Patung Kangguru di salah satu taman di pusat kota Perth.

“Iya, memang Kangguru itu hewan nasional di Australia, tapi kami juga makan kangguru, dan saya waktu kecil pernah punya kangguru sebagai hewan peliharaan di rumah” cerita seorang guru yang pernah mengantar saya ke sekolah. Mungkin kita yang ada di Indonesia tahunya kangguru itu hewan asli Australia yang tentunya mendapat perlakuan spesial, tapi ternyata kangguru itu sama sekali tidak spesial di sini.

Sebelum saya lanjut cerita, saya mau berbagi pengetahuan dulu bagi mereka yang belum tahu, nama Kangguru jika dilihat dalam kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata ia bukan penulisan yang benar, menurt KBBI yang benar itu Kanguru, berikut kutipan yang saya peroleh dari KBBI versi online: Read the rest of this entry »

Advertisements

Selama berada di Geraldton, saya banyak melihat perbedaan antara sikap dan perilaku seorang anak dan perlakuan yang didapatkan oleh anak kecil di sini jika dibandingkan di kampung halaman saya.

Anak-anak merupakan makhluk lucu-lucu nan menggemaskan yang selalu membuat situasi jadi tak menentu. Terkadang kehadirannya begitu diharapkan, tapi tak jarang keberadaanya menjadi masalah yang tak dirindukan. Yang pasti dimanapun berada, anak kecil selalu mendapat perlakuan istimewa, tak terkecuali di negara-negara maju. Tulisan ini akan melihat seperti apa perlakuan yang diberikan terhadap anak-anak dan bagaimana sifat dan kelakuan anak-anak yang sering saya temui. Read the rest of this entry »

Disclaimer: Sebenanya tulisan ini ditujukan untuk Language Assistant berikutnya,tapi belum tepat waktunya dipublish di blog LAP jadinya nebeng disini dulu.

Pada liburan musim dingin, tepatnya bulan Juli, pengumuman tentang pengurusan Tax-Return akan mulai masuk di email. Tax-Return adalah pembayaran uang pajak dari penghasilan yang diperoleh. Jadi saat gaji kita dibayarkan, ada pajak yang dikenakan, sekitar $200-an jumlahnya setiap kali terima gaji. Dari pajak itu akan dikumpulkan dan akan dibayarkan/diberikan kembali melalui proses Tax-Return ini pada bulan Juli untuk periode Juli tahun lalu sampai Juni tahun ini. Jadi uang pajak yang kita akan klaim adalah uang dari pembayaran gaji kita dari bulan Januari sampai Juni saja, sedangkan untuk gaji dari bulan Juli sampai Desember, nanti baru bisa diklaim tahun depan pada bulan Juli juga. Pengumuman ini dapat dicek juga di akun HRMIS masing-masing.

Untuk melakukan klaim atau lodge tax-return tersebut, bisa dilakukan secara online atau menggunakan agen. Dengar-dengar beberapa LA tahun sebelumnya menggunakan agen, tapi saya dan beberapa teman melakukan sendiri secara online dan prosesnya tidak terlalu sulit. Setelah membuat akun di MyGov (jika belum silahkan buat dulu, caranya sangat mudah, sama dengan pendaftaran media sosial saja, siapkan saja alamat surel/email, nomor telepon aktif, dan beberapa secret question/pertanyaan untuk verifikasi yang harus diberikan jawabannya saat login pertama kali). Setelah memiliki akun MyGov, silahkan login dan masuk ke Tab Services, seperti tampilan di bawah ini:

Read the rest of this entry »

Berusahalah, Selalu!

Posted: July 20, 2018 in Uncategorized

“Hidup tiada mungkin, tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan, mulia adanya”

Kalimat tersebut adalah lirik lagu yang dulu selalu terngiang saat pentas seni kegiatan perkemahan diadakan. Hampir-hampir semua kegiatan yang berupa paduan suara akan menempatkan lagu ini sebagai lagu wajib, yang mau tak mau mengharuskan peserta menguasai dengan baik setiap nada-nada dan iramanya, bahkan beberapa menambahkan variasi nada khusus yang menjadikannya terdengar lebih indah lagi. Saya bukan salah satu dari kelompok paduan suara yang siap selalu bernyanyi, tapi keterlibatan saya sebagai anggota regu Organisasi Kepramukaan di sekolah tentu membuat saya hafal dengan baik lagu tersebut.

Saya sangat antusias dengan kegiatan Pramuka bahkan sejak saya SD. Menjadi kegiatan yang sarat kegiatan fisik dan menguji daya tahan tubuh menjadikan Pramuka sebuah pilihan terbaik bagi mereka yang ingin aktif dalam hal positif. Bukan hanya baris berbaris, menyusur sungai dan mendaki gunung hampir kami lakukan setiap bulan, belum lagi kegiatan perkemahan sabtu-minggu dan perkemahan akbar yang digelar sekali setahun, semua kalau memungkinkan pasti akan diikuti. Saat itu satu-satunya kendala yang selalu menghambat adalah permohonan izin dari pihak sekolah. Yah, terkadang jadwal kegiatan yang bertepatan dengan hari sekolah mengharuskan kami berusaha mati-matian meyakinkan pihak sekolah agar tetap memberikan izin mengikuti kegiatan. Jika tak kunjung mendapatkan persetujuan, tak jarang teman-teman sepakat ‘bolos’ bersama hanya untuk bisa ikut dalam sebuah kegiatan.

Terlihat sedikit nakal juga waktu itu, namun jika melihat kembali apa yang kini bisa dikenang dari kegiatan pramuka, tak ada sedikitpun sesal yang muncul. Bagaimana tidak, dengan tempaan rasa disiplin, kemandirian, kesetiakawanan, kecintaan terhadap alam dan lingkungan menjadikan mereka yang pernah menjadi anak pramuka merasa manfaat yang berarti dalam hidup mereka. Saya tak berbicara dengan asumsi semata, tapi begitulah adanya, setidaknya jika orang-orang yang pernah mengenyam asam garam berkegiatan di alam bebas dan berorganisasi di kepramukaan, tak akan mudah bagi mereka menyerah dengan keadaan.

Saya sendiri merasakan hal tersebut, menjadi terbiasa dengan hidup mandiri karena sering ikut perkemahan, terbiasa hidup sederhana karena sering tidur beralaskan tikar di tenda, bahkan terbiasa makan seadanya karena sering makan telur dan indomie rasa ‘hambar‘ di setiap perkemahan. Sungguh setelah kesusahan akan ada kemudahan. Selain terbiasa dengan itu, saya juga jadi sering bereksperimen dengan berbagai hal, mencoba mengeksplorasi tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi, atau berani melakukan apa yang belum pernah atau belum sempat saya lakukan.

Selama berada di Ausi pun saya sangat sering mencoba-coba sesuatu. Terkadang membeli makanan atau produk baru yang ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah, tidak habis dikonsumsi karena rasanya yang aneh atau tidak cocok dengan selera saya yang suka rasa asin dan pedas. Belum lagi dengan aneka masakan hasil kreasi saya dari melihat resep-resep yang berseliweran di sosial media, atau resep dari orang tua di kampung, yang berakhir dengan bentuk menyeramkan atau rasa yang diluar perkiraan. Semua itu seakan menjadi pengalaman yang tentunya takkan bisa saya dapatkan jika tidak berani untuk mengambil risiko, tak berani untuk mencoba. Setidaknya dengan begitu rasa penasaran saya dapat terjawab dan saya tak harus ragu lagi mengakui bahwa saya bisa atau tidak bisa memasak makanan tersebut.

Jika saya hitung-hitung lumayan banyak resep masakan yang telah berhasil saya coba di negeri Kangguru ini. Bakwan adalah produk pertama saya. Setelah berhasil menemukan adanya sayur kol, sayapun membuatnya dengan campuran terigu tanpa ada takaran, hasilnya pun tak mengecewakan. Juga saya berhasil membuat perkedel jagung beberapa bulan lalu, meski rasanya belum terlalu pas, namun kata guru yang mencoba, perkedel tersebut rasanya sangat enak. Pun begitu dengan sambal tomat tumis yang menjadi pilihan percobaan saya setelah mendapati banyak tomat dan lombok yang diberikan seorang teman guru di sekolah, rasanya tak kalah enak buatan mereka yang di kampung nan jauh sana. Saya bahkan sempat berhasil membuat bakso dari campuran daging giling dan tepung tapioka, meski bentuk dan rasanya lebih mirip siomay, namun setidaknya bisa mengobati rasa rindu akan makanan berkuah tersebut.

Terkadang pula hasil dari masak-memasak saya tidak sesuai hasil jika bahan-bahan yang dibutuhkan tak begitu lengkap saya dapatkan. Sebutlah proses membuat pisang goreng Peppe‘ yang merupakan penganan atau olahan pisang muda goreng yang gurih dan renyah karena digeprek dan digoreng lagi. Meski telah berhasil mendapatkan pisang berwarna hijau yang menandakan pisang yang masih muda, namun ternyata jenis pisang yang berbeda dan kesegaran pisang yang mengecewakan karena ternyata sudah lama dipetik, membuat rasa dan tekstur gorengan tersebut tak begitu memuaskan, alih-alih mendapatkan rasa gurih dan renyah, malah manis dan empuk yang didapatkan. Tak berbeda jauh dari percobaan saya membuat Sarabba, minuman jahe tradisional, yang rasanya justru terasa aneh dengan pedas yang sepat dan pahit. Saya tak tahu pasti apakah gula merah yang bentuknya memang aneh, ataukah takaran kurang tepat dari jahe super mahal (jahe benar-benar mahal disini, bisa mencapai 400 ribu rupiah satu kilo) yang saya gunakan.

Juga begitu saat saya mencoba membuat kue donut dengan resep dari hasil berguru pada ibu tersayang. Dengan merasa bahwa bahan berupa terigu yang telah tercampur pengembang akan menghasilkan adonan yang sama dengan terigu yang diberi ragi pengembang, saya membuat donat dalam jumlah yang tak sedikit. Bukan sengaja membuat dalam porsi besar, namun karena campuran adonan yang begitu lembek, mengharuskan saya menambah tepung lagi dan lagi hingga akhirnya hampir satu bungkus terigu berat satu kilogram habis tercampur. Tak tanggung-tanggung ada 20 lebih biji donat yang saya hasilkan. Setelah matang dan diberi pelengkap meses coklat memang kue donat saya masih lumayan enak tuk dinikmati, tapi jika dibandingkan dengan donat yang sering dibuat ibu di kantin, maka akan sangat-sangat jauh berbeda kelembutan dan tekstur rotinya.

Tapi dari pengalaman itu semua, saya bisa belajar banyak hal, salah satunya dengan tidak asal-asalan dalam takaran bahan yang digunakan dan selalu menggunakan bahan dan petunjuk yang disebutkan di resep yang ikuti, jika tidak maka jangan harap hasilnya pun akan sama. Mungkin sama halnya dengan hidup ini, terkadang kita mengeluh dengan hidup yang kita jalani, bahkan terkadang berharap bisa sukses seperti orang-orang yang sedang berlimpah rejeki, padahal memiliki daya juang seperti orang sukses atau mengerjakan apa yang orang-orang tersebut kerjakan kita masuk tidak mau. Jika berharap tumbuh padi, maka tanamlah padi. Semoga bermanfaat.

senja

“Bersama dalam kebahagiaan tanpa kebohongan”

Baru-baru ini notifikasi akun sosial media saya tiba-tiba ramai dengan pemberitahuan komentar di sebuah postingan status yang saya komentari malam kemarin. Dari postingan seorang teman lama yang tiba-tiba menampilkan foto dirinya dan pasangannya di media sosial facebook, sayapun mendapatkan notifikasi dari banyaknya komentar yang muncul. Hubungan mereka memang tak terlalu mengumbar kemesraan di dunia maya, bahkan sangat jarang sekali mereka menampakkan hal tersebut. Dan begitu hal tersebut tiba-tiba muncul, seakan memberikan sinyal bahwa mereka sudah siap ‘go public‘ hingga berbagai komentar pun bermunculan di postingan tersebut.

Awalnya tak ada komentar yang aneh, banyak yang menggoda dan mengujarkan kegembiraan, ada yang menyarankan untuk segera menikah dan tak jarang pula yang bijak mendoakan, rasanya suasana di komentar berantai tersebut menunjukkan kebahagiaan dan restu untuk mereka.  Tapi tiba-tiba kebahagian itu terasa sedikit terusik, ada sebuah komentar yang awalnya saya pikir sekedar bercanda, namun komentar yang muncul tidak sekali-dua kali saja, membuat saya menarik kesimpulan sendiri, ada cinta segitiga yang terjadi disana, dan tentunya bakal ada hati yang harus tersakiti.

Read the rest of this entry »

Wah, rasanya baru kemarin tiba di Ausi, tau-tau sudah satu semester terlewati. Sudah setengah jalan menuju akhir program asisten bahasa yang saya ikuti. Dan hari ini saya akan berbagi cerita tentang bagaimana keseharian saya selama menjadi Language Assistent atau LA kurang lebih 5 bulan terakhir. Saya bekerja sebagai asisten guru Bahasa Indonesia di dua sekolah setingkat SD dan satu sekolah setingkat SMP. Jadi sebenarnya tugas saya tidak terlalu sulit, yah namanya juga asisten, tapi karena berada di lingkungan yang sangat berbeda, proses menyesuaikan diri, baik itu budaya dan kebiasaan di Ausi membuat pekerjaan saya terasa sedikit menantang.

Saya biasanya bangun sebelum pukul 6 pagi, mungkin saat jam telah menunjukkan angka 5. Setelah melaksanakan kewajiban sebagai muslim, saya harus buru-buru ke dapur. Karena di sekolah kebanyakan staf dan guru membawa makanan sendiri, jadilah pagi hari saya terisi dengan kerusuhan mempersiapkan bekal makanan tuk dibawa ke sekolah. Yah, meski sudah sering masak-masak sendiri, tepatnya ‘bereksperimen‘ dengan bahan makanan yang tersedia di dapur, saya pun masih sering kebingungan mempersiapkan menu apa yang tepat untuk dua kali makan di sekolah nantinya.

Di semua sekolah yang saya tempati, ada dua waktu istirahat, walau waktunya tidak persis sama, semuanya berdurasi 30 menit lamanya. Sebagai contoh di Waggrakine PS, istirahat yang pertama atau disebut juga reses time. sekitar pukul 10.55 hingga pukul 11.25 sedangkan yang kedua atau lunch time, tepat dimulai 1.30 sampai pukul 2 siang. Sedangkan di Wandina PS, istirahat kedua berakhir 1.35 siang, 25 menit lebih cepat.

Read the rest of this entry »

Term adalah salah satu istilah yang digunakan di Australia Barat untuk menandakan durasi waktu. Sistem pendidikan di sini membagi waktu sekolah ke dalam empat term selama setahun. Tiap term memiliki 9 sampai 10 minggu aktif untuk proses akademik dan non-akademik. Setiap selesai satu term, akan ada libur sekolah selama dua minggu.

Setiap sekolah mendapatkan 4 hari untuk melakukan pelatihan yang disebut juga Professional Development (PD) sepanjang tahun, biasanya di awal term, pada hari pertama. Jadi setiap term akan ada satu hari untuk PD yang dihadiri hampir semua guru. Setiap PD akan memberikan materi yang terkait proses pengajaran secara general tuk semua bidang ilmu, misalnya strategi menghadapi siswa yang berkebutuhan khusus atau latihan pengolahan data hasil belajar.

Karena semua guru yang ada di sekolah akan mengikuti PD yang biasanya berlangsung sepanjang hari hingga pukul tiga, murid-murid akan diliburkan pada hari tersebut. Meski begitu, terkadang ada sekolah yang tidak melakukan PD pada hari pertama, tapi di hari terakhir sekolah, jadinya ada beberapa sekolah yang tetap memiliki murid-murid di kelas pada hari pertama sekolah.

Saya sendiri belum pernah sama sekali mengikuti PD awal term di sekolah tempat tugas saya, karena jadwal saya yang tidak berada di sekolah tersebut saat PD dilaksanakan, tapi untungnya pada Term ketiga ini, hari pertama saya diikutkan Professional Development ditingkat propinsi khusus untuk guru-guru pengajar Bahasa se Western Australia. Tentunya sebuah kesempatan yang bisa menambah pengalaman berharga sebagai calon pengajar bahasa professional, sekaligus menjawab rada penasaran tentang PD tersebut.

Beberapa bulan sebelumnya saya telah mendaftarkan diri secara online melalui portal dinas pendidikan Australia, dan syukurnya masih ada tempat kosong yang tersedia. Jadilah saya berangkat Perth dengan biaya tiket bus PP dibayarkan oleh pihak sekolah. Sebenarnya ada banyak Professional Development yang ditawarkan di portal, dan sebagai pegawai pemerintah, maka saya juga berhak mengikuti yang sesuai dengan bidang saya dan benar-benar dibutuhkan. Tapi semua harus diusulkan terlebih dulu ke pihak sekolah, jika kepala sekolah mengizinkan maka tak ada masalah.

Gerbang masuk Tempat PD, Wiletton SHS

Saya menghadiri PD di Willetton Senior High School di Canning, sebuah sekolah yang sering menjadi tuan rumah untuk PD yang terkait bahasa. Sekolah ini memiliki satu department khusus Bahasa di Sekolah yang mengajarkan hampir semua bahasa asing yang dimandatkan di kurikulum pendidikan di Western Australia, seperti Bahasa Mandarin, Italia juga Prancis.

 

Kegiatan yang dihadiri hampir 200 peserta dari beberapa wilayah di WA tersebut di bagi kedalam dua kegiatan utama, konferensi atau presentasi umum dari pihak kantor multikultural studi dan pihak Pengembang Kurikulum Pendidikan terkait Bahasa, dan juga Diskusi Grup dimana semua peserta akan dibagi ke dalam kelompok berdasar level sekolah dan bahasa yang diajarkan.

Seperti lazimnya sebuah pelatihan, akan ada registrasi sebelum acara dimulai. Tanda tangan daftar nama di atas meja yang disediakan, lalu panitia akan memberikan sertifikat kegiatan yang namanya belum dituliskan, beberapa bundel kertas terkait kegiatan dan materi.

Begitu masuk ruangan, peserta ditawari untuk menikmati segelas kopi atau coklat hangat sambil menunggu kegiatan dimulai, dan tepat pukul 9 pagi acarapun dimulai. Acara pertama adalah sambutan, dengan cara khusus tuan rumah memberikan hadiah kepada peserta yang berasal dari daerah paling jauh, setelah itu ada beberapa undian hadiah lagi bagi mereka yang hadir pada pertama kali kegiatan ini dilaksanakan yakni pada delapan tahun lalu.

Acara utamapun dimulai dengan presentasi tentang angka-angka yang berasal dari hasil survei tentang kondisi demografi khususnya bahasa yang digunakan di Australia Barat dan perbandingannya dengan wilayah sekolah sebagai contoh konkrit. Banyak informasi penting dan krusial yang dipaparkan tentang perubahan jumlah penduduk dan semakin bervariasinya budaya dan bahasa yang ada.

Materi presentasi yang memaparkan data hasil survey.

Setelah istirahat dan menikmati aneka kue dan minuman hangat buatan siswa Willetton SHS, presentasi keduapun dimulai. Pemateri merupakan orang-orang yang bertanggung jawab dengan system penilaian berdasarkan standar kurikulum di Australia Barat. Pemaparan di sesi tersebut terlihat sangat praktikal dan terkait erat dengan proses belajar mengajar. Dan yang mengesankan adalah fakta-fakta terkait implementasi kurikulum. Banyak pertanyaan dan diskusi yang terjadi di akhir presentasi, bahkan beberapa penanya tidak sempat terakomodir.

 

Setelah satu jam berlalu, makan siangpun telah siap menanti. Ada dua jenis makanan tersaji dalam kotak plastik siap makan. Saya memilih nasi kuning yang begitu menggoda dengan kari ayam dan telur rebus sebagai pelengkapnya. Para peserta terlihat berkeliaran mencari tempat duduk di berbagai sudut yang memungkin tuk duduk dan menikmati makan siang.

Makan siang yang sangat nikmat terasa.

Pada pukul 1.30 siang kegiatan terakhirpun dimulai. Saya masuk di kelas Bahasa Indonesia, dan menemukan diri saya saja yang seorang asisten, yang lain adalah guru-guru yang telah mengajar bahasa Indonesia dengan pengalaman yang beragam. Setelah duduk berkelompok, saya hanya berusaha berkontribusi semaksimal mungkin atas tugas kelompok yang diberikan, pak Alan yang telah 18 tahun mengajar bahasa Indonesia terlihat sangat antusias membahas tugas yang diberikan, juga begitu dengan Ibu Maria Mulyana yang tak kalah seniornya. Mereka pun menawarkan berbagai strategi menarik pada tugas akhir yang mengharuskan setiap kelompok memberikan solusi pengajaran untuk kelas yang memiliki dua tingkatan di dalamnya, seperti kelas yang siswanya terdiri dari kelas 4&5, tentu saja dari pengalaman bertahun-tahun, mereka lebih matang menyampaikan saran kegiatan yang pas. Apalah diri ini yang hanya bocah kemarin sore.

 

Acarapun ditutup dengan bersama-sama melihat dan mendengar solusi strategi yang ditawarkan dari berbagai kelompok. Dan saya merasa ini adalah sebuah kegiatan yang sangat positif terlebih lagi, semua yang hadir menempatkan diri sebagai orang yang ingin belajar lagi dan lagi, saya bahkan beberapa kali memberikan masukan ide dan saran dalam tugas dan terlihat jelas mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan mendiskusikan pendapat yang sama. Betul-betul saya merasakan penghargaan di tempat ini, tak ada perbedaan yang ditonjolkan.

Itulah pengalaman pertama mengikuti Language Big Day Out, acara tahunan sebagai salah satu Professional Development yang bisa diikuti di awal term. Mudahan-mudahan ada manfaat untuk pembaca.

Terlalu naive rasanya membahas berbagai hal tentang sebuah kota tanpa membahas moda transportasinya. Sebagai pengguna moda transportasi massal di kota besar salah satu negara maju di dunia ini, saya merasakan banyak sekali perbedaan, yang tentunya tidak ada, bahkan jarang ditemukan di negara asal saya, Indonesia tercinta.

Disclaimer: Tulisan ini dituliskan dengan gaya tulisan yang sedikit berbeda, kata-kata yang disusun sedikit ‘anu’.

Selama bermukim dan beraktivitas sementara di Western Australia, entah itu di kota Geraldton ataupun di kota Perth dan sekitarnya, saya banyak melakukan perjalanan dengan kendaraan umum yang tersedia, seperti bus atau kereta, dan seingat saya hanya sekali saya menggunakan taksi, itupun karena diajak oleh guru mentor saya, pun begitu dengan moda transportasi online Uber, baru sekali dan itupun ikut dengan teman yang pesan.

Selama perjalanan bersama mereka, sang roda-roda yang berputar itu, ada banyak perbedaan yang saya rasakan, dan mungkin juga mereka rasakan, tapi biarlah rasa ini terpendam dalam dada. Untuk mengobati rasa penasaran, saya akan berbagai tentang keadaan perjalanan menggunakan kendaraan umum di sini (Perth dan Geraldton) dan yang membedakannya dari kampung halaman.

Yang pertama adalah masalah waktu. Sejak teknologi telah bersahabat sangat baik dengan urusan-urusan publik, negara-negara maju semakin memanjakan penduduknya, tak terkecuali di Australia. Hampir semua jadwal perjalanan kereta dan bus sudah terintegrasi dengan baik dengan aplikasi peta di telepon pintar yang dimiliki hampir semua orang. Sebutkan saja alamatnya, maka sang om Google Maps akan dengan lincahnya memberikan rute terbaik. Untuk perjalanan dengan menggunakan moda angkutan umum, biasanya telah muncul jenis kendaraan yang tersedia, pilihan jadwal keberangkatan yang ditawarkan dan perkiraan waktu tempuh hingga sampai di tujuan. Kurang apa lagi si Om Gugel ini, sudah lengkap sekali tawaran yang diberikan, bahkan ia bisa disuruh-suruh juga, misalnya mengingatkan kita kapan harus berangkat, kapan bersiap untuk turun atau berhenti dimana, tapi sayang dia belum bisa menjawab pertanyaan “kapan nikah?”

Halte bus di WA

Dan silahkan percaya apa yang disampaikan oleh si Om Gugel Peta tersebut, karena yang diberikan adalah pilihan terbaik. Pernah sekali saya berjalan ke taman King’s Park, saya meminta tolong ke si Om untuk ditunjukkan jalan menuju spot pemandangan terdekat, dan beliau senang hati memberikannya, sayangnya saya tidak terlalu percaya, karena rute yang diberikan di peta terlihat sangat jauh untuk ditempuh, harus berputar dulu ke bundaran baru kembali ke tujuan. Karena agak lelah saat itu, saya memutuskan membuat rute sendiri, Dari peta yang ada di hape, saya menyusuri lahan yang terlihat kosong, terus berjalan sesuai arah di peta, dan akhirnya saya sadar, area tersebut tak bisa dilalui, pagar besi tak berduri dengan tanda larang, pohon yang tumbuh dengan semak yang tak bisa ditembus. dan akhirnya saya memutuskan tuk kembali ke jalan yang lurus, kembali ke tempat awal dan mulai perjalanan sesuai saran om Gugel yang selalu memberi dengan tulus.

Selain itu, ada pula si tante kartu pintar a.k.a smartrider, jadi smartrider ini merupakan alat pembayaran yang bisa digunakan di semua jaringan transportasi di wilayah Australia Barat. Jika tak memiliki kartu ini, kita tetap saja bisa menggunakan cash atau uang tunai untuk membeli tiket, tapi harga tiketnya akan lebih mahal dan lebih ribet tentunya.

Kartunya dapat dibeli seharga $10 dan setelah diisi dengan saldo semau kita, maka sudah bisa langsung digunakan. Bagusnya, setiap pembayaran dengan kartu akan dikenakan diskon 10%, lumayan kan. Untuk menikmati fitur lebih canggih lagi, sebaiknya dan seharusnya buatlah akun untuk mengelola kartu tersebut. Karena di akun bisa dilakukan pengaturan seperti pengisian otomatis saldo yang dapat meningkatkan diskon hingga 20%. Itu untuk penumpang umum, sedangkan untuk mahasiswa/pelajar dan lansia, mendapatkan potongan yang lebih banyak lagi, lebih murah lagi jadinya dan tentunya lebih nyaman, tinggal tempel saja di alat pemindai, kita bisa langsung naik dan duduk manis di atas bus atau kereta, bisa juga sambil senyum manis, siapa tahu ketemu jodoh, ya kan? Ingatlah, jodoh tak pernah kenal tempat, waktu dan suasana.

Berdasarkan pengalaman saya, sebelum bepergian, saya akan selalu mengecek terlebih dahulu peta, kemanapun itu, apalagi jika tempatnya baru. Setelah ada gambaran tentang dimana arah yang dituju, bagaimana dan apa yang ‘dinaiki’, saya lalu memutuskan untuk keluar dan memulai perjalanan. Dan untuk menghidari agar tidak terlihat kebingungan, apalagi seperti orang yang lagi kasmaran sama handphone, yaitu melihat handphone setiap saat karena takut posisi atau waktu yang salah, perhatikan saja jenis kendaraan yang digunakan, apakah bus atau kereta, terus perhatikan jam berapa dan dimana harus menunggu, lalu cek lagi peta pastikan bahwa anda tahu jalan menuju ke tempat menunggu bus atau kereta tersebut.

Jika naik bus, silahkan berdiri di tempat keberangkatan bus, baik berupa halte ataupun papan penanda halte, lalu lambaikan tangan. Ingat, lambaikan tangan ke bus nya, jangan ke cewek cantik yang lewat atau pesawat yang tiba-tiba melintas. Saya pernah dua kali tidak mendapatkan bus meskipun telah berada di halte, karena tidak melambaikan tangan. Yang pertama terjadi karena saya sibuk cerita dengan cowok berewok bernama Anwar Fadila, salah satu LA juga, jadi sudah di halte kita masih harus menunggu beberapa menit, saking bosannya kita bahas hal tidak penting, tapi semangat ceritanya, busnya tiba-tiba ada dihadapan kita dan tidak berhenti, lewat saja. Dan kita hanya bisa merelakan dia pergi🙄.

Yang kedua, saya juga sudah di halte, saya membaca tulisan jadwal kedatangan bus, tertulis di situ bus yang saya harus gunakan terjadwal 5.32, lantas saya melihat jam tangan digital saya, masih 5:31:55, dan begitu saya menurunkan tangan saya, sebuah bus melintas di samping saya. Saya yang memang posisinya lagi membelakangi arah datangnya si bus, akhirnya hanya bisa pasrah, meski sempat melambaikan tangan, tapi semua sudah terlambat, tak ada gunanya lagi. Jadilah saya berjalan selama 30 menit lamanya ke stasiun kereta.

Jika berjalan normal, setelah bus tiba, tunggu hingga pintu terbuka, jangan naik dulu kalau masih tertutup, tidak usah teriak untuk dibukakan, karena pasti akan terbuka otomatis. Setelah naik, silahkan beli karcis di Pak Supir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya, eh,,malah nyanyi, kalau tidak nyanyi mungkin kita tidak seumuran. Jika punya kartu pintar atau smartrider langsung tempel saja di mesin pemindai yang dipasang di tiang tepat di dekat pintu masuk. Setelah itu silahkan duduk, jangan lupa memberi salam basa basi pada si Supir, siapa tahu dia adalah jodoh yang baru sempat anda temukan. Sebagai catatan, yang kerja sebagai supir bus di Australia bukan hanya laki-laki, tapi juga kaum perempuan, bahkan kemarin saya bertemu dengan salah satu ibu supir yang cantik dan masih muda. Jadi jangan lupa berdoa, siapa tahu sudah saatnya jodoh bertemu.

Sebelum turun pastikan sudah mengecek kembali peta, pastikan bahwa anda berada di tempat yang tepat untuk turun ke bumi, eh salah, untuk turun dari bus. Silahkan pencet bel yang tersedia hampir di semua daerah yang terjangkau, usahakan pencet belnya dengan hati-hati, jangan sampai ada tangan orang lain yang juga menuju ke bel yang sama, apalagi setelah itu disusul dengan tatap-menatap yang bertabur bunga-bunga, jangan sampai yah, bahaya.

Setelah bus berhenti, barulah beranjak dari tempat duduk, dan berjalanlah menuju ke pintu keluar, biasanya akan dibukakan pintu keluar terdekat, dan jangan lupa tempelkan kartu pintar ke mesin pemindai agar biaya perjalanan bisa dipotong dari saldo, jika tidak ditempelkan, maka akan dikenakan biaya maksimal dari total perjalanan yang mungkin terjadi. So, jangan sampai lupa yah.

Stasiun Warwick, pintu masuk dan mesin penjualan tiket

Saat menggunakan bus dan kereta, maka saat turun nanti akan langsung ke stasiun, jadi langsung tersambung perjalanannya. Jika hanya menggunakan kereta, maka harus datang ke stasiun dulu, prosesnya akan sama, kita menggunakan kartu pintar atau membeli karcis. Di stasiun akan ada mesin untuk membeli tiket kereta dan juga isi ulang saldo kartu kita. Setelah menempelkan kartu maka jalan masuk akan terbuka. Silahkan menuju ke flatform tempat kereta akan diberangkatkan, perhatikan baik-baik kereta apa yang digunakan, dan di flatform berapa, karena salah tempat menunggu akan fatal, keretanya tidak akan muncul. Tapi tenang saja, hanya ada 2 stasiun yang memiliki banyak flatform di Perth, sisanya hanya ada dua, dari atau menuju Perth, jadi tidak mungkin salah naik kereta.

Suasana mencekam dalam kereta

Saat sedang menunggu usahakan jangan berhenti di tempat terlarang, biasanya di area setelah tangga dan di dekat rel kereta, ada cat warna kuning yang jadi penanda batas tersebut biasanya. Jika menggunakan eskalator atau tangga jalan, berdirilah disamping kiri jika ingin berhenti atau tidak bergerak, jangan di sisi kanan, karena sisi kanan akan digunakan orang-orang yang berjalan buru-buru. Saat kereta datang, berdirilah dekat pintu masuk, jangan di depan pintu menghalangi jalan keluar. Jadi biarkan dulu orang-orang keluar semua, baru kita masuk. Silahkan duduk atau berdiri di tempat yang disediakan.

Hal yang paling berbeda dari suasana di angkutan umum di Indonesia dan di sini adalah interaksi penumpangnya. Akan sangat kurang yang namanya interaksi sosial di kereta, pun juga di bus. Orang-orang akan saling menghormati privasi masing-masing, berusaha tidak menganggu yang lain. Ada yang mendengarkan musik dengan headset terpasang di telinga, membaca buku baik berupa novel atau sekedar ebook ringan di handphone mereka. Dan bahkan saya jarang melihat orang lain yang tidak saling kenal saling menyapa, tidak ada proses perkenalan basa basi tanyakan asal dari mana, tidak ada cerita merunut nama-nama kakek dan nenek buyut dan tak ada tawa-tawa renyah dari kebahagian saat tersadar bahwa ternyata mereka yang baru bertemu di bus atau kereta tersebut adalah saudara jauh sepupu beberapa kali, semua itu tak saya lihat di sini.

Suara yang terdengar di kereta akan berupa pengumuman saja, nama stasiun berikutnya dan peringatan bersiap-siap untuk turun. Jadi jika ingin menggunakan headset jangan lupa untuk tetap memperhatikan tulisan merah berjalan di tengah kereta yang akan menampilkan nama stasiun di perhentian berikutnya. Saat akan turun, berdirilah langsung dekat pintu keluar, jangan sampai kereta langsung tancap gas, dan kita baru berjalan cantik ke pintu. Untuk membuka pintu, pencet tombol buka di samping pintu, karena banyaknya pintu kereta, saat singgah hanya pintu yang dipencet sajayang terbuka, pastikan untuk tidak melamun saat berada di posisi ini, atau akan berlanjut lagi perjalanan ke stasiun selanjutnya.

Saat turun pastikan menggunakan cara yang sama, naik tangga jalan berdiri di posisi yang tepat dan jangan lupa kartunya digunakan di mesin pemindai.

Dari pengalaman singkat ini, saya bisa merasakan betapa peningkatan fasilitas dan pelayanan dari sistem transportasi massal bisa memberikan kenyamanan sehingga orang-orang bisa menikmati waktu mereka di perjalanan dan merasa tetap aman saat bepergian. Semoga bermanfaat.

Stand tempat penanda bus di stasiun

Sebagai ibu kota, Perth memiliki fasilitas yang sangat lengkap, bahkan di kota ini terdapat dua perpustakaan umum yang hanya berjarak sekira tak lebih dari 5 KM saja. Saat libur sekolah musim dingin, saya menyempatkan mengunjungi kedua perpustakaan terbesar di Australia Barat tersebut. Adalah Western Australia State Library atau Perpustakaan Propinsi Australia Barat (jika kita menyamakan tingkatan wilayah di Indonesia) dan Perth City Library atau Perpustakaan Kota Perth. Jadi secara ringkas, ada perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah propinsi dan pemerintah kota/kabupaten.

IMG_9880

Perpustakaan Wilayah/Propinsi Australia Barat

Yang pertama saya kunjungi adalah Perpustakaan Wilayah yang bagi saya merupakan perpustakaan terbesar yang pernah saya kunjungi selama ini. Lokasi yang berada sangat dekat dengan stasiun kereta membuat saya hanya membutuhkan waktu singkat untuk menemukan lokasi keberadaannya, di Kawasan Kebudayaan atau dikenal juga sebagai Cultural Centre Site, yang merupakan kawasan khusus untuk pengembangan kebudayaan, makanya di daerah ini terdapat sekaligus tiga museum yang sama-sama menjadi pusat pelestarian dan pengkajian seni tradisional dan modern yang ada di kota Perth.

 

 

IMG_3820

Tampak belakang gedung perpustakaan wilayah, sangat besar.

 

Dari depan sudah terlihat jelas betapa megah bangunan perpustakaan ini. Begitu melintasi pintu kaca besar, meja resepsionis telah siap menyambut kita,  pun begitu dengan beberapa petugas keamanan akan sigap membantu mereka yang kebingungan  atau ada hal yang mungkin akan ditanyakan. Meja resepsionisnya berbentuk lingkaran dengan kaca bening pembatas yang mengharuskan kita berdiri untuk berbicara dengan para petugasnya. Ada empat orang dalam lingkaran besar tersebut, terlihat jelas beberapa tulisan pembagian tugas mereka di kaca depan, seperti bagian informasi dan peminjaman buku.

Belum sempat menuju ke meja resepsionis, perhatian saya tiba-tiba tertuju dengan penanda sebuah pameran gratis yang berada tepat beberapa langkah dari pintu masuk, saya pun memutuskan berbelok ke arah yang ditunjukkan. Ternyata ada pameran peninggalan bersejarah dari koleksi museum yang ditempatkan di sini, mungkin karena museum lagi dalam masa renovasi jadi koleksinya dipamerkan saja disini. Tak begitu lama menikmati benda-benda yang dipamerkan, saya memilih keluar dan kembali berniat menuju ke meja resepsionis. Sebenarnya saya hanya ingin bertanya tempat khusus untuk mengakses komputer, tapi begitu mendekati meja resepsionis, papan petunjuk yang berukuran besar dan berwarna mencolok langsung menjawab pertanyaan saya, langkahpun terhenti dan saya berbelok arah. Saya bergegas melangkah meninggalkan area pintu masuk tersebut menuju ruang yang terlihat mirip area working zone.

IMG_1760

Working Area, tempat mengetik, menulis, mengerjakan tugas dan akses komputer.

Ruangan yang begitu luas di mulai dipadati orang-orang yang sibuk bermain komputer dan laptop. Untuk menuju ruangan besar raksasa tersebut, saya harus melewati sebuah ruang kaca kecil di sisi kiri yang menjual berbagai souvenir dan kenang-kenangan hasil kerjama sama dari pihak museum dan perpustakaan wilayah sedang di sisi kanan, ada penampakan lift yang tembus pandang bergerak menaikkan orang-orang ke lantai atas, nampaknya lift itu mengisyaratkan bahwa jalan menuju ruang baca ada di sisi seberang saya. Saya tak menghiraukannya dulu, bergegas mencari tempat yang pas untuk segera duduk.

 

Ruangan ini berisi beberapa perangkat komputer yang dapat diakses secara gratis, ada komputer yang dilengkapi kursi bagi mereka yang akan berlama-lama menggunakan komputer, namun juga ada beberapa perangkat komputer yang tidak dilengkapi kursi, namun mejanya diangkat lebih tinggi, jadi untuk mengaksesnya orang-orang harus berdiri, nampaknya ini diperuntukkan untuk mereka yang buru-buru atau hanya perlu menggunakan komputer untuk waktu singkat saja. Untuk menggunakan komputer yang ada kita harus memiliki kartu akses dari perpustakaan, biasanya akan diminta kartu identitas dan kemudian akan diberikan kartu perpustakaan, dan semua gratis. Saya yang hanya berkunjung dan iseng-iseng ingin mencoba layanan komputer pun dapat dengan mudah mendapatkan kartu akses tersebut.

Untuk setiap kali penggunaan komputer, dibatasi paling lama 20 menit saja untuk komputer yang berdiri (saya hanya sempat mencoba yang model berdiri ini), untuk masuk cukup mengetikkan nomor kartu akses dan kita sudah bisa berselancar dengan kecepatan internet yang lumayan kencang. Sayapun sempat mencoba mencetak satu lembar dokumen dan semua terlihat muda dan jelas dengan petunjuk yang tersedia di layar, jadi hanya perlu mengikuti instruksi saja. Sebenarnya sama dengan menggunakan komputer sendiri untuk mencetak dokumen, bedanya hasil cetakan kita tidak akan langsung keluar dari mesin cetak, jika belum di bayar lebih dahulu. Cara bayarnya dengan menggunakan uang virtual yang ada dalam kartu akses kita, jika belum ada isinya, maka harus diisi lebih dahulu di mesin pengisi saldo kartu akses, setelah terisi, kartu tersebut kita bawa ke mesin cetak/fotocopy lantas kita tinggal letakkan kartu kita, maka otomatis terdeteksi dokumen yang akan kita cetak, pastikan dokumen yang akan dicetak sudah benar, dan proses cetak akan segera dimulai setelah saldo kita dipotong secara otomatis. Untuk biaya cetak atau fotocopy dikenakan biaya mulai dari 20 sen hingga dua dollar perlembar tergantung ukuran dan hasil cetak warna atau hitam putih saja.

Untuk layanan wifi gratis yang disediakan, nampaknya masih mengecewakan untuk standar kecepatan dan daya muat halaman webnya. Setelah terhubung dengan jaringan wifi gratisnya, saya mencoba untuk melakukan browsing dan membuka beberapa laman, dan rupanya memang tidak sekencang jaringan wifi gratis di Perpustakaan Geraldton yang pernah saya ceritakan. Membuka halaman web saja setengah mati, apalagi untuk membuka video di saluran Youtube tentunya. Sayapun urung menjelajah dunia maya, dan memantapkan diri menjelajah dunia nyata saja dengan berkeliling perpustakaan.

Di ruangan besar ini ada berbagai jenis meja yang sangat nyaman untuk tempat mengetik ataupun mengerjakan tugas. Kebanyakan orang yang berlama-lama dengan komputer atau laptop mereka mengerjakan sesuatu terkait dengan tulis menulis dan membaca tentunya, seperti tugas kuliah dan bahkan di depan saya duduk tadi, ada seorang guru yang sedang memeriksa tugas kimia mahasiswanya.

Selain meja-meja khusus untuk mengetik dan menulis, ada juga beberapa sofa aneka bentuk yang sangat menarik dilengkapi dengan banyak colokan sehingga pengunjung dapat bersantai dengan nyaman sambil mengisi ulang baterai gawai yang lagi kosong atau hampir habis. Di ujung ruangan, terlihat di atas terdapat ruangan para staff perpustakaan yang ditandai dengan akses khusus di tangga naik yang hanya diperuntukkan untuk karyawan perpustakaan. Di bawahnya ada mesin cetak dan foto kopi, alat pemotong kertas dan mesin pengisi saldo kartu akses tadi. Semua terlihat dimanfaatkan dengan baik, hampir setiap saat terlihat orang silih berganti menggunakan fasilitas tersebut.

Di sudut-sudut ruangan lain di lantai dasar ini ada banyak ruangan kecil yang berfungsi berbeda-beda, ada yang menjadi sudut hiburan dan edukasi koleksi museum yang sedang dipamerkan kala itu, ada ruang belajar dan pertemuan grup-grup kecil di sampingnya berjejeran. Sedang di bagian tengah dari lantai satu adalah bagian penghubung berupa anak tangga yang berbentuk spiral melingkar ke atas dan dua buah elevator kapasitas besar di belakangnya. Selurus dari pintu masuk adalah pintu keluar ke jalan Francis, dimana sebenarnya Perpustakaan ini berada. Jika berjalan dari pintu masuk menuju pintu belakang tersebut, maka kita akan melintasi kafe disebelah kanan, dan setelah itu ada ruangan teather dan galery belakangnya, dimana toilet dan kamar kecilnya di sisi lain berhadapan dengan pintu masuk teater, hanya beberapa meter dari pintu keluar.

TempImage

Suasana Perpustakaan tampak dari lantai 1

 

Di lantai dua sampai lantai tiga semua adalah tempat koleksi buku berbagai jenis, tapi ada satu lantai yang diberi kode di tombol lift lantai M berisi koleksi buku dan alat permainan dan peraga untuk anak-anak, dari jauh sudah terlihat warna warni mencolok dan sangat menarik tentunya untuk anak-anak. Saya pun tak sempat masuk ke area tersebut, maklum umur saya sudah tidak tergolong ke dalam kategori tersebut.

Di lantai 1 terlihat lebih ramai dibanding lantai 3, dan hal tersebut mungkin dikarenakan pemandangan yang lebih indah dari lantai 1 ini. Dari sudut yang sejajar dengan pintu masuk di bawah, akan terlihat jelas pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang dengan Museum Kota Perth dan Museum Seni Modern berada tepat di hadapan, belum lagi beberapa penampilan yang sering diadakan di panggung terbuka di depan perpustakaan yang dapat terpantau jelas dari balik kaca bening di lantai satu ini. Pemandangan tersebut tidak dapat dinikmati di lantai 3 karena terhalang oleh bagian balkon gedung.

Koleksi buku di sini nampaknya sangat lengkap dan banyak, bahkan setiap lantai memiliki masing-masing genre khusus. Belum lagi dengan tersebarnya meja-meja dan colokan yang hampir ada di setiap sudut, menjadikan tempat ini sempurna untuk menghabiskan waktu bagi mereka yang ingin berkontemplasi penuh ketenangan, karena tak ada keributan yang bisa membuyarkan konsentrasi dan imajinasi yang mungkin muncul.

IMG_8622

Tampak Depan Perpustakaan Kota Perth

 

Selain perpustakaan wilayah, saya pun tak lupa mengunjungi perpustakaan kota Perth yang terletak di kawasan bersejarah, Historical Site, di Hay Street, sangat mudah menemukan tempat dengan aplikasi smartphone atau bertanya pada orang-orang yang sudah lama tinggal di Perth. Jika dibandingkan dengan perpustakaan wilayah, perpustakaan kota ini lebih modern dari segi desain dan tata letaknya. Berbentuk tabung menjulang tinggi, perpustakaan ini di tata sederhana namun sangat nyaman. Di lantai dasar ressepsionis dan petugas keamanan siap sedia di hadapan pintu masuk, sedang di sisi kanan setelah melewati pintu masuk ada kafe kecil yang menawarkan kenikmatan kopi atau minuman lainnya yang bisa menambah semangat jika terlalu lelah dengan bacaan atau tulisan yang sedang dikerjakan.

Tepat di belakang meja resepsionis ada beberapa meja komputer untuk mereka yang ingin terburu-buru atau menggunakan akses internet singkat, mungkin cara penggunaan komputer di perpustakaan kota sama saja dengan perpustakaan wilayah yaitu dengan mendapatkan kartu akses terlebih dahulu lalu masuk ke laman yang tersedia, sayangnya saya tidak sempat mencoba saat berkunjung ke tempat ini.

Di bagian belakang diujung lain lingkaran lantai dasar, di sebelah kanan tepat di belakang kafe ada akses tangga yang melingkar terus ke atas bak spiral, sedangkan di sebelah kiri dari tangga itu ada dua buah lift yang siap membawa pengunjung menjelajah hingga ke lantai lima perpustakaan. Di depan lift sudah tersedia papan petunjuk koleksi yang terdapat di setiap lantai, saya pun menuju ke lantai dua langsung dan mendapati bahwa di ruangan ini ada koleksi tentang sejarah, dan hanya ada meja baca dengan kondisi sangat tenang. Saya pun melihat ke bagian bawah dari sela-sela pembatas yang melingkar ditengah menyisahkan ruang kosong hingga terlihat lantai satu dengan meja dan sofa beserta orang-orang yang bermain laptop di bawah. Sayapun memilih untuk turun dan menyusuri tangga yang terletak di sisi lain dari lift yang tadi saya gunakan.

 

IMG_9897

Tampak dari Lantai 2 Suasana Perpustakaan di Kota Perth

 

Di lantai satu ini kita bisa melihat langi-langit puncak dari gedung perpustakaan. Jadi pada lantai dua hingga empat terdapat rongga di tengah-tengah, sehinga jika kita berada di lantai satu maka dapat dengan jelas melihat orang-orang yang membaca di lantai atas jika mereka duduk di sisi dalam dekat lingkaran pembatas. Terdapat lukisan di langit-langit putih yang terlihat sangat fenomenal dari sisi saya duduk sambil memainkan laptop. Saya duduk di bagian luar dari meja yang disusun melingkari di tengah-tengah gedung, meja-meja ini menyediakan masing-masing colokan dan lampu baca untuk setiap kursi yang ada. Sedangkan pada bagian dalam lingkaran terdapat sofa beserta meja kecil untuk mereka yang mau membaca dan bersantai saja di ruangan ini. Sebenarnya di setiap lantai ada area khusus berupa sofa untuk membaca buku ataukah surat kabar yang disediakan. Sayangnya pada perpustakaan ini tidak terdapat pemandangan langsung ke arah luar perpustakaan seperti yang ditawarkan pada perpustakaan wilayah. Padahal dengan lokasi yang cukup strategis, berada di antara bangunan bersejarah di sisi kanan dan belakangnya, pemandangan yang diberikan tentunya akan lebih memanjakan mata dibanding perpustakaan wilayah.

Itulah gambaran singkat tentang keadaan perpustakaan terbesar yang sempat saya kunjungi saat berada di Perth, jika ada kesempatan silahkan datang dan rasakan sendiri keindahan dan ketenangan yang ditawarkan oleh dua tempat tersebut.

Jika diibaratkan di Indonesia, maka Western Australia atau Australia Barat merupakan salah satu propinsi di Australia. Propinsi yang terkenal dengan wilayah yang kering dan nampak kecoklatan pada peta ini terletak sangat dekat dengan Indonesia. Tak heran jika banyak orang dari Australia Barat (WA) yang memilih untuk berlibur ke Indonesia, seperti ke Bali atau Lombok dan daerah lain di Jawa, ketimbang berlibur ke kota lain di Australia, seperti Sydney dan Canberra karena harga tiket pesawatnya lebih murah. Bahkan dengar-dengar banyak yang memilih untuk mengobati gigi mereka yang bermasalah ke Indonesia dibanding di Australia karena biaya tiket pesawat ke Indonesia ditambah biaya perawatan gigi mereka akan lebih murah berkali-kali lipat dibanding biaya perawatan gigi di Australia. Yah, masuk akal sih, secara perawatan gigi di Indonesia saja mahalnya luar biasa apalagi di negara bermata uang dollar, mereka juga bisa sekalian berlibur juga jadinya.

Kota terbesar yang ada di Australia Barat adalah Perth. Karena berperan sebagai ibu kota propinsi, kebanyakan pusat bisnis dan kantor-kantor perusahaan besar berkumpul di sini. Tak mengherankan juga mengapa banyak penduduk yang tinggal dan berkegiatan di sekitar pusat kota, bukan hanya penduduk lokal tapi para pendatang yang berasal dari berbagai negara, menetap dan bekerja di kota ini adalah pilihan dan juga kebutuhan mereka. Tak terkecuali masyarakat Muslim yang berasal dari berbagai negara di dunia.

Sependek pengalaman saya berada di kota ini, saya tidak hanya bertemu dengan saudara muslim dari negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura, tapi juga dari Timur Tengah, Turki, Iran, Afrika, bahkan Amerika dan negara-negara Eropa. Tapi tentu saja jumlahnya tak begitu banyak jika dbandingkan dengan jumlah pemeluk agama lain ataupun penganut paham Ateis yang tak memercayai adanya Tuhan. Karena tergolong kaum minoritas, fasilitas ibadah mereka  di kota ini pun tak begitu banyak, saya sendiri baru menemukan dua tempat khusus untuk umat Muslim beribadah di Kota Perth ini. Masjid Besar tertua di pusat kota dan sebuah Mushalla Kota yang ada di lantai dasar sebuah apartemen mewah di kawasan pusat bisnis. Read the rest of this entry »