Archive for March, 2016

Sepotong Cinta dari Lae-Lae

Posted: March 5, 2016 in Uncategorized

Eh, sampai miki? Cepatnya dih. Belum pi ki sempat upload foto di facebook sampe mi orang! gerutu salah seorang penumpang kapal peyebrangan pulau Lae-Lae. “Memang dek, kalau tidak kencang ji ombak biasa 5-10 menit ji. Tapi kalau lagi jelek cuaca paling lama 15 menit” sang juru kemudi kapal menimpali dengan cepat. Suasana pulau yang berada sangat dekat dengan kota Makassar ini mulai terlihat jelas saat kapal mulai menepi ke bibir pantai. Deburan ombak menerpa jejeran perahu yang terparkir di sepanjang tepian pantai. Sebuah gerbang melengkung menyambut kami tepat di tepi dermaga, menyampaikan ucapan selamat datang di pulau Lae-Lae, salah satu pulau yang memiliki suasana sunset terindah dan akan selalu dirindukan.

20160220_083025

Suasana Dermaga Pulau Lae-Lae

Pulau Lae-Lae secara administratif masih berada dalam wilayah kota Makassar, tepatnya Kecamatan Ujung Pandang, Kelurahan Lae-Lae. Lokasinya yang sangat dekat dengan daratan utama kota Makassar, membuatnya pernah menjadi destinasi wisata favorit. Namun seiring berjalannya waktu, keindahan pulau Lae-Lae mulai memudar, daya tarik pulau yang berpenduduk sekitar 2000 jiwa ini terkalahkan oleh keindahan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya, seperti Pulau Samalona, Pulau Kodingareng Keke ataupun Pulau Barang Caddi.

Meskipun tak seramai sekarang, ternyata keindahan pulau dengan luas sekitar 6,5 ha ini masih teringat jelas oleh Ibu Ros, wanita berbadan gempal yang saya temui di Dermaga Kayu Bangkoa. Sambil merapikan barang-barang bawaannya, Ia mengingat-ingat lagi kapan dulu pertama kali ia mengunjungi pulau Lae-Lae. “Dulu itu saya diajak sama pak tentara ke sebelah, dia suka-suka ka toh, jadi diajak ka jalan-jalan. Dulu bagus, masih banyak orang ke sana, rame juga” tuturnya. “Banyak itu temanku yang menikah karena jalan-jalan di pulau Lae-Lae” ia menambahkan informasi ini dengan sedikit tertawa.

Dulunya Ibu Ros sendiri menjadikan pulau Lae-Lae sebagai destinasi wisata favoritnya. Selain biayanya murah dan dekat dari Kota Makassar, suasana pantainya juga sangat indah kala itu dan tentunya masih bersih dari sampah-sampah plastik. Yah, sampah plastik yang memenuhi sebagian besar sudut selatan pantai saat ini. Tidak jelas juga dari mana asal sampah plastik yang menghiasi bibir pantai tersebut, apakah dari sampah rumah warga pulau ataukah sampah-sampah seberang pulau yang terbawa arus hingga terdampar di tepian pantai.

DSC_1108

Pengunjung Pulau Lae-Lae Sedang Menikmati Suasana Pantai

Meski ada sebagian sampah yang menghiasi pantai, namun pengunjung tetap ada yang datang ke pulau ini. Aktivitas wisata di tempat ini pun terbilang mulai membaik akhir-akhir ini. Haji Muhammad Yahya, yang tinggal tepat di sudut jalan menuju kawasan pantai wisata menuturkan bahwa jumlah pengunjung di pulau Lae-Lae memang tak seramai beberapa puluh tahun yang lalu. “Kalau sekarang, masih bisa dihitung jari jumlah pengunjungnya, itupun akhir pekan pi na rame” tutur bapak tiga anak yang ternyata berasal dari kabupaten Maros ini.

Haji Yahya, begitu ia lebih senang disapa, ternyata dulunya juga merupakan pengunjung pulau Lae-Lae yang akhirnya menemukan cintanya di pulau berpenduduk lebih dari 400 kepala keluarga ini. Saat ia berjalan-jalan keliling pulau, ia terpesona dengan gadis pulau yang kini telah memberikan seorang anak gadis dan dua putra. Dan setelah menikah, ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di pulau Lae-Lae.

Pria berbadan tegap tersebut menyadari bahwa sebenarnya pulau Lae-Lae mempunyai potensi menjadi destinasi wisata favorit. Ia yang kerap kali menawarkan jasa penyebrangan dan mendampingi wisatawan ke beberapa pulau kecil lainnya melihat bahwa keindahan panorama pantai dan pasir putih yang terhampar cukup luas merupakan asset utama yang menjadi daya jual pulau Lae-Lae. Meskipun fasilitas pendukung tempat wisata ini masih sangat jauh dari kata memadai. Seperti fasilitas toilet umum, warung makan, dan toko souvenir seperti di kebanyakan tempat wisata. Dengan sedikit usaha untuk memperbaikinya, maka Lae-Lae dapat kembali memikat seperti dulu kala.

 

Toilet ataupun kamar mandi merupakan fasilitas umum yang tentunya sangat dibutuhkan oleh para pengunjung tempat wisata. Setelah berenang di pantai ataupun bermain-bermain dengan pasir, tentunya wisatawan membutuhkan fasilitas tersebut untuk membersihkan diri. Meskipun sudah ada dua buah toilet yang dibangun oleh pemerintah tepat di sisi utara pantai, namun sayangnya pemerintah hanya terlihat setengah hati menyediakan fasilitas tersebut. Pasalnya, toilet yang dicat putih tersebut tidak dilengkapi dengan sumber air. Pengunjung harus mencari sendiri sumber air di rumah-rumah warga. Tak heran mengapa toilet tersebut lebih sering terkunci dan tak terpakai.

Menyikapi keadaan tersebut, beberapa warga mulai membenahi keadaan pantai dan menyediakan fasilitas penunjang kenyamanan pengunjung dan wisatawan. Adalah Hj. Biah, wanita paruh baya yang terlahir dan besar di pulau tersebut, yang dengan inisiatif sendiri membuat wc umum yang kemudian disewakan kepada pengunjung.

DSC_1087

Hj. Bia yang tetap bercerita sambil mencuci pakaian

“Kalau sewanya itu lima ribu satu kali masuk. Mau mandi, buang air kecil, atau besar terserah. Disuruh tongi bayar pengunjung ka bukan pemerintah yang bikin ini. Ada tujuh juta ongkosnya ini” terang Hj. Bia sambil membilas cuciannya. Hj. Bia sendiri merasa bahwa apa yang dilakukan pemerintah saat ini di pulau Lae-Lae memang belum maksimal. Ia menunjukkan bagaimana, tandon penampungan air yang dibangun oleh pemerintah telah tidak berfungsi. Parahnya sudah ada beberapa yang rusak padahal belum pernah sama sekali dimanfaatkan. Sama halnya dengan toilet yang dibangun tepat di utara pantai tersebut, menurutnya pemerintah terkesan setengah hati. Membangun fasilitas tanpa sarana penunjangnya. Belum lagi sikap lepas tangan yang membuat fasilitas tidak terawat dan terurus sehingga akhirnya rusak dengan mudahnya.

Selain toilet, fasilitas pendukung seperti tempat makan juga tidak terlihat di sekitaran pantai. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang miris, melihat jumlah penduduk yang cukup padat, inisiasi untuk membuka usaha warung makan yang lebih dekat dengan pantai ternyata belum ada. Selain pertimbangan modal yang cukup besar, wisatawan atau pengunjung yang tidak menentu jumlahnya menjadi alasan utama tidak adanya tempat makan khusus di sekitar kawasan pantai.

Lain Haji Bia, lain pula dengan Bucek. Karena kecintaannya dengan ekosistem laut, seperti kerang dan terumbu karang, Bucek menjadi penggagas seni kerajinan atau souvenir dari benda-benda laut tersebut. Sebagai anak nelayan kebanyakan, ia banyak menghabiskan hidupnya bergelut dengan laut dan ikan. Namun di sela kesibukannya, Ia secara otodidak belajar membuat berbagai macam kerajinan yang berbahan dasar kerang, terumbu karang dan juga pasir pantai.

Berkat keseriusannya, ia sudah pernah menjadi juara dalam lomba kerajinan tingkat provinsi yang diadakan oleh dinas Pariwisata Sulsel. Hal tersebut tentu membuatnya semakin aktif bergelut di dunia kerajinan traditional tersebut. Sayangnya, masalah modal kerap menjadi penghambatnya dalam mengembangkan usahanya tersebut. Saat ditanya apakah pemerintah sama sekali tidak pernah memberikan bantuan untuk usahanya, ia dengan sedikit mengeluh menjelaskan.

“Ada pernah dana dari PNPM Mandiri tiga kali bantuan, Bantuan berupa uang tunai saja, terus kita yang beli alatnya. Waktu itu dikasi dana 15 juta, harus dihabiskan semua, jadi kita beli barang sembarang saja. Tiga kali dana masuk sembarang kita beli, Padahal yang begini besok-besok lain itu kita buat. Banyak bahan yang biasanya dibeli tertinggal, seperti barang-barang lem itu mengering sendiri” paparnya sambil memperhatikan Erlin yang sedang memahat.

DSC_1126

Bucek dan Erlin yang sedang membuat patung dari Kayu Apung

Dalam mengembangkan usahanya, saat ini Bucek telah memiliki galeri sederhana yang ada di tepi pantai Lae-Lae. Bersama Erlin, sahabat sekaligus rekan kerjanya, ia mulai membuat kembali berbagai macam souvenir, seperti gantungan kunci, hiasan meja, asbak ataupun lampu hias. Selain itu, saat ini mereka sedang mengerjakan pesanan seorang Bule Australia yang memesan boneka maskot Kota Makassar yang dibuat dari kayu. Dengan bantuan Erlin yang memang pandai dalam memahat, Bucek optimis kelak usaha kerajinannya akan mulai dilirik pelanggan. Apatah lagi jika mendengar informasi dari Dinas Koperasi yang katanya siap membantu untuk memasarkan produknya.

Terkait masalah wisata pantai Lae-Lae yang tentu saja akan memberikan dampak besar bagi penjualan hasil karyanya, Bucek secara ragu-ragu menyatakan ketidakpuasannya dengan keadaan pantai yang masih tidak menjanjikan. “Rencana saya mau buat sesuatu di pantai, semacam pembersihan pantai yang cukup menyeluruh. Maunya pantai kita bersih sehingga orang-orang makin banyak yang datang, Jadi ada yang bisa beli souvenir” akunya sambil mengernyitkan dahi.

Meski Pulau Lae-Lae mempunyai banyak masalah dari sisi kesiapan sebagai destinasi wisata,namun ternyata banyak pula kisah-kisah cinta yang menjanjikan peluang dari masalah yang ada. Mungkin kita tidak akan menunggu lebih lama lagi untuk solusi tempat makan yang menyenangkan di pulau Lae-Lae. Setidaknya kelak mungkin wisatawan dapat menikmati makanan khas pesisir laut yang tentunya menjadi daya tarik tersendiri dari pulau Lae-Lae.

DSC_1081

Suasana Pantai Lae-Lae yang menjadi salah satu spot terbaik untuk melihat matahari terbenam