Hilangnya Chelsi

Posted: January 3, 2018 in Uncategorized

Kepergian adalah sesuatu yang pasti. Apakah kita ditinggalkan atau pun meninggalkan.

Hidup ini baik-baik saja, selalu itu yang diharapkan. Saya pun demikian. Ketika meminta dalam doa, setidaknya berikan saya kemudahan dalam menghabiskan waktu setiap hari tanpa ada masalah yang saya pikirkan dalam tidur.

Dulu pernah sekali Emak bilang, hidup tanpa masalah tidak asyik soalnya hidup akan mulus-mulus saja. Saya pun berpikir demikian. Di rantauan jauh dari pulau Sumatera, telpon yang sering berdering selalu mengingatkan untuk tetap menghadapi masalah apapun itu. Kalau ia sulit, masalah itu mungkin hanya membutuhkan sedikit perhatian lebih. Mungkin ia sejenis makhluk yang kurang perhatian. Mirip dengan saya kayaknya ini. Tapi setelah dihadapi akan terlihat bahwa ia lebih mudah. Kalau test IELTS itu diperhatikan, dipersiapkan dan dipelajari terus menerus saja, tanpa pernah dihadapi, yakinlah kita tidak akan tahu bahwa sebenarnya ia tak seseram yang kita pikirkan. Ada sih yang mendapatinya lebih seram dari yang dia bayangkan. Tapi intinya, hadapi saja dulu, nanti akan ditunjukkan kemana arahnya. Read the rest of this entry »

Advertisements

Menemukan Jalan

Posted: December 31, 2017 in experience, Story

 

IMG_20171210_063611.jpg

Kami dan Pagi di Pare, Kediri

 

Tuhan tak memberikan apa yang kita inginkan, tapi memberikan apa yang kita butuhkan. Everything happens for a reason.

Atas nama apa lagi diri pantang bersyukur? Tuhan tidak memberikan yang diinginkan, namun membawa diri menggapai apa yang selama ini hanya bisa diimpikan.

Dalam akhir menghabisi tahun 2017, menjelang akhirDesember, diri ini berada di sebuah kecamatan kecil, berpopulasi cukup padat, tanpa destinasi wisata yang menonjol, tapi mampu menarik pengunjung dari berbagai penjuru Indonesia.

Dua bulan yang lalu, awal bulan September tepat tanggal 7, kaki ini berjejak di tanah dewata, tanah yang menjunjung tinggi tradisi yang menjadi gula manis penarik semut-semut wisatawan, bukan hanya dari Indonesia, tapi dari seluruh penjuru dunia,tak jarang mereka tidak tahu Indonesia, meski sudah berkali waktu ke Bali. The last paradise in the world, adalah tagline yang akan menyambut selalu di Bandara Ngurah Rai, seakan memberikan garansi kesan keindahan yang mungkin hanya bisa dinikmati di Bali. Yah, saya di Bali, bukan hanya sehari atau seminggu tapi lebih dari itu. Maka apa yang saya harus katakan untuk semua ini?

Read the rest of this entry »

Menakar Rasa Kecewa

Posted: December 31, 2017 in cerpen

Saya mengingat semua yang terjadi pada hari itu, tapi entah mengapa saya lupa untuk mengatakan selamat tinggal.

Orang terdekat sudah saya hubungi, orang tua dan kerabat family pun sudah tahu dengan rencana saya. Setelah hubungan ini terjalin begitu lama, bahkan sejak kami lulus SMA, saya sudah memantapkan hati memilih dia sebagai wanita terakhir yang akan menemani hingga ajal menjemput. Telah saya tetapkan minggu kedua Januari 2015, saya akan melamar dia. Memang bukan waktu yang singkat tuk bisa sampai di posisi ini, dimana saya merasa mapan dan pantas tuk meminang anak gadis orang.

***

Begitu beratnya, kau lepas diriku

Sebut namaku jika kau rindukan aku

Aku akan dataaaang…

Ah, lagu “Mungkinkah” yang begitu popular di era 90an menjadi pengantar sendunya perpisahan kami malam itu. Mungkin Grup Band Stinky dan suara mellow Andrew dapat menyatu dengan suasana hati saya saat itu. Sebuah perpisahan harus terjadi, besok saya bertolak menuju ke Papua, tanah yang asing tak pernah terpikir untuk dijama oleh anak Makassar ini. Keberhasilan sebagai karyawan baru teknisi controller di PT.Freeport, salah satu tambang terbesar di Indonesia saat itu, mengharuskan saya meninggalkan kampung halaman. Jurusan teknik pertambanganlah yang memuluskan jalan saya bisa diterima di tempat ini, meski hanya lulusan universitas swasta, namun koneksi dan pengalaman yang saat praktik lapangan menjadi nilai plus bagi saya. Read the rest of this entry »

Kamar Tanpa Kasur

Posted: December 25, 2017 in daily life

Kami Panggil Ia Rumah

Kamarnya lumayan luas, ukurannya pas dengan kami berdua, hanya tikar alas dan tak ada kasur. Meja tanpa kursi dan meja panjang tuk belajar lesehan. Di sudut ada ruang sempit depan pintu WC kami sebut ia dagud mini, singkatan tuk dapur dan gudang tepatnya. Ada kompor portable yang kami bawa dari Makassar dan karton bekas beli ricecooker yang tertumpuk berdampingan layaknya pasangan muda mudi yang mojok di sudut ruangan.

Bapak kost memberi harga lumayan murah, dengan fasilitas kamar mandi dan WC dalam kamar, bebas biaya air dan listrik, ia hanya mematok harga 550 ribu saja.  Diberi pula kami bantal kepala dua biji. Jemuran pun disisakan area buat kami menempatkan pakaian-pakaian basah yang siap tuk berjemur.

IMG_20170925_125503.jpg

Layangan Putus Terdampar Di Depan Kamar

Read the rest of this entry »

Pengalaman Pertama di Rantau

Posted: September 7, 2017 in Uncategorized

The Last Paradise in The World (Surga Terakhir di Dunia) menjadi semboyan provinsi yang terletak di bagian selatan Indonesia ini. Apakah memang di sini ada surga? Mungkin nanti akan terjawab seiring waktu berjalan, begitulah selalu katanya, waktu akan menjawab semua, bahkan untuk sesuatu yang tidak sempat untuk kita tanyakan.

Jalan Menuju Jalan

Setelah kurang lebih satu jam mengudara, sekitar pukul 08.30 waktu setempat, pesawat berhasil parkir manis di sisi selatan bandara. Kami berdiri, turun sendiri dan berlari menuju menuju bus shuttle yang telah mengantri. Berdiri bergelantungan menatap bapak-bapak dan ibu yang tak satupun berkata-kata. Kami segera menuju tempat pengambilan barang bagasi, berharap-harap cemas dengan keadaan si Ransel yang tadi sempat di PHP, sudah berharap masuk kabin tapi nyatanya masuk di bagasi.  Beberapa menit menunggu akhirnya tas saya pun terlihat, tak ada yang perlu dikhawatirkan, semua lengkap dan tak lecet sedikitpun. Si tas kayaknya berhasil survive.

Sesuai rencana dan strategi perjalanan dadakan yang sempat tersusun di RS kemarin, kami akan menggunakan moda transportasi motor dari Bandara menuju tempat pelatihan Kak Angga, menyusuri jalan Bypass tembus ke Tol Laut, berkendara di atas laut si ransel akan duduk manis di depan saya, kak angga memangku kopernya dibelakang, angin membawa kenangan masa lalu mengusap-ngusap manja mukanya kak Angga, lalu kami menyusur jalan raya, masuk gang-gang mencari indekos. Kami mencoba menghubungi penyedia jasa sewa (selanjutnya kami sebut Abang Motor) yang sempat kami telepon dua hari lalu, namun belum juga diangkat. Sambil menunggu kami menikmati roti dan teh kotak yang sempat kami bawa dari Makassar, sembari menikmati pemandangan depan mata.  

Read the rest of this entry »

Merantau

Posted: September 6, 2017 in Uncategorized
Tags:

Subuh ini setelah shalat berjamaah dengan kak Angga, kami menembus sunyinya jalan kota Makassar menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Saya duduk depan tapi bukan di belakang kemudi. Tepat di kursi belakang saya, ada kak angga, istrinya di samping kanannya tepat di belakang supir dan anaknya duduk di antara mereka yang tetap sibuk berceloteh.  Si supir yang seumuran saya masih terlihat kantuk, air bekas cuci mukanya pun masih segar terlihat bergelayut di ujung rambut tepi wajahnya. Dengan leluasa ia mencari saluran radio di tape mobilnya. A way back into love pun mengiringi kepergian di subuh yang beku, bersusulan lagu lawas lainnya yang jadi pilihan di Radio Delta FM.  

Di perjalanan kami memastikan tiket yang sudah dipesan. Dan ternyata tiket elektronik kak angga tidak dapat diakses di aplikasi whatsapp nya. Tiketnya dikirim dari kakaknya beberapa hari lalu. Handphone yang sudah teresetpun jd penyebabnya. Sempat ingin mencari file screenshotnya, tapi untungnya kakak iparnya sigap mengangkat telepon dan mengkonfirmasi akan mengirimkan ulang tiketnya. Jadi akhirnya masalahpun beres. 

Dalam sisa perjalanan hanya banyak diam beku tanpa suara, sesekali sang istri bertanya hal-hal remeh temeh untuk mencairkan suasana. Saya..menyanyikan lagunya kerispatih hingga tetangga mobilpun jadi terenyuh mendengarnya..haha, itu hanya khayalan saya. Nyatanya saya hanya diam agar bisa tetap menjala solidaritas. 

30 Menit lamanya membela ruas poros utama akhirnya sampai juga. Mobil menepi di sisi jalur keberangkatan, sigap kami menurunkan barang dan berjalan mengular di pemeriksaan masuk. Check in pun demikian dengan antrian panjangnya, kamipun menunggu cukup lama sekitar 20 menitan. Saat check in tas ransel saya terindikasi kelebihan muatan alias overload, akhirnya ia harus masuk bagasi. Mudah mudahan tas yang sudah usur itu bisa bertahan dengan perlakuan pegawai bagasi, soalnya dari video yang pernah saya lihat perlakuan mereka memang kasar. Kasian si ranselLaptop dan berkas saya pindahkan ke totebag yang sudah saya siapkan.  Setelah kak Anggapun selesai check in, kami kembali keluar untuk pamit dengan istri dan anak kak Angga. Suasana perpisahan yang kental trrlihat dari peluk sayang dan cium mereka. Baik-baik yah, katanya. Bayangkan saja bagaimana percakapannya yah. 

Kami pun menuju Gate 4, dan tepat pukul 06.15 kami sudah masuk pesawat.  10 menit kemudian peawatpun take off. Selamat tinggal sementara Makassar.  Kami merantau dulu sejenak.

Sepotong Cinta dari Lae-Lae

Posted: March 5, 2016 in Uncategorized

Eh, sampai miki? Cepatnya dih. Belum pi ki sempat upload foto di facebook sampe mi orang! gerutu salah seorang penumpang kapal peyebrangan pulau Lae-Lae. “Memang dek, kalau tidak kencang ji ombak biasa 5-10 menit ji. Tapi kalau lagi jelek cuaca paling lama 15 menit” sang juru kemudi kapal menimpali dengan cepat. Suasana pulau yang berada sangat dekat dengan kota Makassar ini mulai terlihat jelas saat kapal mulai menepi ke bibir pantai. Deburan ombak menerpa jejeran perahu yang terparkir di sepanjang tepian pantai. Sebuah gerbang melengkung menyambut kami tepat di tepi dermaga, menyampaikan ucapan selamat datang di pulau Lae-Lae, salah satu pulau yang memiliki suasana sunset terindah dan akan selalu dirindukan.

20160220_083025

Suasana Dermaga Pulau Lae-Lae

Read the rest of this entry »

Dalam hiruk pikuk kesunyian malam, sejenak bermimpi untuk kembali ke dunia nyata. Dalam malam-malam akhir-akhir ini, seorang gila namun waras bercerita tentang hal-hal yang tidak ia ketahui. Tentang berbagai pengalaman yang tidak pernah ia alami dan bagaimana ia akhirnya menyelesaikan masalah yang sampai kini membuatnya pusing.

Terkadang sebuah kebohongan takkan nampak jelas jika ia dikemas dengan rapi. Pun begitu sebuah kejujuran akan nampak tak berarti jika ia dikatakan seadanya. Hidup dalam kesederhanaan tak lagi menjadikan kita lebih baik di mata orang lain. Hanya perasaaan tenang bagi jiwa dan raga.

Banyak di antara kita, merasa kuat tuk hal-hal yang tak bisa kita angkat sedikitpun. Tapi juga tak jarang merasa lemah tuk mengatasi masalah yang sangat mudah. Seperti lelaki yang menyatakan dengan mudahnya kata suka dan sayang, dan seperti wanita yang menolak mencinta karena takut dengan rasa sakitnya. Read the rest of this entry »

Sudut Kisah di Kota Daeng

Posted: January 28, 2016 in Uncategorized

Hidup di kota besar tak selamanya menawarkan kebahagiaan dan kesenangan. Seperti roda-roda yang terus berputar, kehidupan terkadang akan berada pada level terendah dalam perjalanan hidup. Namun selama usaha tetap ada, maka hidup akan tetap bertahan hingga mentari terbenam di ufuk barat.

DSC_0024_1

Beranjak di pagi hari dengan sejuta harap akan usaha yang berbuah hasil yang memuaskan. Tak peduli dengan penat dan tak peduli dengan hiruk pikuk kota yang semakin hari tak bersahabat. Jarak terbentang pun mungkin tak terasa lagi. Yang terpenting adalah waktu yang harus dimaksimalkan untuk mencari nafkah Read the rest of this entry »

Shusi adalah makanan khas Jepang yang harganya terbilang sangat mahal. Kalau mau menikmatinya kita harus mengunjungi restoran, memakai pakaian yang rapi dan bersikap santun nan berkelas saat menyantapnya. Orang Indonesia kebanyakan akan merasa aneh dengan shusi, karena daging yang digunakan adalah daging mentah dan tidak dimasak. Selain itu, Kebanyakan shusi juga menggunakan bahan beralkohol seperti campuran minuman sake yang tentu saja tidak halal. Lantas? Apakah semua shusi memang seperti itu?

Hari ini urusan kantor telah selesai. Sebelum pulang ke rumah, kami berencana untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Karena malam ini juga hujan kembali turun, kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah Yatai (Bahasa Jepang, yang artinya angkringan/gerobak) Shusi Bizkid yang terletak di Jl. AP Pettarani yang tidak jauh dari tempat kerja kami. Untuk menemukan Shubiz (singkatan untuk Shusi Bizkid) tidaklah sulit, dari arah Gowa menuju fly over Urip Sumoharjo, tepat setelah melewati POM bensin Rappocini kita akan mudah melihat papan petunjuk di sisi kiri jalan. Di situ terpampang jelas nama Shusi Bizkid beserta dua kedai minuman lainnya. Read the rest of this entry »