Lakukan Saja!

Posted: September 22, 2018 in Australia Daily, Curcol

Saya tiba sesuai jadwal yang diberikan dari TransWa, bus antar kota di Australia Barat, yang membawa saya dari Geraldton pagi tadi. Meski harus berjalan tertatih-tatih karena sudah telat dan beban tas lumayan berat, saya berhasil tiba tepat waktu di area keberangkatan di Platform market. Setelah menuliskan nametaguntuk tas saya, saya lalu mencetak tiket di counter yang tersedia. Karena tiket bus Transwa juga bisa digunakan sebagai tiket kereta Transperth di kota Perth, maka sudah seharusnya tiket tersebut dicetak saja, agar bisa dengan mudah diperlihatkan ke petugas jaga di pintu masuk dan keluar stasiun di Perth nanti.

Begitu tiba di Stasiun East Perth, saya langsung menuju ke area tunggu kereta yang menuju pusat kota Perth untuk kemudian mampir ke Perpustakaan Wilayah Australia Barat yang berada tak begitu jauh dari stasiun kota Perth. Tujuan saya tak lain adalah untuk mengisi ulang baterai telepon genggam saya yang mulai berkurang dan juga menchargebaterai kamera yang ternyata kosong melompongkarena lupa dimatikan sejak tadi malam. Selain itu, sekalian juga saya bisa melaksanakan kewajiban sholat yang sudah masuk waktunya. Memang tak ada tempat khusus untuk sholat di sini, namun sudut-sudut ruangan yang sangat luas namun bersekat-sekat dan juga sepi senyap, membuatnya pas untuk dijadikan pilihan lokasi sholat saat terdesak.

Hari sabtu ternyata jam tutup perpustakaan ini cukup lama, yakni pukul 5.30. Saya pun bisa menghabiskan lebih banyak waktu di sini. Bukan hanya masalah koneksi internet gratis dan colokanlistrik yang banyak tersedia, saya juga merasa sangat nyaman di tempat ini. Pengunjung yang sibuk membaca, menulis dan mengetik serta berdiskusi dalam kelompok kecil tampak tak menimbulkan suasana gaduh sama sekali. Terlebih lagi ruangan tiap lantainya begitu luas, ditambah kursi dan sofa super empuk, maka ‘anu’ apalagi yang kamu cari?, makanya tempat ini tentu pas sekali untuk memanjakan diri yang sedang kelelahan.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Maaf saya lupa!

Posted: September 19, 2018 in Australia Daily

Hari pertama di kelas adalah pengalaman yang tak mudah untuk saya gambarkan dengan kata-kata. Mungkin karena perasaan yang campur aduk kala itu, akhirnya tak banyak yang bisa saya ingat dengan detail. Tapi, daripada tidak ada sama sekali yang tercatat, lebih baik saya tuliskan saja seadanya, siapa tahu nanti bisa jadi pengingat di hari tua nanti.

Saya berdiri sebentar sambil melirik jam yang terpasang di sudut kelas, sisa 5 menit lagi, pikirku memastikan jadwal yang sudah diberitahu guru mentor saya tadi. Saya pun lalu duduk kembali, mengecek presentasi sederhana tentang perkenalan diri saya di komputer di meja saya. Kembali merasa ada yang kurang, meski sudah dicek berkali-kali sejak tadi malam.

Saya mulai penasaran seperti apa anak-anak SD di sini saat belajar di kelas. Begitu bel telah berbunyi, murid-murid dengan warna rambut tak hanya hitam mulai tampak berjalan dari kejauhan. Mereka terhenti tepat di depan pintu masuk sambil berbaris menantikan guru mentor saya menyambut mereka. Tentu saja, tak ada pemeriksaan kuku seperti yang dulu saya alami ketika SD. Mereka harus berjalan dari kelas mereka didampingi guru wali mereka, lalu di depan kelas Bahasa ini, barulah diambil alih oleh guru Bahasa Indonesia. Kayaknya proses serah terima ini selalu berlangsung seperti itu, tak jarang saya melihat ada pesan rahasia yang disampaikan oleh guru wali atau pendamping mereka saat proses ini berlangsung. Mungkin sekedar informasi kehadiran, atau pun keadaan stabilitas jiwa dan kedamaian suasana hati siswa-siswa yang datang, entahlah, saya hanya bisa menebak-nebak saja. Read the rest of this entry »

Bukan Rejeki Maka Bersabarlah!

Posted: September 18, 2018 in Australia Daily

Pertama kali tiba di Australia, rasanya lumayan nano-nano, kayak ada manis-manisnya gitu. Mirip kisah sedih orang terlantar, saya harus merasakan hidup tak jelas selama beberapa hari karena belum bisa langsung bekerja. Parahnya lagi, saya harus menanggung biaya hidup selama proses penantian tersebut, penantian selesainya pengurusan surat-surat administrasi hingga saya bisa bekerja sesuai kontrak yang sudah ditandatangani. Apakah saya ditipu? Atau saya yang kurang beruntung saja? Mungkin kita bisa lihat lagi apa yang terjadi hingga saya mengalami keterlambatan kerja tersebut.

Jika merujuk ke cerita saya yang ketinggalan pesawat dari Bali ke Perth, mungkin hal tersebut bisa sepenuhnya menjadi kesalahan saya, namun jika melihat lebih jauh lagi ke belakang, sebenarnya semua ada hubungannya dengan keterlambatan visa saya. Awalnya, semua asisten pengajar Bahasa sudah dibolehkan tiba di Australia dua minggu sebelum kontrak kerja dimulai, dan waktu tersebut memang disiapkan khusus dengan perkiraan sudah cukup memadai untuk mendapatkan legalitas bekerja sesuai aturan di sini. Mengapa sampai dua minggu? Karena kerja sebagai language asisten disini ternyata tak semudah kerja di Indonesia, ada beberapa berkas yang harus benar-benar dimiliki untuk bisa mulai bekerja di sekolah sesuai tugas yang diberikan. Walau hanya sebagai asisten pengajar, bukan guru inti, namun keamanan dan legalitas diatur dengan sangat ketat. Seingat saya, ada beberapa hal yang perlu disiapkan, yang pertama adalah pembukaan rekening bank, lalu dengan menggunakan rekening bank dan beberapa berkas, seperti passport dan visa lalu mengurus keterangan bebas dari tindakan kriminal, dan terakhir mengurus kartu berhak bekerja dengan anak-anak atau working with children check. Tak lupa juga membuat secara online nomor berkas pajak atau TFN yang nantinya akan sangat berguna dalam proses pengurusan pajak. Saya rasa nomor inilah yang jadi nomor sakti di Ausi, mungkin akan saya bahas tersendiri pendapat saya tentang nomor ini di tulisan lainnya, semoga.

Read the rest of this entry »

Pada sore yang cerah dan langit bersih tanpa awan, terlihat dari kejauhan hewan-hewan peliharaan di ladang bergerak menuju tempat makan. Waktu memang sudah menjelang malam, waktu dimana mereka akan segera diberi makan, tapi justru saat tersebut adalah saat terbaik melihat kanguru berkeliaran.

“Kamu sudah pernah mengendarai quadbike sebelumnya?” Dan aku hanya bisa menggeleng kepala sambil memastikan ia memberi petunjuk cara menggunakannya. Untungnya kendaraan tersebut sudah otomatis, jadi sisa mengetahui mana rem dan gasnya saja, selebihnya hanya perlu sedikit keberanian.

7529040944_IMG_0987

Saat kami mengendarai baru beberapa meter, sudah ada kanguru yang melompat-lompat di sisi kiri rute yang kami lalui. Terlihat kanguru berukuran cukup besar setinggi hampir satu meter mencoba melompati pagar pembatas ladang. Tak jauh dari situ, sepasang kanguru di sisi kanan kami juga tampak dari kejauhan, kepalanya terlihat terangkat seakan mengamati siapa yang sedang melintas. Tapi begitu melihat si Milly, anjing ladang yang ikut bersama kami, mulai berlari ke arah mereka, seketika mereka melompat-lompat menjauh dari pandangan kami.

Sebelum menjajal tanjakan yang cukup terjal dan menantang, kami kembali bertemu dengan seekor lagi yang berukuran cukup besar dari sebelumnya, ia terlihat kebingungan dan mungkin juga kaget melihat kami bertiga tiba-tiba muncul di dekatnya, ia pun melompat kesana kemari lalu menghilang di semak yang cukup banyak di kaki bukit.

Ladang yang kami lalui terletak sebagian besar di atas bukit, walau rute ke atas bukit lumayan membuat napas ngos-ngosan, pemandangan dari titik tertinggi di atas ladang membuat semua ketegangan tadi terbayarkan. Saat berbelok di ujung pendakian, bulan terlihat menyambut kami, dengan bentuk membulat tanpa awan yang menemani, jejeran beberapa pohon-pohon kecil seakan memberi bingkai hiasan pemandangan ladang yang kami lalui. Langit pun mulai kekuningan, menandakan matahari sebentar lagi akan terbenam.

Kami berhenti di belokan jalur yang menawarkan pemandangan terindah sore itu. Dari tempat kami berdiri terlihat sebuah tebing batu di mana para kanguru bergerombol melompat-lompat menaiki bukit berbatu, setidaknya ada empat ekor yang terlihat jelas. Milly, si anjing yang menemani kami terlihat kelelahan setelah tadi mengejar-ngejar kanguru yang terlihat olehnya.

7529060912_IMG_0986

Dari sini pula, terlihat dari kejauhan kota Geraldton, pelabuhan dan mercusuarnya menjadi penanda yang jelas bagi kami. Saat kami pulang dan langit mulai gelap, cahaya lampu kota menjadikan pemandangan lebih indah dengan kelap-kelipnya.7589961408_IMG_0985

Kami lalu menyusuri sisi terjauh dari ladang, ke bagian seberang dari tempat kami melihat kota Geraldton tadi. Tak ada kanguru yang terlihat di sepanjang rute ini. Setelah masuk waktu shalat, saya diberi waktu untuk menunaikan kewajiban sebelum melanjutkan lagi mencari si kanguru. Dengan rute yang sama, saya berjalan di depan, dan tak berapa jauh dari tempat tadi terlihat di kaki bukit seekor kanguru yang terlihat mengamati pergerakan saya. Ia seakan berdiri memastikan keadaan, lalu melompat lagi menjauh ke dalam semak-semak pohon yang banyak di sekitar kaki bukit

IMG_1631

Sebuah pengalaman sangat menyenangkan hari ini, melihat kanguru di alam bebas dengan menggunakan quadbike mengitari ladang gandum.

Snapseed

“Iye bapak, tunggu dulu di kelas ka ini sekarang, diusirka nanti kalau jawab telpon!” Jawab si Mamat dengan nada pelan sambil berbisik. Wajah bapaknya dengan kumis tebal terpampang jelas di layar hapenya. “Ini tantemu mau bicara nak” jawabnya singkat diikuti pergantian wajah yang tampil di layar “Ididih, putihmu nak sekarang!” sang tante langsung memuji wajah Mamat yang sudah terlihat agak putih. Tak mau mengecewakan keluarga yang jauh di Pulau Sulawesi sana, Mamat akhirnya tetap menjawab telepon hingga selesai dengan mendekatkan hape ke arah wajahnya, mungkin hanya hidung si Mamat yang terlihat jelas di layar hape sang bapak.

Mamat kini melanjutkan kuliah di salah satu Universitas terbaik di Australia, ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah dan sudah memulai kuliahnya sejak bulan Februari kemarin. Hidup sebagai anak rantau yang kini berada di negara lain, membuat Mamat semakin sering dihubungi oleh sang Ayah, bahkan hampir-hampir intensitas telepon si bapak tersayang mengalahkan seringnya waktu nelpon sang pacar yang ada di Aceh sana. Memang bukan lagi kebiasaan baru sang bapak untuk rajin menanyakan keadaan Mamat, dulu sejak kuliah S1 di salah satu kampus negeri di Makassar, ia telah intens dihubungi untuk memastikan keadaan Mamat baik-baik saja. Read the rest of this entry »

Cerita Sumur Tua Buccello

Posted: July 30, 2018 in Cerpen, KKN

“Di sini nak, banyak orang pake ini tempat sebagai tempat mandi dan ambil air saat musim kemarau. Tidak pernah kering airnya” begitu kata ibu posko kami saat kami baru tiba di sumur berbentuk persegi dengan air yang terus mengalir keluar dari dasar sumur yang lebih mirip kolam kecil.

Read the rest of this entry »

Ini adalah salah satu pertanyaan yang muncul dari kebanyakan teman-teman di Indonesia, dan memang masalah biaya ataupun jumlah uang yang dihabiskan untuk hidup di negara besar seperti Australia selalu jadi hal yang menarik untuk dipertanyakan. Namun sayangnya, tak ada jawaban pasti berapa total biaya yang dikeluarkan, hanya bisa memberikan gambaran kasar saja, kisaran total biaya yang dihabiskan dalam seminggu atau sebulan. Itupun akan bervariasi tergantung tempat tinggal dan kebutuhan pribadi.

Saya sendiri tinggal di Kota Geraldton, sebuah kota yang tidak terlalu besar namun memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Untuk kebutuhan sehari-hari, seperti bahan makanan, alat-alat kebersihan dan pakaian dapat diperoleh dengan mudah di kota ini. Untuk pilihan tempat belanja kebutuhan pokok pun ada beberapa yang bisa jadi pilihan, seperti supermarket Woolsworth, IGA, ataupun Coles, sedang untuk kebutuhan pakaian dan sebagainya ada yang namanya Target, pun juga dengan alat-alat perkakas atau perlengkapan rumah akan mudah didapatkan di Toko Bunnings. Semua yang tadi saya tuliskan adalah toko-toko besar yang hampir semua ada di daerah Australia yang lain. Selain itu tentunya ada juga toko-toko kecil yang menyediakan pilihan yang lebih beragam tuk jenis barang tertentu di masing-masing kota. Read the rest of this entry »

Tiba-tiba saja suasana jadi mencekam, suara anjing yang menyalak dari kejauhan menambah rasa was-was. Suara gemuruh di langit pun sudah hampir sejam terdengar, bukan angin atau hujan seperti beberapa malam lalu, tapi helikopter yang sedari tadi mengudara di area tempat tinggal saya. Nampaknya mereka masih mencoba menyusuri dan mengintai tempat-tempat strategis untuk memastikan keadaan aman terkendali.

Pesan singkat dari nomor pemerintah kota baru saja masuk, saat melirik jam weker di dekat TV, terlihat kedua jarumnya hampir menunjukkan pukul 11 malam. Pesan ini nampaknya dikirim dari pemerintah kota Geraldton, isinya berupa info singkat adanya tahanan yang kabur dari penjara siang tadi, peringatan untuk berhati-hati dan memastikan semua pintu dan jendela tertutup rapat pun menjadi kalimat penutup dari sms tersebut. Read the rest of this entry »

Tulisan Tak Berjudul

Posted: July 23, 2018 in Curcol, Rasa

Tulisan ini tak berjudul, karena hanya sebuah bentuk keresahan saat berpikir tentang bagaimana masa depan akan hadir nantinya. Meski semua akan selalu jadi misteri, dan tak ada yang pernah bisa menebak seperti apa esok, apakah kita akan siap dengan segala konsekuensinya? Atau hanya berharap waktu yang akan membawa keajaiban dan tiba-tiba semua berjalan sebagaimana yang diharapkan semua orang.

Ketika saya melihat orang lain mendapatkan rezeki yang nampaknya lebih baik dari saya, entah itu masalah keluarga, pekerjaan atau pun pendidikan, lantas muncul keinginan untuk merasakan juga hal tersebut, muncul di benak ini semacam rasa tidak enak hati karena tidak bisa juga seperti itu. Kenapa orang bisa dengan mudahnya, yah bagi saya terlihat mudah, mendapatkan hal yang saya dambakan, sedang saya tidak bisa?

Parahnya, saya terkadang mulai menyalahkan masa lalu, mulai menyesali apa yang telah lalu, mirip anak kecil yang menangis karena es krimnya terjatuh, padahal si bocah itu sendiri yang berlarian di lantai yang licin lantas akhirnya tergelincir, jatuh lagi dengan pantat yang terbentur keras, tepat di tulang duduk, yang sakitnya bisa bikin mata kehilangan warna hitamnya. Dulu sering sekali terpikir pula, kenapa bukan kuliah di jurusan lain saja, kenapa tidak kuliah langsung di luar Sulawesi saja, tentu jaringan akan lebih baik, tentu prospek kerja akan lebih bagus. Dan penyesalan ini, kadang datang menghampiri berkali-kali, menitipkan beban rasa bersalah yang semakin hari semakin membuat hidup berat tak bergairah dan menjalani sisanya tanpa penuh makna. Maunya tidur saja, kerja pun tak ada yang dinikmati, hanya menghitung waktu hingga gajian tiba, dan begitu seterusnya, lagi dan lagi.

Read the rest of this entry »

Sebuah tulisan sebagai pengingat diri akan beratnya berusaha untuk tetap konsisten dalam melakukan sesuatu.

Bahkan tulisan inipun tertatih-tatih dalam setiap kata yang akan tertulis. Butuh waktu lama tuk bisa berlanjut ke tahap ini. Saat mulai menulispun sudah memikirkan seberapa panjang tulisan ini, apakah hanya berakhir satu kalimat di atas tadi, atau hanya paragraf ini saja sebagai lanjutannya dan kemudian berakhir lagi di daftar draft tulisan yang ujung-ujungnya tak pernah lagi tersentuh.

Tapi saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkannya, teringat dengan tips ampuh dari salah satu kelas menulis dulu, untuk mendapatkan ide dalam menuliskan sesuatu selalu gunakan metode bertanya, 5W1H, bertanyalah terus dan jawab dalam tulisan. Jadi dalam tulisan ini saya akan langsung menjawab saja pertanyaan yang terlintas dan melihat seberapa jauh saya bisa berjalan dengan pertanyaan itu dalam bentuk rangkaian kata-kata.

Saat ini waktu menunjukkan pukul 10.37, malam ini udara kembali terasa sangat dingin bagi saya yang terbiasa tinggal di daerah tropis berdekatan dengan garis khatulistiwa. Suhu masih wajar menurut orang-orang sini, 17 derajat saja, tapi dinginnya sudah menembus tulang-tulang saya, hingga kadang ke toilet terpaksa ditahan-tahan, demi menghindari dinginnya air. Ditambah lagi diluar sedang hujan disertai angin yang lumayan kencang berhembus, suasananya jadi agak melow. Gara-gara hujan ini pula hari ini rencana ke perpustakaan tadi sore pun terpaksa ditunda, padahal waktu akhir pekan seperti ini adalah waktu terbaik tuk bisa bersantai di perpustakaan yang hanya bisa buka hingga pukul 5.30 sore saat hari kerja.

Saat ini saya menulis menggunakan sebuah laptop yang baru, meski merupakan barang bekas, tampilannya tak kalah dengan barang baru. Mungkin memang rejeki saya dapat barang bagus ini dengan harga yang lumayan murah, meski yah untuk biaya penggunaan seperti pembelian aplikasi lumayan mahal, tidak seperti Windows laptop yang bisa menggunakan program gratis hasil download-an di beberapa situs gratisan. Meski begitu, untuk kenyamanan dalam menulis dan tingkat responsif saat digunakan,  kemampuan laptop ini sangat jauh di atas laptop-laptop yang pernah saya coba. Mulai dari proses booting saat dinyalakan hingga buka tutup aplikasi, semuanya terasa sangat lancar dan tentunya tampilan di laptop ini lebih segar dan ciamik. Terlebih lagi didukung dengan daya tahan baterai yang menurut saya luar biasa meski ukuran laptop yang justru sangat tipis. Jadilah menulis apapun terasa lebih cepat dan nikmat, eh.

Memang akhir-akhir ini saya sering menulis apa saja, terutama pengalaman selama berada di Australia beberapa bulan ini, banyak yang masih ingin saya tuliskan tapi terkadang saya melihat tak ada respon atau bahkan tak ada pembacanya sama sekali. Padahal dalam dunia kepenulisan terkadang feedback dari pembaca adalah energi yang bisa tiba-tiba menyulut semangat tuk menulis dan menulis. Tapi pada akhirnya saya sadar, jika hanya menulis untuk dapat pujian ataupun mendapat banyak viewers, maka saya telah mengkhianati diri saya sendiri. Pasalnya memang dari awal saya ingin menulis untuk menaklukkan ego saya, menaklukkan rasa tidak konsisten dan pastinya untuk mengembangkan kemampuan menulis saya yang masih sangat jauh dari kata baik.

Saya merasa betul tulisan saya masih sangat kurang dalam berbagai hal, makanya selalu tidak percaya diri untuk mengirimkan tulisan saya ke media, belum lagi dengan berbagai keterbatasan waktu untuk membuat tulisan yang berbobot. Meski beberapa minggu lalu sempat dikenalkan dengan alur mengirim essay ke mojok.co oleh teman facebook yang tulisannya telah berhasil diterima disana meski awalnya harus mencoba berkali-kali, tapi setelah melihat tulisan orang-orang di sana, saya malah langsung merasa ciut, mengecil dan tak bernafsu lagi, biarlah kata-kata ini vulgar sedikit. Tapi mudah-mudahan bulan depan sudah mempunyai cukup keberanian untuk itu. Apalagi jika semesta mulai mendukung.

Iya, nampaknya semesta berkonspirasi. Tadi siang, sempat berkomunikasi dengan salah seorang mahasiswa yang kebetulan ingin mendaftar di program yang sama dengan saya, dari penjelasannya, dia kerjanya sebagai freelance di sebuah situs lumayan besar dan bekerja sebagai content-writer. Dari tulisannya yang sempat saya baca, wah ternyata dia adalah salah satu orang yang tulisan-tulisannya sering ke shared di linimasa sosial media saya. Mudah-mudahan hal tersebut adalah tanda sebagai jalan untuk terjun juga nantinya ke dunia freelance content-writer, namanya rejeki tidak bisa ditebak kan.

Memang sudah ada jalan untuk terjun ke dunia tulis menulis konten yang tentunya sedikit banyak bisa mengembangkan bakat plus menerima upah, tapi mungkin butuh waktu lagi, kira-kira kapan yah? Yakin aja segera. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat memotivasi tuk lebih giat dan sering menulis.

Saya berhasil menulis sejauh ini, dengan menjawab tiga pertanyaan saja, kapan, pakai apa, dan kenapa? Ternyata lumayan efektif, dan sekarang waktu menunjukkan pukul 10.59, saatnya beristirahat karena besok pagi adalah hari Senin yang tentunya akan sibuk-sibuk lagi.

Geraldton, 22 Juli 2018.

PS: Tulisan ini selesai dicek dan diedit sedikit agar lebih profesional lagi pada pukul 11.10. Lumayan.