Sepotong Cinta dari Lae-Lae

Posted: March 5, 2016 in Uncategorized

Eh, sampai miki? Cepatnya dih. Belum pi ki sempat upload foto di facebook sampe mi orang! gerutu salah seorang penumpang kapal peyebrangan pulau Lae-Lae. “Memang dek, kalau tidak kencang ji ombak biasa 5-10 menit ji. Tapi kalau lagi jelek cuaca paling lama 15 menit” sang juru kemudi kapal menimpali dengan cepat. Suasana pulau yang berada sangat dekat dengan kota Makassar ini mulai terlihat jelas saat kapal mulai menepi ke bibir pantai. Deburan ombak menerpa jejeran perahu yang terparkir di sepanjang tepian pantai. Sebuah gerbang melengkung menyambut kami tepat di tepi dermaga, menyampaikan ucapan selamat datang di pulau Lae-Lae, salah satu pulau yang memiliki suasana sunset terindah dan akan selalu dirindukan.

20160220_083025

Suasana Dermaga Pulau Lae-Lae

Pulau Lae-Lae secara administratif masih berada dalam wilayah kota Makassar, tepatnya Kecamatan Ujung Pandang, Kelurahan Lae-Lae. Lokasinya yang sangat dekat dengan daratan utama kota Makassar, membuatnya pernah menjadi destinasi wisata favorit. Namun seiring berjalannya waktu, keindahan pulau Lae-Lae mulai memudar, daya tarik pulau yang berpenduduk sekitar 2000 jiwa ini terkalahkan oleh keindahan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya, seperti Pulau Samalona, Pulau Kodingareng Keke ataupun Pulau Barang Caddi.

Meskipun tak seramai sekarang, ternyata keindahan pulau dengan luas sekitar 6,5 ha ini masih teringat jelas oleh Ibu Ros, wanita berbadan gempal yang saya temui di Dermaga Kayu Bangkoa. Sambil merapikan barang-barang bawaannya, Ia mengingat-ingat lagi kapan dulu pertama kali ia mengunjungi pulau Lae-Lae. “Dulu itu saya diajak sama pak tentara ke sebelah, dia suka-suka ka toh, jadi diajak ka jalan-jalan. Dulu bagus, masih banyak orang ke sana, rame juga” tuturnya. “Banyak itu temanku yang menikah karena jalan-jalan di pulau Lae-Lae” ia menambahkan informasi ini dengan sedikit tertawa.

Dulunya Ibu Ros sendiri menjadikan pulau Lae-Lae sebagai destinasi wisata favoritnya. Selain biayanya murah dan dekat dari Kota Makassar, suasana pantainya juga sangat indah kala itu dan tentunya masih bersih dari sampah-sampah plastik. Yah, sampah plastik yang memenuhi sebagian besar sudut selatan pantai saat ini. Tidak jelas juga dari mana asal sampah plastik yang menghiasi bibir pantai tersebut, apakah dari sampah rumah warga pulau ataukah sampah-sampah seberang pulau yang terbawa arus hingga terdampar di tepian pantai.

DSC_1108

Pengunjung Pulau Lae-Lae Sedang Menikmati Suasana Pantai

Meski ada sebagian sampah yang menghiasi pantai, namun pengunjung tetap ada yang datang ke pulau ini. Aktivitas wisata di tempat ini pun terbilang mulai membaik akhir-akhir ini. Haji Muhammad Yahya, yang tinggal tepat di sudut jalan menuju kawasan pantai wisata menuturkan bahwa jumlah pengunjung di pulau Lae-Lae memang tak seramai beberapa puluh tahun yang lalu. “Kalau sekarang, masih bisa dihitung jari jumlah pengunjungnya, itupun akhir pekan pi na rame” tutur bapak tiga anak yang ternyata berasal dari kabupaten Maros ini.

Haji Yahya, begitu ia lebih senang disapa, ternyata dulunya juga merupakan pengunjung pulau Lae-Lae yang akhirnya menemukan cintanya di pulau berpenduduk lebih dari 400 kepala keluarga ini. Saat ia berjalan-jalan keliling pulau, ia terpesona dengan gadis pulau yang kini telah memberikan seorang anak gadis dan dua putra. Dan setelah menikah, ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di pulau Lae-Lae.

Pria berbadan tegap tersebut menyadari bahwa sebenarnya pulau Lae-Lae mempunyai potensi menjadi destinasi wisata favorit. Ia yang kerap kali menawarkan jasa penyebrangan dan mendampingi wisatawan ke beberapa pulau kecil lainnya melihat bahwa keindahan panorama pantai dan pasir putih yang terhampar cukup luas merupakan asset utama yang menjadi daya jual pulau Lae-Lae. Meskipun fasilitas pendukung tempat wisata ini masih sangat jauh dari kata memadai. Seperti fasilitas toilet umum, warung makan, dan toko souvenir seperti di kebanyakan tempat wisata. Dengan sedikit usaha untuk memperbaikinya, maka Lae-Lae dapat kembali memikat seperti dulu kala.

 

Toilet ataupun kamar mandi merupakan fasilitas umum yang tentunya sangat dibutuhkan oleh para pengunjung tempat wisata. Setelah berenang di pantai ataupun bermain-bermain dengan pasir, tentunya wisatawan membutuhkan fasilitas tersebut untuk membersihkan diri. Meskipun sudah ada dua buah toilet yang dibangun oleh pemerintah tepat di sisi utara pantai, namun sayangnya pemerintah hanya terlihat setengah hati menyediakan fasilitas tersebut. Pasalnya, toilet yang dicat putih tersebut tidak dilengkapi dengan sumber air. Pengunjung harus mencari sendiri sumber air di rumah-rumah warga. Tak heran mengapa toilet tersebut lebih sering terkunci dan tak terpakai.

Menyikapi keadaan tersebut, beberapa warga mulai membenahi keadaan pantai dan menyediakan fasilitas penunjang kenyamanan pengunjung dan wisatawan. Adalah Hj. Biah, wanita paruh baya yang terlahir dan besar di pulau tersebut, yang dengan inisiatif sendiri membuat wc umum yang kemudian disewakan kepada pengunjung.

DSC_1087

Hj. Bia yang tetap bercerita sambil mencuci pakaian

“Kalau sewanya itu lima ribu satu kali masuk. Mau mandi, buang air kecil, atau besar terserah. Disuruh tongi bayar pengunjung ka bukan pemerintah yang bikin ini. Ada tujuh juta ongkosnya ini” terang Hj. Bia sambil membilas cuciannya. Hj. Bia sendiri merasa bahwa apa yang dilakukan pemerintah saat ini di pulau Lae-Lae memang belum maksimal. Ia menunjukkan bagaimana, tandon penampungan air yang dibangun oleh pemerintah telah tidak berfungsi. Parahnya sudah ada beberapa yang rusak padahal belum pernah sama sekali dimanfaatkan. Sama halnya dengan toilet yang dibangun tepat di utara pantai tersebut, menurutnya pemerintah terkesan setengah hati. Membangun fasilitas tanpa sarana penunjangnya. Belum lagi sikap lepas tangan yang membuat fasilitas tidak terawat dan terurus sehingga akhirnya rusak dengan mudahnya.

Selain toilet, fasilitas pendukung seperti tempat makan juga tidak terlihat di sekitaran pantai. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang miris, melihat jumlah penduduk yang cukup padat, inisiasi untuk membuka usaha warung makan yang lebih dekat dengan pantai ternyata belum ada. Selain pertimbangan modal yang cukup besar, wisatawan atau pengunjung yang tidak menentu jumlahnya menjadi alasan utama tidak adanya tempat makan khusus di sekitar kawasan pantai.

Lain Haji Bia, lain pula dengan Bucek. Karena kecintaannya dengan ekosistem laut, seperti kerang dan terumbu karang, Bucek menjadi penggagas seni kerajinan atau souvenir dari benda-benda laut tersebut. Sebagai anak nelayan kebanyakan, ia banyak menghabiskan hidupnya bergelut dengan laut dan ikan. Namun di sela kesibukannya, Ia secara otodidak belajar membuat berbagai macam kerajinan yang berbahan dasar kerang, terumbu karang dan juga pasir pantai.

Berkat keseriusannya, ia sudah pernah menjadi juara dalam lomba kerajinan tingkat provinsi yang diadakan oleh dinas Pariwisata Sulsel. Hal tersebut tentu membuatnya semakin aktif bergelut di dunia kerajinan traditional tersebut. Sayangnya, masalah modal kerap menjadi penghambatnya dalam mengembangkan usahanya tersebut. Saat ditanya apakah pemerintah sama sekali tidak pernah memberikan bantuan untuk usahanya, ia dengan sedikit mengeluh menjelaskan.

“Ada pernah dana dari PNPM Mandiri tiga kali bantuan, Bantuan berupa uang tunai saja, terus kita yang beli alatnya. Waktu itu dikasi dana 15 juta, harus dihabiskan semua, jadi kita beli barang sembarang saja. Tiga kali dana masuk sembarang kita beli, Padahal yang begini besok-besok lain itu kita buat. Banyak bahan yang biasanya dibeli tertinggal, seperti barang-barang lem itu mengering sendiri” paparnya sambil memperhatikan Erlin yang sedang memahat.

DSC_1126

Bucek dan Erlin yang sedang membuat patung dari Kayu Apung

Dalam mengembangkan usahanya, saat ini Bucek telah memiliki galeri sederhana yang ada di tepi pantai Lae-Lae. Bersama Erlin, sahabat sekaligus rekan kerjanya, ia mulai membuat kembali berbagai macam souvenir, seperti gantungan kunci, hiasan meja, asbak ataupun lampu hias. Selain itu, saat ini mereka sedang mengerjakan pesanan seorang Bule Australia yang memesan boneka maskot Kota Makassar yang dibuat dari kayu. Dengan bantuan Erlin yang memang pandai dalam memahat, Bucek optimis kelak usaha kerajinannya akan mulai dilirik pelanggan. Apatah lagi jika mendengar informasi dari Dinas Koperasi yang katanya siap membantu untuk memasarkan produknya.

Terkait masalah wisata pantai Lae-Lae yang tentu saja akan memberikan dampak besar bagi penjualan hasil karyanya, Bucek secara ragu-ragu menyatakan ketidakpuasannya dengan keadaan pantai yang masih tidak menjanjikan. “Rencana saya mau buat sesuatu di pantai, semacam pembersihan pantai yang cukup menyeluruh. Maunya pantai kita bersih sehingga orang-orang makin banyak yang datang, Jadi ada yang bisa beli souvenir” akunya sambil mengernyitkan dahi.

Meski Pulau Lae-Lae mempunyai banyak masalah dari sisi kesiapan sebagai destinasi wisata,namun ternyata banyak pula kisah-kisah cinta yang menjanjikan peluang dari masalah yang ada. Mungkin kita tidak akan menunggu lebih lama lagi untuk solusi tempat makan yang menyenangkan di pulau Lae-Lae. Setidaknya kelak mungkin wisatawan dapat menikmati makanan khas pesisir laut yang tentunya menjadi daya tarik tersendiri dari pulau Lae-Lae.

DSC_1081

Suasana Pantai Lae-Lae yang menjadi salah satu spot terbaik untuk melihat matahari terbenam

Dalam hiruk pikuk kesunyian malam, sejenak bermimpi untuk kembali ke dunia nyata. Dalam malam-malam akhir-akhir ini, seorang gila namun waras bercerita tentang hal-hal yang tidak ia ketahui. Tentang berbagai pengalaman yang tidak pernah ia alami dan bagaimana ia akhirnya menyelesaikan masalah yang sampai kini membuatnya pusing.

Terkadang sebuah kebohongan takkan nampak jelas jika ia dikemas dengan rapi. Pun begitu sebuah kejujuran akan nampak tak berarti jika ia dikatakan seadanya. Hidup dalam kesederhanaan tak lagi menjadikan kita lebih baik di mata orang lain. Hanya perasaaan tenang bagi jiwa dan raga.

Banyak di antara kita, merasa kuat tuk hal-hal yang tak bisa kita angkat sedikitpun. Tapi juga tak jarang merasa lemah tuk mengatasi masalah yang sangat mudah. Seperti lelaki yang menyatakan dengan mudahnya kata suka dan sayang, dan seperti wanita yang menolak mencinta karena takut dengan rasa sakitnya. Read the rest of this entry »

Sudut Kisah di Kota Daeng

Posted: January 28, 2016 in Uncategorized

Hidup di kota besar tak selamanya menawarkan kebahagiaan dan kesenangan. Seperti roda-roda yang terus berputar, kehidupan terkadang akan berada pada level terendah dalam perjalanan hidup. Namun selama usaha tetap ada, maka hidup akan tetap bertahan hingga mentari terbenam di ufuk barat.

DSC_0024_1

Beranjak di pagi hari dengan sejuta harap akan usaha yang berbuah hasil yang memuaskan. Tak peduli dengan penat dan tak peduli dengan hiruk pikuk kota yang semakin hari tak bersahabat. Jarak terbentang pun mungkin tak terasa lagi. Yang terpenting adalah waktu yang harus dimaksimalkan untuk mencari nafkah

DSC_0505_1

Jika hari telah berlalu pada setengah waktunya, kebahagiaan tuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga mungkin akan menjadi hal yang mustahil. Bersama dengan pekerjaan dan tanggung jawab, terkadang waktu istirahat tidak ada sama sekali.

DSC_0680_1

Hidup yang begitu keras terkadang memaksa diri tuk tetap bekerja pada usia yang sudah uzur. Pada mereka yang terkadang tak layak lagi berjuang di tempat kerja, hingga menjadikan sisa tenaga untuk tetap berjuang mengais sisa-sisa sampah tuk sekedar menambal rasa lapar tuk hari ini.

DSC_0554_1

Pun begitu tubuh yang tak lagi kuasa bekerja. Tenaga hanya mampu ia gunakan tuk meminta belas kasih. Miris dengan keadaan bukanlah yang selalu ia harapkan, namun tak banyak yang bisa ia lakukan tuk tetap bertahan hidup di kota yang menjelang metropolitan.

Processed with VSCOcam with b5 preset

Processed with VSCOcam with b5 preset

Bahkan juga pada jiwa-jiwa kecil yang mestinya merasakan kebahagiaan masa kecil dan masa sekolah. Semua terampas dengan keadaan finansial yang menyedihkan. Jangankan sekolah, merasakan bahagia bermain dengan teman sebaya adalah harga mahal yang tak sempat ia beli.

DSC_0718_1

Dan di akhir hari yang melelahkan, melangkah pulang tuk kembali ke rumah adalah kebahagiaan yang selalu diimpikan. Meskipun terkadang hari tak selalu memberikan bahagia, pada perjalanan pulanglah rasa syukur selalu terucap. Selalu terasa rindu yang akan mengantar damai dalam perjalanan.

Begitulah potret kecil hidup mereka yang tak beruntung di kota besar ini. Tak penting apa yang mereka lakukan untuk bertahan hidup, namun yang perlu adalah rasa syukur tuk semua nikmat yang diberikan oleh sang pencipta.

Shusi adalah makanan khas Jepang yang harganya terbilang sangat mahal. Kalau mau menikmatinya kita harus mengunjungi restoran, memakai pakaian yang rapi dan bersikap santun nan berkelas saat menyantapnya. Orang Indonesia kebanyakan akan merasa aneh dengan shusi, karena daging yang digunakan adalah daging mentah dan tidak dimasak. Selain itu, Kebanyakan shusi juga menggunakan bahan beralkohol seperti campuran minuman sake yang tentu saja tidak halal. Lantas? Apakah semua shusi memang seperti itu?

Hari ini urusan kantor telah selesai. Sebelum pulang ke rumah, kami berencana untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Karena malam ini juga hujan kembali turun, kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah Yatai (Bahasa Jepang, yang artinya angkringan/gerobak) Shusi Bizkid yang terletak di Jl. AP Pettarani yang tidak jauh dari tempat kerja kami. Untuk menemukan Shubiz (singkatan untuk Shusi Bizkid) tidaklah sulit, dari arah Gowa menuju fly over Urip Sumoharjo, tepat setelah melewati POM bensin Rappocini kita akan mudah melihat papan petunjuk di sisi kiri jalan. Di situ terpampang jelas nama Shusi Bizkid beserta dua kedai minuman lainnya.

DSC_0866[1]

Papan Petunjuk Lokasi Shusi Bizkid di Jl. AP Pettarani, Makassar

Begitu tiba di lokasi, kami melepas mantel hujan dan meletakkannya sembarangan di atas motor. Kami pun langsung menuju ke meja lesehan tepat di depan gerobak yang berhiaskan ornamen-ornamen khas Jepang. Untuk memesan makanan, kami beranjak melihat-lihat pilihan menu yang ada di depan gerobak shusi. Lumayan banyak menu shusi yang ditawarkan di kedai shusi ini dengan harga yang sangat terjangkau. Puas menjelajah pilihan menu yang disertai foto-foto yang begitu menggoda, akhirnya kami memutuskan untuk memesan Tuna Cheese, Dragon roll dan The Bizkid Ramen. Nampaknya hujan yang cukup deras membuat kami merasa begitu lapar.

Malam itu memang suasana agak sepi, selain karena hujan yang memang cukup deras, ternyata waktu juga sudah menunjuk pukul 21.30. Kurang lebih setengah jam sebelum jam operasional subiz berakhir. Memang Subiz hanya beroperasi dari pukul 4 sore sampai pukul 10 malam, dan mencapai puncak keramaian setelah magrib atau sekitar pukul 7 malam. Suasana di angkringan Shubiz memang terlihat sangat sederhana, hanya ada satu meja lesehan besar yang ada tepat di depan yatai. Di sisi lain, terdapat beberapa meja dan kursi yang diperuntukkan bagi mereka yang kurang nyaman untuk duduk bersila.

1453474230322[1]

Suasana Shusi Bizkid di Malam Hari

Untuk masalah kenyamanan nggak usah diragukan lagi. Di tempat ini kita dapat berdiskusi, bercerita ataupun sekedar melepas lelah dengan begitu santai. Tak perlu takut tuk bergaya-gaya aneh di tempat ini. Karena kebanyakan memang yang menjadi pengunjung tempat ini adalah anak muda yang kadang mempunyai ekpresi yang kurang dapat dikontrol. Selain itu, di lokasi yang sama dengan Subiz ini, juga terdapat dua kedai lain yang menawarkan menu yang berbeda. Adalah Teras Ice Cream dan KopiApi Coffee yang menjadi pilihan pelengkap untuk berlama-lama nongkrong di tempat ini. Mau panas atau dingin semua ada di sini. Jadi rasanya tak perlu khawatir tuk kehabisan menu yang cocok untuk semua teman ngumpul.

Setelah menunggu sekitar lima menit, pesanan kami pun berdatangan. Melihat bentuknya yang ditata begitu ciamik, kamipun mulai berdecak kelaparan. Satu per satu jenis shusi kami coba. Awalnya kami ragu, apakah lidah kami bisa cocok dengan makanan ini, karena kami tahunya shusi itu menggunakan daging/ikan mentah. Namun ternyata rasanya jauh berbeda dari yang kami bayangkan. Tak ada rasa yang aneh di lidah kami. Semua terasa begitu nikmat. Ah, kalau tahu seperti ini, mungkin dari dulu sudah nongkrong di sini.

1453504817869[1]

Mari Makan! Ada Tuna Cheese, Dragon Roll and Mie Ramen

Penasaran dengan rasanya, saya pun mencoba mencari tahu apa resep rahasianya. Beruntungnya, malam itu sang pemilik ada tepat di samping kami, jadilah dia menceritakan beberapa kisah tentang Shusi Bizkid.

***

Sejak tahun 2012 silam, Ashari Ramadhan atau yang lebih senang di sapa Papa Bizkid, mulai merintis usaha makanan khas Jepang dengan memberinya nama Shusi Bizkid (Shubiz). Terinspirasi dari sebuah kota di Jepang, Fukoka, yang mempunyai banyak penjual makanan dalam gerobak (Yatai), Ia lalu meminjam konsep sederhana ala kaki lima tersebut untuk menyajikan makanan yang masih baru di kalangan masyarakat pribumi ini. Meski awalnya harus diusir dari tempat berjualan mereka yang pertama, akhirnya mereka dapat menemukan tempat yang pas dan eksis hingga saat ini.

Ia pun membeberkan beberapa kelebihan dari Shubiz jika dibandingkan dengan tempat makan shusi lainnya. Menurutnya, selama ini kesan shusi sebagai makanan mahal yang hanya bisa dinikmati di restoran dengan pakaian yang rapi masih lekat di pikiran masyarakat. Padahal animo masyarakat untuk merasakan sensasi makanan asli Jepang ini sangat tinggi. Akhirnya ia pun menghadirkan shusi dalam bentuk angkringan atau kaki lima, yang lebih sederhana dan dapat dijangkau semua kalangan.

Selain itu, untuk tetap menjaga kenikmatan menyantap shusi, ia berusaha untuk menyesuaikan menu yang ditawarkan dengan lidah orang Indonesia. Contohnya, ketika menggunakan Tuna maka ikan Tuna tersebut sudah dimasak sebelumnya, pun begitu ketika menggunakan Salmon, ikan Salmonnya sudah dibakar sebelum diolah menjadi shusi. Karena memang, shusi itu sebenarnya adalah bahasa Jepang untuk istilah nasi asam, yaitu nasi yang diberikan larutan cuka. Jadi walaupun tanpa olahan ikan atau daging mentah, sensasi rasa shusinya tetap ada. Selain itu, ia pun menegaskan bahwa semua shusi yang diolah di Shubiz dijamin halal, karena ia sama sekali tidak menggunakan campuran sake atau minuman alkohol lainnya.

Saat ini Papa Bizkid sudah mempekerjakan belasan pegawai untuk mengurus dua gerobak shusinya. Ia pun berharap bisnisnya ini bisa terus berkembang dan mempunyai cabang di seluruh Indonesia. Bahkan ia bertekad untuk melebarkan sayap hingga ke seluruh Asia.

***

Tak terasa malam sudah semakin larut. Santap malam shusi dan mie ramen yang begitu nikmat, menawarkan kesediaan untuk kembali lagi kesini. Dengan suasana yang begitu santai, rasa shusi yang khas tuk dinikmati, serta harga yang sangat terjangkau, rasanya Shusi Bizkid akan menjadi pilihan yang tepat untuk nongkrong dan berbagi cerita bersama teman-teman yang lain. Jika belum pernah merasakan shusi sebelumnya, atau mau mencoba shusi yang lebih nyaman dengan lidah orang Indonesia, berkunjunglah ke Shusi Bizkid, dijamin takkan ada penyesalan yang anda temukan!

Ruang di panggung itu terlihat begitu gelap, tak ada cahaya gemerlap seperti konser musik kekinian. Sorot lampu yang tidak begitu terang menampakkan sosok muda dengan wajah tegas dan tirus di sudut kanan panggung. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan passappu di atas kepalanya. Tangan kirinya bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti ritme ucapannya. Dengan begitu piawai, tangan kirinya menggesek-gesekkan dawai kesok-kesok yang terdengar mendayu-dayu dalam heningnya malam. Ucapannya begitu merdu dengan permainan intonasi dan tekanan nada yang begitu harmonis.

Kata-kata dalam bahasa Makassar yang terdengar bak sebuah cerita terus mengalir mengisi ruang dengar penonton. Sesekali nada suaranya meninggi, lalu berubah lirih di tiap-tiap baris ucapannya. Meski saya hanya paham sedikit tentang bahasa Makassar, namun malam itu saya begitu menikmati alunan nada kesok-kesok yang sangat unik dan sarat budaya nilai kearifan lokal tersebut.

Penampilan pa’sinrilik muda di panggung pentas komunitas malam itu, memberikan tontonan budaya asli Makassar, yaitu Sinrilik. Tontonan yang sudah sangat jarang ditampilkan dalam keseharian masyarakat. Bahkan saat ini kesenian dan budaya tutur sinrilik sudah terancam punah karena regenerasi yang tidak berjalan dengan baik.

***

Sinrilik sendiri merupakan salah satu karya sastra lisan yang dimiliki oleh masyarakat Makassar. Dalam situs resmi Kementerian Kebudayaan Indonesia, sinrilik dijelaskan sebagai warisan budaya tutur dalam masyarakat Makassar yang biasa ditampilkan sebagai media hiburan dan pelajaran nilai-nilai budaya. Meskipun kini pementasan sinrilik selalu menggunakan musik penggiring dari kesok-kesok, ternyata sinrilik juga dapat dipentaskan hanya dengan suara pa’sinrilik saja. Pa’sinrilik sendiri adalah orang yang mementaskan atau menyanyikan bait-bait dari naskah sinrilik tersebut.

Sinrilik

Alat Musik Kesok-Kesok

Mengutip informasi dari tulisan Sinrilik Karya Sastra Unik Dari Kota Daeng Makassar, sinrilik yang dilagukan dengan alat musik kesok-kesok yang berbentuk rebab dinamakan Sinrilik Kesok-Kesok, yaitu sinrilik yang berisi kisah perjuangan dan kepahlawanan seorang tokoh. Sedangkan yang hanya dilagukan tanpa ada iringan musik dikenal dengan sebutan Sinrilik Bosi Timurung yang berisi tentang banyak hal, seperti pujian untuk kekasih hati, rasa iba dengan musibah yang ada, ataupun kesedihan orang yang ditinggalkan keluarganya. Sehingga secara tidak langsung pertunjukkan sinrilik mengajarkan banyak hal kepada para pendengarnya. Itulah mengapa dahulu, sinrilik mendapat tempat di hati masyarakat Makassar.

Seiring dengan perkembangan zaman, media hiburan tradisional, seperti sinrilik, secara cepat tergantikan dengan pementasan musik yang lebih menarik dengan nada-nada yang lebih dinamis. Tak heran mengapa saat ini penikmat ataupun pa’sinrilik itu sendiri semakin sedikit dan bahkan bisa dihitung jari jumlah mereka saat ini. Pun ketika saya bertanya kepada seorang teman saya, Nur Rahmat Hidayat, seorang pegiat literasi kota Makassar. Secara pribadi, ia begitu menyayangkan minimnya minat yang dimiliki masyarakat terhadap keberlangsungan warisan budaya tersebut.

“Saya rasa kebudayaan sinrilik ini perlu untuk kita pertahankan, yah kalau perlu kita galakkan kembali pementasan sinrilik. Mungkin masyarakat perlu tahu lebih dalam tentang budaya lisan asli Makassar ini”, katanya sembari menikmati segelas sarabba telur yang sedari tadi menemani perbincangan kami. Yayat, begitu saya akrab menyapanya, seakan mulai serius dengan gagasannya mengenalkan kembali kebudayaan asli Makassar tersebut, bahkan malam itu ia berencana menuliskan sebuah buku tentang pansirilik yang memang masih sangat jarang.

“Kalau tidak salah, sekarang baru ada dua buku yang saya baca yang menulis tentang sinrilik itu, satu yang berupa kumpulan naskah sinrilik dan satunya lagi memuat sinrilik sebagai salah satu bagian dari penjelasan kebudayaan Makassar” jelasnya dengan penuh semangat. Matanya yang terlihat membulat seakan menyakinkan dirinya bahwa rencananya akan sangat berarti bagi keberlangsungan budaya sinrilik di masa depan.

Mungkin apa yang dikatakan Yayat merupakan bentuk apresiasi sastra yang paling tepat untuk memberikan informasi tentang kebudayaan lisan sinrilik. Tapi untuk mempertahankan keberlangsungan pertunjukkan sinrilik, saya rasa perlu usaha yang lebih dari sekedar tulisan. Regenerasi pa’sinrilik dan juga tersedianya ruang pertunjukkan yang memadai menjadi kunci utama untuk terus menjaga keberadaan sinrilik di tengah-tengah gempuran budaya asing saat ini. Namun, apakah regenerasi dan ruang pertunjukkan sinrilik masih dapat kita peroleh di saat sekarang ini?

***

Arif Rahman Dg. Rate, lelaki asli Kajang yang telah berumur seperempat abad, merupakan satu di antara tiga orang yang masih tetap setia menjaga kelestarian budaya sinrilik. Di tengah kesibukannya sebagai pengajar bahasa, ia masih gencar membawa kesok-kesoknya dari panggung ke panggung. Ia pun kini aktif mengampanyekan sebuah gerakan literasi berbasis sinrilik yang ia yakini sebagai bentuk pertahanan eksistensi budaya sinrilik.

arif-rahman-sinrilik

Arif Rahman Dg. Rate

Keseriusan Arif terlihat jelas dari betapa semangatnya ia menjawab pertanyaan yang saya ajukan ketika menggali informasi tentang sinrilik. Ia menceritakan bagaimana ia mulai berkenalan dengan sinrilik pada tahun 2009 silam. Kala itu ia masih di tahun pertama sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris. Melalui artikel-artikel yang ia baca, akhirnya ia memutuskan untuk merambah dunia sinrilik secara serius di akhir 2010. Dan di awal 2011 ia telah betul-betul terjun dalam pertunjukkan sinrilik dengan tampil di panggung-panggung pementasan berskala kecil untuk pemula.

Ia pun menuturkan bagaimana keseriusan ia belajar dari seniman sinrilik di Gowa yaitu bapak Syarifuddin Dg. Tutu. Pun begitu itu menimbah ilmu tentang teknik bermain musik kesok-kesok dari bapak Haeruddin yang merupakan pengrajin kesok-kesok yang sudah terkenal di tanah Gowa.

Ketika ditanya mengapa orang-orang sudah tidak terpikat dengan pertunjukkan sinrilik, ia menjawabnya dengan begitu lugas dan jelas.

Sinrilik itu menggunakan tipikal musik yang monoton. Sejenis musik yang digunakan untuk mengiringi orang bertutur atau berdongeng. Olehnya itu, eksplorasi nadanya cuma sampai lima not saja, itupun pola bermainnya sangat monoton” Jelasnya sambil memperagakan bagaimana gerakan tangannya seakan mengganti nada-nada kesok-kesoknya.

Sinrilik itu dimainkan dengan bertutur, dengan menggunakan bahasa Makassar, passinrilik menceritakan kisah-kisah sejarah yang butuh pemahaman yang lebih saksama. Hal tersebut yang buat orang-orang malas mendengarkannya lagi. Padahal sinrilik itu bercerita tentang lokalitas dan kearifan masa lalu yang mengandung banyak nilai-nilai positif. Selain itu saat mendengarkan sinrilik, ada nuansa yang membawa kita ke alam meditasi. Istilah para seniman, sinrilik itu musik jiwa” sembari mengibas-ngibaskan tangannya mengusir nyamuk, ia menjelaskan lebih jauh lagi betapa ia menikmati sinrilik dan musik kesok-kesoknya.

Malam itu kami berbincang cukup lama. Selain membahas masalah eksistensi sinrilik yang mulai mengkhawatirkan, ia menjelaskan bagaimana semestinya sinrilik itu harus bertransformasi agak tidak kehilangan pendengarnya. Ia menyakinkan saya bahwasanya sinrilik itu sangat fleksibel, ia dapat digunakan sebagai media tuturan untuk mendiskusikan banyak hal, seperti politik, budaya dan juga masalah sosial. Bahkan dengan transformasi seni sinrilik yang ia lakukan, kini sinrilik dapat masuk dalam diskusi-diskusi kontemporer dan sosial masyarakat. “Dengan menggabungkan narasi masa lalu dan kehidupan sekarang, pembahasan dengan media sinrilik menjadi semakin menarik” tandasnya.

“Kalau ia dibawakan secara tradisional dengan standarnya itu, maka ia akan kehilangan audiensnya. Sinrilik bisa saja disampaikan dalam bahasa Inggris, Indonesia bahkan bahasa daerah lainnya. Jadi targetnya selain menghibur, orang juga paham apa yang kita sampaikan dan sekaligus secara persuasif mengingatkan kita kepada budaya lokal”

Meskipun ada beberapa tanggapan sinis yang memang secara keras mengkritik apa yang dilakukannya, karena secara gamblang apa yang dilakukan oleh Arif terlihat seperti perubahan bentuk asli sinrilik. Namun ia menimpali bahwa akan menjadi masalah, jika tetap bertahan dengan pola yang terkesan kolot tersebut. Pada akhirnya budaya sinrilik pun akan hilang dengan sendirinya. Strategi bertahan yang ia tawarkan telah terbukti membawa sinrilik mampu masuk di beberapa kesempatan, seperti mimbar kuliah, ruang seminar, ruang kajian, bahkan ruang-ruang yang sifatnya protokoler. Hadirnya budaya tutur sinrilik di ruang-ruang tersebut membawa warna tersendiri yang diharapkan akan mempertahankan kesenian sinrilik dari kepunahan.

Pada pembukaan konferensi internasional yang diadakan oleh Pusat Bahasa Universitas Negeri Makassar di awal Desember tahun lalu, Arif tampil menjadi pembawa acara dalam perhelatan ilmiah dua tahunan tersebut. Dengan iringan suara kesok-kesoknya yang mendayu-dayu, ia memberikan pengantar dalam tiga bahasa sekaligus, Inggris, Indonesia dan Makassar. Kepiawaiannya dalam mengolah kata dan irama menarik perhatian mereka yang ada di ruang teater gedung phinisi UNM saat itu. Bahkan ketika candaan dan humor disampaikan dalam bahasa Makassar, hampir seluruh penonton tertawa terbahak-bahak, meski saya yakin banyak di antara mereka yang tidak paham dengan bahasa tersebut.

“Kami sendiri melihat media sinrilik sebagai cara menarik untuk menyampaikan pesan kebudayaan serta tujuan konferensi secara santai” jelas Ibu Masnijuri, ketua International Conference on Language Education (ICOLE 2015). Ia juga mengatakan bahwa budaya sinrilik ini menjadi salah satu asset yang harus dilestarikan. Sehingga ia perlu diberikan ruang sebagai apresiasi dan langkah nyata pelestariannya.

Dia akhir wawancara saya, Arif secara jelas mencoba menyadarkan kita bahwa yang namanya budaya itu tidak statis, namun sifatnya dinamis. Sehingga untuk mengatasi masalah kepunahan budaya, hanya soal bagaimana ia berkomunikasi dengan zaman tempat ia berada.

Berubah untuk dapat bertahan hidup merupakan jawaban yang masuk akal untuk tetap eksis. Namun,dengan melihat realitas dari minimnya panggung-panggung bagi para pa’sinrilik untuk tetap tampil, akankah budaya sinrilik tetap eksis? atau malah hanya mampu bertahan beberapa tahun lagi?

“..Bagi pengendara…untuk tidak menggunakan handphone saat mengemudi…”

Suara merdu itu mulai akrab di telinga saya sejak beberapa bulan belakangan. Sejak menggunakan perangkat lampu lalu lintas yang baru, beberapa titik persimpangan di Kota Makassar telah dilengkapi dengan pengeras suara. Fungsi pengeras suara ini lebih sebagai media informasi yang berusaha mengingatkan pengendara yang melintas untuk tetap memperhatikan keamanan dan ketertiban saat berkendara. Read the rest of this entry »

“Saya tidak akan ikhlas meninggalkan dunia ini, sebelum saya menginjakkan kaki di luar negeri” ~ Mr. Umar

Perkataan sahabat saya tentang keinginannya melanjutkan studi di luar negeri merupakan salah satu dari sekian juta mimpi mahasiswa Indonesia pada era kekinian ini. Akses informasi yang tidak lagi terbatas, ketersediaan beasiswa yang terus meningkat, hingga pengalaman dari mereka yang telah berhasil mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri seakan membuka lebar kran semangat para pemburu beasiswa. Tak heran lagi mengapa  pameran pendidikan luar negeri semakin marak diadakan setiap tahunnya.

Antrian di Salah Satu Pameran Pendidikan Luar Negeri

Antrian di Salah Satu Pameran Pendidikan Luar Negeri

Saya sendiri pun mempunyai mimpi yang sama dengan sahabat saya, menjejakkan kaki di belahan dunia lain sembari menuntut ilmu yang lebih tinggi. Tentunya mimpi ini akan memerlukan waktu yang lama untuk dapat terwujud. Setidaknya saya harus meluangkan waktu yang cukup untuk melakukan persiapan yang memadai. Mengapa harus mengadakan persiapan segala? Ya, karena menurut saya, dengan persiapan yang matang, maka hasilnya pun pasti akan memuaskan.
Read the rest of this entry »

“Hanya waktu yang masih setia pada janjinya. Menempuh 60 detik untuk menggenapi 1 menit dan 60 menit untuk menjadikan 1 jam”

Setahun berlalu dengan sejuta kejadian yang menghiasi lembaran kenangan. Kenangan yang sayang untuk dilupakan ibarat warna yang menggoreskan rupa di lukisan hidup kita. Jika harus menuliskan warna apa saja yang menghiasi lukisan hidup saya tahun ini, maka berikut ini beberapa warna yang memberikan nuansa baru di hidup saya:

1. Putih Hitam Kertas Tesis

20150410_100910Awal tahun menjadi perjuangan terberat menyelesaikan studi S2. Setelah tertinggal jauh menjelang masa liburan, Januari dan Februari menjadi saksi perjalanan awal penelitian tesis saya. Dari konsultasi yang menjenuhkan, keberadaan dosen yang timbul tenggelam, hingga persyaratan administrasi yang begitu menyulitkan. Semua seakan mendukung pengalaman yang tak terlupakan meraih gelar yang lebih tinggi.

Read the rest of this entry »

“Tulisan yang baik adalah tulisan yang diselesaikan dan ditayangkan. Bukan tulisan yang disimpan dalam draft saja”    ~Om Lebug

Kelas Menulis Kepo telah memasuki pekan ketiga. Setelah pertemuan pada Jumat lalu (18/12/2015), kelas diliburkan untuk waktu yang belum ditentukan. Namun selama kelas diliburkan, tidak serta merta kegiatan menulis ditiadakan. Untuk mengisi liburan panjang tersebut, maka muncullah tantangan untuk membuat proyek menulis santai dengan tema lima (5) hal. Kegiatan ini akhirnya dikenal dengan Proyek Lima. Dalam lini masa percakapan di grup media sosial Line terlihat jelas kreativitas dan kepekaan peserta kelas menulis untuk memunculkan ide-ide terkait proyek lima.

Dari sekian banyak ide yang muncul, ada beberapa ide yang menurut saya pribadi sebagai ide luar kreatif, yaitu ide-ide yang lebih dari sekadar kreatif. Berikut lima ide tulisan yang sangat menarik menurut penilaian subjektif saya:

Read the rest of this entry »

Taksi, becak dan Pete-pete adalah tiga jenis kendaraan yang hanya Tuhan yang tahu apa maunya”  ~Kak Na’

Makassar merupakan kota yang paling maju di belahan Timur Indonesia. Tak heran mengapa saat ini kemacetan pun bukan lagi menjadi hal yang asing di ruas-ruas jalan kota Anging Mamiri ini. Hampir di semua belahan kota Makassar telah terdapat titik kemacetan dan kepadatan kendaraan yang tidak dapat dihindari.

Selain volume kendaraan yang sudah agak tidak sebanding dengan lebar ruas jalan, tingkah laku para pengguna jalan pun menjadi salah satu faktor utama penyebab kemacetan di Kota Daeng. Berikut ini lima tingkah para pengendara yang kerap menimbulkan masalah di jalanan kota Makassar:

Read the rest of this entry »