Posts Tagged ‘#kelaskepo’

Shusi adalah makanan khas Jepang yang harganya terbilang sangat mahal. Kalau mau menikmatinya kita harus mengunjungi restoran, memakai pakaian yang rapi dan bersikap santun nan berkelas saat menyantapnya. Orang Indonesia kebanyakan akan merasa aneh dengan shusi, karena daging yang digunakan adalah daging mentah dan tidak dimasak. Selain itu, Kebanyakan shusi juga menggunakan bahan beralkohol seperti campuran minuman sake yang tentu saja tidak halal. Lantas? Apakah semua shusi memang seperti itu?

Hari ini urusan kantor telah selesai. Sebelum pulang ke rumah, kami berencana untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Karena malam ini juga hujan kembali turun, kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah Yatai (Bahasa Jepang, yang artinya angkringan/gerobak) Shusi Bizkid yang terletak di Jl. AP Pettarani yang tidak jauh dari tempat kerja kami. Untuk menemukan Shubiz (singkatan untuk Shusi Bizkid) tidaklah sulit, dari arah Gowa menuju fly over Urip Sumoharjo, tepat setelah melewati POM bensin Rappocini kita akan mudah melihat papan petunjuk di sisi kiri jalan. Di situ terpampang jelas nama Shusi Bizkid beserta dua kedai minuman lainnya.

DSC_0866[1]

Papan Petunjuk Lokasi Shusi Bizkid di Jl. AP Pettarani, Makassar

Begitu tiba di lokasi, kami melepas mantel hujan dan meletakkannya sembarangan di atas motor. Kami pun langsung menuju ke meja lesehan tepat di depan gerobak yang berhiaskan ornamen-ornamen khas Jepang. Untuk memesan makanan, kami beranjak melihat-lihat pilihan menu yang ada di depan gerobak shusi. Lumayan banyak menu shusi yang ditawarkan di kedai shusi ini dengan harga yang sangat terjangkau. Puas menjelajah pilihan menu yang disertai foto-foto yang begitu menggoda, akhirnya kami memutuskan untuk memesan Tuna Cheese, Dragon roll dan The Bizkid Ramen. Nampaknya hujan yang cukup deras membuat kami merasa begitu lapar.

Malam itu memang suasana agak sepi, selain karena hujan yang memang cukup deras, ternyata waktu juga sudah menunjuk pukul 21.30. Kurang lebih setengah jam sebelum jam operasional subiz berakhir. Memang Subiz hanya beroperasi dari pukul 4 sore sampai pukul 10 malam, dan mencapai puncak keramaian setelah magrib atau sekitar pukul 7 malam. Suasana di angkringan Shubiz memang terlihat sangat sederhana, hanya ada satu meja lesehan besar yang ada tepat di depan yatai. Di sisi lain, terdapat beberapa meja dan kursi yang diperuntukkan bagi mereka yang kurang nyaman untuk duduk bersila.

1453474230322[1]

Suasana Shusi Bizkid di Malam Hari

Untuk masalah kenyamanan nggak usah diragukan lagi. Di tempat ini kita dapat berdiskusi, bercerita ataupun sekedar melepas lelah dengan begitu santai. Tak perlu takut tuk bergaya-gaya aneh di tempat ini. Karena kebanyakan memang yang menjadi pengunjung tempat ini adalah anak muda yang kadang mempunyai ekpresi yang kurang dapat dikontrol. Selain itu, di lokasi yang sama dengan Subiz ini, juga terdapat dua kedai lain yang menawarkan menu yang berbeda. Adalah Teras Ice Cream dan KopiApi Coffee yang menjadi pilihan pelengkap untuk berlama-lama nongkrong di tempat ini. Mau panas atau dingin semua ada di sini. Jadi rasanya tak perlu khawatir tuk kehabisan menu yang cocok untuk semua teman ngumpul.

Setelah menunggu sekitar lima menit, pesanan kami pun berdatangan. Melihat bentuknya yang ditata begitu ciamik, kamipun mulai berdecak kelaparan. Satu per satu jenis shusi kami coba. Awalnya kami ragu, apakah lidah kami bisa cocok dengan makanan ini, karena kami tahunya shusi itu menggunakan daging/ikan mentah. Namun ternyata rasanya jauh berbeda dari yang kami bayangkan. Tak ada rasa yang aneh di lidah kami. Semua terasa begitu nikmat. Ah, kalau tahu seperti ini, mungkin dari dulu sudah nongkrong di sini.

1453504817869[1]

Mari Makan! Ada Tuna Cheese, Dragon Roll and Mie Ramen

Penasaran dengan rasanya, saya pun mencoba mencari tahu apa resep rahasianya. Beruntungnya, malam itu sang pemilik ada tepat di samping kami, jadilah dia menceritakan beberapa kisah tentang Shusi Bizkid.

***

Sejak tahun 2012 silam, Ashari Ramadhan atau yang lebih senang di sapa Papa Bizkid, mulai merintis usaha makanan khas Jepang dengan memberinya nama Shusi Bizkid (Shubiz). Terinspirasi dari sebuah kota di Jepang, Fukoka, yang mempunyai banyak penjual makanan dalam gerobak (Yatai), Ia lalu meminjam konsep sederhana ala kaki lima tersebut untuk menyajikan makanan yang masih baru di kalangan masyarakat pribumi ini. Meski awalnya harus diusir dari tempat berjualan mereka yang pertama, akhirnya mereka dapat menemukan tempat yang pas dan eksis hingga saat ini.

Ia pun membeberkan beberapa kelebihan dari Shubiz jika dibandingkan dengan tempat makan shusi lainnya. Menurutnya, selama ini kesan shusi sebagai makanan mahal yang hanya bisa dinikmati di restoran dengan pakaian yang rapi masih lekat di pikiran masyarakat. Padahal animo masyarakat untuk merasakan sensasi makanan asli Jepang ini sangat tinggi. Akhirnya ia pun menghadirkan shusi dalam bentuk angkringan atau kaki lima, yang lebih sederhana dan dapat dijangkau semua kalangan.

Selain itu, untuk tetap menjaga kenikmatan menyantap shusi, ia berusaha untuk menyesuaikan menu yang ditawarkan dengan lidah orang Indonesia. Contohnya, ketika menggunakan Tuna maka ikan Tuna tersebut sudah dimasak sebelumnya, pun begitu ketika menggunakan Salmon, ikan Salmonnya sudah dibakar sebelum diolah menjadi shusi. Karena memang, shusi itu sebenarnya adalah bahasa Jepang untuk istilah nasi asam, yaitu nasi yang diberikan larutan cuka. Jadi walaupun tanpa olahan ikan atau daging mentah, sensasi rasa shusinya tetap ada. Selain itu, ia pun menegaskan bahwa semua shusi yang diolah di Shubiz dijamin halal, karena ia sama sekali tidak menggunakan campuran sake atau minuman alkohol lainnya.

Saat ini Papa Bizkid sudah mempekerjakan belasan pegawai untuk mengurus dua gerobak shusinya. Ia pun berharap bisnisnya ini bisa terus berkembang dan mempunyai cabang di seluruh Indonesia. Bahkan ia bertekad untuk melebarkan sayap hingga ke seluruh Asia.

***

Tak terasa malam sudah semakin larut. Santap malam shusi dan mie ramen yang begitu nikmat, menawarkan kesediaan untuk kembali lagi kesini. Dengan suasana yang begitu santai, rasa shusi yang khas tuk dinikmati, serta harga yang sangat terjangkau, rasanya Shusi Bizkid akan menjadi pilihan yang tepat untuk nongkrong dan berbagi cerita bersama teman-teman yang lain. Jika belum pernah merasakan shusi sebelumnya, atau mau mencoba shusi yang lebih nyaman dengan lidah orang Indonesia, berkunjunglah ke Shusi Bizkid, dijamin takkan ada penyesalan yang anda temukan!

Ruang di panggung itu terlihat begitu gelap, tak ada cahaya gemerlap seperti konser musik kekinian. Sorot lampu yang tidak begitu terang menampakkan sosok muda dengan wajah tegas dan tirus di sudut kanan panggung. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan passappu di atas kepalanya. Tangan kirinya bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti ritme ucapannya. Dengan begitu piawai, tangan kirinya menggesek-gesekkan dawai kesok-kesok yang terdengar mendayu-dayu dalam heningnya malam. Ucapannya begitu merdu dengan permainan intonasi dan tekanan nada yang begitu harmonis.

Kata-kata dalam bahasa Makassar yang terdengar bak sebuah cerita terus mengalir mengisi ruang dengar penonton. Sesekali nada suaranya meninggi, lalu berubah lirih di tiap-tiap baris ucapannya. Meski saya hanya paham sedikit tentang bahasa Makassar, namun malam itu saya begitu menikmati alunan nada kesok-kesok yang sangat unik dan sarat budaya nilai kearifan lokal tersebut.

Penampilan pa’sinrilik muda di panggung pentas komunitas malam itu, memberikan tontonan budaya asli Makassar, yaitu Sinrilik. Tontonan yang sudah sangat jarang ditampilkan dalam keseharian masyarakat. Bahkan saat ini kesenian dan budaya tutur sinrilik sudah terancam punah karena regenerasi yang tidak berjalan dengan baik.

***

Sinrilik sendiri merupakan salah satu karya sastra lisan yang dimiliki oleh masyarakat Makassar. Dalam situs resmi Kementerian Kebudayaan Indonesia, sinrilik dijelaskan sebagai warisan budaya tutur dalam masyarakat Makassar yang biasa ditampilkan sebagai media hiburan dan pelajaran nilai-nilai budaya. Meskipun kini pementasan sinrilik selalu menggunakan musik penggiring dari kesok-kesok, ternyata sinrilik juga dapat dipentaskan hanya dengan suara pa’sinrilik saja. Pa’sinrilik sendiri adalah orang yang mementaskan atau menyanyikan bait-bait dari naskah sinrilik tersebut.

Sinrilik

Alat Musik Kesok-Kesok

Mengutip informasi dari tulisan Sinrilik Karya Sastra Unik Dari Kota Daeng Makassar, sinrilik yang dilagukan dengan alat musik kesok-kesok yang berbentuk rebab dinamakan Sinrilik Kesok-Kesok, yaitu sinrilik yang berisi kisah perjuangan dan kepahlawanan seorang tokoh. Sedangkan yang hanya dilagukan tanpa ada iringan musik dikenal dengan sebutan Sinrilik Bosi Timurung yang berisi tentang banyak hal, seperti pujian untuk kekasih hati, rasa iba dengan musibah yang ada, ataupun kesedihan orang yang ditinggalkan keluarganya. Sehingga secara tidak langsung pertunjukkan sinrilik mengajarkan banyak hal kepada para pendengarnya. Itulah mengapa dahulu, sinrilik mendapat tempat di hati masyarakat Makassar.

Seiring dengan perkembangan zaman, media hiburan tradisional, seperti sinrilik, secara cepat tergantikan dengan pementasan musik yang lebih menarik dengan nada-nada yang lebih dinamis. Tak heran mengapa saat ini penikmat ataupun pa’sinrilik itu sendiri semakin sedikit dan bahkan bisa dihitung jari jumlah mereka saat ini. Pun ketika saya bertanya kepada seorang teman saya, Nur Rahmat Hidayat, seorang pegiat literasi kota Makassar. Secara pribadi, ia begitu menyayangkan minimnya minat yang dimiliki masyarakat terhadap keberlangsungan warisan budaya tersebut.

“Saya rasa kebudayaan sinrilik ini perlu untuk kita pertahankan, yah kalau perlu kita galakkan kembali pementasan sinrilik. Mungkin masyarakat perlu tahu lebih dalam tentang budaya lisan asli Makassar ini”, katanya sembari menikmati segelas sarabba telur yang sedari tadi menemani perbincangan kami. Yayat, begitu saya akrab menyapanya, seakan mulai serius dengan gagasannya mengenalkan kembali kebudayaan asli Makassar tersebut, bahkan malam itu ia berencana menuliskan sebuah buku tentang pansirilik yang memang masih sangat jarang.

“Kalau tidak salah, sekarang baru ada dua buku yang saya baca yang menulis tentang sinrilik itu, satu yang berupa kumpulan naskah sinrilik dan satunya lagi memuat sinrilik sebagai salah satu bagian dari penjelasan kebudayaan Makassar” jelasnya dengan penuh semangat. Matanya yang terlihat membulat seakan menyakinkan dirinya bahwa rencananya akan sangat berarti bagi keberlangsungan budaya sinrilik di masa depan.

Mungkin apa yang dikatakan Yayat merupakan bentuk apresiasi sastra yang paling tepat untuk memberikan informasi tentang kebudayaan lisan sinrilik. Tapi untuk mempertahankan keberlangsungan pertunjukkan sinrilik, saya rasa perlu usaha yang lebih dari sekedar tulisan. Regenerasi pa’sinrilik dan juga tersedianya ruang pertunjukkan yang memadai menjadi kunci utama untuk terus menjaga keberadaan sinrilik di tengah-tengah gempuran budaya asing saat ini. Namun, apakah regenerasi dan ruang pertunjukkan sinrilik masih dapat kita peroleh di saat sekarang ini?

***

Arif Rahman Dg. Rate, lelaki asli Kajang yang telah berumur seperempat abad, merupakan satu di antara tiga orang yang masih tetap setia menjaga kelestarian budaya sinrilik. Di tengah kesibukannya sebagai pengajar bahasa, ia masih gencar membawa kesok-kesoknya dari panggung ke panggung. Ia pun kini aktif mengampanyekan sebuah gerakan literasi berbasis sinrilik yang ia yakini sebagai bentuk pertahanan eksistensi budaya sinrilik.

arif-rahman-sinrilik

Arif Rahman Dg. Rate

Keseriusan Arif terlihat jelas dari betapa semangatnya ia menjawab pertanyaan yang saya ajukan ketika menggali informasi tentang sinrilik. Ia menceritakan bagaimana ia mulai berkenalan dengan sinrilik pada tahun 2009 silam. Kala itu ia masih di tahun pertama sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris. Melalui artikel-artikel yang ia baca, akhirnya ia memutuskan untuk merambah dunia sinrilik secara serius di akhir 2010. Dan di awal 2011 ia telah betul-betul terjun dalam pertunjukkan sinrilik dengan tampil di panggung-panggung pementasan berskala kecil untuk pemula.

Ia pun menuturkan bagaimana keseriusan ia belajar dari seniman sinrilik di Gowa yaitu bapak Syarifuddin Dg. Tutu. Pun begitu itu menimbah ilmu tentang teknik bermain musik kesok-kesok dari bapak Haeruddin yang merupakan pengrajin kesok-kesok yang sudah terkenal di tanah Gowa.

Ketika ditanya mengapa orang-orang sudah tidak terpikat dengan pertunjukkan sinrilik, ia menjawabnya dengan begitu lugas dan jelas.

Sinrilik itu menggunakan tipikal musik yang monoton. Sejenis musik yang digunakan untuk mengiringi orang bertutur atau berdongeng. Olehnya itu, eksplorasi nadanya cuma sampai lima not saja, itupun pola bermainnya sangat monoton” Jelasnya sambil memperagakan bagaimana gerakan tangannya seakan mengganti nada-nada kesok-kesoknya.

Sinrilik itu dimainkan dengan bertutur, dengan menggunakan bahasa Makassar, passinrilik menceritakan kisah-kisah sejarah yang butuh pemahaman yang lebih saksama. Hal tersebut yang buat orang-orang malas mendengarkannya lagi. Padahal sinrilik itu bercerita tentang lokalitas dan kearifan masa lalu yang mengandung banyak nilai-nilai positif. Selain itu saat mendengarkan sinrilik, ada nuansa yang membawa kita ke alam meditasi. Istilah para seniman, sinrilik itu musik jiwa” sembari mengibas-ngibaskan tangannya mengusir nyamuk, ia menjelaskan lebih jauh lagi betapa ia menikmati sinrilik dan musik kesok-kesoknya.

Malam itu kami berbincang cukup lama. Selain membahas masalah eksistensi sinrilik yang mulai mengkhawatirkan, ia menjelaskan bagaimana semestinya sinrilik itu harus bertransformasi agak tidak kehilangan pendengarnya. Ia menyakinkan saya bahwasanya sinrilik itu sangat fleksibel, ia dapat digunakan sebagai media tuturan untuk mendiskusikan banyak hal, seperti politik, budaya dan juga masalah sosial. Bahkan dengan transformasi seni sinrilik yang ia lakukan, kini sinrilik dapat masuk dalam diskusi-diskusi kontemporer dan sosial masyarakat. “Dengan menggabungkan narasi masa lalu dan kehidupan sekarang, pembahasan dengan media sinrilik menjadi semakin menarik” tandasnya.

“Kalau ia dibawakan secara tradisional dengan standarnya itu, maka ia akan kehilangan audiensnya. Sinrilik bisa saja disampaikan dalam bahasa Inggris, Indonesia bahkan bahasa daerah lainnya. Jadi targetnya selain menghibur, orang juga paham apa yang kita sampaikan dan sekaligus secara persuasif mengingatkan kita kepada budaya lokal”

Meskipun ada beberapa tanggapan sinis yang memang secara keras mengkritik apa yang dilakukannya, karena secara gamblang apa yang dilakukan oleh Arif terlihat seperti perubahan bentuk asli sinrilik. Namun ia menimpali bahwa akan menjadi masalah, jika tetap bertahan dengan pola yang terkesan kolot tersebut. Pada akhirnya budaya sinrilik pun akan hilang dengan sendirinya. Strategi bertahan yang ia tawarkan telah terbukti membawa sinrilik mampu masuk di beberapa kesempatan, seperti mimbar kuliah, ruang seminar, ruang kajian, bahkan ruang-ruang yang sifatnya protokoler. Hadirnya budaya tutur sinrilik di ruang-ruang tersebut membawa warna tersendiri yang diharapkan akan mempertahankan kesenian sinrilik dari kepunahan.

Pada pembukaan konferensi internasional yang diadakan oleh Pusat Bahasa Universitas Negeri Makassar di awal Desember tahun lalu, Arif tampil menjadi pembawa acara dalam perhelatan ilmiah dua tahunan tersebut. Dengan iringan suara kesok-kesoknya yang mendayu-dayu, ia memberikan pengantar dalam tiga bahasa sekaligus, Inggris, Indonesia dan Makassar. Kepiawaiannya dalam mengolah kata dan irama menarik perhatian mereka yang ada di ruang teater gedung phinisi UNM saat itu. Bahkan ketika candaan dan humor disampaikan dalam bahasa Makassar, hampir seluruh penonton tertawa terbahak-bahak, meski saya yakin banyak di antara mereka yang tidak paham dengan bahasa tersebut.

“Kami sendiri melihat media sinrilik sebagai cara menarik untuk menyampaikan pesan kebudayaan serta tujuan konferensi secara santai” jelas Ibu Masnijuri, ketua International Conference on Language Education (ICOLE 2015). Ia juga mengatakan bahwa budaya sinrilik ini menjadi salah satu asset yang harus dilestarikan. Sehingga ia perlu diberikan ruang sebagai apresiasi dan langkah nyata pelestariannya.

Dia akhir wawancara saya, Arif secara jelas mencoba menyadarkan kita bahwa yang namanya budaya itu tidak statis, namun sifatnya dinamis. Sehingga untuk mengatasi masalah kepunahan budaya, hanya soal bagaimana ia berkomunikasi dengan zaman tempat ia berada.

Berubah untuk dapat bertahan hidup merupakan jawaban yang masuk akal untuk tetap eksis. Namun,dengan melihat realitas dari minimnya panggung-panggung bagi para pa’sinrilik untuk tetap tampil, akankah budaya sinrilik tetap eksis? atau malah hanya mampu bertahan beberapa tahun lagi?

“Saya tidak akan ikhlas meninggalkan dunia ini, sebelum saya menginjakkan kaki di luar negeri” ~ Mr. Umar

Perkataan sahabat saya tentang keinginannya melanjutkan studi di luar negeri merupakan salah satu dari sekian juta mimpi mahasiswa Indonesia pada era kekinian ini. Akses informasi yang tidak lagi terbatas, ketersediaan beasiswa yang terus meningkat, hingga pengalaman dari mereka yang telah berhasil mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri seakan membuka lebar kran semangat para pemburu beasiswa. Tak heran lagi mengapa  pameran pendidikan luar negeri semakin marak diadakan setiap tahunnya.

Antrian di Salah Satu Pameran Pendidikan Luar Negeri

Antrian di Salah Satu Pameran Pendidikan Luar Negeri

Saya sendiri pun mempunyai mimpi yang sama dengan sahabat saya, menjejakkan kaki di belahan dunia lain sembari menuntut ilmu yang lebih tinggi. Tentunya mimpi ini akan memerlukan waktu yang lama untuk dapat terwujud. Setidaknya saya harus meluangkan waktu yang cukup untuk melakukan persiapan yang memadai. Mengapa harus mengadakan persiapan segala? Ya, karena menurut saya, dengan persiapan yang matang, maka hasilnya pun pasti akan memuaskan.
(more…)

“Tulisan yang baik adalah tulisan yang diselesaikan dan ditayangkan. Bukan tulisan yang disimpan dalam draft saja”    ~Om Lebug

Kelas Menulis Kepo telah memasuki pekan ketiga. Setelah pertemuan pada Jumat lalu (18/12/2015), kelas diliburkan untuk waktu yang belum ditentukan. Namun selama kelas diliburkan, tidak serta merta kegiatan menulis ditiadakan. Untuk mengisi liburan panjang tersebut, maka muncullah tantangan untuk membuat proyek menulis santai dengan tema lima (5) hal. Kegiatan ini akhirnya dikenal dengan Proyek Lima. Dalam lini masa percakapan di grup media sosial Line terlihat jelas kreativitas dan kepekaan peserta kelas menulis untuk memunculkan ide-ide terkait proyek lima.

Dari sekian banyak ide yang muncul, ada beberapa ide yang menurut saya pribadi sebagai ide luar kreatif, yaitu ide-ide yang lebih dari sekadar kreatif. Berikut lima ide tulisan yang sangat menarik menurut penilaian subjektif saya:

(more…)

Taksi, becak dan Pete-pete adalah tiga jenis kendaraan yang hanya Tuhan yang tahu apa maunya”  ~Kak Na’

Makassar merupakan kota yang paling maju di belahan Timur Indonesia. Tak heran mengapa saat ini kemacetan pun bukan lagi menjadi hal yang asing di ruas-ruas jalan kota Anging Mamiri ini. Hampir di semua belahan kota Makassar telah terdapat titik kemacetan dan kepadatan kendaraan yang tidak dapat dihindari.

Selain volume kendaraan yang sudah agak tidak sebanding dengan lebar ruas jalan, tingkah laku para pengguna jalan pun menjadi salah satu faktor utama penyebab kemacetan di Kota Daeng. Berikut ini lima tingkah para pengendara yang kerap menimbulkan masalah di jalanan kota Makassar:

(more…)

“Membacalah, lalu tuliskan agar kau tak hanya diam di satu titik”  #Inspirasipul

Musim penghujan tak menjadi penghalang terlaksananya pertemuan ketiga kelas Menulis Kepo pada hari Jumat (18/12/2015). Dilaksanakan di tempat yang sama, yaitu Kafe Baca di Jl. Adhyaksa, kelas dimulai dengan pembahasan awal tentang tugas pertemuan sebelumnya dan diakhiri dengan pembahasan materi pokok pertemuan ketiga, yaitu sudut pandang tulisan. Berikut lima catatan penting yang sempat saya ‘tangkap’ selama pertemuan:

(more…)