha yang berbuah hasil yang memuaskan. Tak peduli dengan penat dan tak peduli dengan hiruk pikuk kota yang semakin hari tak bersahabat. Jarak terbentang pun mungkin tak terasa lagi. Yang terpenting adalah waktu yang harus dimaksimalkan untuk mencari nafkah (more…)