Posts Tagged ‘Kelas Kepo’

Shusi adalah makanan khas Jepang yang harganya terbilang sangat mahal. Kalau mau menikmatinya kita harus mengunjungi restoran, memakai pakaian yang rapi dan bersikap santun nan berkelas saat menyantapnya. Orang Indonesia kebanyakan akan merasa aneh dengan shusi, karena daging yang digunakan adalah daging mentah dan tidak dimasak. Selain itu, Kebanyakan shusi juga menggunakan bahan beralkohol seperti campuran minuman sake yang tentu saja tidak halal. Lantas? Apakah semua shusi memang seperti itu?

Hari ini urusan kantor telah selesai. Sebelum pulang ke rumah, kami berencana untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Karena malam ini juga hujan kembali turun, kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah Yatai (Bahasa Jepang, yang artinya angkringan/gerobak) Shusi Bizkid yang terletak di Jl. AP Pettarani yang tidak jauh dari tempat kerja kami. Untuk menemukan Shubiz (singkatan untuk Shusi Bizkid) tidaklah sulit, dari arah Gowa menuju fly over Urip Sumoharjo, tepat setelah melewati POM bensin Rappocini kita akan mudah melihat papan petunjuk di sisi kiri jalan. Di situ terpampang jelas nama Shusi Bizkid beserta dua kedai minuman lainnya. (more…)

Advertisements

“Karena tulisan tidak akan menjadi sebuah tulisan jika tidak diselesaikan”

Menghasilkan sebuah tulisan yang “nikmat” untuk dibaca bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Bahkan penulis hebat sekalipun, terkadang mendapatkan kesulitan untuk menghasilkan sebuah tulisan yang menarik. Apatah lagi jika harus menuliskan sesuatu yang diluar keahlian atau kebiasaan si penulis. Begitupun halnya dengan penulis pemula, mereka selalu kesulitan untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot dan menarik untuk dibaca.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya kesulitan menghasilkan sebuah tulisan. Selain masalah klasik, yaitu tidak adanya waktu untuk menulis, ada beberapa keadaan yang telah menjadi hal yang membahayakan bagi penulis pemula.

Berikut ini ada lima bahaya laten yang sering dialami oleh para penulis pemula. Kesemuanya merupakan hasil pengamatan dan pengalaman pribadi yang penulis sering alami.

(more…)

Sudah hampir sejam berlalu, Roni masih berdiri kaku di tepi kaca jendela di ruang belajar sore itu. Merahnya langit di tepi barat mengantarkan ingatannya pada pesan singkat yang ia terima pagi tadi. Seorang sahabat karibnya saat menempuh studi S1 dahulu, tiba-tiba muncul dan mengajaknya untuk menjadi joki pada Test of English as Foreign Language (TOEFL) di sebuah lembaga kursus ternama. Joki adalah istilah untuk orang yang mengerjakan ujian untuk orang lain dengan menyamar sebagai peserta ujian yang sebenarnya.

Lama tak berjumpa, namun tiba-tiba muncul dengan sebuah ide gila membuat Roni tak percaya dengan pesan tersebut. Saking tak percaya dengan apa yang ia lihat, Roni harus membaca pesan itu secara berulang-ulang untuk menyakinkan dirinya. “Dua jam saja dalam ruangan dan kita akan dibayar hampir sejuta” begitu kalimat penutup dari pesan yang dibacanya.

Sejenak pikiran Roni melayang jauh, ia tiba-tiba teringat penghasilannya yang sangat jauh dari kata cukup. Ia teringat dengan kiriman uang saku yang kini tak lagi ia dapatkan semenjak wisuda bulan lalu. Terlebih biaya hidup sebagai pegawai baru ternyata tak sedikit. Belum lagi sebuah rencana tuk menikah tahun depan yang ia terlanjur janjikan pada pacarnya. Sebuah rencana besar namun tabungan untuk mewujudkan rencana itu belum ada sepeserpun. “Ah, mungkin sudah saatnya mencari cara baru untuk menghasilkan uang dengan cara cepat” pikirannya mencoba berdamai dengan pertentangan batinnya.

(more…)