Posts Tagged ‘ibu’

Takkan Terganti Selamanya (eps.2)

Posted: January 31, 2014 in cerpen, Rasa
Tags: , ,

Ibu duduk beralaskan lantai, dengan penuh iba aku tak sanggup melihat keadaan itu. Ia terduduk di depan orang tua itu, lalu ku tempatkan diriku duduk tepat di sampingnya. Ibu yang tadi begitu tegar melalui jalan yang berbatu, jalan yang asing dan jauh dari keramaian hanya untuk menemui orang pintar tersebut. Kini kami tepat di depan orang tua tersebut, ia sudah udzur, matanya tak lagi mampu melihat dengan jelas, Nampak jelas ia hanya mengenali orang-orang disekitarnya dari suaranya. Ibu mulai memohon dengan bahasa daerah yang kental dikarenakan orang tua itu hanya dapat mengerti bahasa daerah tersebut. Bukan permohonan biasa yang ibuku lakukan kali ini, aku melihatnya bermohon dengan penuh iba dan mengharap belas kasih, ia bahkan mencucurkan air matanya berharap sang orang pintar mau mengobati sakit yang ku derita. Hatiku penuh sesak dengan perasaan haru dan pilu, aku membuat ibuku menangis di depan orang tua yang terkenal pandai mengobati penyakit tumor ini. (more…)

Takkan Terganti Selamanya (eps.1)

Posted: January 28, 2014 in cerpen
Tags: ,

Hari ini merupakan perjalanan panjang bagiku, bukan dalam kontek konotasi namun lebih kepada denotasi nyata akan perjalanan panjang yang saya mulai pukul 04.00 dinihari hingga akhirnya tiba di kantin ini. Sebuah kantin SMA yang baru berumur lebih dari lima tahun ini merupakan istana kecil kami dulunya. Sebuah ruangan berdinding papan bersebelahan  tembok langsung dengan ruang kelas ini telah menjadi bagian sejarah kehidupan kami. Tapi hari ini aku kembali untuk menyempatkan diri sejenak beristirahat dari aktivitas kuliah yang berkepanjangan. Libur akhir semester tahun ini cukup panjang namun aku baru sempat kembali ke kampung di minggu terakhir liburan ini.

Setelah berkendari hampir sembilan jam, sang kuda besi berwarna biru akhirnya merapat tepat di depan kantin di sudut tenggara SMA ini. Aku membuka helm dan melihat ke dalam kantin, sekilas terlihat wajah ibunda yang hari ini terlihat sedikit lesu. Ketika melepas helm dari kepalaku, barulah beliau sadar dan agak terkejut kalau yang datang adalah anak keduanya dari enam orang anak yang telah ia lahirkan, Ia terheran-heran juga akan hadirnya anak yang selalu manja padanya. Yah, memang sangat jarang saya dan saudaraku yang lain berkendara dengan motor tuk jarak yang jauh tersebut bahkan terkadang kami dipaksa untuk menggunakan mobil sewa saja dengan alasan keamanan dan kenyamanan kami. Memang  tak ada yang selalu terpikir oleh kedua orang tua kami selain rasa aman yang harus diberikan kepada kami semua. Namun hari ini aku memutuskan tuk datang dengan menggunakan moda transportasi roda dua ini agar nantinya aku berkesempatan untuk mengunjungi teman lamaku yang tinggal di seberang kecamatan yang terpisahkan oleh sebuah kota administrative yang telah lama dimekarkan. Dengan membawa tas ransel hitam yang sering saya gunakan tuk menenteng buku ke kampus, saya membawa beberapa lembar pakaian dan oleh-oleh, namun taka da yang sepesial dari oleh-oleh ini, hanya beberapa bungkus keripik pedas yang dulu sering dipesan oleh ibu saya, oh iya saya lebih senang memanggil ibu saya dengan kata mama’. Yah mama’ dengan huruf a terakhir yang agak ditekan. Panggilan itulah yang terkadang membuatku rindu, rindu akan semua kehangatan kasihnya. Tapi biarlah saya menulis ibu dalam tulisan ini, yah ibu saya suka keripik pedas yang agak sederhana ini. Hanya itu ole-ole yang saya bawa kali ini, tak ada yang lain karena kendaraan saya yang tak memungkinkan. (more…)