Posts Tagged ‘unhas’

Seruput Kopi di Pagi-Pagi

Posted: March 4, 2015 in daily life, Rasa
Tags: , ,

Secangkir kopi instan berperisa mocha tersaji di atas meja tua. Sepiring kudapan tradisional menemani rasa yang terasa menggoda ini. Pagi yang selalu ramai di kantin kolong kampus merah ini. Terlihat dua mahasiswa duduk tepat di depanku. Mereka bersama tapi tak saling sapa. Yang tua sesekali menyeruput kopi hitam pekat yang mulai kehilangan asapnya. Yang gadispun sibuk mengunyah remah remah gorengan yang begitu dinikmatinya. Mereka semeja dan mereka terdiam saja. Di sebelah dudukan saya ada seorang mahasiswa lagi. Ia terlihat serius membolak balik halaman buku kecil berbahasa Indonesia yang tak jelas terlihat apa isi buku itu. Sekali dua kali ia menghembuskan asap putih dari sela-sela bibirnya. Matanya yang agak merah tetap menatap lembaran kekuningan yang seakan memberinya candu tuk terus membacanya. Ia mungkin seorang mahasiswa akhir, dari jurusan budaya ataukah sastra. (more…)

Kertas Putih-Putih

Posted: February 23, 2015 in Curcol, Kuliah, Rasa
Tags: , , ,

Sederhana. Begini. Sudah berapa halaman yang jadi? Masih belum jalan? Sama dong. Saya berpikir sejenak yah.
Mungkin begini. Ada yang memulai dan terstruktur dengan baik. Seperti tiap langkah bahkan coretannya pun telah ditetapkan pada tiap barisnya. Ada yang menyendirikan dirinya dalam ruang pribadinya hingga teks itu terlahir dalam bentuk nyaris sempurna. Itupun sempurna menurut pandangan awam. Saya dan mereka menjadi diam kala perhelatan itu terhenti sejenak. Kita seakan memandang pada waktu yang menertawakan kamu yang dulu penuh keyakinan. Atau bahkan si dia yang dari dulu berkata rombengan, kiasan pinjaman dari seorang itu, sudah matang dengan rencana yang tak tergantikan lagi. Meski teori berkata tidak namun si A mungkin berkata “aku sih..yes”
Terlebih lagi pada mereka yang rela menggelarkan tikar beralaskan pagi, menanti tiap hari mengalahkan penjual jajanan dini hari. Semangat itu tak luntur hingga siangpun menjadi. Katakanlah pada diri mereka itu pejuang sejati yang tak takut pada genk motor itu, bahkan mereka bersahabat pada tukang bentor yang menjadi tempat berteduh mereka hingga terkadang tertidur di atas bentor itu menanti beliau bangun dari tidur bukan mati.
Tapi, bagaimana dengan kita, seperti apa kita kini. Pada headline news berita belum terkabarkan saat ini. Seseorang, dua orang ataupun sejenis perorangan yang tersegerakan. Mendapatkan restu dari pemegang kuasa dalam tenggat waktu yang tak lagi lama.
Kita iyya?
Sudah jauh tidak kita melangkah? Atau kita tak sadar berjalan di tempat? Biarlah kita bergerak walau sedikit. Namun terkadang kecepatan lebih menggiurkan dari sekedar gelaran kenamaan. Berlumut dah sudah kita, seperti yang lain-lain mungkin bisa, sehingga kita hanya butuh formalitas semata hingga gelar itu bersama kita.
Mencoba menjadi idealis terkadang mudah, cukup tidak mainstream. Namun ia yang begitu,  pasti jarang kan mendapatkan hal yang diharap itu.
Bertanyalah saja…
Apa harus menunggu kertas putih ini menjadi hitam dulu sebagai bukti kita juga sedang berusaha? Atau cukup kita berikan ide ini ke tempat yang semestinya?
Sembari menanti, mungkin ada baiknya kita sendiri yang berganti. Rubahlah kita menjadi mereka. Menjadi seperti seharusnya dan seperti itulah mungkin sedari dulu terjadi. Kala kertas-kertas putih itu masih putih, namun kita memilih tuk tetap bermimpi.
Kala waktu itu berganti, namun kita memilih tuk bersantai. Yah, esok masih ada pagi, hari masih jauh tuk meninggalkan rona pada sunset. Kita masih berlari dan belum jauh dari tujuan ataupun titik kita memulai. Kita belum pasti berhenti atau mencapai semua mimpi. Hanya satu yang pasti kita bukan lagi bagian dari masa yang terlampaui. Sudah berlalu pada yang masa yang tak menentu. Tanpa reaksi yang tak termotivasi. Menuntut kalian tuk beraksi dalam ruang imajinasi. Hingga kelak kita melihat toga dalam dimensi yang pasti.

Minggu lalu seorang dosen saya memberikan beberapa tips hebat tentang bagaimana menghasilkan penelitian yang berbobot dan mampu menembus seleksi tingkat nasional bahkan internasional. Ternyata apa yang beliau sampaikan tak jauh dari apa yang kita sebut sebagai strategi, yaitu seperangkat tindakan yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Nah, terkadang orang mempunyai tujuan yang sama namun mereka tidak mencapai tujuan itu secara bersama-sama karena mereka mempunyai strategi yang berbeda. Satu hal yang menarik dari pengalaman yang disampaikan oleh dosen tersebut adalah bagaimana ia menjelaskan apa yang dilakukannya selama ini dalam mencapai kesuksesan karirnya sebagai ‘strategi hidup’. Untuk strategi hidup ini dapat dibaca pada fragment 2 tulisan “Sekeping Mozaik Kehidupan

Terlepas dari pembahasan strategi hidup, saya menemukan sebuah materi tentang strategi belajar yang menurut saya cukup berharga untuk disampaikan kepada teman-teman semua, khususnya dalam pendalaman materi. Yah, karena tuntutan untuk menguasai satu bidang kajian yang lebih mendalam untuk mencapainya yang namanya profesionalitas. (more…)

Who Knows

Posted: April 4, 2014 in experience
Tags: , ,

image

Selamat malam pembaca, atau mungkin selamat pagi bagi anda yang selalu ingin bersemangat. Tulisan ini dibuat sebagai bentuk apresiasi dan inisiasi dari saya terhadap sesuatu yang saya anggap penting untuk dinarasikan. Prof. Hakim said that “language must be spoken” but this is more important than a language itself, I think I need to write it. Karena dengan menulis maka sesuatu itu akan abadi melintasi ruang dan waktu. #cie.cie (more…)

Dalam keseharian kita sebagai mahasiswa tingkat S2, tentu saja tuntutan menulis dan menuangkan ide itu bukan hal yang baru dan tentu saja perlu perhatian khusus. Jenis tulisan inipun lebih dikenal dengan Tulisan Akademik. Kami sendiri merasa menulis akademik terkesan menantang dan penuh dengan kegalauan. Terkadang memulai tulisan itu memakan waktu 2 hari, menyempurnakan isinya baru pada H-2, bahkan ada yang katanya (ini hanya katanya) tulisannya bisa selasai pad malam hari sebelum hari deadlinenya. Hm, apa sebenarnya yang menjadi kendalanya yah? Menurut hemat penulis sendiri ada banyak hal, namun kali ini kita akan coba mengintip apa dibalik semua itu.

Sebenarnya menulis akademik itu mudah. Dalam tulisan akademik, kita dituntut untuk mengemukakan pendapat kita dan tetap mengantispasi kontra argumen yang mungkin muncul. Kita harus mampu untuk mengatur ide yang kita punya dalam barisan kata yang panjang ataupun singkat. Jalan ceritanya tidak akan sepenting kejelasan dari tata letak yang logis tentang ide-ide tersebut. Terkadang kita juga harus menguasai kosakata teknikal dan juga penggunaan yang tepat terhadap kata-kata tersebut dalam bidang ilmu kita.

(more…)

(Mantan) Ruang

Posted: February 21, 2014 in Cerpen, Kuliah
Tags: , , , , ,

Jumatan telah selesai, kami meluncur dengan kecepatan biasa-biasa saja, melontarkan deru polusi mesin matic dan honda supra yang sedari tadi menemani. Kami bertiga, ada A, I, dan U..(kurang E dan O). Kami bertiga tadinya berbanyak-banyak ria, namun tuntutan profesi, kami berpisah meniti karir di dunia berbeda (dunia lain juga). Kami tadinya dihampiri kegalauan dengan tingkat bervariasi, mulai tinggi, sedang, dan rendah. Si A mungkin rendah, atau juga sedang, aku masih sedang pun tak tinggi, Namun si U, ternyata galaunya tertinggi. Muasalnya tak lain adalah penutup kepala kulit membalut plastik elegan dengan kaca yang sisi kerenitasnya tak lagi diragukan, telah dipinjam orang lain tanpa sepengetahuan kami. Sang peminjam yang tak segan-segan mencongkel dan memindahkannya ke tempat yang tak kami ketahui lagi, tanpa kabar, nampaknya ia tak bermaksud mengembalikannya lagi.

Diluar kegalauan itu, si U tetap bersyukur pada_Nya, toh hanya bagian kecila tersebut yang diambil, gimana kalau yang diambil bagian besarnya? Hm, selalu ada jalan tuk mengajari kita bersyukur. Setidaknya pengalaman kali ini menampar-nampar kami untuk melihat dari segala sisi. Tadinya kami melihat dari sisi efisiensi waktu, ternyata kami teledor dalam hal keamanannya. (more…)

Kuliahku Padamu Sociolinguistic

Posted: February 8, 2014 in Kuliah
Tags: ,

Terduduk aku, sedikit berdiri, nungging mungkin,,tpi hanya sementara lalu terduduk lagi.

Kuliah berjalan beberapa ribuan detik saja sebuah pernyataan darinya telah menggelakkan tawa

Now I really realize that I am really a professor” tepat pukul 13:42

Tak hanya itu, sang guru dari gowa menjadi tumbal kata sebagai contoh guru yg baik hanya berbekal sebatang bukan sekantong atau sekardus tinta, ya hanya sebatang spidol.

Permainan kata berlanjut dalam nostalgila, nostalgia yang sedikit menggila.

John Lennon yang tak sedikitpun bersalah dengan lirik lagunya, ataukah sang Aussian yang bertanya “Got time Mate?”

Kesalahan verbal dalam dunia kata tak berbatas dalam Bahasa Inggris (more…)

Class is started NOW!!!

Posted: February 6, 2014 in Curcol, Kuliah
Tags: , ,

Wow, the second semester has begun, we appreciate the holiday by having a rest around one month in our hometown, but now the time is come, waktunya kuliah dan kuliah. Hari pertama di bangku kuliah itu, gimana yah, tidak menarik, tidak seru. Just so so. Tak seperti anak SD yang harus bangun pagi-pagi, mandi subuh-subuh dan berangkat sekolah tergesa-gesa..hanya demi bisa duduk di bangku yang paling diidam-idamkan. The first day in college is much more uninteresting than other days. Saya biasanya ke kampus naik motor, lebih tepatnya mengendarai yah, kalo naik kan beda sama mengendarai. Secara gue kan anak bahasa jadi penggunaan bahasa itu hal yang nomor satu coy. Setelah menunggangi kuda besi (bahasa keren tuk motor, oh iya, buat para pembaca saya sih mau ingatkan aja, semua tulisan disini radah ngaco, sedikit gila dan kadang merajuk, berhubung sang penulis lagi deman atau suka dengan gaya seperti ini..yah dinikmati aja..ntar juga kalo dah bosan gaya nulisnya berubah lagi kok,haha).

(more…)