Masih Bersamamu, Dulu dan Kini

Posted: September 27, 2014 in cerpen, Rasa
Tags: , ,

Saya tak pernah menyangka dalam deret waktu yang sangat lama itu saya tak mampu menepis ruang rindu yang tak semestinya hadir dalam hati yang telah tertambat pada ruang kasih yang abadi ini. Aku dan ruang memori kita dulu itu mengajarkanku akan banyak hal. Seperti cinta yang sejatinya tak pernah luntur pada jarak dan masa kala itu
Ah sudahlah, tak ada jua gunanya saat ini, semakin lama semakin sakit mengenang masa lalu itu. Toh saat ini waktu telah mengubur dalam luka itu, sakit yang tak bisa dimengerti oleh hati ini karena semestinya semua tak seharus seperti ini. Mungkin rumit kisah ini tuk dirunut semakin mendalam. Namun aku tahu, bahwa dalam setiap kebersamaan itu, ada rindu yang mengharuskan aku mengunjungi kenangan kita dulu, bahkan saat kita tak bertemu dalam nyata.

Aku dan kamu bukanlah orang yang beda, bahkan kita berasal dari desa yang sama. Berada di Universitas yang sama bahkan dalam naungan fakultas yang sama. Aku dan begitupun sebagian besar mahasiswa saat itu, mulai merasakan apa yang namanya cinta, rasa suka yang berlebih untuk merasa senang saat berada di dekatmu. Aku tak pernah berani dalam hal mengungkapkan rasaku, meski aku tak tahu apa kau sendiri telah memilih hati yang lain. Yang aku tahu, kau dengan motor vespa mu itu, selalu menjadi pusat perhatianku, aku bahkan tak bisa mendapat alasan untuk mengantarmu pulang, toh kau lebih cuek dengan sikapmu yang tomboy itu, berlalu dengan vespa merah mu. Dan itu selalu membuatku merindumu, merindu dalam diamku yang perih kalah itu.
Bulan berganti dan masa kini berujung pada akhir masa kuliah kita, tak dinayah lagi, perasaan ini begitu tinggi, tumbuh dan tak mampu terpangkas lagi. Dalam kemeja tua ini, aku haturkan rasaku padamu, dipetang yang dingin itu, dibalik ruang senat lantai dua, kau dan aku telah menjadi kita. Meski kita tak hanya berdua kala itu, namun seakan dunia menjadi milik kita saja. Hanya kita dan bulan yang tak pernah nampak dari sudut gedung ini.
Hingga musim bergantipun, kita berbagi kisah, berbagi ruang dan waktu yang kita isi dengan memori yang tak selamanya indah. Aku ingat dengan payung hitam yang kau tinggalkan di depan kelasku, dengan buku tua yang sengaja aku keluarkan dari jendela perpustakaan kampus, dan mereka yang membuat kita merasa akan terus bersama selamanya. Bahkan hari rayapun kita semakin dekat, memperkenalkan orang tua dan keluargamu padaku, membuatku yakin akan masa depan kita bersama nantinya.
Namun, ternyata semua tak begitu indah kisahnya. Aku dan kamu yang memilih terpisah dalam ruang seakan membuat jarak juga pada cinta kita. Aku yang harus berpindah ke seberang pulau dan dirimu yang harus menuruti keinginan orang tua mengabdi di daerah itu, menjadi pertanda kita semakin dijauhkan dalam kebersamaan kita. Apa yang dulu sering kita alami seakan hanya mampu dikenang semata, bahkan kenang itu membuat hati ini teriris rindu yang sangat dalam apatahlagi hidup di rantau orang.
Sudah banyak keluh dan desakan dari keluargamu tuk lekas menikah, namun aku tahu kau masih setia menungguku, menanti apa yang dulu kita ikrarkan tuk bersama hingga kelak ajal menjemput kita. Namun ternyata semua hanya sebatas angan semata, kala sang waktu tak lagi menguatkan kita dan perihal pamali yang menjadikan kita harus mengubur impian bersama. Dirimu yang tak kuasa menolak tuk kesekian kalinya, atas lamaran yang datang berderetan padamu itu, terlebih dengan mereka yang menakutkan dirimu menjadi gadis tua kelak.

Dan kita semua itu telah lama terjadi, menjadi puing kisah kita yang abadi. Ada rasa dari diri ini yang tak bisa mati untukmu, meski ruang hatiku telah terisi cinta yang lain, tapi aku menyimpan impian kita di selah-selahnya. Yah, dan kita rasa itu terusik, dengan hadirnya buah hatimu, anak pertamamu ini, seakan mengingatkanku masa kita kuliah dahulu. Anak mu ini manis, senyumnya persis dengan senyumanmu kala menahan tawa atas candaanku, walau matanya tak seindah matamu, namun aku melihat cinta mu disitu, pada kedua bola yang tersorot padaku itu, aku tahu, kau menitipkan cinta dalam kisah kita yang kau ceritakan padanya. Andai aku punya anak laki-laki, inginku menjodohkan mereka nantinya, toh kita bisa bersama jua meski dalam hubungan yang kini berbeda.
Aku bukanlah orang penting kala itu, namun kini aku telah jaya dalam bidang ilmu yang ku geluti, aku bahkan berpangkat tertinggi secara struktural dalam instansi ini, dan kini kau dan anakmu akan banyak melihatku, bahkan namaku akan terpampang di ijazah dari anakmu kelak. Meski demikian, aku takkan sedikitpun menyombongkan diriku, walau terkadang aku tak bisa bersikap seperti apa yang semestinya aku lakukan sebagai bagian hidupmu dahulu. Namun, aku akan selalu pastikan tempatmu di hatiku, meski tak sewajarnya aku melakukan ini, namun rasa ini tak bisa ku bohongi, dalam diamku, dalam sepiku, dalam hampaku, aku masih mencinta padamu yang dulu, aku masih mencinta pada kita yang dahulu, pada masa kita dahulu. Aku masih merindumu, selalu. (Inspired by real story one of professor in state university in Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s