Posts Tagged ‘rasa’

Teruntuk Ibu,

Sudah lama aku tak berkabar padamu. Dalam rindu yang mulai menusuk tajam hingga melukai hati ini, aku mulai tertatih merangkai kata ini untukmu. Menyampaikan padamu betapa waktu yang tak kuhabiskan bersamamu adalah duka yang harus aku telan bersama malam yang kulalui sendiri dalam tiap tidurku. Aku merindu dekap pelukmu dari dingin yang merangkul tubuh ini, seperti rindu wejangan tak berpamrih yang kau berikan di semua tingkah dan gerakku.

Aku selalu teringat akan wajah teduh bermata penuh yang menemani kala sakitku. Semua rapalan doa-doa yang kau panjatkan demi kesembuhan, seakan menjadi musik-musik penenang jiwa yang masih tak pandai membahagiakan dirimu. Kala malam semakin larut, ingatku padamu seakan semakin membuncah dan penuh hingga tak jarang bermuara pada tangis merindu.

(more…)

Advertisements

Kata “Cie” Yang Memisahkan Kita

Posted: November 21, 2015 in Rasa
Tags: , , ,

Beberapa hari terakhir ini, aku merasakan ada banyak hal yang berbeda dari apa yang biasa kita jalani. Kita yang dulu melakukan hal bersama, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, latihan menyelesaikan soal TOEFL bersama, bahkan terkadang makan pun kita tak berpisah, yah walau terkadang memang kita tetap bersama teman-teman yang lain juga saat makan. Tapi, aku mulai sadar bahwa apa yang kita lakukan dari dulu itu merupakan hal yang tidak wajar bagi hubungan yang sebatas teman. Aku bukan merasa aneh dengan mereka yang bersahabat dekat dan menganggap semua sebatas keakraban sebagai sahabat semata. Namun aku melihat itu sebagai hal yang tak wajar dilakukan oleh orang yang tidak berpacaran. Kata mereka sih kita ngedate, padahal kan  apa yang kita lakukan tak lebih dari hal-hal positif sebagai teman yang saling membantu satu sama lain.

(more…)

Bersama Hujan

Posted: March 2, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , , ,

Dan hujan menyamarkan semuanya
Deras rintiknya menutupi derunya suara
Mendendangkan alunan kesepian
Mengajak kita tuk sejenak sendiri dan diam
Tak usah kau katakan yang kau rasakan
Teriakan mu juga takkan terdengarkan

Sekali lagi hujan merayumu
Tuk berembuk dulu pada sibukmu
Pada mereka yang menantimu
Pada mereka yang membanggakanmu
Sejenak saja, pikirkan dirimu

Dan bila hujan pun pergi
Ia meninggalkan tetesnya yang membasahi
Bukan tuk mengotori,
Namun tuk membersihkan pikirmu yang tertatih

Bersama hujan, awan dan langit
Diiringi semilir angin nan dingin
Begitulah sepertinya kita
Ada waktu bersama yang dirindukan

#UNM.15:50

Rindu Rumah

Posted: October 4, 2014 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Ketika malam ini takbir bergema, bertalu-talu sepanjang telinga ini mampu mendengar, sesibuk pemikiran menjauh dalam hayal ini. Pada masa dulu dalam kebersamaan malam. Ketika shalat usai dilaksanakan, bapak memulai takbir yang tanpa nada, tanpa cengkok ataupun irama, hanya suara datarnya yang berucap penuh khidmat. Berselang berbalas oleh kami, ada kakak, adek dan juga mamak di belakang kami. Seakan ruang kecil sederhana itu bergema dan berasa ratusan kali lebih indah sahutannya dari speaker masjid yang jauh di sana. Bersama malam yang tak bisa menutupi rasa dinginnya hati, ataupun semilir angin yang membawa sejuta rindu tuk kembali dalam suasana itu, sejenak merenungkan diri akan kesempatan yang mungkin telah banyak dilewatkan tuk berbagi.
Dalam setiap momentum kisah bersama keluarga, kala tak ada logika yang menjadikan kita satu, hanya rindu dan kehangatan keluarga yang menjadi kiblat kembali yang abadi. Seperti hari-hari lain yang berganti, tak ada beda sebenarnya dengan hari esok yang dinanti. Namun, ada rasa yang hilang dari kepingan kisah yang ada pada masa lalu kita. Untuk masakan yang terhidang selepas hari raya, ataukah kunjungan keluarga yang menuliskan kisah sendiri. Sebagai pribadi yang merindukan itu, nikmat kesendirian ini tergadaikan dengan kenangan itu. Serasa ingin melintas berpuluh-puluh jarak yang memisah, merangkul semua rindu yang ada, lalu menumpahkannya disana, bersama bapak, bersama mamak dan mereka yang tak henti menyayangi tanpa pamrih. Moga seperti ini bertahan dalam setiap ruang yang ada. Rindu Keluarga di Hari Raya.

Masih Bersamamu, Dulu dan Kini

Posted: September 27, 2014 in cerpen, Rasa
Tags: , ,

Saya tak pernah menyangka dalam deret waktu yang sangat lama itu saya tak mampu menepis ruang rindu yang tak semestinya hadir dalam hati yang telah tertambat pada ruang kasih yang abadi ini. Aku dan ruang memori kita dulu itu mengajarkanku akan banyak hal. Seperti cinta yang sejatinya tak pernah luntur pada jarak dan masa kala itu
Ah sudahlah, tak ada jua gunanya saat ini, semakin lama semakin sakit mengenang masa lalu itu. Toh saat ini waktu telah mengubur dalam luka itu, sakit yang tak bisa dimengerti oleh hati ini karena semestinya semua tak seharus seperti ini. Mungkin rumit kisah ini tuk dirunut semakin mendalam. Namun aku tahu, bahwa dalam setiap kebersamaan itu, ada rindu yang mengharuskan aku mengunjungi kenangan kita dulu, bahkan saat kita tak bertemu dalam nyata. (more…)

Teruntuk Kita

Posted: February 23, 2014 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Teruntuk kita
Teruntuk dirimu
Teruntuk rasamu
Teruntuk kita
Dan semua waktu yang terlepas dari genggaman

Teruntuk kita
Jalan itu telah kita lalui
Berdua tak sendiri
Kala diam dalam luka
Kita tetap berjalan bersama (more…)

Menunggu Doa

Posted: February 20, 2014 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Tak ada keseharian terbaik umat manusia selain menunggu dalam waktunya tuk kembali berdoa. Kalau saja kita diciptakan dalam dunia bukan tuk berdoa, kita mesti sudah jauh arah tak kembali dalam hakikat kita nantinya. Mungkin kebanyakan diri kita telah lupa akan kodrat dalam kesibukan dunia yang menuntut kehadiran diri kita yang terlalu cinta padanya.
Saat ini dunia menjual manisnya dengan nilai yang sangat rendah, membuat mata kita terpejam nikmat merasakan indahnya. Hingga kumandang panggilan yang terdengar jelas menjadi samar dan ajakan yang pasti hilang dalam kebohongan kita. Waktu menipu kita dalam diamnya. Ia menawarkan saat tuk menunda, padahal ia tahu menunda telah berarti tidak tuk selamanya.
Saya bukan merenggut waktu tuk memberikan ruangku berdoa, namun saya percaya dalam keangkuhan waktu duniaku, ada hak yang telah kurebut. Kewajiban itu merupakan bentuk hakikih keakuan diri untuk tetap konsisten berdoa. Hak dan kewajibanku tercampur baur tak menjelaskan apa dan mengapa. Aku malah mencoba tuk mencampurkan saya dalam aku saat membahas diri ini.
Saya kembali dalam pikirku, jika memang kita dikodratkan berdoa, maka tak ada pilihan lain selain kita terus berusaha dalam menepatinya. Berjanji pada diri sendiri bukan memudahkan tuk mengingkari, namun menjelaskan keikhlasan untuknya.
Dalam doa hari hariku, aku dan semua dalam diriku, mencoba kembali pada fitrahku.

#catatan menunggu doa

Kamar itu Tak Berkata

Posted: February 13, 2014 in Rasa
Tags: , ,

Aku pernah sekali
Mungkin juga berkali-kali
Ku buka pintu kamar itu
Dan kusadari aku menemukan kata itu disitu

Kamar itu tak berdinding
Kamar itupun tak berjendela
Hanya pintu waktu yang selalu lupa ditutupkan
Untukku memastikan kamar itu masih disitu (more…)

MimpiKu Bergelayut di Kaki Langit

Posted: February 12, 2014 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Mimpi itu seperti apa sih? Apakah mimpi itu adalah sebuah kesadaran tujuan yang kemudian terpatrikan dalam hati kita untuk kita capai? Ataukah mimpi malah lebih  banyak tercipta dari waktu yang mengurusi hidup kita sehari-hari.
Mimpi itu proses ataukah ia sebuah produk adalah bentuk yang nyata dari dikotominya. Kala kecil dulu aku bermimpi menjadi dokter, namun orang tua mengharapkan menjadi seorang presiden. Tak sulit rupanya membangun mimpi orang tua yang ingin anaknya menjadi seorang presiden, cukup biarkan rapor merah itu meneriakkan peringkat pertama pada setiap sisinya. Realistis kala itu bukan sebuah acuan, hanya idealisme akan fungsi otak yang mampu mengubah segalanya, yah kecerdasan namanya. (more…)

Secangkir Rasa

Posted: February 12, 2014 in Rasa
Tags: ,

Kata-kataku mungkin telah penuhi ruang-ruang kita
Seperti kita yang terlalu lelah berpura-pura
Kesukaannya hanya mungkin beradu Waktu
Saat rasa-rasa telah hilang dari diri yang dulu

Ah, aku telah tumpahkan rasaku
Ia penuh, meluber hingga tumpah tak tertampung lagi
Jangankan secangkir, berbotol pun ia tak lagi cukup
Rasa ini penuh dalam jumlahnya yang tak nampak (more…)