Posts Tagged ‘cerita’

“Hanya waktu yang masih setia pada janjinya. Menempuh 60 detik untuk menggenapi 1 menit dan 60 menit untuk menjadikan 1 jam”

Setahun berlalu dengan sejuta kejadian yang menghiasi lembaran kenangan. Kenangan yang sayang untuk dilupakan ibarat warna yang menggoreskan rupa di lukisan hidup kita. Jika harus menuliskan warna apa saja yang menghiasi lukisan hidup saya tahun ini, maka berikut ini beberapa warna yang memberikan nuansa baru di hidup saya:

1. Putih Hitam Kertas Tesis

20150410_100910Awal tahun menjadi perjuangan terberat menyelesaikan studi S2. Setelah tertinggal jauh menjelang masa liburan, Januari dan Februari menjadi saksi perjalanan awal penelitian tesis saya. Dari konsultasi yang menjenuhkan, keberadaan dosen yang timbul tenggelam, hingga persyaratan administrasi yang begitu menyulitkan. Semua seakan mendukung pengalaman yang tak terlupakan meraih gelar yang lebih tinggi.

(more…)

Kata “Cie” Yang Memisahkan Kita

Posted: November 21, 2015 in Rasa
Tags: , , ,

Beberapa hari terakhir ini, aku merasakan ada banyak hal yang berbeda dari apa yang biasa kita jalani. Kita yang dulu melakukan hal bersama, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, latihan menyelesaikan soal TOEFL bersama, bahkan terkadang makan pun kita tak berpisah, yah walau terkadang memang kita tetap bersama teman-teman yang lain juga saat makan. Tapi, aku mulai sadar bahwa apa yang kita lakukan dari dulu itu merupakan hal yang tidak wajar bagi hubungan yang sebatas teman. Aku bukan merasa aneh dengan mereka yang bersahabat dekat dan menganggap semua sebatas keakraban sebagai sahabat semata. Namun aku melihat itu sebagai hal yang tak wajar dilakukan oleh orang yang tidak berpacaran. Kata mereka sih kita ngedate, padahal kan  apa yang kita lakukan tak lebih dari hal-hal positif sebagai teman yang saling membantu satu sama lain.

(more…)

Iskandar Yang Malang (Eps.1)

Posted: February 9, 2014 in Cerpen
Tags: , ,

Hari ini adalah hari pertama ospek jurusan, tau lah apa yang akan terjadi pada mahasiswa pada hari pertama ini, tapi sayangnya saya harus mulai dari hari sebelum hari ospek itu…kira-kira 3 hari, eh salah maksudku 3 minggu atau 3 bulan,,entahlah yang jelas aku bukan lah panitia ospek saat itu.

Kisah ini tentang iskandar…

Iskandar adalah seorang mahasiswa baru, berasal dari keluarga baik-baik, baik ibu maupun bapak sama-sama baik. Ia tinggal di sebuah kampung yang jauh dari keramaian kota, untuk sampai ke kampungnya, kita harus naik pesawat dulu, setelah itu naik bus selama 3 jam, lalu naik pete-pete dengan ongkos yang berubah-ubah tergantung musim, biasanya sih 3000 rupiah, lalu kita harus naik ojek lagi sejauh 14 kilo, setelah itu kita berjalan kaki mendaki bukit yang tinggi sejauh 9 km, dan merayap melalui lubang kecil, tapi bisa juga berjalan tergantung selera masing-masing. Nah itulah tadi perjalanan singkat si Iskandar, oh iya kita sekarang telah berada di desa iskandar, sebuah desa kumuh, liatkan betapa kumuhnya (emangnya kalian bisa liat???). Iskandar tinggal di sebuah rumah sederhana, bentuknya unik, warnanya putih, ada kubah diatasnya, mirip masjid gitu, jangan-jangan ini masjid yah, tapi ternyata bukan pemirsa. (more…)

Takkan Terganti Selamanya (eps.2)

Posted: January 31, 2014 in cerpen, Rasa
Tags: , ,

Ibu duduk beralaskan lantai, dengan penuh iba aku tak sanggup melihat keadaan itu. Ia terduduk di depan orang tua itu, lalu ku tempatkan diriku duduk tepat di sampingnya. Ibu yang tadi begitu tegar melalui jalan yang berbatu, jalan yang asing dan jauh dari keramaian hanya untuk menemui orang pintar tersebut. Kini kami tepat di depan orang tua tersebut, ia sudah udzur, matanya tak lagi mampu melihat dengan jelas, Nampak jelas ia hanya mengenali orang-orang disekitarnya dari suaranya. Ibu mulai memohon dengan bahasa daerah yang kental dikarenakan orang tua itu hanya dapat mengerti bahasa daerah tersebut. Bukan permohonan biasa yang ibuku lakukan kali ini, aku melihatnya bermohon dengan penuh iba dan mengharap belas kasih, ia bahkan mencucurkan air matanya berharap sang orang pintar mau mengobati sakit yang ku derita. Hatiku penuh sesak dengan perasaan haru dan pilu, aku membuat ibuku menangis di depan orang tua yang terkenal pandai mengobati penyakit tumor ini. (more…)