Posts Tagged ‘#kelasmenulis’

Ruang di panggung itu terlihat begitu gelap, tak ada cahaya gemerlap seperti konser musik kekinian. Sorot lampu yang tidak begitu terang menampakkan sosok muda dengan wajah tegas dan tirus di sudut kanan panggung. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan passappu di atas kepalanya. Tangan kirinya bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti ritme ucapannya. Dengan begitu piawai, tangan kirinya menggesek-gesekkan dawai kesok-kesok yang terdengar mendayu-dayu dalam heningnya malam. Ucapannya begitu merdu dengan permainan intonasi dan tekanan nada yang begitu harmonis.

Kata-kata dalam bahasa Makassar yang terdengar bak sebuah cerita terus mengalir mengisi ruang dengar penonton. Sesekali nada suaranya meninggi, lalu berubah lirih di tiap-tiap baris ucapannya. Meski saya hanya paham sedikit tentang bahasa Makassar, namun malam itu saya begitu menikmati alunan nada kesok-kesok yang sangat unik dan sarat budaya nilai kearifan lokal tersebut.

Penampilan pa’sinrilik muda di panggung pentas komunitas malam itu, memberikan tontonan budaya asli Makassar, yaitu Sinrilik. Tontonan yang sudah sangat jarang ditampilkan dalam keseharian masyarakat. Bahkan saat ini kesenian dan budaya tutur sinrilik sudah terancam punah karena regenerasi yang tidak berjalan dengan baik.

***

Sinrilik sendiri merupakan salah satu karya sastra lisan yang dimiliki oleh masyarakat Makassar. Dalam situs resmi Kementerian Kebudayaan Indonesia, sinrilik dijelaskan sebagai warisan budaya tutur dalam masyarakat Makassar yang biasa ditampilkan sebagai media hiburan dan pelajaran nilai-nilai budaya. Meskipun kini pementasan sinrilik selalu menggunakan musik penggiring dari kesok-kesok, ternyata sinrilik juga dapat dipentaskan hanya dengan suara pa’sinrilik saja. Pa’sinrilik sendiri adalah orang yang mementaskan atau menyanyikan bait-bait dari naskah sinrilik tersebut.

Sinrilik

Alat Musik Kesok-Kesok

Mengutip informasi dari tulisan Sinrilik Karya Sastra Unik Dari Kota Daeng Makassar, sinrilik yang dilagukan dengan alat musik kesok-kesok yang berbentuk rebab dinamakan Sinrilik Kesok-Kesok, yaitu sinrilik yang berisi kisah perjuangan dan kepahlawanan seorang tokoh. Sedangkan yang hanya dilagukan tanpa ada iringan musik dikenal dengan sebutan Sinrilik Bosi Timurung yang berisi tentang banyak hal, seperti pujian untuk kekasih hati, rasa iba dengan musibah yang ada, ataupun kesedihan orang yang ditinggalkan keluarganya. Sehingga secara tidak langsung pertunjukkan sinrilik mengajarkan banyak hal kepada para pendengarnya. Itulah mengapa dahulu, sinrilik mendapat tempat di hati masyarakat Makassar.

Seiring dengan perkembangan zaman, media hiburan tradisional, seperti sinrilik, secara cepat tergantikan dengan pementasan musik yang lebih menarik dengan nada-nada yang lebih dinamis. Tak heran mengapa saat ini penikmat ataupun pa’sinrilik itu sendiri semakin sedikit dan bahkan bisa dihitung jari jumlah mereka saat ini. Pun ketika saya bertanya kepada seorang teman saya, Nur Rahmat Hidayat, seorang pegiat literasi kota Makassar. Secara pribadi, ia begitu menyayangkan minimnya minat yang dimiliki masyarakat terhadap keberlangsungan warisan budaya tersebut.

“Saya rasa kebudayaan sinrilik ini perlu untuk kita pertahankan, yah kalau perlu kita galakkan kembali pementasan sinrilik. Mungkin masyarakat perlu tahu lebih dalam tentang budaya lisan asli Makassar ini”, katanya sembari menikmati segelas sarabba telur yang sedari tadi menemani perbincangan kami. Yayat, begitu saya akrab menyapanya, seakan mulai serius dengan gagasannya mengenalkan kembali kebudayaan asli Makassar tersebut, bahkan malam itu ia berencana menuliskan sebuah buku tentang pansirilik yang memang masih sangat jarang.

“Kalau tidak salah, sekarang baru ada dua buku yang saya baca yang menulis tentang sinrilik itu, satu yang berupa kumpulan naskah sinrilik dan satunya lagi memuat sinrilik sebagai salah satu bagian dari penjelasan kebudayaan Makassar” jelasnya dengan penuh semangat. Matanya yang terlihat membulat seakan menyakinkan dirinya bahwa rencananya akan sangat berarti bagi keberlangsungan budaya sinrilik di masa depan.

Mungkin apa yang dikatakan Yayat merupakan bentuk apresiasi sastra yang paling tepat untuk memberikan informasi tentang kebudayaan lisan sinrilik. Tapi untuk mempertahankan keberlangsungan pertunjukkan sinrilik, saya rasa perlu usaha yang lebih dari sekedar tulisan. Regenerasi pa’sinrilik dan juga tersedianya ruang pertunjukkan yang memadai menjadi kunci utama untuk terus menjaga keberadaan sinrilik di tengah-tengah gempuran budaya asing saat ini. Namun, apakah regenerasi dan ruang pertunjukkan sinrilik masih dapat kita peroleh di saat sekarang ini?

***

Arif Rahman Dg. Rate, lelaki asli Kajang yang telah berumur seperempat abad, merupakan satu di antara tiga orang yang masih tetap setia menjaga kelestarian budaya sinrilik. Di tengah kesibukannya sebagai pengajar bahasa, ia masih gencar membawa kesok-kesoknya dari panggung ke panggung. Ia pun kini aktif mengampanyekan sebuah gerakan literasi berbasis sinrilik yang ia yakini sebagai bentuk pertahanan eksistensi budaya sinrilik.

arif-rahman-sinrilik

Arif Rahman Dg. Rate

Keseriusan Arif terlihat jelas dari betapa semangatnya ia menjawab pertanyaan yang saya ajukan ketika menggali informasi tentang sinrilik. Ia menceritakan bagaimana ia mulai berkenalan dengan sinrilik pada tahun 2009 silam. Kala itu ia masih di tahun pertama sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris. Melalui artikel-artikel yang ia baca, akhirnya ia memutuskan untuk merambah dunia sinrilik secara serius di akhir 2010. Dan di awal 2011 ia telah betul-betul terjun dalam pertunjukkan sinrilik dengan tampil di panggung-panggung pementasan berskala kecil untuk pemula.

Ia pun menuturkan bagaimana keseriusan ia belajar dari seniman sinrilik di Gowa yaitu bapak Syarifuddin Dg. Tutu. Pun begitu itu menimbah ilmu tentang teknik bermain musik kesok-kesok dari bapak Haeruddin yang merupakan pengrajin kesok-kesok yang sudah terkenal di tanah Gowa.

Ketika ditanya mengapa orang-orang sudah tidak terpikat dengan pertunjukkan sinrilik, ia menjawabnya dengan begitu lugas dan jelas.

Sinrilik itu menggunakan tipikal musik yang monoton. Sejenis musik yang digunakan untuk mengiringi orang bertutur atau berdongeng. Olehnya itu, eksplorasi nadanya cuma sampai lima not saja, itupun pola bermainnya sangat monoton” Jelasnya sambil memperagakan bagaimana gerakan tangannya seakan mengganti nada-nada kesok-kesoknya.

Sinrilik itu dimainkan dengan bertutur, dengan menggunakan bahasa Makassar, passinrilik menceritakan kisah-kisah sejarah yang butuh pemahaman yang lebih saksama. Hal tersebut yang buat orang-orang malas mendengarkannya lagi. Padahal sinrilik itu bercerita tentang lokalitas dan kearifan masa lalu yang mengandung banyak nilai-nilai positif. Selain itu saat mendengarkan sinrilik, ada nuansa yang membawa kita ke alam meditasi. Istilah para seniman, sinrilik itu musik jiwa” sembari mengibas-ngibaskan tangannya mengusir nyamuk, ia menjelaskan lebih jauh lagi betapa ia menikmati sinrilik dan musik kesok-kesoknya.

Malam itu kami berbincang cukup lama. Selain membahas masalah eksistensi sinrilik yang mulai mengkhawatirkan, ia menjelaskan bagaimana semestinya sinrilik itu harus bertransformasi agak tidak kehilangan pendengarnya. Ia menyakinkan saya bahwasanya sinrilik itu sangat fleksibel, ia dapat digunakan sebagai media tuturan untuk mendiskusikan banyak hal, seperti politik, budaya dan juga masalah sosial. Bahkan dengan transformasi seni sinrilik yang ia lakukan, kini sinrilik dapat masuk dalam diskusi-diskusi kontemporer dan sosial masyarakat. “Dengan menggabungkan narasi masa lalu dan kehidupan sekarang, pembahasan dengan media sinrilik menjadi semakin menarik” tandasnya.

“Kalau ia dibawakan secara tradisional dengan standarnya itu, maka ia akan kehilangan audiensnya. Sinrilik bisa saja disampaikan dalam bahasa Inggris, Indonesia bahkan bahasa daerah lainnya. Jadi targetnya selain menghibur, orang juga paham apa yang kita sampaikan dan sekaligus secara persuasif mengingatkan kita kepada budaya lokal”

Meskipun ada beberapa tanggapan sinis yang memang secara keras mengkritik apa yang dilakukannya, karena secara gamblang apa yang dilakukan oleh Arif terlihat seperti perubahan bentuk asli sinrilik. Namun ia menimpali bahwa akan menjadi masalah, jika tetap bertahan dengan pola yang terkesan kolot tersebut. Pada akhirnya budaya sinrilik pun akan hilang dengan sendirinya. Strategi bertahan yang ia tawarkan telah terbukti membawa sinrilik mampu masuk di beberapa kesempatan, seperti mimbar kuliah, ruang seminar, ruang kajian, bahkan ruang-ruang yang sifatnya protokoler. Hadirnya budaya tutur sinrilik di ruang-ruang tersebut membawa warna tersendiri yang diharapkan akan mempertahankan kesenian sinrilik dari kepunahan.

Pada pembukaan konferensi internasional yang diadakan oleh Pusat Bahasa Universitas Negeri Makassar di awal Desember tahun lalu, Arif tampil menjadi pembawa acara dalam perhelatan ilmiah dua tahunan tersebut. Dengan iringan suara kesok-kesoknya yang mendayu-dayu, ia memberikan pengantar dalam tiga bahasa sekaligus, Inggris, Indonesia dan Makassar. Kepiawaiannya dalam mengolah kata dan irama menarik perhatian mereka yang ada di ruang teater gedung phinisi UNM saat itu. Bahkan ketika candaan dan humor disampaikan dalam bahasa Makassar, hampir seluruh penonton tertawa terbahak-bahak, meski saya yakin banyak di antara mereka yang tidak paham dengan bahasa tersebut.

“Kami sendiri melihat media sinrilik sebagai cara menarik untuk menyampaikan pesan kebudayaan serta tujuan konferensi secara santai” jelas Ibu Masnijuri, ketua International Conference on Language Education (ICOLE 2015). Ia juga mengatakan bahwa budaya sinrilik ini menjadi salah satu asset yang harus dilestarikan. Sehingga ia perlu diberikan ruang sebagai apresiasi dan langkah nyata pelestariannya.

Dia akhir wawancara saya, Arif secara jelas mencoba menyadarkan kita bahwa yang namanya budaya itu tidak statis, namun sifatnya dinamis. Sehingga untuk mengatasi masalah kepunahan budaya, hanya soal bagaimana ia berkomunikasi dengan zaman tempat ia berada.

Berubah untuk dapat bertahan hidup merupakan jawaban yang masuk akal untuk tetap eksis. Namun,dengan melihat realitas dari minimnya panggung-panggung bagi para pa’sinrilik untuk tetap tampil, akankah budaya sinrilik tetap eksis? atau malah hanya mampu bertahan beberapa tahun lagi?

Advertisements

“Karena tulisan tidak akan menjadi sebuah tulisan jika tidak diselesaikan”

Menghasilkan sebuah tulisan yang “nikmat” untuk dibaca bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Bahkan penulis hebat sekalipun, terkadang mendapatkan kesulitan untuk menghasilkan sebuah tulisan yang menarik. Apatah lagi jika harus menuliskan sesuatu yang diluar keahlian atau kebiasaan si penulis. Begitupun halnya dengan penulis pemula, mereka selalu kesulitan untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot dan menarik untuk dibaca.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya kesulitan menghasilkan sebuah tulisan. Selain masalah klasik, yaitu tidak adanya waktu untuk menulis, ada beberapa keadaan yang telah menjadi hal yang membahayakan bagi penulis pemula.

Berikut ini ada lima bahaya laten yang sering dialami oleh para penulis pemula. Kesemuanya merupakan hasil pengamatan dan pengalaman pribadi yang penulis sering alami.

(more…)